Catatan Ahad Pagi#41: Keputusan

Hari kemarin saya mulai dengan membuka beberapa email dan membalas sebagiannya. Salah satu dari email itu, dari seorang sahabat, dia menyuarakan kembali suara hati saya sendiri.

Follow your heart..” tulis teman saya itu.
“Bukankan keyakinan adalah penghapus keraguan, dan keraguan adalah tanda bahwa hati kita tak sepenuhnya menerima,” katanya.

Ya ya ya.. saya tahu sebenarnya mana yang harus saya pilih. Tapi entah mengapa begitu banyak godaan ketika harus memilih.

Pagi ini, saya mantapkan hati untuk mengambil pilihan itu… Semoga Allah menguatkan hati saya, memberi berkah pada pilihan ini, dan menjaga saya agar tak menyesalinya kelak.

Lalu, saya, Rika (adik saya) dan Reza, berkunjung ke seorang sahabat yang baru pulang dari Iran.

Asyik..! Dia memberi saya oleh-oleh ini:
makanan khas Iran, “qeymeh”, yang dikalengkan

Hm, ga sabar pulang ke rumah untuk menyantapnya!

Lalu, kami ke Cibaduyut, shopping sebentar, dan dilanjutkan ke Aria Graha, shopping lagi (tapi buat dijual lagi kok, bukan buat konsumsi pribadi:D).

Dan..perjalanan dilanjutkan ke rumah Ima:)

Duh, senangnya, disuguhin pempek buatan Ima yang enak banget… Ima terima pesanan loh.. silahkan buka mp iris kue-nya:) Pempek enak buatan Ima

Pulang dari rumah Ima, sepanjang jalan, saya berkali-kali memeluk Reza, menikmati wajahnya yang menggemaskan (di mata emaknya, tentu :D), dan menghibur diri, bahwa keputusan yang saya ambil memang yang terbaik. Hey, keputusan apa siih..? Ah, rahasia ah…:D Intinya, keputusan mau jadi perempuan karir atau full time mom. Loh, kan selama ini Dina emang full time mom? Iyaaa… tapi kali ini datang godaan yang begitu menggiurkan…sehingga saya hampir goyah:(

Sampai di rumah sudah malam. Kirana dan Papanya sedang pergi ke pengajian dan belum pulang. Sebungkus kado sudah tersedia di rumah.

“Semoga panjang umur dan mendapat berkah serta ridho dari-Nya. Kami semua sayang Mama.” demikian sebagian isi kartu ucapan, ditulis oleh Kirana.

Mata saya berkaca.

Dalam sepi, saya menggoreng kentang, memanaskan qeymeh instant, lalu menyendok nasi yang dimasak ala Iran (yang sudah dimasakin oleh si Akang tersayang). Nasi-nya dua warna, putih dan kuning. Kuningnya bukan dari kunyit, tapi dari saffron.

Hm, nikmat.

Happy birthday to me. Mudah-mudahan, keputusan penting yang saya ambil di hari ulang tahun saya ini takkan pernah saya sesali...

Catatan Ahad Pagi#40: Buku Obral

Apa rasanya kalau nemu buku lama yang emang dicari-cari, dengan harga obral pula? Wah, pasti seneng banget dong! Itulah yang terjadi Selasa yang lalu. Naskah novel Kirana udah selesai. Mumpung Kirana masih libur, dan memang pengen jalan-jalan beli buku juga (Rana dan Reza selalu riang gembira kalau diajak ke Mizan:D) , jadi kami antar langsung naskah itu ke kantor Mizan di Cinambo.

Di seberang kantor itu, ada kantor distribusinya. Nah, di parkirannya memang sering ada bazaar buku. Hari itu kami beruntung, ternyata kali ini bazaarnya berisi buku-buku sangat murah (buku lama yg ga laku2, kondisinya sebagian udah lecek, atau gagal cetak). Harganya 5000-15.000 (malah ada 4 buku yg saya beli, yg akhirnya dikasih harga @3000).

Kirana seneng sekali, menemukan serial Syakila karya Fahri Asiza, nemu 4 judul. Dulu2 dia pernah mau beli, tp kata distributor Mizan, udah habis. Kirana demen sama Syakila karena pernah baca satu, yang judulnya Tragedi (itu dulu juga beli di obralan di Tisera, kalau ga salah). Skrg koleksinya nambah lagi: Bom, Topeng, Elegi, Sandera. Ada sih nemu satu lagi, judulnya “Kangen”, tapi kondisinya udah rusak berat (kayaknya kena basah dan sebagian dimakan rayap). Nah..masih banyak lagi sebenarnya judul-judul serial Syakila lainnya..tapi musti dicari kemana ya..? Ada yang punya dan berniat jual bekas ga? hehe…

Sementara saya, wah..seneng juga dong. Ada banyak buku bagus yg saya temukan, antara lain nemu buku “10 Anugerah Terindah Untuk Ananda” karya Vannoy. Duh buku ini bagus banget, sedang saya nikmati baik-baik, mudah-mudahan bisa dipraktekkan secara konsisten ke anak-anak. Nanti insya Allah saya tulis sedikit-sedikit soal buku ini, seperti kata pak Hernowo, agar bisa ‘mengikat ilmu’, kita perlu menuliskan apa yang sudah kita baca.

Total kami beli 20 buku, harganya hanya 127.000.

Trus, ada peristiwa ‘aneh’. Ketika sudah di mobil, saya buka plastik belanjaan, eh, keliatan buku “Cara Baru Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan” (Rene Van de Carr). Saya ingat, memang sambil ketawa-ketiwi, saya liatin buku itu ke si Akang. Soalnya, kami emang akhir-akhir ini sering mendiskusikan rencana punya anak lagi dan saya selalu jawab “no way!”.

Saya langsung nuduh, “Papa ya, yang mau beli buku ini?”
“Enggak!”
“Loh, kok ada di tumpukan buku ini?”
“Oh, kirain yang di meja kasir tadi itu tumpukan buku yang dijual, bukan tumpukan buku yang mau kita beli! Tadi habis baca-baca sekilas, papa taruh begitu aja di atas meja.”

Duh, gubraks deh. Rada nyesel, coba tadi teliti, kan bisa dituker sama yang lain. Kan saya ga mau punya anak lagi?!

Tapi pagi ini, lagi-lagi kami ngomongin soal nambah anak. Dan entah mengapa pagi ini tiba-tiba hati saya jadi agak goyah. Tiba-tiba aja terbayang, tahun depan Reza sudah masuk SD. Waduh betapa sepinya rumah kalau dia pergi dari pagi sampai jam 4 sore… Kemarin juga, saat berdesak-desakan di kereta (makanya kemarin ga jadi ke kopdar MPID krn urusan revisi tesis masih belum kelar juga padahal daftar wisuda selasa paling lambat), entah mengapa, pulang-pergi kok dikelilingi bayi-bayi lucu. Oalaaa..

Hmm… kalau benar tidak ada yang kebetulan di dunia ini, apakah peristiwa nyelipnya buku itu di belanjaan kami itu berarti… 😀

Catatan Ahad Pagi#39: Cerita Mudik

Pekan lalu, saya dan anak-anak pulang ke Padang. Ada tiga kejadian yang membekas.

#1. Komentar si tukang bendi

Kami sempat jalan-jalan ke pantai Gandoriah di Pariaman. Setelah naik bis dari Padang, turun di pinggir jalan besar, lalu dilanjutkan naik bendi (delman). Sebenarnya sih ada angkot. Tapi naik bendi lebih eksotis, jadilah kita pilih naik kereta yang ditarik kuda itu. Si tukang bendi ternyata suka ngobrol. Dia dengan penuh semangat cerita bahwa di pantai Gandoriah, harga-harga makanan hampir sama saja dengan di luar. Soalnya, pemda udah ngasih penyuluhan ke para pedagang, “Buat apa jual makanan mahal-mahal, orang-orang malah jadi lebih suka bawa bekal dari rumah. Mendingan dijual dengan harga normal, pembeli malah tambah banyak!”

Saya pikir, benar juga… Selama ini sering saya temui, kalau di tempat-tempat wisata harga makanan jadi berkali-kali lipat. Padahal, itu malah bikin pengunjung (apalagi turis ngirit kayak kami nih..hehe..) untuk menghindari jajan (air, nasi, dan kue2 sengaja bawa dari rumah). Nah, kembali ke pantai Gandoriah..wah, puas deh makan-makan ini itu dengan harga normal…hmm… *lezat sate-nya masih terbayang di lidah nih…

Rana-Reza main pasir di pantai Gandoriah

#2. Rokok di Angkot

Suatu hari, saya dan Ibu naik angkot (hanya kami berdua penumpang angkot waktu itu). Hujan deras mengguyur kota. Di pinggir jalan, sepasang suami-istri menyetop angkot. Si Bapak sebelum naik langsung berkata tegas, “Lai ndak ado rokok? Kami bajaleh-jaleh se nyo! Kalau ado rokok kami ndak naiak!” (Gak ada rokok kan? Kami blak2an aja nih, Kalau ada rokok, kami ga naik!).

Saya tercengang. Wow, berani amat. Selanjutnya, di atas angkot (oiya, si sopir angkot, diam-diam langsung membuang rokoknya ke luar jendela), si Bapak terus-terusan ngobrol sama ibu saya soal perlunya sosialisasi bahwa sudah jadi hak penumpang kendaraan umum untuk tidak kena asap rokok. Sayang, di Padang masih belum banyak yang tahu. Harusnya penumpang yang protes kalau haknya terlanggar, kata si Bapak (yang ternyata seorang dosen ini).

Yang lucu, si Bpk memuji2 Jakarta. Katanya, kalau di Jkt orang-orang sudah taat peraturan utk tidak sembarangan merokok, ga kayak di Padang. Hm, bener ga nih, orang Jakarta? 😀

#3. Sakit di masa tua

Sewaktu kami di Padang, Papi mengeluhkan beberapa penyakit. Selain jantung dan maag, tiba-tiba kaki bliau mendadak sakit. Lututnya bengkak. Beliau langsung mengira ini asam urat. Papi pun langsung browsing..wah..ternyata pantangan asam urat itu banyak banget..
Saya benar-benar kasihan sama Papi, sholat pun terpaksa sambil duduk di kursi (Tapi, setelah dibawa ke dokter, ternyata bukan asam urat; bengkak di lututnya itu adalah tumor yang harus dioperasi..hiks… Mohon doanya ya teman2..)

Reza dan Datuk, pohon rambutan di depan
rumah sedang berbuah

Melihat penderitaan Papi, saya jadi tersadarkan bahwa gaya hidup sehat (diet seimbang) sejak muda benar-benar penting kalau ga mau sakit-sakitan di waktu tua. Saya pun nelpon cerita ke si Akang (dia ga ikut ke Pdg). Langsung deh, keluar nasehatnya soal makan buah..(saya suka sih, makan buah, asal…. udah dikupasin dan tinggal makan, hihihi…).

Begitu kami pulang ke rumah, si Akang menyediakan jus buah (dicampur-campur, rasanya enaaak..banget)… duh..dicari kemana..suami sebaik ini, hihihi.. Tentu saja, sambil nyindir, “Kapan ya, kalian bikin sendiri..masa dibikinin terus..?!”

Catatan Ahad Pagi#38: Lulus!

Hari Kamis yang lalu, 30 Juni, perjalanan panjang yang saya lalui selama dua tahun terakhir, usai sudah… Saya berhasil lulus sidang tesis! Alhamdulillah…

Hmm… agak-agak speechless nih… mau nulis apa… Setor foto dulu aja kali ya…


Nih..sebelum sidang.. Alhamdulillah ga tegang, malah sempet foto2 sambil ketawa-ketiwi di ruang sidang, sampai ada satu dosen yang bercanda, “Astaghfirulloh…orang lain mau sidang itu gemetar, ini malah sempat-sempatnya foto-foto!” Tentu saja, waktu itu, para penguji belum pada datang, selain satu bapak dosen ini 🙂



Yang pakai jilbab merah, itu Deasy, sobat sekaligus mentor saya selama kuliah di magister Hubungan Internasional. Tanpa Deasy, entahlah apa jadinya. Bayangin aja, saya kan awalnya blank teori-teori HI (S1 saya Sastra Arab). Saya dan Deasy sidang pada hari yang sama… dan meraih yudisium yang sama pula, cumlaude, Alhamdulillah..:)


Habis sidang, makan-makan dulu di kafe kampus. Sayang ga ada fotonya, lupa foto2. Trus, pulang, janjian ketemu di Jatos sama suami dan anak-anak. Kami makan di cafe D’Renz.

Di cafe D’Renz Jatos


Nah, kafe ini bersejarah juga loh buat saya. Ceritanya otak saya bener-bener blank, macet total mau nulis tesis. Eh, ternyata Deasy juga mengeluhkan hal yang sama. Waktu kami kopdaran dengan mba Inci di Paris van Java, tiba-tiba Deasy punya ide, “Yuk, kita nulis tesisnya di kafe di Jatos aja. Murah kok. Aku juga pernah seharian duduk di sana pas lagi pusing merekap nilai mahasiswa…” (Deasy ini asdos di HI Unpad)

Akhirnya, janjianlah kami di Cafe D’Renz. Bener juga, makanannya enak dan murah. Situasinya juga nyaman, sehingga kami betah berlama-lama. Dan anehnya, ide-ide mengalir lancar. Sejak duduk di cafe itu, saya bisa lancar ngetik, dan hanya dalam lima hari selesailah draft lengkap tesis saya (di kafenya cuma sehari loh, selainnya diketik di rumah).


Temen-teman kuliah

Di salah satu ruang kelas

Terimakasih tak terhingga saya ucapkan kepada banyak pihak, orang tua, suami, anak-anak, dosen-dosen, teman-teman… Rasa terimakasih yang dalam juga saya sampaikan kepada seorang perempuan sederhana yang berjasa besar dalam proses kuliah saya. Namanya Bu Eti. Ketika kuliah semester 1 dan 2, suami ada di rumah, masih kerja free-lance. Jadi kalau saya kuliah, ada suami yang menjaga Reza di rumah (Kirana kan sekolah). Masuk semester 3, suami saya kerja di Jakarta, hwaaa… kacau balau deh.

Alhamdulilah, di saat genting itu, Bu Eti mau menolong saya. Dia datang ke rumah setiap kali saya ada jadwal kuliah. Awalnya Reza yang tidak terbiasa ditinggal dengan orang lain (dan emang anaknya sangat nempel ke saya), menangis menjerit-jerit setiap ditinggal. Alhamdulillah, Bu Eti yang punya anak 10 dan cucunya udah banyak ini, bisa membujuk Reza. Lama-lama, Reza gak nangis lagi kalau ditinggal. Tapi kadang-kadang, kalau Bu Eti berhalangan datang, Reza terpaksa dibawa ke kampus. Alhamdulillah anaknya bisa duduk tenang, asal disetelin film di laptop dan disediain cemilan yang banyak…:D

Reza di kampus

Mmm.. apa lagi ya.. Masih speechless nih. Intinya, yah terharu banget lah…Masih terbayang saat-saat ketika saya pontang-panting mengayuh sepeda, buru-buru ke stasiun kereta. Berdesak-desakan di kereta, menuju kampus. Di kampus pun sering tidak bisa berlama-lama, begitu selesai kuliah, langsung kabur sambil setengah berlari, menuju angkot ke stasiun lagi. Berkali-kali juga ketinggalan kereta untuk pulang. Bengong berjam-jam menunggu kereta berikutnya (sambil baca buku, tentunya :D). Meninggalkan anak di rumah, meneguhkan hati saat Reza mewek (wow, gaya meweknya luwes banget, bener2 heartbreaking dah!:D), lalu pulang disambut teriakan Rana dan Reza, “Mamaaa…!”

Buat saya dua tahun ini bener-bener perjuangan, bukan sekedar mencari ilmu dan gelar, tapi terasa seperti perjalanan spiritual. Ilmu HI ternyata sangat berkaitan dengan filsafat, paradigma pemikiran, (dan hal-hal sejenis inilah). Jadilah saya bisa merasakan apa itu ‘mencari ilmu demi mencari Allah’. Awalnya sih saya tidak berpikir sejauh ini ya… Apalagi kan kesannya HI itu ilmu sekuler ya. Kalau mau mencari Allah kan harusnya belajar ilmu agama, mungkin banyak yang berpikir demikian. Tapi, saya merasakan, ilmu apapun yang sedang kita kaji, sebenarnya bisa membawa kita untuk semakin mengenal diri, mengenal dunia, dan mengenal Allah.

Trus, habis ini mau apa? Yah..yang jelas mau nulis lah… Ada guru besar yang sudah menawari nulis bareng. Deasy –sobat saya itu—juga sudah siap dengan sederet rencana terkait penulisan buku. Hm… menarik sekali. Soalnya, bisa dilakukan di rumah. Kalau kerja di luar… wallahu a’lam. Saya sudah melamar sih jadi dosen di sebuah universitas, tapi maunya cuma ngajar 1 mata kuliah aja, hehehe… entahlah apa akan diterima atau tidak di sana. Yang jelas, sementara ini saya memang masih harus lebih banyak di rumah, demi anak-anak…

Terimakasih Allah…