Catatan Ahad Pagi #25: Mimpi

Catatan Ahad Pagi

Ahad pekan lalu, saya sudah menulis, tapi batal diposting karena (sok) sibuk. Jadi biarlah berlalu karena hari ini ada yang lebih menarik untuk diceritakan. Ini hasil penemuan saya pekan ini: bermimpilah, tapi bekerjalah untuk hari ini, bukan untuk esok atau masa lampau.

Mungkin, mereka yang kenal dekat dengan saya sudah tahu bahwa saya hidup dalam dilema. Secara teori, saya tahu pasti bahwa menjadi full time mother adalah pilihan terbaik buat saya saat ini. Tetapi di alam bawah sadar saya, selalu ada dorongan dan tarikan untuk berkarir. Saya sering menghadapi dilema dalam diri: bermimpi jadi penulis hebat (=produktif, banyak bukunya, artikelnya dimuat di koran nasional), tapi harus pula ngurus anak. Bagaimana ini? Kalau tidak merintis karir kepenulisan dari sekarang, kapan saya bisa berhasil? Atau, saya bermimpi jadi dosen, tapi saat ini kan tidak mungkin keluar rumah secara rutin untuk bekerja? Tapi kalau tidak mendaftar jadi dosen dalam waktu dekat ini, kapan lagi waktunya? Kalau ditunda lagi, nanti keburu tua dong?

Alhamdulillah, pekan yll saya mengikuti pelatihan (lagi), kali ini judulnya “Self Emotional Healing”, yang diselenggarakan Komunitas Cinta Keluarga. Instrukturnya pakar parenting kecintaan saya, bu Rani Razak Noeman. Seperti biasa, setiap berjumpa bu Rani (atau sekedar sms-an pun) saya selalu mendapat pencerahan darinya. Tapi ketika ikut pelatihan, subhanallah, luar biasa… Bukan saja saya mendapatkan pencerahan dan skill baru untuk menata diri dari bu Rani, tetapi juga dari sesama peserta pelatihan: para ibu luar biasa yang selalu ingin belajar. Isi (hikmah) pelatihan dua hari itu sangat banyak bila ditulis (dan kayaknya bisa jadi satu buku:D). Kalau sempat dan ada ide, saya akan tuliskan hasil kontemplasi saya satu persatu.

Baiklah, kembali ke soal mimpi. Saya bermimpi jadi penulis hebat dan dosen yang keren. Tapi sungguh, saya tidak mampu melakukannya SAMBIL mengurus anak. Saya TIDAK BOLEH mengetik sambil membiarkan Kirana dan Reza nonton tivi, VCD, internetan, atau main game sendirian, ya kan? Mereka belum cukup besar untuk menyaring semua informasi sendirian. Saya HARUS mendampingi mereka. Saya sudah cukup bersalah, selama satu semester yll saya menitipkan Reza ke tetangga karena saya harus kuliah sementara suami saya yang sebelumnya bisa stand by di rumah selama saya kuliah, tiba-tiba menerima pekerjaan di luar kota.

Ada banyak teori manajemen waktu; ada juga teori “yang penting kualitas pertemuan dengan anak, bukan kuantitas”. Yah, mungkin orang lain bisa memenej seperti itu, tapi sayangnya saya tidak.

Untuk diri saya, saya tahu, saya memang saat ini harus di rumah. Di rumah pun, saya harus konsentrasi pada anak, bukan pada laptop. Saya beruntung dikaruniai anak dengan penuh potensi dan kecerdasan. Mengurus anak -buat saya- bukan cuma menyediakan kebutuhan fisik, tetapi membacakan mereka buku, mendampingi mereka bereksplorasi di internet, selain belajar di sekolah, di rumah pun saya ajak anak2 bereksplorasi lebih jauh menambah pengetahuan, melakukan berbagai eksperimen sains, membuat kerajinan tangan, mendampingi mereka menghafal Quran, dll. Dan sungguh, waktu saya habis, sehingga saya tidak bisa menulis buku baru (kecuali bila target menulis dikurangi… atau..saya memilih membiarkan Reza berjam-jam menonton Power Rangers atau main game komputer—dan sejujurnya kemarin-kemarin inilah yang sering saya lakukan, hiks..hiks…), apalagi bila harus berkarir di luar rumah.

Ada yang pakai teori: kurangi tidur. Mengetiklah pada dini hari ketika anak-anak tidur. Ini pun belum bisa saya lakukan karena saya akan mengantuk di siang hari dan saya jadi lesu di saat anak-anak sedang bersemangat.

Jadi, kapan gue suksesnya nih???

Nah, di sinilah manfaat teori ‘mimpi’ yang baru saya temukan itu: bermimpilah, tapi bekerjalah untuk hari ini, bukan untuk esok atau masa lampau.

Ya ya ya, saya akan terus bermimpi jadi dosen dan jadi penulis dengan buku yang banyak, tapi hari ini saya punya tugas membesarkan Kirana dan Reza dengan penuh konsentrasi. Jadi, hari ini tugas inilah yang akan saya lakukan. Saya tidak akan melepas mimpi dan berkata “Ah, udahlah..ga mungkin..” Akan tiba waktunya kelak mimpi saya terwujud. Tentu, di sela-sela mengurus anak-anak, saya juga harus terus mengondisikan diri supaya kelak ketika tiba saatnya, saya benar-benar bisa jadi dosen dan penulis hebat. Misalnya, saya tetap berusaha menyelesaikan tesis, tetap membaca buku-buku, dan tetap membiasakan menulis diary (seperti mengisi “catatan ahad pagi” ini).

Saya percaya pada pesan bu Rani, “Bila kaulakukan tugasmu hari ini untuk mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya, maka Allah akan memudahkanmu untuk mencapai mimpi-mimpimu.”

Ya, siapa bilang saya tidak bisa jadi dosen kalau nanti saya sudah berusia 45 tahun, misalnya, ketika anak-anak sudah mandiri? Memangnya jadi dosen harus jadi pegawai negeri sipil sehingga pendaftarannya dibatasi umur? Siapa bilang nanti pada usia 45 tahun tertutup kemungkinan bagi saya untuk jadi penulis produktif? Bukankah banyak penulis di luar sana yang baru aktif setelah usia paruh baya? Mengapa harus ‘rusuh’ dan ‘panik’ dari sekarang, sampai-sampai harus mengurangi kualitas pekerjaan yang hari ini harus dilakukan?

Lalu bagaimana dengan frasa ‘bukan untuk esok, atau masa lampau’?

Waduh itu panjang lagi ceritanya. Pekan depan lagi yah, insya Allah:)

*menulis dengan diiringi rasa syukur… terima kasih Allah atas kehidupan terang yang Kauberikan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s