Catatan Ahad Pagi#38: Lulus!

Hari Kamis yang lalu, 30 Juni, perjalanan panjang yang saya lalui selama dua tahun terakhir, usai sudah… Saya berhasil lulus sidang tesis! Alhamdulillah…

Hmm… agak-agak speechless nih… mau nulis apa… Setor foto dulu aja kali ya…


Nih..sebelum sidang.. Alhamdulillah ga tegang, malah sempet foto2 sambil ketawa-ketiwi di ruang sidang, sampai ada satu dosen yang bercanda, “Astaghfirulloh…orang lain mau sidang itu gemetar, ini malah sempat-sempatnya foto-foto!” Tentu saja, waktu itu, para penguji belum pada datang, selain satu bapak dosen ini 🙂



Yang pakai jilbab merah, itu Deasy, sobat sekaligus mentor saya selama kuliah di magister Hubungan Internasional. Tanpa Deasy, entahlah apa jadinya. Bayangin aja, saya kan awalnya blank teori-teori HI (S1 saya Sastra Arab). Saya dan Deasy sidang pada hari yang sama… dan meraih yudisium yang sama pula, cumlaude, Alhamdulillah..:)


Habis sidang, makan-makan dulu di kafe kampus. Sayang ga ada fotonya, lupa foto2. Trus, pulang, janjian ketemu di Jatos sama suami dan anak-anak. Kami makan di cafe D’Renz.

Di cafe D’Renz Jatos


Nah, kafe ini bersejarah juga loh buat saya. Ceritanya otak saya bener-bener blank, macet total mau nulis tesis. Eh, ternyata Deasy juga mengeluhkan hal yang sama. Waktu kami kopdaran dengan mba Inci di Paris van Java, tiba-tiba Deasy punya ide, “Yuk, kita nulis tesisnya di kafe di Jatos aja. Murah kok. Aku juga pernah seharian duduk di sana pas lagi pusing merekap nilai mahasiswa…” (Deasy ini asdos di HI Unpad)

Akhirnya, janjianlah kami di Cafe D’Renz. Bener juga, makanannya enak dan murah. Situasinya juga nyaman, sehingga kami betah berlama-lama. Dan anehnya, ide-ide mengalir lancar. Sejak duduk di cafe itu, saya bisa lancar ngetik, dan hanya dalam lima hari selesailah draft lengkap tesis saya (di kafenya cuma sehari loh, selainnya diketik di rumah).


Temen-teman kuliah

Di salah satu ruang kelas

Terimakasih tak terhingga saya ucapkan kepada banyak pihak, orang tua, suami, anak-anak, dosen-dosen, teman-teman… Rasa terimakasih yang dalam juga saya sampaikan kepada seorang perempuan sederhana yang berjasa besar dalam proses kuliah saya. Namanya Bu Eti. Ketika kuliah semester 1 dan 2, suami ada di rumah, masih kerja free-lance. Jadi kalau saya kuliah, ada suami yang menjaga Reza di rumah (Kirana kan sekolah). Masuk semester 3, suami saya kerja di Jakarta, hwaaa… kacau balau deh.

Alhamdulilah, di saat genting itu, Bu Eti mau menolong saya. Dia datang ke rumah setiap kali saya ada jadwal kuliah. Awalnya Reza yang tidak terbiasa ditinggal dengan orang lain (dan emang anaknya sangat nempel ke saya), menangis menjerit-jerit setiap ditinggal. Alhamdulillah, Bu Eti yang punya anak 10 dan cucunya udah banyak ini, bisa membujuk Reza. Lama-lama, Reza gak nangis lagi kalau ditinggal. Tapi kadang-kadang, kalau Bu Eti berhalangan datang, Reza terpaksa dibawa ke kampus. Alhamdulillah anaknya bisa duduk tenang, asal disetelin film di laptop dan disediain cemilan yang banyak…:D

Reza di kampus

Mmm.. apa lagi ya.. Masih speechless nih. Intinya, yah terharu banget lah…Masih terbayang saat-saat ketika saya pontang-panting mengayuh sepeda, buru-buru ke stasiun kereta. Berdesak-desakan di kereta, menuju kampus. Di kampus pun sering tidak bisa berlama-lama, begitu selesai kuliah, langsung kabur sambil setengah berlari, menuju angkot ke stasiun lagi. Berkali-kali juga ketinggalan kereta untuk pulang. Bengong berjam-jam menunggu kereta berikutnya (sambil baca buku, tentunya :D). Meninggalkan anak di rumah, meneguhkan hati saat Reza mewek (wow, gaya meweknya luwes banget, bener2 heartbreaking dah!:D), lalu pulang disambut teriakan Rana dan Reza, “Mamaaa…!”

Buat saya dua tahun ini bener-bener perjuangan, bukan sekedar mencari ilmu dan gelar, tapi terasa seperti perjalanan spiritual. Ilmu HI ternyata sangat berkaitan dengan filsafat, paradigma pemikiran, (dan hal-hal sejenis inilah). Jadilah saya bisa merasakan apa itu ‘mencari ilmu demi mencari Allah’. Awalnya sih saya tidak berpikir sejauh ini ya… Apalagi kan kesannya HI itu ilmu sekuler ya. Kalau mau mencari Allah kan harusnya belajar ilmu agama, mungkin banyak yang berpikir demikian. Tapi, saya merasakan, ilmu apapun yang sedang kita kaji, sebenarnya bisa membawa kita untuk semakin mengenal diri, mengenal dunia, dan mengenal Allah.

Trus, habis ini mau apa? Yah..yang jelas mau nulis lah… Ada guru besar yang sudah menawari nulis bareng. Deasy –sobat saya itu—juga sudah siap dengan sederet rencana terkait penulisan buku. Hm… menarik sekali. Soalnya, bisa dilakukan di rumah. Kalau kerja di luar… wallahu a’lam. Saya sudah melamar sih jadi dosen di sebuah universitas, tapi maunya cuma ngajar 1 mata kuliah aja, hehehe… entahlah apa akan diterima atau tidak di sana. Yang jelas, sementara ini saya memang masih harus lebih banyak di rumah, demi anak-anak…

Terimakasih Allah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s