Catatan Ahad Pagi#49: Ilmu

Kemarin hari yang benar-benar melelahkan; pulang ke rumah jam 11 malam. Paginya, saya harus bicara di sebuah forum, yang akibatnya saya gak bisa hadir di Seminar Ayah Bunda Hebat (diisi Bunda Rani Noe’man dan Ayah Irwan). Ketika mendengar testimoni teman-teman yang hadir dalam seminar itu, menceritakan betapa seru dan bermanfaatnya seminar itu..wah.. rasanya jadi nyeseeel.. seandainya saja saya hadir…

Tapi ketika saya kilas balik lagi, sebenarnya, adalah PILIHAN SAYA untuk tidak hadir di seminar. Mengapa? Karena sebenarnya saya sudah tahu akan ada seminar bu Rani tanggal 22; harusnya sejak jauh hari, saya menetapkan hati untuk ikut seminar itu. Harusnya tgl 22 itu saya kosongkan dari jadwal lain. Tapi dengan pertimbangan yang saya yakin juga baik, saya memenuhi undangan mengisi sebuah forum…

Saya pun pagi ini menyimpulkan, bahwa yang namanya ‘ilmu bermanfaat’ memang sama dengan rizki. Kadang kita sendiri yang menolak rizki. Kan filosofi mencari rizki (materi/uang), bergeraklah dan berusahalah terus, insya Allah, Dia akan menurunkan rizki-Nya. Allah sebenarnya sudah menyediakannya untuk kita, tinggal kita yang bergerak mencari.

Sama, ilmu juga. Ketika antuasiasme untuk mencari ilmu terus muncul, maka jalan-jalan pun akan terbuka bagi datangnya ilmu kepada kita. Halangan-halangan yang ada sebenarnya hanya ujian, seberapa besar tekad/harapan kita bagi turunnya rizki ilmu.

Saya pernah mengoordinir sebuah acara yang sangat bagus, mendatangkan pembicara yang sangat bagus; susah dicari waktu kosongnya, dan biasanya harus dibayar mahal. Tapi ini, subhanallah, si pembicara ini mau datang, waktunya pas, bisa gratis pula. Tapi, sungguh aneh, ada orang-orang yang terhalang datang; padahal jarak antara majlis ilmu itu dengan rumahnya sangat dekat. Mereka pun di rumah tidak sedang apa-apa. Ada yang tidur, lebih menyerah kepada kelelahan dan memilih istirahat saja. Ada juga yang merasa tidak perlu; sudah merasa tahu apa isinya; dan sudah memutuskan sendiri, bahwa dia tidak perlu ilmu yang akan disampaikan di majlis itu. Duh, seandainya mereka mau datang… sungguh tidak akan rugi…

Tapi ya itu, lagi-lagi, ilmu memang sama dengan rizki. Allah sebenarnya sudah menyediakannya untuk kita, tinggal kita yang bergerak mencari.

Sebagaimana ada orang yang terhalang mendapat rizki karena menolak menempuh jalan-jalan menuju rizki yang sudah terbentang di depan; untuk ilmu pun, ada banyak orang yang terhalang dari ilmu karena merasa sudah cukup dan sudah tau; atau underestimate pada orang lain.

Saya tidak sekedar mengritik orang lain, tapi juga mengritik diri sendiri. Kasus seminar Bu Rani itu contohnya. Pilihan saya sendirilah yang menyebabkan saya jadi tidak bisa hadir. Sangat mungkin, memang terbersit rasa sombong dan sok tau dalam diri saya ‘ah, udah taulah ilmunya, toh udah sering ikut acaranya bu Rani’.

Sebaliknya, saya pun meyakini bahwa insya Allah, kemarin itu juga memang rizkinya orang-orang di forum yg saya hadiri itu (kan, sedikitnya, -mudah-mudahan- saya ngomong sekitar satu jam di sana, ada jugalah yang bisa disebut sebagai ‘ilmu’). Apalagi kan kata orang, kalau kita bicara (membagikan ilmu), akan ada efek bumerang: ilmu itu jadi lebih nempel pada diri kita.

Jadi ya sudahlah, saya tidak lagi menyesali hari kemarin. Insya Allah semua ada hikmahnya, salah satunya, mengingatkan diri ini agar menyalakan semangat dalam jiwa untuk terus mencari ilmu, menjauhkan diri dari sikap sombong dan under-estimate.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s