Catatan Ahad Pagi#29: It’s Ur Problem Girl!

Ini cerita tentang praktek konsep parenting ‘memisahkan masalah’. Intinya, ibu jangan repot2 ngurusin apa yang bukan masalah ibu, biarkan anak ngurusin masalahnya sendiri dengan bertanggung jawab.

Suatu hari, Kirana kehilangan baju karatenya. Padahal, dia semangat sekali mau segera memakainya pada hari Rabu karena itulah pertama kali dia akan mengenakan sabuk hijau (sebelumnya, hari Ahad, sudah ada acara penyerahan sabuk hijau setelah lulus ujian kenaikan).

Hari Senin, Kirana masih tenang, berharap mamanya turun tangan. Hari Selasa, mulai panik, karena mamanya cuek aja. Sore hari Selasa, dengan tatapan memelas, dia minta dicarikan jalan keluar.

“Itu kan masalahnya Kirana. Siapa yang menghilangkan baju Kirana?” tanya saya.

“Aku sendiri…” jawabnya pelan (dan dengan sorotan mata yang membuat saya ingin segera memeluknya dan berkata, “ya deh, mama belikan yang baru!”)

“Ya, berarti itu problemnya Kirana. Silahkan cari sendiri jalan keluarnya,” kata saya.

Kirana terdiam.

“Beli lagi yang baru…” jawabnya lirih (dooo…kesian amat sih naaak…)

“Uangnya dari mana?”

“Dari..royalti buku Kirana aja..” jawabnya, dengan suara semakin pelan.

“Kan royalti kirana buat bayar les biola. Nanti kalau habis dan Kirana ga bisa les biola lagi gimana? Kirana sedih nggak?”

Dia mengangguk.

“Ok deh, mama pinjamin uang untuk beli baju karate yang baru. Tapi, Kirana harus ganti. Coba, pikirkan cara untuk mencari uang… kerja..misalnya..atau menabung…”

(Diskusi selanjutnya, dipersingkat saja ceritanya ya:D, Kirana dan saya saling tawar-menawar. Akhirnya, disepakati, uang jajan Kirana yang cuma 2000 sehari itu-maklum sekolahnya di kampung, jajanannya murah, lagipula makan siang disediakan sekolah-ditabung 1000 sehari; lalu Kirana akan mengerjakan tugas saya, ngepel, dengan imbalan uang –biasanya kan Kirana yg nyapu, sy yg ngepel; lalu… ini ide orisinil Kirana: dia mau jualan dompet!)

Singkat cerita, baju karate itu ternyata ditemukan, ketinggalan di kantin sekolah (ampun deh!). Tapi Kirana tetap ingin jualan dompet. Akhirnya, saya beli kain felt warna-warni di Gramedia (nah, ini juga salah emaknya, masak mau jualan, tapi beli bahannya di Gramedia, kan mahal, harusnya di Pasar Baru dong!)

Sejak beberapa hari yang lalu, Kirana sibuk menerima pesanan dompet. Karena bahannya mahal, terpaksa untung yang diambil hanya 1000-2000 perak tiap itemnya… Kalau dijual terlalu mahal kan kasihan juga ibu-ibu temen2nya (karena harus ngasih uang tambahan ke anak mereka). Dalam hati komentar saya: huhuhu, capek2 bikin untungnya cuma segitu, tapi ga saya bilang sih ke Kirana. Yang berharga kan proses dia berkarya dan bekerja, bukan uangnya.Siapa tahu kelak jadi pengusaha dan penulis buku berbahan kain felt kayak tante Dini.

Nah, inilah foto2 hasil karya Kirana yang dijual ke temen-temennya:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s