Catatan Ahad Pagi#33: What a Life!


Hari Selasa 24 Mei, saya kopdaran dengan mba Wayan Lessy, Agnes, Ima, dan Lygia di hotel Hilton. Alamak, ini kayaknya kopdar terkeren selama daku jadi mp-ers, hihihi… di Hilton gitu loh. Yah, kan ceritanya mba Lessy dan suami nginep di Hilton, jadi kita-kita mp-ers yang datang nyambangin.

Kita kopdaran di lantai 12 yang dinding-dindingnya sebagian besar dari kaca. Saya mengajak Reza. Wah, dia terpesona liat pemandangan di bawah, “Kayak di pesawat ya Ma?” Hihihi..iya, kan kalau naik peswat, dari atas keliatan rumah-rumah kecil, Reza langsung berkhayal, bahwa rumahnya yang nun jauh di Rancaekek itu keliatan dari Hilton, “Itu..Mah..itu..yang pagernya coklat..!”

Bertemu mba Lessy seperti memandang bunga lily yang sedang diterpa sinar mentari pagi. Mungil, putih, dan indah. Sayang kami tak sempat lama ngobrol. Tapi tetap seru dong. Apalagi ada Ima, Agnes dan Ligya. Dengan Ligya malah janjian ketemu lagi karena Ligya ternyata penyuka seni dan mengelola berbagai event seni yang kayaknya cocok buat diikuti Kirana.

Bertemu mereka, saya merasa bahwa hidup ini terkadang ajaib. Padahal saya kan di rumah aja ya, tapi kok bisa punya banyak teman dari berbagai penjuru dunia (berkat mp dooong!).

Dan selain ajaib, terkadang hidup saya ini terasa weird. Contohnya, pagi ini, saya menemukan diri sendiri duduk merenung di sebuah lapangan sepakbola sambil menghitung uang recehan. Saya pernah cerita kan, bahwa saya membuat sebuah klub sepakbola anak-anak?

Ternyata, situasinya tak seperti yang dibayangkan. Peserta sangat sedikit, peserta yang ada pun, ada yang bayar-ada yang engga. Walhasil, bulan ini saya nombok 150.000. Sungguh, buat sebagian orang, ini memang duit recehan (apalagi sebenarnya saya sewaktu-waktu juga dengan sangat enteng mengeluarkan 150.000 buat buku, baju, atau hanya sekedar makan sekeluarga di restoran). Cuma… saya tadi pagi agak nelangsa karena, “Loh, jadi gue harus nombok lagi neh..???”

Saya tiba-tiba mikir, buat apa sih saya repot-repot mengelola sebuah klub sepakbola (yang mana saya juga gak suka sepakbola!). Udah gitu, musti pagi-pagi berangkat dari rumah, nongkrongin anak-anak latihan. Awalnya sih semangat, demi Reza. Tapi..lama-lama Reza juga kehilangan minat dan ngotot pengen pindah kursus karate dan kursus gambar aja. Jadi, buat apa kan ngurusin klub sepakbola ini? Mendingan duitnya saya pake buat kursusnya Reza, ya kan?. Ngapain juga ngurusin anak orang?!

Pagi ini, sebenarnya sejak dari rumah, saya udah bertekad mau dibubarin aja nih klub. Tapi ketika duduk-duduk di pinggir lapangan, mengamati anak-anak sedang bermain (minus, Reza, karena dia lagi sakit), saya jadi kasihan juga. Apalagi, sebagian anak ada yang udah bela-belain beli sepatu dan baju baru.

Trus, di rumah, seperti biasa, saya ngadu ke si Akang. Dan seperti biasa dia selalu memberikan jawaban yang out of the box.

“Apa tujuan awal Mama bikin klub? Supaya Reza ada kegiatan kan? Karena kita tahu, anak kita menghadapi ancaman mengerikan dari lingkungan, games, pornografi, narkoba, dll. Cara mencegahnya adalah dengan membuat anak kita sibuk dengan kegiatan positif. Nah, anak-anak lain juga sama; mereka juga menghadapi ancaman yang sama, juga butuh kegiatan positif yang sama… Mengapa kita tidak jadi rahmatan lil alamin saja? Kita niatkan saja sedang membantu para orangtua lain untuk memberikan wadah agar anak-anak mereka bisa berlatih sepakbola…”

Jadi..? Jadi…?

Ya begitu deh… Singkat kata, keputusannya, klub sepakbola kami itu akan terus berdiri…(huhuhu… masih dengan agak-agak kurang ikhlas nih…)

Trus, hubungannya ada dengan cerita awal, kopdar sama mp-ers? Ya… kan itu tadi… sekedar cerita bahwa hidup saya ini terkadang terasa aneh. Hari kemarin kongkow-kongkow di hotel mewah, hari ini pusing ngurusin klub sepakbola di sudut sebuah kampung…

What a life!

Advertisements

[Ultah Cambai: Kisah Nyata Ditolak] Ditolak Kontak

Pagi ini saya membuka lagi beberapa tulisan lama saya di MP karena perlu untuk bahan menulis sebuah naskah orderan. Sekalian, saya blogwalking juga. Wow, ternyata sedang ada lomba tentang ‘cinta multiply’, atau tentang ‘mudik ke multiply’. Menarik sekali, MP memang berbeda dengan situs pertemanan lain. Selama hampir enam tahun ngempi, saya merasakan MP telah berhasil mengembangkan pribadi-pribadi (termasuk saya). Ada yang tadinya ibu rumah tangga ‘biasa’, akhirnya jadi penulis. Ada yang tadinya pemalu, akhirnya bisa jadi pede. Ada yang tadinya stress, setelah punya banyak teman sharing di MP, akhirnya jadi pribadi yang bahagia. Ada yang jadi banyak duit karena berbisnis online di MP. Bahkan ada yang menemukan jodohnya di MP.

Saya sendiri merasakan, MP-ers (baik itu kontak, maupun belum jadi kontak) berjasa besar dalam pengembangan pribadi saya, langsung maupun tak langsung. Secara langsung, misalnya ketika mereka menulis jurnal yang menginspirasi. Secara tak langsung, misalnya ketika mereka memberi info tentang berbagai hal, misalnya tentang buku, yang kemudian saya baca dan saya mendapatkan inspirasi darinya.

Kemudian saya pun membaca ulang sebuah jurnal lama saya. Saya baca lagi reply-reply yang masuk. Tiba-tiba mata saya terantuk pada reply seorang MP-er lama. Dialah di antara kontak-kontak pertama saya. Wah, apa kabarnya sekarang? Saya suka sekali baca MP-nya, baca cerita-cerita serunya tentang keluarganya. Dia biasanya hanya bercerita lugas tanpa tendensi menasehati. Tapi dari ceritanya, saya sering tergugah dan berkaca, “O..harusnya begini ya, mendidik anak… Kok ini belum aku lakukan ya…?” Semangatnya untuk memberikan yang terbaik kepada keluarganya juga sering membuat saya malu, karena merasa belum melakukan banyak buat keluarga saya sendiri.

Dengan penuh rasa rindu, saya klik ID-nya. Apa kabarnya sekarang ya?

Dan…ow..ow… mata saya terpaku menatap layar netbook. Perasaan sedih melanda. Pikiran saya berputar, berusaha keras mengingat-ingat. Salah saya apa ya? Apa saya pernah menyinggung perasaannya?

Oh…sungguh, pagi ini saya merasa sedih. Saya jadi tahu, begini ternyata rasanya ditolak kontak.

Dia sudah men-delete saya dari daftar kontaknya! 😦

***

*ssst.. bener juga ya, dalam setiap situasi sedih selalu ada hikmah, ini buktinya, meski sedih, eh jadi ada ide nulis, buat meramaikan ultah MP-nya Dian:))
Ayo, pada ikutan yuk… ini infonya:
http://cambai.multiply.com/journal/item/420/Ikutan_Lomba_Menulis_Dalam_Rangka_Ulang_Tahun_MP_Cambai_Yuk

(Jumlah kata 300an)

Catatan Ahad Pagi#32: Sibuk (2)

Ini lebih tepat disebut Catatan Ahad Sore, karena baru sore ini saya bisa menulis. Sepanjang pagi saya sibuk dengan banyak hal. Saya hitung-hitung, hingga akhir bulan ini, hari-hari saya akan penuh oleh berbagai urusan…ckckck…

Hfff.. kapan ya bisa leha-leha? Halah…gaya banget nih… Padahal sebenarnya saya tuh banyak leha-leha dalam arti banyak di rumah saja, tidur kapan saja saya mau (kalau kerja ngantor kan ga bisa gitu ya), bisa main berlama-lama dengan anak-anak…bisa ngeblog…

Tapi ya tetap saja, ada saat-saat dimana saya merasa sangat sibuk dan kepala saya terasa penuh. Sudah dekat-dekat stress juga mungkin, sehingga kadang bawaannya jadi pengen marah. Banyak orderan yang belum selesai (gak ding, cuma dikit kok…hihihi, tapi terasa banyak gitu loh), banyak target-target yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu…

Nah, hari Selasa yll, kami main ke rumah teman kami yang ada di atas bukit… (loh, katanya sibuk.. ya iya makanya ini sibuk yang aneh, gitu lah… di atas kertas sih kayak ngga sibuk, tetapi terasanya sibuk, gitu..)

Nah, teman kami bilang, “Eh..ada rumah dijual loh..asyik banget, di tepi sungai..”

Saya malah ngomel, “Huh, aku malah pengennya punya rumah di pusat kota, sayang ga kuat duitnya..!” (jujur, saya ga suka tinggal di rancaekek, tapi mau gimana lagi, inilah tempat terbaik bagi kami saat ini)

“Yah.. buat hari tua aja..biar hidup tenang..” sambung teman saya.

Suami saya menjawab, “Hari tua itu justru hari yang sibuk. Kita harusnya mempersiapkan diri agar hari tua kita sibuk, bukannya malah pengen hidup tenang…”

Saya antusias mendengar kata-katanya ini. Sungguh, suami saya belum pernah bicara soal ini dan sepertinya inilah sebabnya, mengapa kami sering berdebat masalah keuangan. Saya memimpikan masa tua yang tenang, rumah nyaman, anak-anak selesai sekolah, dapat kerjaan mapan, dan saya dan suami duduk-duduk santai nungguin kedatangan cucu. Artinya, kehidupan kami sejak sekarang harus diatur supaya kelak ada tabungan hari tua. Sementara suami saya? Oh, dia sama sekali tidak peduli soal tabungan. Kalau ada uang, dan ada perlu ya dipakai; tapi kalau ada perlu dan tak ada uang, ya udah, sabar saja. Menabung? Menggunakan saran-saran dari financial advisor (kayak di majalah-majalah itu loh..)? Wah, jauuuh…

Ternyata, di mata suami saya, masa tua itu harus sibuk, semakin hari semakin sibuk. Dan baginya, sungguh sangat sia-sia kalau hari ini sibuk hanya dengan niat ‘supaya hari tua kita bisa leha-leha.”

Contohnya, kata suami saya, Nabi Muhammad diangkat jadi nabi pada usia 40 tahun. Praktis sejak itu hingga wafatnya beliau semakin sibuk mengurus umat. Imam Khomeini di Iran, usia 70 tahun baru berhasil memenangi revolusi Islam Iran, dan sejak saat itu bebannya tambah berat mengurusi negara (kalau sebelumnya kan urusannya ‘hanya’ jadi ulama yang terus mengobarkan semangat perlawanan melawan rezim yang zalim), ulama-ulama Islam lainnya, juga hingga akhir hayatnya terus sibuk menulis buku, bahkan ada ulama yang sudah hampir meninggal, tetap minta dibawakan buku dan pena karena ada yang mau dituliskannya..Nabi Muhammad dan para ulama itu pasti ga pernah pusing sama urusan tabungan kan? Pokoknya bekerja sebaik mungkin, dan tawakal. Allah yang akan mencukupkan rezki kita… gitu kata si Akangku tercinta ini…

Teman saya berkomentar, “Benar juga ya..saya lihat, banyak orang-orang yang pensiun, lalu diam saja tak punya kegiatan, justru malah kondisi fisiknya cepat meluruh…”

Hm… hm… saya pun merenung. Sepertinya saya memang harus men-setting ulang bayangan saya tentang masa depan ya? Bukannya masa depan yang tenang, berleha-leha.. tapi justru saya sebaiknya mengharapkan masa depan yang sibuk, sampai ajal menjemput…

Catatan Ahad Pagi#31: Sibuk

Pakar parenting, bu Elly Risman, dalam sebuah seminar pernah mengatakan, kurang lebih, bahwa anak yang tergoda untuk mengakses pornografi, baik itu melalui game, ke warnet, internetan, handphone, dll, adalah anak yang TIDAK ADA KERJAAN. Artinya, si anak merasa jenuh, di rumah segala sesuatu sudah tersedia dan dilayani, akhirnya, cari-cari kerjaan lain. Karena itu, solusi utamanya adalah: beri anak kesibukan selain nonton tivi dan main game. Kalau sudah kecanduan gimana? Itu pembahasannya lain lagi, saya juga belum punya ilmunya…:(

Tapi buat anak-anak yang belum sampai kecanduan tivi dan game, sejak dini, mari kita ‘kepung’ mereka dengan berbagai aktivitas yang membuat mereka lupa pada tivi dan game. Apa saja aktivitasnya, tentu disesuaikan dengan kondisi keluarga masing-masing.
Berikut ini kegiatan-kegiatan yang sedang saya kondisikan untuk Reza.

1. Membaca buku
Membaca adalah kegiatan yang harus lahir dari hati, artinya, rasa ‘senang membaca’ itu yang harus ditumbuhkan sejak dini. Caranya antara lain:
-‘kepung’ anak dengan buku, di setiap sudut ada buku yang siap dibaca.
– setiap pulang dari berbagai tempat, saya usahakan membawa buku sebagai oleh-oleh. Oya, kan harga buku mahal yah, nah, triknya, saat ada obral buku (di Gramedia jl Merdeka Bdg, secara berkala biasanya suka ada bazaar buku murah), saya beli langsung banyak, tapi saya sembunyikan dulu. Nanti kalau saya mau ke kampus atau ke mana, saya bawa satu buku, dan pulangnya, “Reza…mama bawa oleh-oleh buku..yeee..!asyiiik…! malam ini, kita akan baca buku bareng-bareng…!” ( Katakan dengan intonasi suara penuh semangat, kita ciptakan situasi bahwa mendapat hadiah buku itu sebuah kejutan besar yang menyenangkan)
-jadikan membacakan buku sebagai ‘hadiah’, “Kalau Reza melakukan ini..nanti hadiahnya mama bacakan 2 buku…” (biasanya sih Reza suka nawar, minta bacakan 5 buku, hehe)
-berikan keteladanan: kalau ibu rajin pegang (dan baca) buku, biasanya anak akan meniru
-…(mungkin ada ide tambahan?)

2. Membuat kerajinan tangan
Saya sebenarnya bukan orang yang telaten bikin kerajinan tangan, pun bukan orang yang kreatif. Tapi dengan internet, kita bisa belajar. Ada banyak video di you tube yang mengajarkan cara membuat berbagai jenis kerajinan tangan (keywordnya: simple craft kids).

Reza alhamdulillah sudah keranjingan ‘berkarya’ (saya mengenalkan kata ‘karya’ kepadanya dan menggunakan dalam percakapan sehari-hari: Reza mau membuat karya apa? Mana karya Reza? Ayo, kita berkarya hari ini! Reza punya ide, kita harus membuat karya apa sekarang?).

Karena kakaknya membuat karya dompet dari kain felt, lalu dijual, suatu malam, Reza termotivasi untuk membuat 11 hewan dari kertas (origami) dan besoknya dijual ke teman-temannya seharga Rp200 per buah. Lumayan, laku semua. Reza pun bangga sekali. (ssst… ini pun saya kondisikan kok: saya memberikan sejumlah koin 200-an ke guru Reza, lalu, ibu guru membagikan koin itu ke anak-anak, dan anak-anak diminta membeli karya Reza:D).
Ini Reza lagi sibuk membuat 11 karya origami:


Baru-baru ini saya dapat ide dari mba Uri untuk membuat dan bermain sandiwara boneka. Wah, Reza senang sekali 🙂 Ini hasilnya:

3. Membuat Buku
Ini yang saya maksud: aktivitas yang disesuaikan dengan kondisi keluarga. Karena kami keluarga penulis (dalam arti sebagian besar aktivitas kami untuk mencari nafkah adalah melalui tulisan), jadilah saya pun mengenalkan cara membuat buku kepada Reza, dan dia asyik sekali, dia tahan berjam-jam ‘membuat buku’. Caranya mudah kok, siapa saja bisa meniru.

– Sediakan 3 lembar kertas HVS, dilipat dua, di-hekter tengahnya, jadilah sebuah buku dengan 12 halaman

– Cari gambar yang disukai anak di internet, lalu di print seukuran buku yang mau dibuat. Reza suka sekali Bernard, maka kami pun mengeprint 4 buah gambar Bernard. Gambar ini ditempel di buku. Nih, Reza sedang menggunting:

– Buat teksnya, ajak anak memikirkan apa isi teks buku itu, disesuaikan dengan gambar. Misalnya, gambar Bernard sedang pakai ban renang, teksnya: Bernard adalah beruang yang lucu. Dia suka berenang.
Kegiatan ini sekaligus berfungsi mengajari anak membaca tanpa mengeja loh.
Lalu, diskusikan bersama anak, apa judulnya. Ini judul ciptaan Reza: Beruang Suka Melucu.
Teks itu diprint, lalu digunting, dan ditempel di ‘buku’. Begini contohnya:


4. Sepakbola
Karena klub sepakbola untuk anak kecil belum ada di lingkungan kami, jadilah saya yang membuat sendiri klub itu. Nama klubnya: Rumah Qurani FC (hehehe). Saat ini anggota klub sudah 10 anak. Mendatangkan pelatih juga loh, guru olahraga lulusan UPI. Biayanya gimana..? Yah, karena kami tinggal di kampung, iuran anggota gak bisa mahal-mahal, hanya 30rb perbulan. Dengan guru, saya bikin perjanjian bagi hasil saja. Jadi berapapun penghasilan yang didapat, hingga 200rb hak guru, sisanya dibagi 50:50. Bulan yll ‘penghasilan’ kami hanya 180rb (karena sudah dipotong sewa lapangan, bikin spanduk, fotokopi brosur), jadi semuanya diserahkan ke pak guru. Saya blm dapat laba juga gpp..toh tujuan utamanya kan memfasilitasi supaya Reza dan anak-anak sebayanya bisa punya klub bola; ini sudah terwujud saja, saya sangat bersyukur.

Yah, inilah sekedar bagi-bagi ide… siapa tahu bermanfaat buat pembaca. Spiritnya adalah, mari kita bikin anak-anak kita sibuk setiap hari…mari kita tumbuhkan rasa gemar berkarya dan beraktivitas yang sehat, bukannya nonton tivi dan main game melulu…

Oiya, kalau teman-teman ada ide tambahan, jangan sungkan-sungkan untuk menyampaikan ya…kita saling berbagi ide yuk:)

Catatan Ahad Pagi#30: Masa Lalu dan Masa Depan (A Spiritual Journey)

Ini sebenarnya bayar hutang janji, meneruskan catatan yang judulnya Mimpi. Kemarin-kemarin, saya tidak mampu menuliskannya. Mungkin karena agak rumit menjelaskan hal yang sangat panjang dalam sebuah tulisan singkat. Tapi beberapa hari terakhir ini ada kejadian yang ternyata menstimulus saya untuk menulis topik ini. Tulisan ini pun tak utuh, tapi mudah-mudahan bisa memberi sedikit gambaran.

Saya awali dengan cerita beberapa bulan yang lalu. Saya mengalami sebuah kejadian menyakitkan yang membuat saya merasa tiba di tepi jurang, dan saya hampir terjatuh ke dalamnya. Saya tidak bisa berpikir jernih. Yang ada hanya marah dan marah. Semangat hidup saya waktu itu hampir jatuh ke titik nol; tapi, masih ada sedikit semangat yang tersisa, yang mendorong saya untuk berkonsultasi kepada seseorang. Lalu berkonsultasi lagi dengan orang lainnya. Terus, dan terus, saya berusaha menerapi diri sendiri, dengan berbagai teknik ‘self healing’.

Dan terbukti benar firman-Nya, bahwa setiap kesulitan selalu datang bersama kemudahan. Itulah sebabnya, kata Mario Teguh, saat kesulitan menghampirimu, jangan kesulitan itu yang kauratapi, tapi tanyalah ‘mana kemudahan yang dijanjikan Allah datang bersama kesulitan ini’?

Jadi, musibah, ujian, atau apalah itu, ternyata adalah bantuan Allah untuk mendidik saya agar lepas dari diri saya yang lama: melepaskan semua belenggu di alam bawah sadar saya.
Teorinya: rasa marah, dendam, sakit hati, benci, kecewa, atau apapun kejadian/rasa negatif di masa lalu, semua itu membelenggu alam bawah sadar kita. Selama kita masih belum bisa melepas itu semua, langkah kita hari ini akan terasa berat. Contohnya begini, di masa lalu, kita pernah diejek ‘jelek’ oleh teman, nah waktu itu kita sakit hati dan malu. Bila rasa sakit hati dan malu itu terus ada di alam bawah sadar kita, maka kita hari ini pun ‘disetir’ oleh rasa sakit hati itu; munculnya dalam bentuk minder, tidak pede, dll.

Atau, di masa lalu, seorang anak terlalu sering dimarahi oleh orangtuanya. Si anak akan tumbuh dengan rasa dendam (yang mungkin tidak dia sadari, tapi ada di alam bawah sadarnya). Efek yang dirasakan anak itu (akibat dendam yang tersembunyi di alam bawah sadarnya) hari ini bisa bermacam-macam: bisa sakit fisik, minder, gugupan, paranoid, pemarah, phobia, atau apa lah, pokoknya hal negatif.

Yang disebut ‘masa lalu’ tidak harus yang dulu-dulu. Yang kemarin pun; atau yang setengah jam yang lalu pun, sudah disebut masa lalu. Misalnya, jika semenit yang lalu saya menerima email yang sangat menyakitkan hati, ya itulah masa lalu. Bila saya terus memikirkan isi email itu, maka ‘hari ini’ saya akan rusak, diliputi rasa sedih, rencana-rencana kerja gak jalan.

Dan efek negatif masa lalu yang dirasakan hari ini, akan membuat kita sulit melangkah untuk menata hari esok. Orang yang minder, misalnya, pasti tidak pernah percaya diri untuk membuat target-target hebat di masa depan, ya kan? Dia mungkin hanya akan berandai-andai untuk masa depannya, “Coba kalau aku begini, maka besok aku akan…”

Membuat target dan visi masa depan, tentu harus. Tapi berandai-andai beda dengan membuat target atau menentukan visi masa depan.

Singkatnya, ‘perjalanan spiritual’ yang didorong oleh upaya ‘self healing’ ini membuat saya akhirnya bersemangat lagi menata masa depan: saya ingin melakukan hal-hal yang bisa saya wariskan buat peradaban. Saya bisa melangkah lagi dengan lebih percaya diri. Berbagai belenggu masa lalu (baik itu belenggu di masa yang sangat lampau, atau belenggu yang membelit setengah jam atau lima menit yang lalu) yang terasa menghalangi langkah, bisa satu persatu saya lepaskan. Selama saya yakin bahwa ini yang terbaik, saya akan jalan terus, insya Allah.

Tentu, saya pun tidak selalu berhasil mempraktekkan teori ini. Jelas ini sebuah perjuangan seumur hidup, karena sepanjang hayat dikandung badan, masalah pun akan selalu ada; luka datang silih berganti, dan air mata akan tertumpah lagi dan lagi. Yang jelas, spiritnya ini: lakukan yang terbaik untuk hari ini; lupakan dan maafkan hal-hal negatif di masa lalu; dan jangan berandai-andai untuk esok hari. Saya merasakan, (ketika saya berhasil mempraktekkannya), saya bisa menjalani hidup dengan lebih nyaman, lebih bersemangat, dan lebih legawa…