Catatan Ahad Pagi#23: Jepang

Sejak kemarin, hingga pagi ini, aku membaca berbagai berita tentang gempa Jepang. Sungguh mengerikan. Sebagaimana musibah yang terjadi di berbagai tempat lainnya, sudah sepantasnya kita beristighfar, mengingat-ingat bahwa kematian itu dekat, dan mendoakan para korban. Kalau bisa, tentu mengirim bantuan materi.

Tapi, gempa Jepang punya kesan lain buatku. Tahun 1996, aku pernah menginjakkan kaki di Jepang, meski hanya sekitar 40 hari. Bila mencari kata yang tepat untuk Jepang, aku memilih: kokoh, bersih, rapi, disiplin. Masih terbayang-bayang pemandangan di sebuah jalanan sepi, tak ada satu motor/mobil pun, seorang guru TK meminta murid-muridnya menunggu sampai lampu hijau utk pejalan kaki menyala, baru mereka menyeberang jalan.

Kesan itu tertanam kuat, meski kemarin sempat tersentak oleh status seorang wartawan di FB:
“Jepang bangsa berperadaban, tp ke negeri lain sikapnya bisa bi***b. Sdhlah hampir 100% otomotif dikuasainya di negeri ini, msh complain soal pajak motor dominan diraih bangsa ini. Bahkan mrk terindikasi menggasing CASH dari “pajak” disedot balik utk keuntungan se-tingginya.” (=kasus transfer pricing, yang konon banyak dilakukan perusahaan transnasional Jepang)

Tapi, pagi ini aku cuma ingin mengenang kembali masa-masa yang pernah aku lalui di Jepang. Aku pun membuka lagi buku diary yang aku tulis selama di sana. Ini beberapa kutipannya:

Trus, nyuci baju. Karena Dina nggak tahu bagaimana cara mencuci baju dengan mesin (habis, petunjuknya keriting semua!) jadi kita nyuci manual. (ckck… jauh2 ke Jepang!)

Kuliah hari I, benar2 bikin pusing. Dina sulit memahami apa kata2 Prof Ono. Salah juga sih, ambil mata kuliah ekonomi. Jadi banyak kata-kata aneh.

Anak-anak di ruang kuliah bebas banget. Ada yang kakinya dinaikin ke atas kursi, ada yang minum, ada yang pake T-shirt, dan celana pendek, dan kalo ngomong dengan dosen cuek banget.

Sholat di kapel
Hari pertama kuliah, Dina bingung, mau sholat dimana. Seorang LO, gadis Jepang yang efisien, menyarankan Dina sholat di kapel yang tersedia di basement kampus. Maria (bukan nama sebenarnya) protes, “I don’t think it’s right.” Si gadis Jepang menjawab, “Why not, you have the same God, right?” Maria diam. Dina juga bingung.
“It’s OK, I’ll wait here and make sure no body come in while you are in,” kata si gadis Jepang.
Waktu Dzuhur sudah hampir habis. Apa boleh buat. Dina beranikan diri masuk ke kapel. Ada patung Yesus. Jadi kemana Dina harus menghadap? Dina pun akhirnya sholat di sebuah sudut, membelakangi patung Yesus.
Hari-hari berikutnya, setelah hafal situasi kampus, Dina pun sholat di kelas-kelas yang kosong.

Homestay di keluarga Kotake
Keluarga Kotake benar-benar berusaha menyenangkan Dina. Padahal mereka untung apa, coba? Yang lucu, sehabis dari Dogo hotsprings, Pak Kotake mengajak Dina ke Pachinko (main judi, dengan mesin). Dina kan protes, “Jangan, ntar duit kita hilang begitu saja.” Trus, kata Mitsuko, “Oh, yang bayar Hajime kok.” Trus, Dina bilang aja, “But…it’s not good!” Ya udah, nggak jadi deh.

Munafik
Homestay di Ishikawa benar-benar membosankan. Kami (Dina, Liz, Binh, Fanny) ditempatkan di rumah seorang ketua DPR-nya Ishikawa. Mewah dan besar. Tapi anggota keluarga hampir tidak bisa bahasa Inggris. Liz bisa bahasa Jepang. Jadi selama dua hari Dina tersiksa mendengar mereka ngobrol dalam bahasa Jepang, tanpa tahu artinya. Dina dicuekin aja. Dina benar-benar sebel sama Liz! Tapi esok harinya, dipikir-pikir, untung ada Liz. Coba kalau enggak, situasi bisa tambah runyam.

Di hari terakhir, kami dibawa jalan-jalan, salah satunya ke museum yang benar-benar membosankan (si ibu menunggu di luar). Trus pas mau keluar, Liz bilang, “Kayaknya kita harus bilang, museum ini benar-benar indah!” Kita berempat tertawa, lalu Dina bilang, “OK, I’ll say that.” Tapi pas mau bilang, Dina ketawa (nggak tahan), yang lain juga, jadi nggak bisa ngomong.

Di perjalanan pulang, si ibu nanya, “Mana homestay yang paling mengesankan untuk kalian?” (sebelumnya kami sudah homestay di dua kota lainnya).
Serempak kami menjawab, “Ishikawa!”
Benar-benar munafik.

Ngamen di Harajuku
Pulang dari berkunjung ke rumah bu Reiko (ibu-ibu yang ketemu sama Dina di bis, lalu dia menawari Dina main ke rumahnya) kami ngobrol-ngobrol sebentar di dorm. Lalu Ruli dan Marco memutuskan untuk ngamen di Harajuku. Ya udah, kita langsung cabut ke sana (Dina, Ruli, Marco, Peach, dan Daniel). Di ujung jalan Takeshita-dori, ada tempat duduk-duduk, banyak anak muda nongkrong di situ. Trus, Ruli, Marco, dan Peach mulai menyanyi (mrk bawa gitar). Lumayan, banyak juga yang ngeliatin. Tapi nggak ada yang ngasih uang!
Jam 6 sore, Dina cabut, jalan-jalan sendirian ke Ginza.

Ternyata malam itu Ginza tidak terlalu ramai. Dina masuk ke salah satu dept store terbesar, Matsuya Ginza. Ck..ck.. serasa masuk ke dunia
di awang-awang. Baju-baju, perhiasan, perlengkapan rumah tangga… semua kelas elit. Yang kebayang, pemiliknya pasti punya rumah mewah, mobil mewah… pesawat executive class..
Ginza memang tempat termahal di Jepang. Kelap-kelip lampunya amat menyilaukan. Jadi terbayang suasana Ginza pas jamannya Oshin dulu…orang-orang pakai kimono, gedung-gedungnya dari kayu, belum ada mobil…

Japan…
My prayer and heartfelt thoughts are with everyone who has been affected by the disaster…

Semoga teman2 kita MP-ers yang di Jepang juga selamat semua..amiiiin…



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s