Catatan Ahad Pagi#34: Prioritas

Ketika kesibukan sedemikian banyak, manakah yang harus dipilih? Sebagian orang memberi saran: pakailah prioritas. Tapi, ketika semua terasa penting dan memang harus dilakukan, apakah harus ada yang dikorbankan?

Ada seorang teman yang memberi saya inspirasi. Dia dulu mahasiswa (pada saat yang sama dia juga seornag istri dan seorang ibu). Nah, suatu malam kami bertamu ke rumahnya. Kami tentu saja menelpon dulu, dan dia menerima kami untuk datang. Ternyata, baru saya tahu bahwa besok dia akan ujian! Jadi, di sela-sela menyiapkan makanan untuk kami, di sela-sela mengobrol, dia membuka buku catatannya untuk menghafal.

Suatu saat, dia selama berbulan-bulan memberi tumpangan kepada sepasang suami istri yang belum berhasil dapat rumah kontrakan. Bisa saya bayangkan betapa repotnya, menjaga hijab di rumah sendiri, mengurus keluarga, dan mengurus tamu pula.

Tapi, luar biasa, dia tetap mahasiswa dengan nilai terbaik dan mendapat beasiswa sampai S2.

Dia bukan jenis orang yang menetapkan prioritas dengan parameter manusia kebanyakan. Kalau saya, saat tahu ada ujian besok, mungkin saya akan menolak menerima tamu. Tapi dia tetap bersedia menerima tamu. Kata si Akang, justru dengan kemuliaan hatinya itu dia dibantu Allah sehingga meski hanya sedikit alokasi waktu untuk belajar, dia mampu menyerap ilmu.

Nah, kisah teman saya ini terlewat begitu saja. Sampai beberapa hari terakhir saya pun terbentur dengan persoalan prioritas ini. Di saat bersamaan, tiba-tiba menumpuk beberapa pekerjaan yang harus dilakukan. Kata ‘harus’ di sini sangat relatif tentu, tapi menurut saya memang semuanya penting. Saya tidak bisa memilih mana yang harus dikorbankan. Jadi, yang saya lakukan, meniru teman saya itu, adalah menyerahkan semuanya kepada sang Pengatur. Dia lebih ahli mengatur segala sesuatunya.

Jadi, saya jalani saja semuanya. Saya tetap ke rumah sakit untuk menengok teman (meski ini memakan waktu setengah hari), saya tetap mengantar anak-anak berenang (yang artinya sepulang berenang saya tidur kecapean dan tidak bisa melakukan apapun selain tidur), saya tetap janjian bertemu dengan teman untuk membahas sesuatu hal yang menurut saya juga penting, saya tetap jalan-jalan bersama anak-anak ke kebun binatang, saya tetap datang nongkrongin anak-anak klub sepakbola, saya tetap duduk satu jam bersama Kirana untuk mendampinginya hafal Quran (sebenarnya saya ingin sekali berkata dengan kesal, “Ranaaa…Mama sibuk! Kenapa harus selalu ditemani Mama siiih????). Saya tetap ini..itu.. Padahal oh padahal…ada deadline tesis dan deadline revisi naskah yang telah membuat saya pening berhari-hari.

Untuk pertama kalinya, saya memasrahkan diri kepada Allah. Biarlah Dia yang mengatur.

Dan dari kemarin hingga tadi malam, saya menemukan ‘bukti’ teori baru soal prioritas yang saya serap dari teman saya itu:
-Hanya dalam 2 jam saja tadi malam, saya berhasil menyelesaikan revisi tesis yang selama berhari-hari membuat saya pening dan tidak tahu harus nulis apa.
-Hanya dalam 2 jam, di sela-sela menemai anak-anak ke Kebun Binatang, saya berhasil merevisi naskah yang dikejar-kejar deadline.

Wow.
Subhanallah.

Dan saya menanti bukti baru esok hari: besok, saya sudah mendaftar untuk ikut pelatihan parenting (lagi!) karena ada masalah urgen yang sedang saya hadapi terkait anak saya Reza. Tapi di saat yang sama, besok seharusnya saya mengejar-ngejar tandatangan dosen lalu buru-buru daftar untuk ikut sidang tesis (kalau tidak mau kena penalti dan bayar SPP 7,5 juta lagi).

Saya akan pasrahkan saja kepada-Nya. Biarlah Dia yang mengatur….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s