Catatan Ahad Pagi#47: Childreen See, Children Do

Menanggapi aksi tawuran, seorang pejabat tinggi di Mendiknas menyebut-nyebut soal pendidikan karakter di sekolah. Apa sih? Saya tadi browsing sejenak, tapi tak menemukan definisi pastinya. Yah, kira-kiranya, upaya dari Kemendiknas untuk menciptakan sistem pendidikan yang mampu menghasilkan anak-anak yang beriman, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dll.

Saya lebih suka berpikir sederhana saja. Anak-anak itu lebih banyak di rumah atau di sekolah sih? Waktu ada 24 jam, sekolah paling-paling 2-8 jam (bergantung sekolahnya, tentu, ada yang sejak TK juga sudah fullday karena ibunya sibuk). Tapi, yang jelas, masih lebih banyak di rumah kok.

Lalu, ada satu sifat khas anak: meniru. Anak itu melihat dan meniru (children see, children do). Jadi, sulit saya membayangkan konsep pendidikan karakter yang dikatakan orang-orang elit itu bisa terlaksana di sekolah, kalau di rumah, anak-anak tetap melihat hal-hal yang buruk dari ortunya.

Ketika anak bermasalah, ada ortu yang menyalahkan lingkungan, “Waktu masih kecil anak saya baik-baik saja. Ee.. setelah masuk ke sekolah anu, jadi kenal sama anak-anak yang ga bener, akhirnya anak saya jadi kenal rokok, ke warnet melulu, bla..bla..”

Salahkah lingkungan? Saya terinspirasi dari tulisan seorang guru, segalanya dimulai dari rumah. Bagaimana mungkin anak belajar empati bila sejak kecil ortunya tak pernah menunjukkan empati kepadanya? Bagaimana mungkin anak belajar bersabar menahan amarah, bila sejak kecil dia dimarah-marahi terus, atau bahkan dipukuli ortunya? Bagaimana mungkin anak bertakwa, kalau di rumah ayat-ayat Quran ‘tidak dibumikan’?

Misalnya, apakah anak tahu dan hafal bahwa ada ayat Allah, ‘berdamai itu baik’?

Kalau cuma diceramahi, mungkin ayat ini sulit nempel ke anak-anak. Tapi di rumah, ada cara-cara yang bisa kita lakukan. Contohnya, ketika kita sedang mengajak anak-anak untuk beres-beres kamar, sambil ngobrol sana-sini, dengan nada riang (bukan nada ceramah atau mendoktrin) ceritakan bahwa Allah senang kepada orang yang berdamai… kutip ayatnya, ‘was-shulhu khair…’. Diskusikan apa saja yang dimaksud ‘damai’, apa yang dimaksud ‘baik’ (diskusi, bukan ceramah)… dst. Lalu kapan-kapan, bikin game tebak-tebakan ayat, atau mendongeng dengan menyelipkan ayat; misalnya kisah boneka A yang nonjok boneka B… boneka B nangis sedih… lalu kita tanya ke anak (atau pura-pura nanya ke boneka-boneka yang jadi tokoh-tokoh dongeng), “Ada yang ingat ga ya… Allah bilang apa..?”

Menurut saya, ini bukan ‘menjejali dongeng anak dengan ayat’, tapi memang tujuannya supaya anak hafal ayatnya dan membekas dalam benaknya; lah kalau ayatnya ga dikenalkan ke anak, gimana mau hafal, apalagi menjadikannya sebagai pedoman sepanjang hidupnya?

Mungkin ada yang membantah: loh itu pejabat yang korupsi apa ga hafal surah Al Ikhlas, berarti tahu kan bahwa Allah itu ada dan berkuasa, kok tetap korupsi? Jawaban saya: hafal saja; dengan hafal, paham, serta benar-benar ‘mengalir dalam urat nadi’, tentulah beda hasilnya.

Yah, ada banyak teori sih soal pendidikan anak. Tapi saya yakin, sebagai muslim, menghidupkan ayat-ayat Allah adalah cara terbaik dalam pembentukan karakter anak.

Terakhir, saya menemukan video ini. Kata-kata ‘children see, children do’ saya temukan dari sini. Video yang bagus untuk renungan.

*reminder buat diri sendiri…akhir-akhir ini saking sibuk, jadi jarang ‘ngadongeng dengan ayat’ lagi ke Rana dan Reza, hiks… insya Allah mulai hari ini konsen lagi main dan belajar sama anak-anak…amiiin…


Catatan Ahad Pagi#46: Perkosaan

Akhir-akhir ini, status di FB bunda Elly Risman (psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati), berkaitan dengan maraknya aksi-aksi perkosaan. Ini saya copas:

“Bagi teman2 yg telah mengikuti seminar2 kami ttg dampak era digital thdp kerusakan otak, faham betul mengapa skrg tambah meningkat perkosaan di tempat 2 umum. Bertahun2 kami teriakkan akan dampak games yg isinya tehnik memperkosa di tempat umum. Sekarang kejadian.”

“Tidak ckp hanya merazia supir tembak, kaca gelap dan mengingatkan penumpang berhati2.. pelaku diinterogasi, temukan sejak kapan main games, jeisnya berapa lama sehari dan sdh melakukan gtindak kejahatan apa sebelumnya.. Menurut DR.Tauhid Nurazhar :Kerusakan pada pre frontal cortex adalah sediaan bviologis utk org menjadi psikopat dan sosiopat…”

“Menindak pelaku mutlak, tapi mencegah terjadinya perilaku yg sama dgn cara yg lbh variatif dan lbh luas: HARUS, SEGERA & TEPAT. Anak dan Pemuda kita menderita epidemi kerusakan otak, akibat kecanduan baru yg tidak dikenali jangankan oleh pembuat kebijakan & pengambil keputusan dan “yg berwajib/berwenang”, bahkan orang tua tidak tahu. Kita semua PINGSAN!”

Banyak orang mendiskusikan siapa yang salah: yang pakai rok minikah, perempuan yang mau-mau saja janjian (kopdar) dengan si pelaku, atau si pelaku? Menurut saya, semua berjalin-berkelindan. Kita tidak bisa menimpakan kesalahan pada satu pihak saja (apalagi sekedar melakukan kebijakan reaktif: razia supir angkotlah, melarang rok minilah… rok mini dilarang, tapi jika film, games, buku, tabloid, majalah berkonten porno dibiarin aja..apa efektif?).

Dan sementara ini, sebagai rakyat jelata, apalagi yang bisa kita perbuat selain memperkuat benteng keluarga? Mau ngomel dan ngritik pemerintah supaya bikin kebijakan yang holistik untuk menyelamatkan negeri ini, apa mereka mau dengar?

Kita orang tua bertanggung jawab mendidik anak-anak laki-laki agar menundukkan pandangan, tidak mengakses video/gambar porno (dan sedihnya, data dari Buah Hati, 50% sinetron kita mengandung pornografi, 1 dari 3 anak mengakses pornografi di rumahnya). Kata bu Elly, ketika laki-laki sudah terpapar pornografi, maka di otaknya akan ada ‘mental porno’. Perempuan berjilbab pun tetap akan seksi baginya dan akan dijadikan mangsanya. (Bukan berarti saya sedang ‘membela’ perempuan pakai rok mini ya. Saya tidak setuju perempuan pakai rok mini di depan non-muhrim. Tapi poinnya di sini: bila mental porno sudah ada, aksi-aksi perkosaan tidak bisa dicegah hanya sekedar dengan melarang orang pakai rok mini. Perlu langkah yang menyeluruh dan mendasar.) Lengkapnya, baca:Bahaya Pornografi di Rumah Kita (Laporan Seminar Ibu Elly Risman)

Kita orang tua bertanggung jawab mendidik anak-anak perempuan agar berhati-hati menjaga pergaulan. Kita harus ciptakan situasi keluarga yang hangat, supaya anak gadis kita lebih nyaman curhat sama kita, bukan sama laki-laki asing yang dikenalnya di FB. Anak-anak gadis yang kabur dari rumah dengan teman FB-nya, atau kopdaran dengan lelaki asing –kata temenku yang psikolog—pastilah berasal dari rumah yang kurang kasih sayang.

Saya mengetik jurnal ini dengan mata yang berair..karena saya juga sangat khawatir.. saya belum bisa melaksanakan tugas sebagai ibu dengan baik.. masih sering mengkritik, mengomel, memarahi… (terkadang kita merasa sedang menasehati anak, padahal efeknya ternyata buruk. Baca deh di 12 Gaya Komunikasi Yang Harus Dihindari Para Ibu). Saya terkadang masih lalai membiarkan anak-anak saya menonton film sampah… Mudah-mudahan Allah melindungi kita semua.

Btw, ini saran dari Bu Elly Risman waktu ikut seminarnya: berbuatlah yang terbaik untuk anak-anak, lalu berdoalah mohon perlindungan Allah. Cara berdoanya: hadirkan ‘film positif’ di benak kita saat berdoa (bayangkan anak kita jadi orang yang soleh, pintar, sukses, punya suami/istri yg baik dan soleh…dst) karena akan menghadirkan semangat positif dan peluang terkabul sangat besar (karena kita berdoanya sangat sungguh-sungguh, bukan sekedar di bibir).

Catatan Ahad Pagi#45: Empat Kali

Wah, sudah ahad siang nih… Tapi tak apalah, yang penting berusaha tetap nulis:)

Singkat saja, ini catatan dari kajian tafsir barusan.. Ustadznya membacakan surat Al Baqarah 274,

الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

(Dan orang-orang yang menginfakkan hartanya di malam dan siang, rahasia, dan terang-terangan, bagi mereka pahala di sisi Tuhan mereka dan tidak ada ketakutan serta tidak ada kesedihan bagi mereka)

Kata pak Ustadz, menurut beberapa sumber rujukan: tafsir Shofi, tafsir Majmaul Bayan, tafsir Qurtubi, dan tafsir Kabir Fakhurrozi, ayat ini asbabun nuzulnya terkait dengan kebiasaan Ali bin Abi Thalib as, beliau biasa menyisakan penghasilan yang didapatkannya seusai bekerja setiap hari, minimalnya 4 dirham, dan disedekahkan dengan 4 cara: malam hari, siang hari, sembunyi-sembunyi, dan terang-terangan. Dan janji Allah adalah, orang-orang yang semacam begini tidak akan takut dan cemas lagi.

Betapa banyak dari kita yang sering resah karena harta..tabungan menipis, atau bahkan ga punya tabungan..hari esok entah mau makan apa… Tapi, janji Allah, buat orang-orang yang suka berinfak, mereka akan dijauhkan dari rasa cemas dan takut terkait dunia.

Tapi, kata pak Ustadz juga, yang mendapatkan janji itu bukan orang yg kadang2 saja berinfaq, melainkan yang kontinyu (makanya dipakai kata ‘yunfiqu’, fill mudhari’ dalam tenses Arabic).

Jadi pengen ngikutin…menyisihkan sejumlah uang secara kontinyu, lalu disedekahkan dengan 4 cara itu.. Cuma pertanyaannya, mencari org yang disedekahi setiap hari x 4 kali kan susah juga ya..? Apalagi buat emak-emak yang ga banyak ‘beredar’ kayak saya nih… Hm.. jadi mikir lagi deh… 😀