Catatan Ahad Pagi#24: Award

Beberapa kali terjadi dalam hidup saya, saya melakukan sesuatu karena tak tega, tapi malah balasan kebaikan yang berlipat yang saya terima. Misalnya kemarin, saya mengisi acara di sebuah forum, setelah sekian lama saya menolak untuk ngisi2 acara serupa. Eeh.. tak disangka-sangka, yang muncul adalah pertemuan dengan orang-orang yang luar biasa, dan penuh semangat untuk (dan sudah) melakukan sesuatu yang luar biasa, dan saya yang sesungguhnya sering merasa ‘tanpa daya’ ini, diminta bergabung dalam kegiatan mereka. Wow…

Nah…kali ini pun saya menulis award ini didorong perasaan tak ingin mengecewakan adinda Mona yang sudah berbaik hati memberi award ke saya dua pekan yang lalu. Selama ngeblog di MP, baru kali inilah daku membuat “pe-er” model begini. Setelah dipikir-pikir, kayaknya hikmahnya adalah, saya jadi tahu bahwa saya tidak banyak tahu tentang diri sendiri…ck..ck.. Makasih ya Mona, sudah berhasil membuat saya memikirkan diri sendiri, hahaha

Oke deh, kita mulai saja ya…

A. Thank and link back to the person who awarded me this award.

Mona sayang, thank you for this award. Kayaknya, temen2 udah pada kenal deh sama Mona yang baik hati dan tidak sombong ini, suka mengaji dan makan coklat Tulisan-tulisannya seringkali bersifat renungan, dan ngasih kalimat-kalimat penutup yang oke, misalnya, “manusia bukan barang satu dimensi” atau, “apapun pilihannya, jujur adalah rajanya”. Top markotop !

B. Share 5 things about myself.

Mengapa pilih angka 5? Biar dikit..hehe.. kan tadi udah bilang, saya jadi nyadar bahwa saya bingung ketika disuruh nulis tentang diri sendiri..:D. Lima aja gpp ya Mon?

Here are 5 things about myself :

1. Demen banget ama mie ayam
(sungguh, ini setelah mikir lama..makanan yang paling disuka apa ya..kayaknya suka semua deh, asal enak dan halal, hehe..)


photo: pinjam dari sini


2. Ekstrovert
(kalau ada sesuatu dalam hati, harus cepat-cepat diungkapkan, ke orang terdekat atau lewat tulisan-tak harus selalu diposting, pokoknya hati harus kosong dan tak mau terlalu banyak memendam sesuatu)… sebentar,sebentar, betulkan, ini tuh karakteristik orang ekstrovert? 😉


photo: pinjam dari sini

3. Punya banyak ambisi, tapi kemudian ngerasa helpless sendiri
Banyak sekali keinginan yang ingin dicapai, misalnya, ingin jadi kontributor tetap di sebuah media cetak…eh..pas ada kesempatan, malah kelabakan sendiri, dan merasa tak mampu..jadilah dilepas begitu saja huhuhu… 😦
Tapi, begitu sudah bilang ‘iya’, biasanya pantang mundur deh:D


photo: pinjam dari sini

4. Impian: sangat ingin berjalan-jalan keliling dunia, tapi sendirian, ga bawa keluarga. Karena kalau bawa keluarga, yang ada malah sibuk sama ngurusin keluarga deh:D


photo: pinjam dari sini

5. Paling bahagia kalau… nah ini pertanyaan dari diri saya sendiri, tapi saya juga bingung apa jawabnya. Entahlah, saya juga tidak bisa mengidentifikasi, kapan saat-saat yang membahagiakan. Seringnya, saya bahagia sesaat, lalu perasaan saya jadi biasa-biasa lagi. Misalnya, kalau buku terbit, saat pertama kali dapat kabar, tentu saja, bahagia, tapi setelah itu biasa saja. Atau, pas ditelpon penerbit, royalti dah cair, nah, bahagia. Tapi gak lama, karena otak akan segera mengalkulasi berbagai keperluan keuangan yang ternyata tak tercukupi oleh uang royalti, hahaha… Atau, waktu di toko buku, nemu buku yang lama dicari-cari. Tapi setelah beli, baca, ya udah deh, hati ini biasa-biasa lagi.
Apa ya istilah yang tepat untuk sifat manusia kayak begini?

photo: pinjam dari sini

Huah, udah dulu ya…:)

C. Pay it forward to 3 my multiply contacts.
(angka 3 ini suka-suka saya aja, boleh kok nanti menyebut angka berapa aja, ya kan Mon?:D)

Hm, siapa ya…

Ini yang terpikir saat ini:
1. Mbak Yuni, ibunda dari 3 krucil, yang kini memulai bisnis jualan kaos keren aulaady. Tulisan-tulisannya, sering kocak dan memancarkan semangat untuk menjadi ibu yang keren abis buat anak-anaknya, Mbak Yuni udah lama nggak nulis di MP, jadi kangen nih.. Ayo Mbak, ditunggu cerita about yourself yaaaa…:)

2. Mbak Efin, ibundanya Fay. Baca tulisan mba Efin, daku sering merasa dapat ‘teguran’ betapa diri ini harus lebih banyak sabar dalam mendidik anak… Mba Efin, terus nulis ya…

3. Sovi, saya suka sekali dengan moto blog-nya ‘cool, calm, confident’… seandainya diriku bisa punya tiga sifat itu ya…Ayo Sovi, I want to know you more..:)

RALAT
Karena mba Efin ternyata udah pernah dapat award, berarti award dari saya dialihkan ke mba Nunksubarga. Dear mba Enung, please write about yourself…I want to know you more…

D. Contact those multiply-ers and tell them about their Blog Award!

Oke..oke..nanti segera dikabari satu2:)

Udah kan Mon… puas..puas…?

Catatan Ahad Pagi#23: Jepang

Sejak kemarin, hingga pagi ini, aku membaca berbagai berita tentang gempa Jepang. Sungguh mengerikan. Sebagaimana musibah yang terjadi di berbagai tempat lainnya, sudah sepantasnya kita beristighfar, mengingat-ingat bahwa kematian itu dekat, dan mendoakan para korban. Kalau bisa, tentu mengirim bantuan materi.

Tapi, gempa Jepang punya kesan lain buatku. Tahun 1996, aku pernah menginjakkan kaki di Jepang, meski hanya sekitar 40 hari. Bila mencari kata yang tepat untuk Jepang, aku memilih: kokoh, bersih, rapi, disiplin. Masih terbayang-bayang pemandangan di sebuah jalanan sepi, tak ada satu motor/mobil pun, seorang guru TK meminta murid-muridnya menunggu sampai lampu hijau utk pejalan kaki menyala, baru mereka menyeberang jalan.

Kesan itu tertanam kuat, meski kemarin sempat tersentak oleh status seorang wartawan di FB:
“Jepang bangsa berperadaban, tp ke negeri lain sikapnya bisa bi***b. Sdhlah hampir 100% otomotif dikuasainya di negeri ini, msh complain soal pajak motor dominan diraih bangsa ini. Bahkan mrk terindikasi menggasing CASH dari “pajak” disedot balik utk keuntungan se-tingginya.” (=kasus transfer pricing, yang konon banyak dilakukan perusahaan transnasional Jepang)

Tapi, pagi ini aku cuma ingin mengenang kembali masa-masa yang pernah aku lalui di Jepang. Aku pun membuka lagi buku diary yang aku tulis selama di sana. Ini beberapa kutipannya:

Trus, nyuci baju. Karena Dina nggak tahu bagaimana cara mencuci baju dengan mesin (habis, petunjuknya keriting semua!) jadi kita nyuci manual. (ckck… jauh2 ke Jepang!)

Kuliah hari I, benar2 bikin pusing. Dina sulit memahami apa kata2 Prof Ono. Salah juga sih, ambil mata kuliah ekonomi. Jadi banyak kata-kata aneh.

Anak-anak di ruang kuliah bebas banget. Ada yang kakinya dinaikin ke atas kursi, ada yang minum, ada yang pake T-shirt, dan celana pendek, dan kalo ngomong dengan dosen cuek banget.

Sholat di kapel
Hari pertama kuliah, Dina bingung, mau sholat dimana. Seorang LO, gadis Jepang yang efisien, menyarankan Dina sholat di kapel yang tersedia di basement kampus. Maria (bukan nama sebenarnya) protes, “I don’t think it’s right.” Si gadis Jepang menjawab, “Why not, you have the same God, right?” Maria diam. Dina juga bingung.
“It’s OK, I’ll wait here and make sure no body come in while you are in,” kata si gadis Jepang.
Waktu Dzuhur sudah hampir habis. Apa boleh buat. Dina beranikan diri masuk ke kapel. Ada patung Yesus. Jadi kemana Dina harus menghadap? Dina pun akhirnya sholat di sebuah sudut, membelakangi patung Yesus.
Hari-hari berikutnya, setelah hafal situasi kampus, Dina pun sholat di kelas-kelas yang kosong.

Homestay di keluarga Kotake
Keluarga Kotake benar-benar berusaha menyenangkan Dina. Padahal mereka untung apa, coba? Yang lucu, sehabis dari Dogo hotsprings, Pak Kotake mengajak Dina ke Pachinko (main judi, dengan mesin). Dina kan protes, “Jangan, ntar duit kita hilang begitu saja.” Trus, kata Mitsuko, “Oh, yang bayar Hajime kok.” Trus, Dina bilang aja, “But…it’s not good!” Ya udah, nggak jadi deh.

Munafik
Homestay di Ishikawa benar-benar membosankan. Kami (Dina, Liz, Binh, Fanny) ditempatkan di rumah seorang ketua DPR-nya Ishikawa. Mewah dan besar. Tapi anggota keluarga hampir tidak bisa bahasa Inggris. Liz bisa bahasa Jepang. Jadi selama dua hari Dina tersiksa mendengar mereka ngobrol dalam bahasa Jepang, tanpa tahu artinya. Dina dicuekin aja. Dina benar-benar sebel sama Liz! Tapi esok harinya, dipikir-pikir, untung ada Liz. Coba kalau enggak, situasi bisa tambah runyam.

Di hari terakhir, kami dibawa jalan-jalan, salah satunya ke museum yang benar-benar membosankan (si ibu menunggu di luar). Trus pas mau keluar, Liz bilang, “Kayaknya kita harus bilang, museum ini benar-benar indah!” Kita berempat tertawa, lalu Dina bilang, “OK, I’ll say that.” Tapi pas mau bilang, Dina ketawa (nggak tahan), yang lain juga, jadi nggak bisa ngomong.

Di perjalanan pulang, si ibu nanya, “Mana homestay yang paling mengesankan untuk kalian?” (sebelumnya kami sudah homestay di dua kota lainnya).
Serempak kami menjawab, “Ishikawa!”
Benar-benar munafik.

Ngamen di Harajuku
Pulang dari berkunjung ke rumah bu Reiko (ibu-ibu yang ketemu sama Dina di bis, lalu dia menawari Dina main ke rumahnya) kami ngobrol-ngobrol sebentar di dorm. Lalu Ruli dan Marco memutuskan untuk ngamen di Harajuku. Ya udah, kita langsung cabut ke sana (Dina, Ruli, Marco, Peach, dan Daniel). Di ujung jalan Takeshita-dori, ada tempat duduk-duduk, banyak anak muda nongkrong di situ. Trus, Ruli, Marco, dan Peach mulai menyanyi (mrk bawa gitar). Lumayan, banyak juga yang ngeliatin. Tapi nggak ada yang ngasih uang!
Jam 6 sore, Dina cabut, jalan-jalan sendirian ke Ginza.

Ternyata malam itu Ginza tidak terlalu ramai. Dina masuk ke salah satu dept store terbesar, Matsuya Ginza. Ck..ck.. serasa masuk ke dunia
di awang-awang. Baju-baju, perhiasan, perlengkapan rumah tangga… semua kelas elit. Yang kebayang, pemiliknya pasti punya rumah mewah, mobil mewah… pesawat executive class..
Ginza memang tempat termahal di Jepang. Kelap-kelip lampunya amat menyilaukan. Jadi terbayang suasana Ginza pas jamannya Oshin dulu…orang-orang pakai kimono, gedung-gedungnya dari kayu, belum ada mobil…

Japan…
My prayer and heartfelt thoughts are with everyone who has been affected by the disaster…

Semoga teman2 kita MP-ers yang di Jepang juga selamat semua..amiiiin…



Catatan Ahad Pagi#22: Afirmasi

Afirmasi adalah semacam teknik membangun sugesti pada diri sendiri. Ada banyak tulisan di blog-blog yang berbicara tentang afirmasi. Ada yang mengatakan teknik afirmasi bermanfaat, tapi ada juga yang memperingatkan bahwa teknik afirmasi justru berbahaya bila diterapkan pada orang-orang yang awalnya memang tidak/belum pede. Tentu untuk lebih jelasnya, teman-teman bisa browsing sendiri.

Kali ini saya ingin menceritakan bahwa teknik afirmasi pernah berhasil saya lakukan (mungkin perlu dimaknai: berhasil untuk kasus tertentu yang saya alami). Boleh dicoba, boleh tidak, tergantung sikon masing-masing.

Begini ceritanya, mendadak saya disodori orderan menulis buku fiksi anak dengan ketebalan sekitar 100 halaman A4. Panjang ceritanya mengapa saya sampai bilang ‘ya’ padahal saya selalu meyakini bahwa saya tak bisa menulis fiksi (apalagi fiksi anak!). Bahkan saya pernah curhat juga di MP soal ketidakbisaan saya ini. Tapi, singkat cerita, saya terlanjur bilang ‘ya’ dan saya kebetulan termasuk jenis orang yang agak pantang mundur (=gengsi) kalau sudah terlanjur maju.

Jadilah saya panik berhari-hari. Sungguh, inilah buku tersulit yang saya garap. Saya tentu saja minta bantuan kepada Allah, Sang Pemilik Ilham dan Inspirasi. Saya membaca banyak buku-buku anak-anak. Saya menghentikan penulisan tesis. Saya berusaha masuk ke ‘alam’ anak-anak. Saya berusaha melihat sekitar dengan mata anak-anak. (Tapi, sesekali untuk refreshing, saya tetap mengisi kolom analisis Timur Tengah di web IRIB. It sounds weird, isn’t it? Menulis politik sebagai refreshing di sela-sela kerepotan menulis buku fiksi anak?:D)

Nah, selain berbagai upaya tadi, saya juga menggunakan teknik afirmasi itu, saya menggunakan kalimat: SAYA BISA! Setiap mulai duduk di depan netbook, saya berkata keras pada diri sendiri, SAYA BISA! Saat mau tidur, saya juga tetap memikirkan buku itu lalu berkata, SAYA BISA! Dini hari, saya sering terbangun dengan rasa helpless mengingat nasib si buku cerita itu, dan saya lawan dengan berkata; SAYA BISA!

Ketika otak saya buntu, entah harus menulis apa lagi, saya katakan lagi pada diri sendiri: SAYA BISA! Dan saya paksa diri ini untuk terus mengetik, meski tak punya plot, tak punya ide cerita yang jelas. Sering saya mengawali kisah dengan benar-benar blank, ini ceritanya mau dibawa kemana. Tapi saya paksakan mengetik, saya bayangkan diri ini menjadi si tokoh cerita, saya biarkan si tokoh membawa saya ke berbagai scene… sambil terus berafirmasi: SAYA BISA!

Proses ini memberi pelajaran pada saya bahwa kebuntuan otak, kebuntuan ide, ternyata harus dilawan dengan cara maju terus, mengetik terus, sambil berkata, SAYA BISA!

Hasilnya..hey, sungguh mengejutkan! SAYA BENAR-BENAR BISA! Kata-kata, kalimat-kalimat, benar-benar muncul dan mengalir, ide-ide ‘gila’ berdatangan (‘gila’ dalam arti positif ya hehe…), plot terbentuk dengan sendirinya, dan bahkan tiba-tiba saya menemukan plot untuk ending buku yang sebenarnya di saat mulai menulis sama sekali tak terpikirkan. Dan, hanya dalam sebulan, selesailah naskah buku sebanyak 116 halaman itu.

Tentu, wallahu a’lam, buku itu akan jadi diterbitkan atau tidak. Tapi, bahkan kalaupun batal terbit, saya tetap bahagia karena ternyata, SAYA BISA!

Mau mencoba?