Catatan Ahad (Senin) Pagi#37: Murah-Mahal

Pagi ini saya membaca koran terbitan pekan lalu yang tergeletak begitu saja di ruang tamu. Intinya, tentang betapa mahalnya sekolah SMA. Banyak ortu mengeluhkan harus bayar belasan juta untuk uang masuk SMA dan memrotes, mengapa pemerintah tidak menggratiskan SMA, sebagaimana SD dan SMP. Seorang pengamat pendidikan yang diwawancarai koran itu mengatakan, semakin bagus kualitas pendidikan, memang butuh semakin banyak dana; dan dana itu tidak disediakan pemerintah, itulah sebabnya orangtua dimintai sumbangan. Jadi, bila tidak cukup biaya, tentu ortu bisa memilih sekolah lain yang biayanya bisa dijangkau.

Sekilas, pendapat si pengamat ini seolah mengentengkan masalah, “Kalau ga sanggup, ya cari aja sekolah lain,” begitu kasarnya.

Tapi, saya, yang selama 2 tahun terakhir secara independen menyelenggarakan sebuah sekolah taman kanak-kanak, justru melihat ada sisi lain.

Begini, kalau harus bayar belasan juta untuk masuk sebuah SMA yang favorit dengan fasilitas yang jauh di atas standar, memang bagi sebagian orang pasti dirasa berat. Tapi, saya menemukan, siapa jamin bahwa dengan bayar murah pun orangtua itu tidak akan protes?
Sekolah saya selama ini hanya membebankan 35.000 perbulan dan ortu sudah bebas, tidak perlu sediakan apa-apa (crayon, kertas, pensil, spidol, alat prakarya, semua disediakan sekolah). Tapi tahukah Anda, hanya dengan uang segitupun, ada saja yang nunggak? Dan masih ada yang ngomel, “Kok anak-anak disuruh menggambar di kertas bekas?” (ceritanya, kami kadang menggunakan kertas HVS baru, dan kadang menggunakan kertas HVS yang dibaliknya sudah ada print-out naskah tesis, atau makalah saya, untuk menggambar).

Apa mereka yang nunggak itu orang miskin? Sebagian tidak. Buktinya, kalau ada yang jualan baju, atau tas dan sepatu, dengan enteng mereka beli tuh. Bahkan ada yang mau ngutang-ngutang (=kredit) untuk beli barang-barang yang tidak urgen. Tapi, untuk bayar uang sekolah?! Nanti dulu…

Di sekolah-sekolah lain, ceritanya juga sama. SD A di kompleks kami ternyata punya tunggakan sampai 36 juta lebih (=akumulasi jumlah SPP yang belum dibayarkan para ortu kepada sekolah). SD B yang harganya jauh lebih murah, ternyata para ortunya juga seret bayar SPP. Padahal kalau tidak mampu, kan mereka bisa menyekolahkan anak ke SD Negeri yang gratis. Tapi mereka memilih SD swasta yang mahal, namun nunggak!

Saya yakin, dengan melihat gaya hidup orang-orang yang saya temui selama ini, yang nunggak-nunggak SPP itu sebagian besarnya pasti bukan orang miskin, tapi orang yang memang tidak memrioritaskan uang mereka untuk pendidikan. Banyak sekali ibu-ibu yang saya temui, lebih rela beli baju daripada beli buku penunjang belajar, atau bayar SPP tepat waktu. Ada pungutan tambahan sedikit saja sudah ngomel (ceritanya, kami meminta tambahan 1000 per minggu untuk kegiatan cooking day, itu tetep ada yang ngomel..”Harusnya bilang dari awal dong! Kan katanya SPP cuma 35.000 kok sekarang harus nambah lagi!” Ya Allah…padahal duit 1000 biasanya juga “dibuang” begitu aja buat permen dan jajanan ga sehat!).

Cerita lain, klub sepakbola yang saya dirikan. Saya pernah cerita di sini. Akhir-akhir ini pesertanya berkurang drastis. Pas ditanya ke anaknya, kok ga datang lagi, jawabnya, “Kata ibu, kemahalan!” Yang lain juga ada yang berhenti karena di RT mereka ada latihan sepakbola juga, dan gratis. Ngapain bayar, kata bapak-ibunya. (Padahal, bayar iurannya cuma 30.000 sebulan loh, itu dipake buat sewa lapangan dan honor pelatih).

Kemarin pagi, saya nyaris memutuskan supaya dibubarkan saja. Tapi kata ipar saya (yang jadi partner saya mengelola klub; anaknya juga ikut klub), “Kalau anak saya gabung latihan dengan anak-anak di sekitar rumah, saya khawatir bahasanya… Kalau di klub sendiri kan saya jadi punya kekuasaan untuk melarang anak-anak bicara kasar…”

Benar juga..tau sendiri kan, anak-anak laki-laki di Bandung (apalagi di pinggiran) bahasanya kacaw banget, kata anji**g dan gobl*k dan berbagai jenis umpatan enteng sekali keluar dari mulut mereka…

Apalagi duh..kemarin pagi, saya lihat –untuk pertama kalinya- Reza riang sekali bermain sepakbola. Jadi ga tega deh, ngebubarin klub. Tapi mau dilanjutin juga bingung, apa serunya main sepakbola hanya bertiga atau berempat???

Masak klub ini digratiskan saja, supaya pesertanya banyak? Enggak gratis aja, pengelola harus nombok. Si pelatih yang penuh semangat –dan kelihatan sekali, sangat cinta sepakbola- sampai usul begini, “Ya udah Bu, sementara digratiskan dulu…kita latihan di lapangan rumput aja yang gratis… Biaya pelatih juga ga usah dulu, ga papa kok…”

Nah, balik lagi ke sekolah mahal atau murah… Memang kita menyesalkan pemerintah yang perhatiannya kurang pada pendidikan, kita menyesalkan perilaku sebagian pejabat yang korup sehingga anggaran pendidikan 20% dari APBN itu seolah ‘tak terasa’ atau peruntukannya kurang tepat. Tapi saya pun pada saat yang sama, menyesalkan perilaku banyak orang yang saya temui selama ini yang pelit terhadap sekolah dan lebih mementingkan baju baru dan kerudung baru dan benda-benda ga urgen lainnya, tapi menuntut sangat banyak pada sekolah. Pengennya sekolah gratis tanpa modal, tanpa peduli bahwa penyelenggaraan pendidikan sangat perlu modal…

*menulis dengan hati sangat gundah, tapi terhibur oleh alunan “Canon” dari biola yang digesek Kirana… terimakasih sayang…:)

Dicari Ilustrator (&Penulis Cerpen Anak) untuk Majalah IRFAN

Salam,
Teman-teman, beberapa tahun yll, terbit majalah anak muslim bernama IRFAN. Sejak sekitar dua tahun yll, majalah tersebut vakum. Namun, Insya Allah tidak lama lagi Irfan akan kembali hadir menyapa anak-anak Indonesia. Kami sedang mengolah dan meraciknya agar tampil cantik menarik. Majalah Irfan direncanakan terbit sebulan sekali, 32 halaman. Adakah di antara teman-teman yang tertarik untuk bergabung menjadi ilustrator tetap?
Persyaratan:
1. Muslim
2. Berdomisili di Bandung (tapi kerjanya di rumah masing2, nggak perlu ngantor kok:D)
3. Diutamakan yang senang dunia anak dan akrab dengan pembuatan ilustrasi bertema anak.
4. Dapat bekerja dalam deadline
5. Kreatif
6. Dapat bekerja dalam tim
7. Menguasai program komputer minimal Adobe Ilustrator.Teman-teman yang berminat silahkan mengirim lamaran dan portofolio ke redaksi@majalahanak-irfan.com paling lambat 30 Juni 2011.

Untuk teman-teman penulis, Irfan juga menerima kiriman cerpen, lho. Cerpen yang diharapkan adalah cerpen yang membangun jati diri anak Indonesia, bernuansa Islami meskipun tidak harus melulu dengan simbol-simbol Islam. Panjang naskah 3-4 hlm A4,1,5 spasi.
Kami tunggu karya terbaik teman-teman, ya… 🙂an Tim Redaksi

Eva Y. Nukman & Dina Y. Sulaeman

Update: mhn maaf, ilustrator sudah ‘ketemu’… tapi kiriman cerpen tetap dinanti ya..:)

 

Catatan Ahad Pagi#36: Buku Baru :)

Pagi ini, saya mau promosi buku aja, boleh ya..? 🙂

Journey to Iran: Bukan Jalan-Jalan Biasa.
Ini buku yang udah terbit bulan Mei lalu. Sebenarnya ini cetak ulang dari buku Pelangi di Persia, tapi lebih ringkas dan dilengkap tips jalan-jalan ke Iran.

Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik
Kalau ini, cetak ulang, tapi dengan penambahan konten yg cukup banyak, yaitu dg wawancara eksklusif dgn Dr Cilik yang skrg sudah berusia 20 th dan sudah menikah, serta wawancara dengan 3 hafiz cilik Iran. Juga wawancara dg pakar hafalan Quran ttg bagaimana cara terbaik mengajarkan hafalan Quran ke anak2. Ada DVD-nya juga selain berisi konten CD yg lama, ditambah dg materi metode hafalan Quran dg gerak isyarat tangan. Trus ada cara menyusun SKH (satuan kegiatan harian), utk sekolah2 yang ingin mengintegrasikan metode ini dgn kurikulum TK/PAUD)
Btw, ini juga masih cover sementara, ada kemungkinan diganti warnanya, bukan dominan coklat lagi. Terbit, insya Allah Juli.


Princess Nadeera (dan 24 Kisah Princess Persia Lainnya)
Kalau yang ini, juga belum terbit,mungkin bulan Juli. Ini buku anak-anak pertama saya, dibuat dengan penuh perjuangan karena memang sulit ternyata nulis buku anak:D Terimakasih banyak buat editor khusus, Kirana, putri saya yang yg berusia 10 th. Kalau Kirana bilang ‘rame’, berarti lolos sensor, kalau dia bilang ‘ga rame’, saya ulang lagi nulis dari awal, hehe.. Alhamdulillah, naskah ini lolos juga. Terimakasih banyak buat editor Dar! Mizan, kang Dadan Ramadhan, yang mendorong saya nulis buku ini 😉 Saya selalu ingat kata2nya kang Rama , “Bisa!” … Makasih ya…:)



Two Beautiful Princesses

Nah, yang ini buku putri saya, Kirana, baru-baru ini sudah cetak ulang ke-5, alhamdulillah. Om dan tante yang belum beli, beli yah…;)

My Persian Rainbow
Ini juga buku Kirana, baru-baru ini cetak ulang ke-2, alhamdulillah…

Catatan Ahad Pagi#35: Sukses

Kenapa sih ada orang yang sukses mengais rizki, ada yang enggak?

Apa Allah yang nggak adil?

Gak mungkin Allah gak adil, ya kan?

Kalau yang saya amati di sekitar saya nih… sukses atau enggak-nya seseorang bergantung pada dirinya sendiri.

Ada seseorang yang kurang mampu, trus dapat bantuan buat kontrak rumah. Nah, nyaman lah dia di rumahnya. Seharusnya, ketika satu masalah selesai, dia bisa mencurahkan energinya buat hal lain kan? Dia pun kerja keras cari duit (jualan) dan alhamdulillah rizkinya lancar. Tapi..eh..malah malesnya muncul. Karena merasa cukup, jarang kerja.. dan susah lagi deh hidupnya. Di akhir tahun, dia gak punya uang lagi buat bayar kontrakan…

Ada seseorang yang punya potensi besar, punya kecerdasan dan kemampuan ngomong. Kesempatan terbuka di depan mata untuk maju. Tapi oh tapi, tetap saja dia hidup berkekurangan. Setelah diselidiki, dia ternyata suka ngutang. Kadang bukan buat dirinya sendiri sih, tapi buat anaknya. Padahal, seperti dibilang bunda Rani Noeman kesayanganku itu, “Anak-anak gak butuh apa-apa selain kasih sayang ortu! Kalau orangtua beli barang-barang mahal buat dia, itu orangtuanya yang mau, bukan anaknya!” (tentu, maksudnya ini anak kecil ya; kelak si anak besar, jadi ngerti mode dan tren, lalu selalu maksa ortu buat beliin barang-barang mahal keinginannya, itu akibat salah asuhan sejak kecil).

Makanya, sekarang Reza mau beli sepeda, sengaja saya cariin sepeda bekas. Saya bilang ke Reza, “Sepeda baru harganya mahal nak.. gpp yang bekas ya?” Toh, dipikir-pikir, mau bekas atau baru yang harganya jutaan, buat anak kecil, ‘rasa’-nya sama kan? Kita orang besar yang ngerti gengsi yang punya ‘rasa’ beda terhadap benda-benda, berdasar merk dan harga.

Ada lagi orang yang punya kemampuan besar juga, dan bisa jadi pembuka pintu rizki. Tapi, aduh mak…salah sambung melulu. Kalau dikasih intruksi ada saja salahnya. Menurut saya, kemampuan menerima instruksi sebenarnya berkaitan dengan konsentrasi. Bila kita berkonsentrasi penuh untuk sebuah urusan, insya Allah, apa yang diminta orang dari kita bakal bisa kita laksanakan dengan baik. Kalau yg terjadi sebaliknya, ya jangan salahkan Allah bila gak dapat kerjaan.

Dan banyak lagi lah contoh lainnya. Saya sendiri bisa jadi contoh, betapa ada phobia saya yang menghalangi kesuksesan saya. Saya tuh sampai sekarang ga berani nyetir, entah apa sebabnya. Dulu pernah bisa, tapi sekarang, mencoba lagi nyetir, takut sekali. Nah, coba seandainya saya bisa nyetir…wah..banyak sekali yang bisa saya lakukan. Rizki saya juga kayaknya bakal lebih lancar lagi. Sayang oh sayang…:(
Ada sarankah buat menghilangkan phobia ini?

Jadi, ini kesimpulan saya pribadi, bukan Allah yang gak adil. Tapi memang ada sikap-sikap kita yang menghalangi terbukanya pintu rizki (atau, kalaupun pintu rizki udah terbuka, tak selebar yang seharusnya).

*diposting senin pagi krn kemarin speedy ngadat

Catatan Ahad Pagi#34: Prioritas

Ketika kesibukan sedemikian banyak, manakah yang harus dipilih? Sebagian orang memberi saran: pakailah prioritas. Tapi, ketika semua terasa penting dan memang harus dilakukan, apakah harus ada yang dikorbankan?

Ada seorang teman yang memberi saya inspirasi. Dia dulu mahasiswa (pada saat yang sama dia juga seornag istri dan seorang ibu). Nah, suatu malam kami bertamu ke rumahnya. Kami tentu saja menelpon dulu, dan dia menerima kami untuk datang. Ternyata, baru saya tahu bahwa besok dia akan ujian! Jadi, di sela-sela menyiapkan makanan untuk kami, di sela-sela mengobrol, dia membuka buku catatannya untuk menghafal.

Suatu saat, dia selama berbulan-bulan memberi tumpangan kepada sepasang suami istri yang belum berhasil dapat rumah kontrakan. Bisa saya bayangkan betapa repotnya, menjaga hijab di rumah sendiri, mengurus keluarga, dan mengurus tamu pula.

Tapi, luar biasa, dia tetap mahasiswa dengan nilai terbaik dan mendapat beasiswa sampai S2.

Dia bukan jenis orang yang menetapkan prioritas dengan parameter manusia kebanyakan. Kalau saya, saat tahu ada ujian besok, mungkin saya akan menolak menerima tamu. Tapi dia tetap bersedia menerima tamu. Kata si Akang, justru dengan kemuliaan hatinya itu dia dibantu Allah sehingga meski hanya sedikit alokasi waktu untuk belajar, dia mampu menyerap ilmu.

Nah, kisah teman saya ini terlewat begitu saja. Sampai beberapa hari terakhir saya pun terbentur dengan persoalan prioritas ini. Di saat bersamaan, tiba-tiba menumpuk beberapa pekerjaan yang harus dilakukan. Kata ‘harus’ di sini sangat relatif tentu, tapi menurut saya memang semuanya penting. Saya tidak bisa memilih mana yang harus dikorbankan. Jadi, yang saya lakukan, meniru teman saya itu, adalah menyerahkan semuanya kepada sang Pengatur. Dia lebih ahli mengatur segala sesuatunya.

Jadi, saya jalani saja semuanya. Saya tetap ke rumah sakit untuk menengok teman (meski ini memakan waktu setengah hari), saya tetap mengantar anak-anak berenang (yang artinya sepulang berenang saya tidur kecapean dan tidak bisa melakukan apapun selain tidur), saya tetap janjian bertemu dengan teman untuk membahas sesuatu hal yang menurut saya juga penting, saya tetap jalan-jalan bersama anak-anak ke kebun binatang, saya tetap datang nongkrongin anak-anak klub sepakbola, saya tetap duduk satu jam bersama Kirana untuk mendampinginya hafal Quran (sebenarnya saya ingin sekali berkata dengan kesal, “Ranaaa…Mama sibuk! Kenapa harus selalu ditemani Mama siiih????). Saya tetap ini..itu.. Padahal oh padahal…ada deadline tesis dan deadline revisi naskah yang telah membuat saya pening berhari-hari.

Untuk pertama kalinya, saya memasrahkan diri kepada Allah. Biarlah Dia yang mengatur.

Dan dari kemarin hingga tadi malam, saya menemukan ‘bukti’ teori baru soal prioritas yang saya serap dari teman saya itu:
-Hanya dalam 2 jam saja tadi malam, saya berhasil menyelesaikan revisi tesis yang selama berhari-hari membuat saya pening dan tidak tahu harus nulis apa.
-Hanya dalam 2 jam, di sela-sela menemai anak-anak ke Kebun Binatang, saya berhasil merevisi naskah yang dikejar-kejar deadline.

Wow.
Subhanallah.

Dan saya menanti bukti baru esok hari: besok, saya sudah mendaftar untuk ikut pelatihan parenting (lagi!) karena ada masalah urgen yang sedang saya hadapi terkait anak saya Reza. Tapi di saat yang sama, besok seharusnya saya mengejar-ngejar tandatangan dosen lalu buru-buru daftar untuk ikut sidang tesis (kalau tidak mau kena penalti dan bayar SPP 7,5 juta lagi).

Saya akan pasrahkan saja kepada-Nya. Biarlah Dia yang mengatur….