Catatan Ahad Pagi#29: It’s Ur Problem Girl!

Ini cerita tentang praktek konsep parenting ‘memisahkan masalah’. Intinya, ibu jangan repot2 ngurusin apa yang bukan masalah ibu, biarkan anak ngurusin masalahnya sendiri dengan bertanggung jawab.

Suatu hari, Kirana kehilangan baju karatenya. Padahal, dia semangat sekali mau segera memakainya pada hari Rabu karena itulah pertama kali dia akan mengenakan sabuk hijau (sebelumnya, hari Ahad, sudah ada acara penyerahan sabuk hijau setelah lulus ujian kenaikan).

Hari Senin, Kirana masih tenang, berharap mamanya turun tangan. Hari Selasa, mulai panik, karena mamanya cuek aja. Sore hari Selasa, dengan tatapan memelas, dia minta dicarikan jalan keluar.

“Itu kan masalahnya Kirana. Siapa yang menghilangkan baju Kirana?” tanya saya.

“Aku sendiri…” jawabnya pelan (dan dengan sorotan mata yang membuat saya ingin segera memeluknya dan berkata, “ya deh, mama belikan yang baru!”)

“Ya, berarti itu problemnya Kirana. Silahkan cari sendiri jalan keluarnya,” kata saya.

Kirana terdiam.

“Beli lagi yang baru…” jawabnya lirih (dooo…kesian amat sih naaak…)

“Uangnya dari mana?”

“Dari..royalti buku Kirana aja..” jawabnya, dengan suara semakin pelan.

“Kan royalti kirana buat bayar les biola. Nanti kalau habis dan Kirana ga bisa les biola lagi gimana? Kirana sedih nggak?”

Dia mengangguk.

“Ok deh, mama pinjamin uang untuk beli baju karate yang baru. Tapi, Kirana harus ganti. Coba, pikirkan cara untuk mencari uang… kerja..misalnya..atau menabung…”

(Diskusi selanjutnya, dipersingkat saja ceritanya ya:D, Kirana dan saya saling tawar-menawar. Akhirnya, disepakati, uang jajan Kirana yang cuma 2000 sehari itu-maklum sekolahnya di kampung, jajanannya murah, lagipula makan siang disediakan sekolah-ditabung 1000 sehari; lalu Kirana akan mengerjakan tugas saya, ngepel, dengan imbalan uang –biasanya kan Kirana yg nyapu, sy yg ngepel; lalu… ini ide orisinil Kirana: dia mau jualan dompet!)

Singkat cerita, baju karate itu ternyata ditemukan, ketinggalan di kantin sekolah (ampun deh!). Tapi Kirana tetap ingin jualan dompet. Akhirnya, saya beli kain felt warna-warni di Gramedia (nah, ini juga salah emaknya, masak mau jualan, tapi beli bahannya di Gramedia, kan mahal, harusnya di Pasar Baru dong!)

Sejak beberapa hari yang lalu, Kirana sibuk menerima pesanan dompet. Karena bahannya mahal, terpaksa untung yang diambil hanya 1000-2000 perak tiap itemnya… Kalau dijual terlalu mahal kan kasihan juga ibu-ibu temen2nya (karena harus ngasih uang tambahan ke anak mereka). Dalam hati komentar saya: huhuhu, capek2 bikin untungnya cuma segitu, tapi ga saya bilang sih ke Kirana. Yang berharga kan proses dia berkarya dan bekerja, bukan uangnya.Siapa tahu kelak jadi pengusaha dan penulis buku berbahan kain felt kayak tante Dini.

Nah, inilah foto2 hasil karya Kirana yang dijual ke temen-temennya:

Perjalanan Panjang Sebuah Buku: Math Craft


Rasanya sudah berlalu lamaaaa…sekali sejak saya dimintai endorsment untuk buku berilustrasi kain felt dari Mba Dini. Saya juga sempat bertanya-tanya, buku itu jadi terbit ga ya… kok ga ada kabar-kabarinya lagi…? Nah..kemarin siang, ada keajaiban datang ke rumah kami: Pak Pos datang mengantarkan satu set buku Math Craft karya Mba Dini…! Wow…! Langsung deh, pagi ini buka milis penulis bacaan anak, cari-cari info soal buku Math Craft ini. Ternyata ada penuturan kisah kreatif dari Mba Dini, duh, terharu sekali bacanya (bisa dibaca di bagian akhir tulisan ini).

Ternyata buku Math Craft ini benar-benar membutuhkan proses yang panjang, selain juga membuatnya bener-benar harus sepenuh hati (terharuuuw… apalagi saya juga tahu njelimetnya bikin craft dari kain felt, karena putri saya Kirana juga sedang keranjingan kain felt akhir-akhir ini).

Sepertinya, karena dibuat dengan hati, sampai juga ke hati. Anak saya Reza (5 thn), antusias sekali dengan buku ini. Dia tahan hampir sejam ngoprek-ngoprek buku ini (biasanya Reza tuh pembosan). Mulai dari minta dibacakan, aktif menghitung jumlah hewan-hewan lucu yang ada di buku (he loves it so much, krn memang Reza paling suka buku bergambar hewan-hewan), sampai memainkan angka-angka dari poster flanel yang jadi bonus seri Math Craft ini. Uniknya, illustrasi buku ini tuh bukan ‘gambar’, tapi kain felt yang dijahit dengan sangat rapi, lalu difoto, dan jadilah illustrasi buku.

Buku MATH CRAFT ini dijual dalam satu set, terdiri dari 3 buku, Lets count on the pond (anak-anak diajak berhitung sederhana dengan mengenali dan menghitung hewan-hewan apa saja yang ada di kolam), How high is the hill (anak-anak diajak mengenal konsep perbandingan (opposite) dalam logika matematika dasar melalui gambar bercerita tentang liburan ke kawasan pedesaan), dan Lets go travelling (anak-anak diperkenalkan bentuk-bentuk geometri dasar melalui petualangan dengan berbagai kendaraan).

Pokoknya…. keren deh:)
Selamat ya Mba Dini… semoga bukunya sukses…
Amiiiin…:)


Penuturan Mba Dini Tentang Proses Kreatif Membuat MATH CRAFT (dimuat di milis Penulis Bacaan Anak):

Saya mulai membuat Math Craft sekitar bulan Mei 2009..2 tahun yang lalu. Sungguh perjalanan yang panjang. Naskah ini melewati 3 editor, 2 penerbit dan 2 tahun untuk sampai ke tangan anak-anak indonesia. Sebuah tawaran melayang ke meja saya..hmmm tidak tepat juga dikatakan demikian karena tawaran itu muncul saat chatting.

Singkat kata, seorang editor bernama imran laha menawarkan ke saya untuk membuat buku. Ide awalnya adalah membuat buku bayi alias softbook yang memang selama ini saya geluti melalui capungmungil. Dari obrolan yang ngalor ngidul tersebut muncullah ide membuat buku softbook dalam skala besar. Namun setelah mempertimbangkan banyak hal (bahan, tenaga kerja dan kapasitas produksi), nampaknya ide tersebut cukup muskil untuk direalisasikan sehingga kami pun menundanya.

Tak sengaja seorang kawan (dian yusnita –my best buddy) membelikan saya sebuah buku yang berilustrasikan kain flanel (felt ilustration) yang tak ayal membuat saya jatuh cinta judulnya one moose twenty mice karya clare beaton (www.clarebeaton.com). Saya betul-betul jatuh cinta dengan karya-karya beaton apalagi setelah saya surfing di dunia maya mengenai kiprah beliau menulis buku anak. “Luar biasa”.. antara unik dan tak pernah terpikirkan oleh orang lain. Ide-ide tulisannya pun sangat menarik walaupun hanya bercerita mengenai hal-hal dasar bagi anak-anak. Beliau kemas dengan sangat unik dan menimbulkan antusiasme saat membacanya.

Saya kumpulkan potongan-potongan cerita dan juga gambar (doodling) saya yang dulu hanya sekedar orat-oret tak bertuan. Dan tercetuslah sebuah naskah bagi batita berjudul Math Craft . disebut math mewakili serial pengenalan logika matematika dan craft memperlihatkan sisi ilustrasinya yang akan dibuat dari patchwork dan kolase flanel. Tak menunggu waktu, saya pun mengajukan sebuah naskah yang tentunya original karya saya sendiri – clare beaton sangat inspiratif bagi saya-.

Gayungpun bersambut. Mas imran sangat tertarik dengan naskah tersebut. Saya pun diminta membuat 3 atau 4 seri mengenai seri math craft. Namun timbul pertanyaan bagaimana seseorang mau membeli buku ini bahkan muncul pertanyaan mengapa harus membuat ilustrasi dari flannel jika efek flanel bisa diciptakan dengan computer grafis? Tapi saya bersikukuh bahwa Buku ini merupakan boardbook pertama yang akan berilustrasikan flanel. Ini adalah kelebihan seri math craft. Ilustrasinya adalah kekuatannya, selain unik dan jarang buku ini pun penuh warna-warna ceria. Buku ini memuat frase-frase pendek serta illustrasi flanel-kreatif sekaligus cute. Buku ini merupakan buku yang unik dan menonjolkan unsur craft, ilustrasinya dibuat dengan pacthwork. Teknik ini akan terlihat sangat menarik, sebab ilustrasi computer graphic dan sketsa tangan sudah sering dipakai. Di Indonesia, buku dengan ilustrasi dari kain terbilang sangat jarang.

Ilustrasi flanel memberi kesan nyaman dan hangat secara visual bagi anak-anak. Serasa buku buatan sendiri karena menggunakan material yang ditemui sehari-hari seperti kain perca, manik-manik daln sulaman (handmade book). Anak-anak akan dibawa menikmati perpaduan warna dan bentuk objek dalam isinya yang sangat ceria dan cute, sangat menarik untuk anak-anak sesuai segment usia yang ditujunya. Belajar jadi serasa bermain, sehingga anak-anak merasa senang

Akhirnya sang editorpun setuju. Mulailah saya menghabiskan malam demi malam untuk menjahit dan menyulam setiap detail ilustrasi dalam math craft. Saya lakukan sedikit demi sedikit sambil mengasuh dan member asi pada kedua anak saya (si kembar). Saya menikmati prosesnya. Jahitan demi jahitan saya buat dengan sepenuh hati. Saya merasa membuat buku bagi si kembar dan berharap mereka berdua (juga anak-anak indonesia yang lainnya) akan jatuh cinta pada buku ini seperti cinta saya kepada mereka…

Catatan Ahad Pagi #28: Anak Cerdas

Di saat ‘lupa’, saya sering kesal, bahkan meledak, menghadapi sikap-sikap Reza yang tak jua kunjung ‘besar’, masih sangat kekanak-kanakan, manja, nempel terus (dia menuntut saya untuk full memberikan perhatian, padahal di saat yang sama, ada banyak pekerjaan lain yang harus saya lakukan), marah kalau keinginannya tak dituruti, dll. Tapi, kalau sedang ‘ingat’, dalam arti sadar soal tanggung jawab sebagai ibu…yah…lumayanlah, saya bisa bersabar menghadapi Reza…

Namun, sejak empat hari terakhir, saya jauh lebih bisa bersabar, jauh lebih bersyukur bahwa Reza memang masih ANAK-ANAK. “Duh, untung, Reza masih sangat childish dan polos, saya masih punya kesempatan menjaganya baik-baik,” demikian bisik hati saya dengan penuh rasa syukur.

Apa pasal? Nih, perhatikan kalimat mengerikan yang diucapkan oleh seorang anak lelaki usia 5,5 thn kepada gurunya:
– “Bu, aku kemarin di warnet liat bapak-bapak lagi n*n*n sama ibu-ibu”
-“Kenapa ya, Bu, kalau aku lihat perempuan cantik, t*t*tku jadi tegang?”
(Si anak juga pernah menggambar perempuan, dengan memperlihatkan payudara serta alat vital.)

Para guru pun menganalisis situasinya.

Rupanya si anak sering ditinggal sendiri oleh ibunya di rumah karena si ibu punya pekerjaan paruh waktu (dan tempat kerjanya ga jauh dari rumah, jadi sebenarnya si anak hanya ditinggal 2-3 jam saja, itu pun tidak tiap hari). Dan si anak ini sangat cerdas, termasuk kecerdasan emosi, sehingga dia sangat percaya diri ditinggal sendirian di rumah, bahkan mampu berdialog dengan baik dengan orang-orang dewasa. Si anak cerdas ini, rupanya, dengan berani main sendiri ke warnet dekat rumahnya, dan memerhatikan apa yang didownload para pengunjung warnet.

Para guru juga sempat berkonsultasi pada seorang ahli parenting. Kata beliau, gambar si anak (gambar perempuan itu) menunjukkan bahwa memang si anak pernah melihat gambar porno; karena anak akan menggambar apa yang pernah dilihatnya. Beliau juga berkata, anak cerdas justru harus dijaga dengan ekstra oleh orang tuanya karena dengan kecerdasannya, si anak mampu menyerap segala sesuatu di lingkungannya dengan sangat cepat.

Tiba-tiba saya terhenyak. Sungguh, sebenarnya semua orang tua punya tugas berat. Ortu yang punya anak dengan kebutuhan khusus, jelas, punya tugas berat membesarkan anak-anaknya. Tapi jangan dikira bahwa orangtua bisa santai-santai saja jika punya anak ‘normal’ dan cerdas karena bahaya besar sedang mengintai anak-anak cerdas ini. Ini data-data mengerikan yang mengancam anak-anak cerdas itu:
– 1 x imaji porno ditangkap anak, seumur hidup takkan terhapus dari memorinya
-1 dari setiap 2 anak mengakses pornografi DI RUMAHNYA SENDIRI (dari tivi, film, komik, game, internet)
– 1 dari setiap 3 anak menunjukkan espresi biasa saat melihat tayangan pornografi (artinya, mereka sudah biasa melihat)
-62% siswi SMP dan SMA di Indonesia tidak perawan lagi
-sasaran tembak industri pornografi adalah anak-anak lelaki kecil yang belum baligh, karena jika mereka 33-36 kali mengalami ejakulasi akibat melihat pornografi, seumur hidup dia akan menjadi pecandu pornografi. Kerusakan otak akibat pornografi bersifat permanen dan melebihi kerusakan otak akibat kokain.

Seorang teman, guru SMA (yang punya relasi akrab dg murid2nya) pernah bertanya terang2an, siapa yang pernah menonton film porno. Semua anak di kelas itu mengacung, kecuali satu murid saja!

Saya teringat kalimat dari bu Elly Risman, kurang lebih begini (beliau mengucapkannya dengan suara bergetar menahan tangis), “Anak adalah amanah, titipan Allah kepada kita. Allah memberikan anak kepada kita dalam keadaan suci dan bersih. Lalu, apakah kelak kita akan mengembalikan titipan itu dalam keadaan ‘bonyok’???” (bonyok, kiasan utk anak yang terpapar pornografi, narkoba, terjebak pergaulan bebas, dll..).

Ya Allah, nauzubillah min dzalik…

Ya Allah, beri aku selalu kesadaran untuk melindungi anak-anakku sebaik-baiknya. Jangan biarkan aku lupa dan lalai…

Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah satu-satunya pelindung kami, karena itu, aku titipkan anak-anakku pada-Mu….

Dan… saya pun memeluk Reza erat-erat…

Undangan Kopdar Syukuran atas Pernikahan Ima

Dear sahabat Mpers,

Alhamdulillah, adik-mp-ers saya sejak zaman dahulu kala, yaitu Imazahra, telah mengikatkan diri pada perjanjian suci ‘mitsaaqhon gholidzha’ nun di Banjarmasin sana, tepatnya tanggal 27 Februari 2011 lampau.

Saya dan Ima telah melewati berbagai peristiwa selama tahun-tahun persobatan di multiply. Ima yang jalan hidupnya bak roller coaster itu berkali-kali menginspirasi saya supaya tabah menjalani kehidupan. Dan kini, ketika mengiringi kebahagiaan melingkupi kehidupan baru Ima, inspirasi kebahagiaan juga datang kepada diri ini;)

Singkat kata, Uni Desti, dan Mba Ratna, dan saya, turut berbahagia dan bersyukur kepadaNya atas pernikahan Ima… dan berniat mengadakan ‘kopdar syukuran’ yang bertema “soto banjar di Priangan”

Semoga sahabat-sahabat mp-ers berkenan menghadirinya. Kopdar tasyakuran ini InsyaAllah akan diadakan:

Tanggal: 23 APRIL 2011
Waktu: MENJELANG DZUHUR, biar bisa Dzuhuran bareng
Tempat: Rumah Desti J. Basuki, KOMP FAJAR RAYA no. A1-49, Cibabat, CIMAHI 40513
Ancer2: Dari Jl Raya Cibabat, masuk ke Jl Pasantren (dari arah Bandung) atau ke Jl Cihanjuang (dari arah Cimahi). Kedua jalan tadi akan bertemu dengan Jl Jati Serut (nama lain Jl Kecamatan). Ikuti jalan ini, lalu masuk ke gerbang kompleks Fajar Raya (sebelah kanan kalau dari Jl Pasantren, sebelah kiri dari Jl Cihanjuang). Dari gerbang, susuri terus sebelah kiri, ikuti terus, melewati sebuah taman kecil, sampai ketemu rumahnya: bercat putih dengan selarik hijau, dan sebatang pohon nangka di depannya. :-))

Kehadiran rekan-rekan MP-ers akan melengkapi kebahagiaan kami dan adik kami Imazahra dan Risyan. Semoga Allah menjadikan mereka berdua pasangan yang serasi hingga kakek-nenek, meridloi keluarganya dan keluarga kita masing-masing sebagai keluarga sakinah mawaddah, dan semoga Dia melimpahkan berkahNya kepada kita semua. Aamiin…

PS.

“Kepada MP-ers yang berkenan hadir, dimohon memberikan konfirmasinya [minimal H-2] di jurnal ini, atau di jurnalnya Ima, untuk memudahkan persiapan kami dalam menyediakan konsumsi kopdar tasyakkur ini.”

Foto pinjam dari mpnya Yuni

Catatan Ahad Pagi# 27: Ada Tapi Tiada

Kamis dan Jumat yang lalu kami sekeluarga berada di Jakarta untuk berbagai keperluan, antara lain penelitian untuk tesis saya. Dan… beginilah emak-emak yang lagi bikin tesis: menemui narasumber untuk diwawancara sambil membawa anak-anaknya 😀

Narasumber saya itu dari Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) yang kantornya di daerah Kedoya. Yayasan ini aktif melakukan berbagai kegiatan untuk mencegah anak-anak bangsa ini terjerumus dalam narkoba. Selama menunggu narasumber, saya sangat terkesan dengan orang-orang di yayasan itu, mereka ramah-ramah… bahkan cleaning service-nya pun ramah menyapa saya dan penuh semangat dalam bekerja (waktu itu dia lagi ngelap kaca).

Sambil menunggu narasumber, saya membaca kliping artikel koran Media Indonesia yang diframe dan dipajang di dinding ruang tamu. Judulnya “10 Mitos 1 Kebenaran”, penulisnya ibu Veronica Colondam, ketua YCAB.

Ada fakta yang mengejutkan saya, ternyata dari hasil survei YCAB, kebanyakan pecandu mengaku berasal dari keluarga ‘baik-baik’. Yang mereka definisikan sebagai keluarga baik-baik adalah ortunya tidak bercerai (bukan broken home). Bahkan 60%-nya mengaku memiliki ibu yang tinggal di rumah (tidak berkarir di luar rumah). O..o…! Waspada..waspada..!

Dan setelah saya pikir-pikir, sangat mungkin memang ibu di rumah, tapi jiwanya tidak di rumah. Sangat mungkin ibu duduk berdampingan dengan anak, tetapi mata dan pikirannya tersedot oleh adegan sinetron, infotainment televisi, fb, atau..bisa juga oleh hal2 yang positif sebenarnya, misalnya buku, urusan tesis, ngejurnal di mp (hayo! hwaaa… kayaknya saya kena di sini deh..)

Sangat mungkin ibu di rumah, tetapi anak malah diomeli melulu karena si ibu bete dan jenuh. Sangat mungkin ibu di rumah, tapi dia biarkan saja (karena tak tahu) si anak mengakses pornografi (data dari Yayasan Kita dan Buah Hati: sebagian besar anak mengakses pornografi di rumahnya sendiri). Sangat mungkin ibu di rumah, tapi dia tidak kenal dengan anaknya, karena terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.

Ibu ada, tapi tiada.

Di artikel itu disebutkan bahwa seringnya, orangtua tahu paling akhir bahwa anaknya pecandu narkoba. Untuk itu, ibu Veronica menyarankankan para ortu agar memperbaiki kualitas hubungan dan komunikasi dengan anak-anaknya.

Di artikel itu, ibu Veronica memberikan kuis ‘mengenal anak’. Berikut pertanyaan-pertanyaannya:
1. Warna favorit anak saya adalah…
2. Sahabat terdekat anak saya adalah…
3. Siapa nama guru anak dan siapa guru yang paling disukainya, serta mengapa (anak suka guru itu)?
4. siapa yang jadi anutan dalam keluarga?
5. Apa yang dikagumi anak dari orang yang jadi anutan itu?
6. Apakah harapan anak untuk sesuatu yang sekarang saya lakukan untuk dia?
7. makanan kesukaan anak saya adalah…
8. Apa pendapat anak saya tentang dirinya dan tentang saya?
9. Apa hobi anak saya?
10. Apa cita-cita anak saya?

Bila Anda menjawab benar 8-10 nomor, maka SELAMAT, Anda sangat mengenal anak Anda.
Bila Anda menjawab benara 5-7 nomor, Anda bisa lebih baik memberi perhatian kepada anak Anda.
Bila Anda menjawab benar di bawah 5 nomor, wah, parah…sudah saatnya Anda luangkan waktu untuk lebih mengenal anak Anda sebelum terlambat.

Fiuuuh..saatnya untuk waspada!

Artikel lengkap bu Veronica bisa dibaca di sini dan di sini.

Catatan Ahad Pagi#26: Black Swan

Mohon maaf saya pagi tidak tidak bisa memenuhi janji meneruskan catatan pekan lalu soal ‘mimpi’. Penyebabnya, saya masih tegang setelah menonton DVD Black Swan. Ceritanya berawal dari ‘provokasi’ sobat saya yang demen film Hollywood (bahkan dia yang akhirnya beliin DVD bajakan dan menghadiahkannya buat saya). Saking terpesonanya sobat saya ini pada Black Swan, sampai-sampai pas sidang proposal tesis, demi mengurangi ketegangan, dia mengulang-ulang sebuah kalimat dalam film itu yang bisa mengafirmasi dirinya.

Nah, sudah hampir dua bulan DVD itu menganggur tanpa saya tonton (soalnya, kata sobat saya ini, kalau nonton harus sendirian, jangan ada suami, jangan ada anak2, karena ada beberapa adegan ‘dewasa’-nya.. nah masalahnya, kalaupun saya ada waktu ‘sendiri’, saya malah lupa atau mengantuk). Tapi, selama beberapa waktu terakhir, Kirana merengek-rengek ingin menonton film itu, gara-gara membaca resensinya di koran Republika.

Walhasil, pagi ini kami berdua menontonnya (dengan remote siap siaga di tangan saya, sewaktu-waktu mengalihkan scene kalau ada gejala adegan ‘dewasa’..meski sempat lolos juga sih beberapa, huhuhu…).

Sejak awal memang suasana film itu tegang sekali, kerap membuat nafas tertahan, dan ketika berakhir, rasanya lelah sekali (karena menahan ketegangan). Saya lebih suka film drama dengan setting cuaca yang cerah dan terang, meski ada tangisan, tapi juga ada banyak tawa. Tapi, dari diskusi saya dengan Kirana, ternyata ada pelajaran-pelajaran hidup yang bisa saya sampaikan kepada Kirana, ini di antaranya:

1. Nina adalah balerina yang sangat disiplin dan pekerja keras. Dia berusaha meraih peran utama dalam pementasan drama balet Black Swan. Pemeran utama harus memerankan dua karakter sekaligus: sebagai Black Swan yang jahat, dan White Swan yang baik hati.

Saya bilang ke Kirana, “Ga enak banget yah, hidup kayak Nina..tegang terus.. latihan balet tanpa menikmatinya dengan tersenyum.. badannya sampai sakit-sakit.. trus, tegang menanti keputusan sutradaranya, mau dipilih jadi pemeran utama atau tidak… Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada pekerjaan yang membuat kita nyaman, tersenyum, dan membuat Allah dan sesama manusia juga tersenyum, ya kan?”

2. Nina adalah seorang gadis yang baik-baik (tapi rapuh dan tidak punya pegangan hidup), tapi karena harus memerankan Black Swan yang jahat, dia ‘dipaksa’ untuk mengeluarkan sisi liar dalam dirinya. Awalnya ia kesulitan, sampai kemudian Lily (teman sesama penari) yang liar mengajaknya melakukan hal-hal liar (seperti dugem, minum obat penenang, dll). Nina akhirnya bisa menarikan Black Swan dengan sangat baik (terasa sekali aura jahatnya saat Nina menari).

Saya bilang ke Kirana… “Nah…inilah bukti dari hadis Nabi, riwayat Abu Musa ra.:
Dari Nabi saw., beliau bersabda: Sesungguhnya perumpamaan berkawan dengan orang saleh dan berkawan dengan orang jahat adalah seperti seorang penjual minyak wangi (misk) dan seorang peniup dapur tukang besi. Penjual minyak wangi, dia mungkin akan memberikan kamu atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapatkan aroma harum darinya. Tetapi peniup dapur tukang besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu atau kamu akan mencium bau yang tidak sedap. (Shahih Muslim No.4762)–> teks hadis ini hasil browsing di google.

Artinya, kita harus memilih teman. Teman yang baik akan membuat kita terpengaruh ikut menjadi baik. Sebaliknya, teman yang buruk akan mendorong kita untuk berbuat buruk juga…

3. Ending film adalah Nina-nya bunuh diri karena dia terobsesi kata-kata sutradaranya saat menjelaskan cerita Black Swan, “But in death, [the white swan] finds freedom.” Saking ingin menjadi balerina yang sempurna, sedemikian menjiwai perannya itu, Nina sampai-sampai memutuskan bunuh diri di panggung saat menarikan White Swan. Saya melihat ini adalah efek dari pola pengasuhan yang salah dari ibunya. Ibunya mantan balerina gagal dan berobsesi Nina menjadi balerina sukses. Dalam benak Nina, hidup adalah balet, tidak ada yang lain. Kesuksesan dan kegagalannya diukur dari bagaimana dia mampu memainkan peran balet sesempurna mungkin. Sungguh, ini sangat kontradiktif dengan pandangan hidup manusia beriman yang hidup matinya [seharusnya] dipersembahkan untuk keridhoan Allah. Dan seperti banyak disampaikan oleh para ulama, ketika kita menjalani hidup dengan ‘hitung-hitungan’ dengan Allah, maka tak ada kesedihan, tak ada kecemasan. Contohnya, mencari rizki, bila diiringi dengan tawakal, takkan ada rasa cemas, karena Allah berjanji, jika kita tawakal dalam mencari rizki, maka Allah akan mendatangkan rizki dari arah yang tak terduga-duga.

Yah, sekian dulu review film dari saya. Meski saya tidak merekomendasikan, tapi hikmah yang saya dapat pagi ini adalah, dalam situasi terburuk pun (=menonton film yang sangat keren dari sisi sinematografi, tapi buruk dari sisi spirit), kita bisa tetap berusaha mencari ibrah (pelajaran) darinya.

*Alhamdulilah, setelah menulis ini saya tidak tegang lagi 😀

*Sayup-sayup, terdengar suara Kirana sedang mendongeng ulang kisah Black Swan ke papanya yang sedang membuat nasi goreng…:D

Catatan Ahad Pagi #25: Mimpi

Catatan Ahad Pagi

Ahad pekan lalu, saya sudah menulis, tapi batal diposting karena (sok) sibuk. Jadi biarlah berlalu karena hari ini ada yang lebih menarik untuk diceritakan. Ini hasil penemuan saya pekan ini: bermimpilah, tapi bekerjalah untuk hari ini, bukan untuk esok atau masa lampau.

Mungkin, mereka yang kenal dekat dengan saya sudah tahu bahwa saya hidup dalam dilema. Secara teori, saya tahu pasti bahwa menjadi full time mother adalah pilihan terbaik buat saya saat ini. Tetapi di alam bawah sadar saya, selalu ada dorongan dan tarikan untuk berkarir. Saya sering menghadapi dilema dalam diri: bermimpi jadi penulis hebat (=produktif, banyak bukunya, artikelnya dimuat di koran nasional), tapi harus pula ngurus anak. Bagaimana ini? Kalau tidak merintis karir kepenulisan dari sekarang, kapan saya bisa berhasil? Atau, saya bermimpi jadi dosen, tapi saat ini kan tidak mungkin keluar rumah secara rutin untuk bekerja? Tapi kalau tidak mendaftar jadi dosen dalam waktu dekat ini, kapan lagi waktunya? Kalau ditunda lagi, nanti keburu tua dong?

Alhamdulillah, pekan yll saya mengikuti pelatihan (lagi), kali ini judulnya “Self Emotional Healing”, yang diselenggarakan Komunitas Cinta Keluarga. Instrukturnya pakar parenting kecintaan saya, bu Rani Razak Noeman. Seperti biasa, setiap berjumpa bu Rani (atau sekedar sms-an pun) saya selalu mendapat pencerahan darinya. Tapi ketika ikut pelatihan, subhanallah, luar biasa… Bukan saja saya mendapatkan pencerahan dan skill baru untuk menata diri dari bu Rani, tetapi juga dari sesama peserta pelatihan: para ibu luar biasa yang selalu ingin belajar. Isi (hikmah) pelatihan dua hari itu sangat banyak bila ditulis (dan kayaknya bisa jadi satu buku:D). Kalau sempat dan ada ide, saya akan tuliskan hasil kontemplasi saya satu persatu.

Baiklah, kembali ke soal mimpi. Saya bermimpi jadi penulis hebat dan dosen yang keren. Tapi sungguh, saya tidak mampu melakukannya SAMBIL mengurus anak. Saya TIDAK BOLEH mengetik sambil membiarkan Kirana dan Reza nonton tivi, VCD, internetan, atau main game sendirian, ya kan? Mereka belum cukup besar untuk menyaring semua informasi sendirian. Saya HARUS mendampingi mereka. Saya sudah cukup bersalah, selama satu semester yll saya menitipkan Reza ke tetangga karena saya harus kuliah sementara suami saya yang sebelumnya bisa stand by di rumah selama saya kuliah, tiba-tiba menerima pekerjaan di luar kota.

Ada banyak teori manajemen waktu; ada juga teori “yang penting kualitas pertemuan dengan anak, bukan kuantitas”. Yah, mungkin orang lain bisa memenej seperti itu, tapi sayangnya saya tidak.

Untuk diri saya, saya tahu, saya memang saat ini harus di rumah. Di rumah pun, saya harus konsentrasi pada anak, bukan pada laptop. Saya beruntung dikaruniai anak dengan penuh potensi dan kecerdasan. Mengurus anak -buat saya- bukan cuma menyediakan kebutuhan fisik, tetapi membacakan mereka buku, mendampingi mereka bereksplorasi di internet, selain belajar di sekolah, di rumah pun saya ajak anak2 bereksplorasi lebih jauh menambah pengetahuan, melakukan berbagai eksperimen sains, membuat kerajinan tangan, mendampingi mereka menghafal Quran, dll. Dan sungguh, waktu saya habis, sehingga saya tidak bisa menulis buku baru (kecuali bila target menulis dikurangi… atau..saya memilih membiarkan Reza berjam-jam menonton Power Rangers atau main game komputer—dan sejujurnya kemarin-kemarin inilah yang sering saya lakukan, hiks..hiks…), apalagi bila harus berkarir di luar rumah.

Ada yang pakai teori: kurangi tidur. Mengetiklah pada dini hari ketika anak-anak tidur. Ini pun belum bisa saya lakukan karena saya akan mengantuk di siang hari dan saya jadi lesu di saat anak-anak sedang bersemangat.

Jadi, kapan gue suksesnya nih???

Nah, di sinilah manfaat teori ‘mimpi’ yang baru saya temukan itu: bermimpilah, tapi bekerjalah untuk hari ini, bukan untuk esok atau masa lampau.

Ya ya ya, saya akan terus bermimpi jadi dosen dan jadi penulis dengan buku yang banyak, tapi hari ini saya punya tugas membesarkan Kirana dan Reza dengan penuh konsentrasi. Jadi, hari ini tugas inilah yang akan saya lakukan. Saya tidak akan melepas mimpi dan berkata “Ah, udahlah..ga mungkin..” Akan tiba waktunya kelak mimpi saya terwujud. Tentu, di sela-sela mengurus anak-anak, saya juga harus terus mengondisikan diri supaya kelak ketika tiba saatnya, saya benar-benar bisa jadi dosen dan penulis hebat. Misalnya, saya tetap berusaha menyelesaikan tesis, tetap membaca buku-buku, dan tetap membiasakan menulis diary (seperti mengisi “catatan ahad pagi” ini).

Saya percaya pada pesan bu Rani, “Bila kaulakukan tugasmu hari ini untuk mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya, maka Allah akan memudahkanmu untuk mencapai mimpi-mimpimu.”

Ya, siapa bilang saya tidak bisa jadi dosen kalau nanti saya sudah berusia 45 tahun, misalnya, ketika anak-anak sudah mandiri? Memangnya jadi dosen harus jadi pegawai negeri sipil sehingga pendaftarannya dibatasi umur? Siapa bilang nanti pada usia 45 tahun tertutup kemungkinan bagi saya untuk jadi penulis produktif? Bukankah banyak penulis di luar sana yang baru aktif setelah usia paruh baya? Mengapa harus ‘rusuh’ dan ‘panik’ dari sekarang, sampai-sampai harus mengurangi kualitas pekerjaan yang hari ini harus dilakukan?

Lalu bagaimana dengan frasa ‘bukan untuk esok, atau masa lampau’?

Waduh itu panjang lagi ceritanya. Pekan depan lagi yah, insya Allah:)

*menulis dengan diiringi rasa syukur… terima kasih Allah atas kehidupan terang yang Kauberikan…