Catatan Ahad Pagi#42: Yang diperlukan adalah kesabaran menunggu…


Meski Reza (5 thn) anak kedua, ternyata saya tetap harus belajar banyak untuk membesarkannya. Saya pikir, kalau anak kedua, segalanya jadi lebih mudah, kan sudah berpengalaman. Ternyata, karena tiap anak beda-beda, ya ‘terpaksa’ belajar terus deh.

Salah satu kebahagiaan yang kami rasakan bulan Ramadhan ini adalah menyaksikan beberapa keberhasilan, setelah lama menunggu. Ceritanya, Reza itu susah sekali diajak menghafal Quran.

Ternyata, akhir-akhir ini saya sadari, Reza adalah tipe anak yang ingin belajar diam-diam dulu, setelah berhasil, baru setor muka. Selama proses belajar itu, dia menutupi kebelumbisaannya dengan sikap jaim, “Gak mau!”

Hanya dalam waktu singkat, Reza bisa hafal 6 surat (Alfatihah, Al Ikhlas, An-Nas, Al Fiil, Al Kautsar, Al Quraiys). Kalau dibandingkan dgn Kirana sih jauh, seusia Reza, dulu Kirana sudah hafal 2/3 juz amma.. tapi..ssst..ga boleh membanding-bandingkan anak! 😀

Trus, selama 2 tahun terakhir, Reza tuh nempeeel..banget sama saya. Kalau sekolah harus saya tunggui. Akhir-akhir ini, kepercayaan dirinya meningkat jauh dan malah nyuruh saya pulang, “Mama pulang aja! Aku berani kok!” Wuih, senangnya… Tapi, kalau diingat-ingat, ya ampuuun.. 2 tahun penuh saya nungguin dia di sekolah! (playgroup-TK)

Lalu, untuk urusan puasa, sungguh saya salut sama persistensinya. Kami mencoba bersabar, tidak memaksa anak puasa (biarin aja anak orang rajin puasa..lagian masih kecil ini). Jadi kami menyerahkan pilihan kepadanya. Eh.. Reza yg masih 5 tahun ini, dgn kemauan sendiri ikut puasa. Siang hari jam 11, dia menangis kelaparan. Saya bilang, “Gpp, Reza masih kecil, jadi boleh buka sekarang, nanti lanjut puasa lagi.” Dia menangis, “Aku tuh mau puasa sampai magrib! Tapi aku laper!”

Dibujuk-bujuk makan, tetap ga mau. Dia tetap ingin puasa. Akhirnya, saya mencoba mengalihkan perhatian dgn nonton VCD, baca buku, main, atau tidur. Eh, berhasil juga puasa sampai maghrib, sampai hari ini alhamdulillah semakin mulus. Nangisnya hanya menjelang maghrib (mungkin krn melihat makanan sudah terhidang, perutnya jadi terasa semakin lapar:D), itupun hanya nangis kesal, bukan ingin membatalkan puasa (keukeuh, “aku mau puasa sampai maghrib!”)

Si Akang pernah bilang, “Sekarang Mama rasakan bukan, hidup ini terasa indah justru ketika ada masalah. Ingat dulu betapa kita resah karena Reza tidak mandiri, nempel melulu.. Setelah kini terlalu, terasa kan, bahagiaaa..sekali.”

Hehe.. benar juga.. Banyak loh, problem yg kami hadapi terkait Reza.. dan selalu jalan keluarnya ternyata adalah dengan bersabar menunggu.

Kini, masih ada nih, problem Reza..yaitu, ga mau belajar baca! Maunya dibacain aja. Memang, banyak yang bilang bahwa belajar baca terlalu dini juga ga baik. Atau, sebaiknya belajar baca itu sambil bermain. Masalahnya, sambil bermain pun dia ogah. Jadi? Ya sudahlah, sabar saja. Siapa tahu teori ‘read aloud’ itu terbukti untuk Reza. Dibacain buku terus..ee..tiba-tiba bisa baca sendiri.

Tapi, memang bersabar menunggu itu berat loh, apalagi dalam situasi ‘kompetisi’ yang ada di sekitar. “Itu si anu..udah hafal sekian surat…”. “Itu si ini..udah bisa baca…”. “Si eta udah bisa Iqro…”. Olala.. bener2 harus tutup kuping nih!

photo: Reza pakai baju kaos keren yang diproduksi www.aulaady.com, milik mba Yuni 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s