Catatan Ahad Pagi#22: Afirmasi

Afirmasi adalah semacam teknik membangun sugesti pada diri sendiri. Ada banyak tulisan di blog-blog yang berbicara tentang afirmasi. Ada yang mengatakan teknik afirmasi bermanfaat, tapi ada juga yang memperingatkan bahwa teknik afirmasi justru berbahaya bila diterapkan pada orang-orang yang awalnya memang tidak/belum pede. Tentu untuk lebih jelasnya, teman-teman bisa browsing sendiri.

Kali ini saya ingin menceritakan bahwa teknik afirmasi pernah berhasil saya lakukan (mungkin perlu dimaknai: berhasil untuk kasus tertentu yang saya alami). Boleh dicoba, boleh tidak, tergantung sikon masing-masing.

Begini ceritanya, mendadak saya disodori orderan menulis buku fiksi anak dengan ketebalan sekitar 100 halaman A4. Panjang ceritanya mengapa saya sampai bilang ‘ya’ padahal saya selalu meyakini bahwa saya tak bisa menulis fiksi (apalagi fiksi anak!). Bahkan saya pernah curhat juga di MP soal ketidakbisaan saya ini. Tapi, singkat cerita, saya terlanjur bilang ‘ya’ dan saya kebetulan termasuk jenis orang yang agak pantang mundur (=gengsi) kalau sudah terlanjur maju.

Jadilah saya panik berhari-hari. Sungguh, inilah buku tersulit yang saya garap. Saya tentu saja minta bantuan kepada Allah, Sang Pemilik Ilham dan Inspirasi. Saya membaca banyak buku-buku anak-anak. Saya menghentikan penulisan tesis. Saya berusaha masuk ke ‘alam’ anak-anak. Saya berusaha melihat sekitar dengan mata anak-anak. (Tapi, sesekali untuk refreshing, saya tetap mengisi kolom analisis Timur Tengah di web IRIB. It sounds weird, isn’t it? Menulis politik sebagai refreshing di sela-sela kerepotan menulis buku fiksi anak?:D)

Nah, selain berbagai upaya tadi, saya juga menggunakan teknik afirmasi itu, saya menggunakan kalimat: SAYA BISA! Setiap mulai duduk di depan netbook, saya berkata keras pada diri sendiri, SAYA BISA! Saat mau tidur, saya juga tetap memikirkan buku itu lalu berkata, SAYA BISA! Dini hari, saya sering terbangun dengan rasa helpless mengingat nasib si buku cerita itu, dan saya lawan dengan berkata; SAYA BISA!

Ketika otak saya buntu, entah harus menulis apa lagi, saya katakan lagi pada diri sendiri: SAYA BISA! Dan saya paksa diri ini untuk terus mengetik, meski tak punya plot, tak punya ide cerita yang jelas. Sering saya mengawali kisah dengan benar-benar blank, ini ceritanya mau dibawa kemana. Tapi saya paksakan mengetik, saya bayangkan diri ini menjadi si tokoh cerita, saya biarkan si tokoh membawa saya ke berbagai scene… sambil terus berafirmasi: SAYA BISA!

Proses ini memberi pelajaran pada saya bahwa kebuntuan otak, kebuntuan ide, ternyata harus dilawan dengan cara maju terus, mengetik terus, sambil berkata, SAYA BISA!

Hasilnya..hey, sungguh mengejutkan! SAYA BENAR-BENAR BISA! Kata-kata, kalimat-kalimat, benar-benar muncul dan mengalir, ide-ide ‘gila’ berdatangan (‘gila’ dalam arti positif ya hehe…), plot terbentuk dengan sendirinya, dan bahkan tiba-tiba saya menemukan plot untuk ending buku yang sebenarnya di saat mulai menulis sama sekali tak terpikirkan. Dan, hanya dalam sebulan, selesailah naskah buku sebanyak 116 halaman itu.

Tentu, wallahu a’lam, buku itu akan jadi diterbitkan atau tidak. Tapi, bahkan kalaupun batal terbit, saya tetap bahagia karena ternyata, SAYA BISA!

Mau mencoba?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s