Catatan Ahad Pagi#44: Introspeksi

Beberapa berita menyentak pikiran saya…

Permintaan uang ‘receh’ kepada Bank Indonesia menjelang Lebaran tahun ini mencapai 77 Trilyun (detik.com)

– Potensi zakat umat muslim Indonesia per tahun 217 Trilyun, tetapi zakat yang terkumpul per tahun hanya 1,5 Trilyun.(data dari ADB dan Bazasnas, dikutip Metro TV)

Lalu, saya baca-baca blog yuswohadi.com, ahli marketing yang tulisannya ringan, jenaka, tapi menggelitik pikiran.

Ini saya copas bbrp bagiannya ya (huruf-huruf yang ditebalkan, emang aslinya begitu-ditebalkan oleh penulisnya)

Lebaran Marketing

Bip! Bip! Bip! Blackberry saya menyalak! Sekonyong-konyong kalimat-kalimat ini nongol di grup BBM saya.

Menghadapi Ramadhan:
10 hari pertama: MESJID PENUH
10 hari kedua: MALL PENUH
10 hari ketiga: TERMINAL PENUH
10 hari setelah Ramadhan: PEGADAIAN PENUH

Kata-kata menyentil itu memang dimaksudkan teman grup BBM saya hanya untuk guyonan, tapi diamat-amati dan dirasa-rasakan saya kira kok betul adanya. Kalau sudah menyangkut urusan puasa-lebaran, memang masyarakat kita selalu all-out termasuk dalam urusan belanja dan menghabiskan uang. Saking all-out nya, sampai lupa berapa THR diterima dan berapa duit yang dibelanjakan: besar pasak daripada tiang. Walhasil, betul, 10 hari setelah lebaran orang-orang sibuk ngantri di Pegadaian.

Percaya saya, di bulan puasa kita kuat menahan lapar-dahaga, nafsu amarah, dan nafsu syahwat. Tapi kalau sudah urusan menahan nafsu belanja… ampuuuun, mana kuat!!!

Setelah lewat malam Lailatul Qadar, maka grafik nafsu belanja akan menanjak. Dengan bekal THR di kantong, aksi berbelanja pun kian mengganas. Saat-saat inilah kita sedang demen-demen-nya berboros ria dan menghabiskan uang. Di Jakarta, puncaknya adalah tadi malam dan malam ini saat hampir semua mal menggelar midnight sale, karena minggu depan penduduk Jakarta mulai mudik.

Tak heran, inilah masa-masa indah yang ditunggu-tunggu setiap marketer. Beragam jurus dan trik digunakan para marketer untuk merayu konsumen mulai dari pasang diskon gedhe-gedhean, melakukan bulan promo gencar, jor-joran hadiah, hingga jualan halus “berkedok” pemberian layanan bagi pemudik. Tak jarang Ramadhan dijadikan ajang perang bubat antar merek. Coba Anda buka halaman-halaman iklan surat kabar atau tonton iklan-iklan TV. Di situ Anda dapati perang sengit antar operator seluler, layanan kartu kredit, ponsel murah, hingga mal-mal yang bersaing menggelar sale.

Puasa Belanja? No Way!

Itulah sebabnya saya sering bilang: “Masa Ramadhan adalah masa belanja!” Itu bagi si konsumen. Bagi si marketer lain lagi: “Masa Ramadhan adalah masa jualan!”. Di bulan Ramadhan, nafsu-nafsu yang lain boleh dikekang; tapi nafsu belanja akan tetap jalan, bahkan lebih kencang.

Mood Belanja
Siklus mood belanja di masa Ramadhan biasanya berjalan seperti ini. Ketika Matahari menabuh genderang aksi mengumbar nafsu belanja satu atau dua hari menjelang puasa, saat itulah kita mulai aware dan diingatkan bahwa “masa belanja” telah datang. Seminggu sebelum puasa, ibu-ibu akan memborong barang-barang kebutuhan sehari-hari untuk stok selama sebulan berpuasa. Ini tak lain adalah “pemanasan” untuk memasuki puncak masa belanja yang sesungguhnya.

Seminggu pertama berpuasa, mood belanja ini meredup karena kita lagi hot hot-nya menghayati dan menikmati ibadah yang kita jalani setahun sekali ini. Namun setelah itu, mood belanja mulai tumbuh subur seperti layaknya jamur di musim hujan. Dan mood ini mulai betul-betul menggeliat setelah dua minggu lewat kita berpuasa. Karena itu saya sering menyarankan, kalau Anda melakukan promo puasa-lebaran, geber-lah promo itu di 15 hari sebelum hari H lebaran.

Setelah dua minggu lewat kita berpuasa, maka kita mulai tidak berkonsentrasi lagi dalam bekerja, apalagi kita-kita yang bekerja di instansi pemerintah. Masuk kerja boleh dari pagi sampai menjelang maghrib, namun pikiran sudah melanglangbuana ke kampung. Yes: mudik!!! Di kepala kita pun sudah mulai samar-samar terbayang kelebat-kelebat gambar meneduhkan: seluruh kerabat berkumpul setelah sholat Ied, saling maaf-memaafkan, saling canda, saling kangen-kangenan, tentu saja lengkap dengan ketupat dan opor ayam super kental… amboy.

Take-Off
Seiring seisi kepala dipenuhi gambar-gambar suasana kampung halaman yang menyejukkan hati, mood berbelanja pun menggeliat naik kian cepat. Ketika terngiang-ngiang kerabat di kampung, maka hanya satu hal yang kita pikirkan: oleh-oleh. Oleh-oleh bisa macam-macam; baju, makanan-minuman, perabot rumah-tangga, hingga barang-barang elektronik. Di titik inilah aksi serbu mal atau tempat-tempat belanja untuk berburu oleh-oleh mulai agresif kita lakukan. Ini biasanya terjadi 10 hari sebelum hari H lebaran.

Seminggu menjelang hari H lebaran biasanya THR mulai mengalir ke kantong. Pada titik ini mood belanja pun betul-betul menemukan momentum puncaknya. Di sinilah kita mulai seperti kesurupan berbelanja. Demi kerabat di kampung segala cara kita gunakan agar bisa membawa oleh-oleh untuk mereka, kalau perlu ngutang. Itu sebabnya masa lebaran adalah masa panen Pegadaian. THR nggak cukup nggak masalah asal bisa ngutang, segala masalah wes ewess ewesss… lewat dulu; baru dipikir nanti sepulang dari mudik.

Di bulan suci ini mengekang nafsu amarah, harus! Mengekang nafsu nggosipin orang lain, harus! Mengekang nafsu syahwat, harus! Mengekang nafsu belanja, no way!!!

Yah, anyway, Ramadhan sudah hampir berlalu. Dua hari lagi Idul Fitri. Yang tersisa buat kita ya cuma kesempatan untuk introspeksi diri saja. Termasuk introspeksi diri selama nge-blog. Mohon maaf bila selama ini ada tulisan-tulisan atau komen-komen saya yang menyinggung perasaan teman-teman semua, mohon diikhlaskan…

Semoga semua amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini diterima-Nya… amin…

Selamat berbahagia di hari raya Idul Fitri…! 🙂

*siap-siap mo mudik…. 😀


Advertisements

Catatan Ahad Pagi#43: Baju Syahrini

Kemarin, shopping baju ke Pasar Baru. Bukan buat diri sendiri, tapi buat dijual lagi (yang jualan ibu saya, di Padang). Belinya juga bukan partai banyak, tapi dipilih satu-satu aja yang keren dan sesuai pesanan.

Di antara pesanan yang masuk adalah ‘baju model syahrini’. Gubraks, yang mana sih? Saya bener-bener blank. Akhirnya nanya deh ke si mas penjual baju. dengan semangat dia ngasih tau, “Ni..ini nih model Syahrini.. Ini model Ummi.. ini model Mama Dedeh..” Ckckck.. bener-bener trend setter rupanya mereka ya..

Yang bikin saya terheran-heran adalah baju model syahrini itu.. Tipis menerawang. Apa pakenya harus pakai lapisan dalam lagi ya? Ribet amat. Dan lagi, kenapa sih bikin baju tipis begini? Niatnya mau pakai baju muslimah atau hanya ikut trend saja? Setelah keliling-keliling, Pasar Baru, eh ternyata benar, baju putih tipis menerawang itu emang banyak yang jual…

Akhirnya, saya tak beli satu pun baju model Syahrini itu. Rasanya berdosa aja, mau jualan baju kayak gitu, hihihi..

Catatan lain.. saya agak miris melihat betapa ramainya Pasar Baru, mau jalan aja sampai dempet-dempetan… Bukannya sok suci atausok sederhana ya.. cuma..mm.. gimana ya.. miris aja.. Kalau buat baju kok orang selalu ada uang yah.. coba buat yang lain *yang dalam pandangan saya lebih penting*..duh.. ngakunya ga punya duit melulu..

Bagaimana dengan baju lebaran kami sekeluarga? Udah beli dong, sekitar enam bulan yll, hehe.. Ceritanya, lagi ke pasar baru utk beli sesuatu yang memang perlu..eh, lapar mata… Ada baju yang menurut saya keren banget. Jadilah beli untuk sekeluarga (4 pieces). Tapi, dipake dulu buat foto keluarga, foto untuk buku, dan ketika ada acara istimewa. Nah, nanti lebaran dipake lagi, meskipun gak baru-baru amat.

Sekarang, kalau diingat-ingat jumlah uang yang saya habiskan untuk beli 4 baju itu, glek, kayaknya saya sama aja deh sama orang-orang yang saya kritik barusan…:(

foto: ambil dari google.com

Hati-Hati SMS dari 9339, 9933, 9889, atau entah apa lagi

Selama ini sering dengar-dengar soal sms ga jelas yang menyedot pulsa. Saya dengan bangganya bilang, “Kalau Mentari Indosat enggak tuh, aman!”

Ealaa.. barusan nyadar, ternyata kami (saya dan suami sama pakai Mentari), selama ini kena juga sms yang ngerampok pulsa itu..entah sudah berapa lama kejadiannya, dan kami sama sekali tidak menyadarinya. Saya putuskan nulis di MP, siapa tau ada di antara teman-teman yang ga menyadari perampokan pulsa ini…

Ceritanya, beberapa waktu yll, suami mengeluh, kok pulsanya cepat habis, padahal dia merasa jarang sms dan nelpon. Saya sendiri ga merasa apa-apa, emang sih suka kaget, kok udah habis lagi ni pulsa (kalau ngisi ulang hampir selalu pulsa 50rb). Tapi perasaan emang saya juga sering nelpon dan sms sih.

Nah, akhir-akhir ini, saya juga entah mengapa merasa pulsa saya cepat habis, perasaan aktivitas nelpon dan sms jauh berkurang.

Sore ini, saya ngecek pulsa suami. 19rb sekian. Tiba-tiba masuk sms dari 9339, isinya iklan restoran. Trus, iseng, cek pulsa lagi. Loh, kok jadi 17rb sekian??? Saya cek inboxnya, eh, emang secara berkala ada sms gak jelas dari 9339, 9933.

Akhirnya, saya cek inbox hp saya, ada sms dari 9889, iklan berita Dhani dan Maia (hari gene???!).

Langsung browsing, ternyata ada beberapa onliner yang cerita kekesalan mereka soal sms-sms perampok pulsa. Dari browsing, saya tau, ternyata semua sms itu masuk ke inbox kita karena kita terdaftar ikut layanan sms informasi. Jalan keluarnya, kirim sms UNREG aja. Masalahnya, kami kan GAK PERNAH DAFTAR! Huh, pengen marah deh.

Di sms 9899 yang masuk ke inbox saya (iklan berita Maia dan Ahmad itu!!!), ada no CS-nya, 021-7233465. Saya coba nelpon. Orangnya ramah, dan menjawab baik-baik, “Baik bu, nanti kami unregister”.

Saya karena kesel, menutup pembicaraan dengan begini, “Mba! Ga halal tuh duitnya!”

Dia jawab, “Kami gak akan mengirim layanan sms dan mengambil pulsa ibu kalau ibu tidak melakukan register kepada kami.”

“Saya gak pernah melakukan register!”

“Di sini ada datanya bu, ibu melakukan register tanggal… Kalau tidak percaya tanyakan pada Indosat.” (hey, apa Indosat yang memberikan data-data pelanggan ke perusahaan2 sms informasi ini ya?)

“Tapi saya gak pernah register!” *mulai naik darah*

“Ibu, kalau Ibu mengerti, coba tanyakan Indosat, Ibu itu pernah melakukan register kepada kami..bla..bla…

(saya potong) “Udah deh Mba, kejadian gini udah banyak! Saya gak pernah register dan saya tidak menghalalkan uang saya yang selama ini dirampok!” (matikan telpon).

Tak lama kemudian, masuk SMS dari 9899 itu, “Anda sudah tidak berlangganan layanan 9899”.

Naudzubillah min dzalik, mudah-mudahan kami sekeluarga terhindar dari uang haram kayak mereka itu…

Catatan Ahad Pagi#42: Yang diperlukan adalah kesabaran menunggu…


Meski Reza (5 thn) anak kedua, ternyata saya tetap harus belajar banyak untuk membesarkannya. Saya pikir, kalau anak kedua, segalanya jadi lebih mudah, kan sudah berpengalaman. Ternyata, karena tiap anak beda-beda, ya ‘terpaksa’ belajar terus deh.

Salah satu kebahagiaan yang kami rasakan bulan Ramadhan ini adalah menyaksikan beberapa keberhasilan, setelah lama menunggu. Ceritanya, Reza itu susah sekali diajak menghafal Quran.

Ternyata, akhir-akhir ini saya sadari, Reza adalah tipe anak yang ingin belajar diam-diam dulu, setelah berhasil, baru setor muka. Selama proses belajar itu, dia menutupi kebelumbisaannya dengan sikap jaim, “Gak mau!”

Hanya dalam waktu singkat, Reza bisa hafal 6 surat (Alfatihah, Al Ikhlas, An-Nas, Al Fiil, Al Kautsar, Al Quraiys). Kalau dibandingkan dgn Kirana sih jauh, seusia Reza, dulu Kirana sudah hafal 2/3 juz amma.. tapi..ssst..ga boleh membanding-bandingkan anak! 😀

Trus, selama 2 tahun terakhir, Reza tuh nempeeel..banget sama saya. Kalau sekolah harus saya tunggui. Akhir-akhir ini, kepercayaan dirinya meningkat jauh dan malah nyuruh saya pulang, “Mama pulang aja! Aku berani kok!” Wuih, senangnya… Tapi, kalau diingat-ingat, ya ampuuun.. 2 tahun penuh saya nungguin dia di sekolah! (playgroup-TK)

Lalu, untuk urusan puasa, sungguh saya salut sama persistensinya. Kami mencoba bersabar, tidak memaksa anak puasa (biarin aja anak orang rajin puasa..lagian masih kecil ini). Jadi kami menyerahkan pilihan kepadanya. Eh.. Reza yg masih 5 tahun ini, dgn kemauan sendiri ikut puasa. Siang hari jam 11, dia menangis kelaparan. Saya bilang, “Gpp, Reza masih kecil, jadi boleh buka sekarang, nanti lanjut puasa lagi.” Dia menangis, “Aku tuh mau puasa sampai magrib! Tapi aku laper!”

Dibujuk-bujuk makan, tetap ga mau. Dia tetap ingin puasa. Akhirnya, saya mencoba mengalihkan perhatian dgn nonton VCD, baca buku, main, atau tidur. Eh, berhasil juga puasa sampai maghrib, sampai hari ini alhamdulillah semakin mulus. Nangisnya hanya menjelang maghrib (mungkin krn melihat makanan sudah terhidang, perutnya jadi terasa semakin lapar:D), itupun hanya nangis kesal, bukan ingin membatalkan puasa (keukeuh, “aku mau puasa sampai maghrib!”)

Si Akang pernah bilang, “Sekarang Mama rasakan bukan, hidup ini terasa indah justru ketika ada masalah. Ingat dulu betapa kita resah karena Reza tidak mandiri, nempel melulu.. Setelah kini terlalu, terasa kan, bahagiaaa..sekali.”

Hehe.. benar juga.. Banyak loh, problem yg kami hadapi terkait Reza.. dan selalu jalan keluarnya ternyata adalah dengan bersabar menunggu.

Kini, masih ada nih, problem Reza..yaitu, ga mau belajar baca! Maunya dibacain aja. Memang, banyak yang bilang bahwa belajar baca terlalu dini juga ga baik. Atau, sebaiknya belajar baca itu sambil bermain. Masalahnya, sambil bermain pun dia ogah. Jadi? Ya sudahlah, sabar saja. Siapa tahu teori ‘read aloud’ itu terbukti untuk Reza. Dibacain buku terus..ee..tiba-tiba bisa baca sendiri.

Tapi, memang bersabar menunggu itu berat loh, apalagi dalam situasi ‘kompetisi’ yang ada di sekitar. “Itu si anu..udah hafal sekian surat…”. “Itu si ini..udah bisa baca…”. “Si eta udah bisa Iqro…”. Olala.. bener2 harus tutup kuping nih!

photo: Reza pakai baju kaos keren yang diproduksi www.aulaady.com, milik mba Yuni 🙂

Zikir yang Menyembuhkan

Pekan yll, saya berkesempatan menghadiri bedah buku “Zikir Menyembuhkan Kankerku”. Sayang buku tersebut tidak dijual di acara itu, habis katanya (kabarnya, buku ini best seller). Tapi, alhamdulillah, tetap ada ilmu berharga yang berhasil saya catat dari pembicara, sang penulis buku, Prof Amin Syukur, dan istri beliau, Hj Fathimah Usman, M.Si.

Berikut ini catatan saya.
Zikir yang membawa efek adalah zikir yang menggabungkan roh (kesadaran), akal (kesadaran), jiwa (ketenangan), dan hati (kesabaran). Keempat aspek ini kita ‘on’-kan, kita fokuskan agar seiring dengan jasmani berzikir kepada-Nya.

Zikir yang dibaca, antara lain: subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallah, allahu akbar, laa hawlaa walaa quwwata illa billah.

Apa yang perlu ‘disadari’ saat berzikir?

subhanallah: sadarilah bahwa Allah tidak pernah salah, pasrahkan diri dengan menyadari bahwa diri inilah yang bersalah
alhamdulillah: syukurilah segala nikmat yang telah diberikan Allah, nikmat rizki, kesehatan, anak yang soleh, suami yang baik, keamanan, teman yang setia, tetangga yang baik, dan lain-lain (nikmat itu tidak cuma dalam bentuk materi saja).
laa ilaaha illallah, allahu akbar : pasrahkan diri sepasrah-pasrahnya sampai seakan-akan kita meringkuk di hadapan-Nya

Lalu, setelah mampu melakukan zikir dgn sebaiknya (empat zikir di atas), arahkan konsentrasi pada qolbu/jantung kita (letaknya kira-kira dua jari di bawah puting susu sebelah kiri), tanpa bersuara, ucapkan “Allah”, alirkan “Allah” pada segenap sel, darah, seluruh jiwa dan raga.

(Bila setelah 3 menit hati kita belum tersentu, masih belum ‘larut’ dalam zikir, maka ulangi lagi prosesnya dari awal.)

Bagaimana agar dzikir kita memberi pengaruh?
1. Zikir yang penuh perasaan dan kesadaran
2. Menyadari dan merasakan bahwa kita berada dalam pantauan Allah, rasakan bahwa diri ini dilihat langsung oleh Allah
3. Tumbuhkan rasa cinta, rindu, intim, dekat, dan bersahabat dengan-Nya
4. Teteskan air mata.
Insya Allah, doa kita dikabulkan oleh Allah bila didahului zikir seperti ini.

Hubungan zikir dengan kesehatan:
Hati tenang —-> jasmani sehat
Dalam bidang medis sudah ditemukan penelitian mengenai Psiko-neuro-endorfin-imunologi, yaitu kekebalan tubuh meningkat ketika hati dan jiwa tenang.

Ada 6 jenis zikir (yang perlu dilakukan sinergis):
1. Zikir jahr (dengan suara jelas)
2. Zikir sirr (tanpa suara, di dalam hati saja)
3. Zikir ruh (sikap, kesadaran bahwa segala sesuatu dari Allah dan milik Allah)
4. Zikir fi’ly (zikir dg melakukan amal soleh; yang terbaik adalah amal/membagikan ilmu!)
5. Zikir pernafasan (ini perlu dipelajari langsung, susah menuliskannya)
6. Zikir afirmasi (secara rutin, 10 mnt di pagi hari, 10 mnt di sore hari, katakan kalimat2 sugesti pada diri sendiri, misalnya: aku sehat..aku sehat… atau aku bisa.. aku bisa… Caranya: pejamkan mata, rileks, dan ucapkan kalimat sugesti itu. Ini adalah proses menginstall sesuatu yang berlawanan dengan apa yang kita pikirkan. Contohnya, kita sedang sakit, pastilah kita berpikir kita sakit. Tapi dengan zikir afirmasi ini, kita katakan ‘aku sehat’.)

Selamat berzikir:)