Catatan Ahad Pagi#39: Cerita Mudik

Pekan lalu, saya dan anak-anak pulang ke Padang. Ada tiga kejadian yang membekas.

#1. Komentar si tukang bendi

Kami sempat jalan-jalan ke pantai Gandoriah di Pariaman. Setelah naik bis dari Padang, turun di pinggir jalan besar, lalu dilanjutkan naik bendi (delman). Sebenarnya sih ada angkot. Tapi naik bendi lebih eksotis, jadilah kita pilih naik kereta yang ditarik kuda itu. Si tukang bendi ternyata suka ngobrol. Dia dengan penuh semangat cerita bahwa di pantai Gandoriah, harga-harga makanan hampir sama saja dengan di luar. Soalnya, pemda udah ngasih penyuluhan ke para pedagang, “Buat apa jual makanan mahal-mahal, orang-orang malah jadi lebih suka bawa bekal dari rumah. Mendingan dijual dengan harga normal, pembeli malah tambah banyak!”

Saya pikir, benar juga… Selama ini sering saya temui, kalau di tempat-tempat wisata harga makanan jadi berkali-kali lipat. Padahal, itu malah bikin pengunjung (apalagi turis ngirit kayak kami nih..hehe..) untuk menghindari jajan (air, nasi, dan kue2 sengaja bawa dari rumah). Nah, kembali ke pantai Gandoriah..wah, puas deh makan-makan ini itu dengan harga normal…hmm… *lezat sate-nya masih terbayang di lidah nih…

Rana-Reza main pasir di pantai Gandoriah

#2. Rokok di Angkot

Suatu hari, saya dan Ibu naik angkot (hanya kami berdua penumpang angkot waktu itu). Hujan deras mengguyur kota. Di pinggir jalan, sepasang suami-istri menyetop angkot. Si Bapak sebelum naik langsung berkata tegas, “Lai ndak ado rokok? Kami bajaleh-jaleh se nyo! Kalau ado rokok kami ndak naiak!” (Gak ada rokok kan? Kami blak2an aja nih, Kalau ada rokok, kami ga naik!).

Saya tercengang. Wow, berani amat. Selanjutnya, di atas angkot (oiya, si sopir angkot, diam-diam langsung membuang rokoknya ke luar jendela), si Bapak terus-terusan ngobrol sama ibu saya soal perlunya sosialisasi bahwa sudah jadi hak penumpang kendaraan umum untuk tidak kena asap rokok. Sayang, di Padang masih belum banyak yang tahu. Harusnya penumpang yang protes kalau haknya terlanggar, kata si Bapak (yang ternyata seorang dosen ini).

Yang lucu, si Bpk memuji2 Jakarta. Katanya, kalau di Jkt orang-orang sudah taat peraturan utk tidak sembarangan merokok, ga kayak di Padang. Hm, bener ga nih, orang Jakarta? 😀

#3. Sakit di masa tua

Sewaktu kami di Padang, Papi mengeluhkan beberapa penyakit. Selain jantung dan maag, tiba-tiba kaki bliau mendadak sakit. Lututnya bengkak. Beliau langsung mengira ini asam urat. Papi pun langsung browsing..wah..ternyata pantangan asam urat itu banyak banget..
Saya benar-benar kasihan sama Papi, sholat pun terpaksa sambil duduk di kursi (Tapi, setelah dibawa ke dokter, ternyata bukan asam urat; bengkak di lututnya itu adalah tumor yang harus dioperasi..hiks… Mohon doanya ya teman2..)

Reza dan Datuk, pohon rambutan di depan
rumah sedang berbuah

Melihat penderitaan Papi, saya jadi tersadarkan bahwa gaya hidup sehat (diet seimbang) sejak muda benar-benar penting kalau ga mau sakit-sakitan di waktu tua. Saya pun nelpon cerita ke si Akang (dia ga ikut ke Pdg). Langsung deh, keluar nasehatnya soal makan buah..(saya suka sih, makan buah, asal…. udah dikupasin dan tinggal makan, hihihi…).

Begitu kami pulang ke rumah, si Akang menyediakan jus buah (dicampur-campur, rasanya enaaak..banget)… duh..dicari kemana..suami sebaik ini, hihihi.. Tentu saja, sambil nyindir, “Kapan ya, kalian bikin sendiri..masa dibikinin terus..?!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s