Catatan Ahad Pagi#52: Mencintai Laki-Laki yang Salah (2)

Seorang teman curhat kepada saya mengenai kisah hidupnya. Dia dizalimi sama suaminya. Padahal, dia kenal dengan suaminya dalam sebuah aktivitas relijius (=pengajian). Lah, kok setelah nikah baru ketahuan kalau si suami ini ternyata tidak sesoleh penampilan dan kata-katanya?!

Kata psikolog nih, sebenarnya kita sudah bisa melihat bagaimana karakter pasangan sejak sebelum menikah. Jadi, tabiat seorang pria yang suka melakukan kekerasan fisik, biasanya ketahuan kok. Cuma, kesalahan terbesar perempuan pada umumnya (ini saya baca dari buku juga) adalah mereka biasanya punya keyakinan mampu mengubah pasangannya. Jadi, kadang, si perempuan udah tahu kok kalau si laki-laki ringan tangan, atau suka mengumpat, atau malas, atau apalah, tapi dia yakin, setelah menikah, pastilah si lakilaki akan berubah menjadi baik (Kan cintaaa…gitu…).

Atau, si perempuan tahu bahwa si laki-laki itu waktu kecil sering dipukuli ayahnya. Nah, biasanya (kata psikolog juga, bukan kata saya), anak yang jadi korban pemukulan ortu, akan melakukan hal yang sama ke pasangan, dan ke anak-anaknya kelak. Kebetulan, untuk kasus ini, saya pernah mendapatinya. Seorang kenalan saya mengeluh, ida dipukulin suaminya. Pas ditanya-tanya, e, si suami ini ternyata dulu memang sering dipukuli ayahnya; bahkan si suami ini dulu pernah nikah; dan mereka cerai karena si istri pertama dipukulin melulu. Yang saya bingung, loh, kenapa ya si istri yang kedua ini gak nanya-nanya dulu? Masa dilamar langsung nikah aja, tanpa melakukan penyelidikan?

Saya jadi ingat pada kebiasaan di Iran. Di sana ada tradisi ‘penyelidikan’ (duh saya lupa apa istilahnya). Jadi, bila ada laki-laki melamar perempuan, keluarga si perempuan akan mengutus beberapa orang yang dipercaya untuk menyelidiki si laki-laki. Yang ditanya-tanya tentu saja bukan si laki-laki atau ortunya langsung, tapi temannya, tetangganya, rekan kerjanya, dll. Dan karena sudah tradisi, bila ada orang nanya-nanya dengan tujuan ‘penyelidikan’ pernikahan, orang yang ditanyai juga mau menjawab dengan baik dan lengkap. Kayaknya, tradisi ini baik juga ya, kita tiru?

Balik lagi ke kasus curhat temen saya itu. Walhasil, setelah curhat panjang, akhirnya dia sendiri yang menyimpulkan bahwa memang ada salah langkah dalam hidupnya. Dia memang salah pilih orang. Dia pun semakin mantap untuk memutuskan berpisah dari suaminya. Waktu itu, saya berpesan, mengutip kata-kata Mario Teguh, bahwa sering terjadi, perempuan/laki-laki jatuh ke lubang yang sama dua kali (atau 3 kali, dst).

Begini lengkapnya:
“Kita memiliki kebiasaan untuk mengulangi kesalahan, karena kita enggan mengubah sikap dan cara pikir yang kita gunakan untuk memilih orang yang kita percayai atau yang kita cintai. Perhatikankah, berapa sering kita merasa kesal dengan diri sendiri yang tak kunjung selesai membuat kesalahan, terutama tentang hal yang sama? Itulah sebabnya, orang yang dikecewakan oleh kekasih atau pasangannya, akan memulai hubungan baru yang besar kemungkinannya akan juga mengecewakannya. Orang yang berpisah karena kekasaran dan kekerasan, anehnya akan tetap tertarik dan mengulangi hubungan dengan kekasih atau pasangan yang juga akan melukai hatinya. Keindahan pilihan Anda ditentukan oleh keindahan cara Anda dalam memilih.”


Note: dulu pernah nulis juga soal cinta salah-benar ini, siapa tau pengen baca:)
di sini dan di sana.

Catatan Ahad Pagi#51: Ge-er

Perempuan itu mudah ge-er.

Betulkah?

Kalau saya sih, merasakan demikian. Orang lain bermaksud A, misalnya, eh, malah saya tangkap berbeda. Ada orang yang ngasih perhatian sedikit, saya kirain ada apa-apa. Atau, kadang orang lain saya kira lagi kesel sama saya -karena cuek ke saya-..eh..ternyata ngeliat saya lewat juga engga (dia sibuk dengan pikiran sendiri kali). Atau, suami suatu saat bersikap aneh… kirain teh mau bikin surprise..ga taunya.. ingat juga enggak kalau hari itu hari istimewa..haha..

Seperti ditulis oleh MP-er ini:

(Kenapa perempuan mudah ge-er?) Pertama, karena perempuan itu perasa. Dalam beberapa kasus, sangat perasa. Dikasih perhatian sedikit, berpikirnya bisa jauuuuuuhhhh ke sebab-sebab, alasan, latar belakang, pendahuluan, landasan teori, lalu dikaitkan dengan bukti-bukti di lapangan, analisis.… *kok, seperti skripsi ya?* Atau, kenapa gak begitu, kenapa dia begini… Kalau sudah begitu, ya itu, dia terindikasi geer. Padahal mungkin bagi yang memberi perhatian itu biasa saja.

Di buku “Men are from Mars, Women are from Venus” memang diungkapkan bahwa kata-kata yang sama bisa ditafsirkan/dimaknai berbeda oleh laki-laki dan perempuan.

“Mereka mungkin menggunakan kata2 yg sama, tetapi cara penggunaannya memberikan makna yg berbeda-beda, dan ditangkap secara berbeda juga..Ungkapan-ungkapan yang serupa tetapi mengandung konotasi atau penekanan emosional yang berbeda. Mudah sekali terjadi salah paham.”

Contohnya nih..
Perempuan kalau ngomel, berkata, “Kamu tidak pernah mendengarkanku!”

Padahal, yang dimaksud ‘mendengar’ oleh laki-laki, ya benar-benar ‘mendengar’ (pakai kuping dan bahkan dia bisa mengulangi semua kata-kata yg diucapkan si perempuan).

Sebaliknya, ketika perempuan berkata ‘kau tak pernah mendengarku”, maksudnya, ya lagi kesel aja, karena merasa si laki-laki tidak memahami perasaannya. Tentu, ‘tidak pernah’ ini juga generalisir.. di lain waktu tentu saja di laki-laki berkali-kali memahami perasaan si perempuan, tapi perempuan emang hobi menggeneralisir dg mengatakan ‘tidak pernah’.

Walhasil… relasi perempuan-laki-laki memang unik dan perlu dipelajari, kalau ga mau kejebak dalam miskom..atau yang parah, terjebak dalam kegeeran yang ga jelas…:)


Catatan Ahad Pagi#50: Almamater

Bandung, 9 November 2011

Tempat ilmu dan cita
Almamaterku tercinta
(Hymne Unpad, by Iwan Abdurrachman)

Kan kutunjukkan padamu
Kan kubuktikan padamu
Rasa bangga dan baktiku
Almamater
(Almamater, by Iwan Abdurrachman)

Kalau baca teksnya saja sih, terasa agak lebay (buat saya). Tapi ketika mendengarnya langsung di Graha Sanusi, Unpad, dinyanyikan dengan sangat indah oleh Paduan Suara Universitas Padjadjaran, wah.. terharunya bukan main…

Lalu, lagu Padamu Negeri dinyanyikan… Tambah terharu deh.. teringat betapa carut-marutnya negeri ini, teringat betapa banyak anak bangsa yang kesulitan melanjutkan pendidikan, hiks…

Semangat untuk mengabdi kembali muncul; semangat untuk terus melakukan apa yang bisa dilakukan, demi perbaikan negeri ini.

Saat lagu Padamu Negeri berkumandang, lampu ruangan dimatikan, dan pantia menyebarkan beberapa karangan bunga ke beberapa mahasiswa S1. Lagu lain berkumandang, entah apa judulnya…tapi sangat mengharukan. Mereka lalu menyerahkan karangan bunga itu ke ortu masing-masing. Isak tangis pecah. Air mata saya pun mengalir tanpa bisa ditahan.

Papi dan Ibu saya, yang sejak 10 tahun yll mengharapkan tibanya hari ini, alhamdulillah juga hadir, menyaksikan prosesi wisuda ini; menyaksikan saat nama anaknya dipanggil plus predikat ‘dengan pujian’ (cumlaude)…

Almamater mengacu pada sekolah/universitas, namun arti harfiahnya ‘ibu yang pemurah’. Ini mengingatkan saya pada kemurahan hati orang tua saya selama ini. Dukungan mereka tak putus-putusnya; tak pernah mereka pesimis bahwa saya bisa dan mampu meneruskan pendidikan.

Alhamdulillah ya Allah, ‘hutang’ lama ini akhirnya terbayar jua... Terimakasih pada Papi dan Ibu, atas doa dan dukungan mereka yang tak pernah putus.