Catatan Ahad Pagi#26: Black Swan

Mohon maaf saya pagi tidak tidak bisa memenuhi janji meneruskan catatan pekan lalu soal ‘mimpi’. Penyebabnya, saya masih tegang setelah menonton DVD Black Swan. Ceritanya berawal dari ‘provokasi’ sobat saya yang demen film Hollywood (bahkan dia yang akhirnya beliin DVD bajakan dan menghadiahkannya buat saya). Saking terpesonanya sobat saya ini pada Black Swan, sampai-sampai pas sidang proposal tesis, demi mengurangi ketegangan, dia mengulang-ulang sebuah kalimat dalam film itu yang bisa mengafirmasi dirinya.

Nah, sudah hampir dua bulan DVD itu menganggur tanpa saya tonton (soalnya, kata sobat saya ini, kalau nonton harus sendirian, jangan ada suami, jangan ada anak2, karena ada beberapa adegan ‘dewasa’-nya.. nah masalahnya, kalaupun saya ada waktu ‘sendiri’, saya malah lupa atau mengantuk). Tapi, selama beberapa waktu terakhir, Kirana merengek-rengek ingin menonton film itu, gara-gara membaca resensinya di koran Republika.

Walhasil, pagi ini kami berdua menontonnya (dengan remote siap siaga di tangan saya, sewaktu-waktu mengalihkan scene kalau ada gejala adegan ‘dewasa’..meski sempat lolos juga sih beberapa, huhuhu…).

Sejak awal memang suasana film itu tegang sekali, kerap membuat nafas tertahan, dan ketika berakhir, rasanya lelah sekali (karena menahan ketegangan). Saya lebih suka film drama dengan setting cuaca yang cerah dan terang, meski ada tangisan, tapi juga ada banyak tawa. Tapi, dari diskusi saya dengan Kirana, ternyata ada pelajaran-pelajaran hidup yang bisa saya sampaikan kepada Kirana, ini di antaranya:

1. Nina adalah balerina yang sangat disiplin dan pekerja keras. Dia berusaha meraih peran utama dalam pementasan drama balet Black Swan. Pemeran utama harus memerankan dua karakter sekaligus: sebagai Black Swan yang jahat, dan White Swan yang baik hati.

Saya bilang ke Kirana, “Ga enak banget yah, hidup kayak Nina..tegang terus.. latihan balet tanpa menikmatinya dengan tersenyum.. badannya sampai sakit-sakit.. trus, tegang menanti keputusan sutradaranya, mau dipilih jadi pemeran utama atau tidak… Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada pekerjaan yang membuat kita nyaman, tersenyum, dan membuat Allah dan sesama manusia juga tersenyum, ya kan?”

2. Nina adalah seorang gadis yang baik-baik (tapi rapuh dan tidak punya pegangan hidup), tapi karena harus memerankan Black Swan yang jahat, dia ‘dipaksa’ untuk mengeluarkan sisi liar dalam dirinya. Awalnya ia kesulitan, sampai kemudian Lily (teman sesama penari) yang liar mengajaknya melakukan hal-hal liar (seperti dugem, minum obat penenang, dll). Nina akhirnya bisa menarikan Black Swan dengan sangat baik (terasa sekali aura jahatnya saat Nina menari).

Saya bilang ke Kirana… “Nah…inilah bukti dari hadis Nabi, riwayat Abu Musa ra.:
Dari Nabi saw., beliau bersabda: Sesungguhnya perumpamaan berkawan dengan orang saleh dan berkawan dengan orang jahat adalah seperti seorang penjual minyak wangi (misk) dan seorang peniup dapur tukang besi. Penjual minyak wangi, dia mungkin akan memberikan kamu atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapatkan aroma harum darinya. Tetapi peniup dapur tukang besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu atau kamu akan mencium bau yang tidak sedap. (Shahih Muslim No.4762)–> teks hadis ini hasil browsing di google.

Artinya, kita harus memilih teman. Teman yang baik akan membuat kita terpengaruh ikut menjadi baik. Sebaliknya, teman yang buruk akan mendorong kita untuk berbuat buruk juga…

3. Ending film adalah Nina-nya bunuh diri karena dia terobsesi kata-kata sutradaranya saat menjelaskan cerita Black Swan, “But in death, [the white swan] finds freedom.” Saking ingin menjadi balerina yang sempurna, sedemikian menjiwai perannya itu, Nina sampai-sampai memutuskan bunuh diri di panggung saat menarikan White Swan. Saya melihat ini adalah efek dari pola pengasuhan yang salah dari ibunya. Ibunya mantan balerina gagal dan berobsesi Nina menjadi balerina sukses. Dalam benak Nina, hidup adalah balet, tidak ada yang lain. Kesuksesan dan kegagalannya diukur dari bagaimana dia mampu memainkan peran balet sesempurna mungkin. Sungguh, ini sangat kontradiktif dengan pandangan hidup manusia beriman yang hidup matinya [seharusnya] dipersembahkan untuk keridhoan Allah. Dan seperti banyak disampaikan oleh para ulama, ketika kita menjalani hidup dengan ‘hitung-hitungan’ dengan Allah, maka tak ada kesedihan, tak ada kecemasan. Contohnya, mencari rizki, bila diiringi dengan tawakal, takkan ada rasa cemas, karena Allah berjanji, jika kita tawakal dalam mencari rizki, maka Allah akan mendatangkan rizki dari arah yang tak terduga-duga.

Yah, sekian dulu review film dari saya. Meski saya tidak merekomendasikan, tapi hikmah yang saya dapat pagi ini adalah, dalam situasi terburuk pun (=menonton film yang sangat keren dari sisi sinematografi, tapi buruk dari sisi spirit), kita bisa tetap berusaha mencari ibrah (pelajaran) darinya.

*Alhamdulilah, setelah menulis ini saya tidak tegang lagi 😀

*Sayup-sayup, terdengar suara Kirana sedang mendongeng ulang kisah Black Swan ke papanya yang sedang membuat nasi goreng…:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s