Catatan Ahad Pagi#55: Edisi Khusus Suami Istri :)

Pagi ini, saya browsing, eeeh.. ketemu tulisan lama Bunda Wirda

Belum sempet minta izin sih sama Bunda Wirda (udah kirim PM sih..hehe).. tapi yakin deh, diizinkan.. saya copas di sini ya…

Kenapa kok tumben..? Hahaha…. ada deeh…

Lebih Dekat, Lebih Cinta (by Wirdayanti)

“Saya kangen!” Ucap Nay saat menelpon suaminya. Setelah mengobrol cukup lama, wajahnya tambah cerah.
“Oke Bang…,kita makan bakso di tempat langganan nanti ya. I love you…” Nay menutup handphonenya.

Hana, teman kantor, yang berada di dekatnya keheranan. “Salut deh, kalian sudah hampir 15 tahun nikah kan, tapi… kok bisa sih masih kayak pengantin baru begitu?”

Keheranan Hana sebetulnya tidak perlu ada, namun begitulah banyak istri merasa. Perkawinan selalu penuh cinta dan kemesraan di awal-awal tahun, untuk kemudian memudar dan hanya diisi dengan rutinitas, di hari-hari kemudian. Bagaimana agar kemesraan bisa berlaku selamanya? Berikut beberapa tips yang dapat Anda coba, agar lebih dekat dan lebih cinta dengan suami…

• Jatuh cinta lagi
Mungkin ini cukup membingungkan. Tetapi jatuh cinta lagi pada suami adalah peristiwa yang begitu menakjubkan. Bayangkan bagaimana uniknya hubungan kita dengan suami apabila kita terus merasa jatuh cinta padanya, setiap hari! Hanyutkanlah diri Anda dengan perasaan cinta yang terus mengalir saat memandang wajahnya, mengingat kebaikannya, dan saat Anda merindukannya. Kenanglah saat-saat indah Anda bersamanya dan maklumi segala kekurangannya. Penting juga untuk selalu mengatakan pada diri Anda sendiri, betapa Anda mencintainya.

• Ungkapkan rasa cinta, kangen, sayang
Hal ini penting dilakukan, karena orang yang Anda cintai harus mengerti hal itu. Dan pengungkapan inipun menjadi peneguh bagi perasaan Anda sendiri.

• Panggil pasangan dengan pangilan spesial
Panggillah suami Anda dengan panggilan yang paling dia dan Anda sukai. Seperti ‘sayang’, ‘abangku’, dan lain-lain.

• Kontak yang tak putus
Lakukan itu lewat telepon ataupun sms terutama pada saat-saat suami tidak sibuk.

• Mengobrol yang asyik
Luangkanlah waktu untuk berbicara santai dengan suami Anda, pilih topik-topik yang ringan, selipkan juga humor saat ngobrol.

• Sentuhan sayang
Membelai, mencium, berpegangan tangan, dan sentuhan lainnya adalah kontak fisik yang begitu mendebarkan. Lakukan itu dalam setiap kesempatan yang memungkinkan.

• Hubungan seks yang menyenangkan
Bila hubungan seks hanya sekedar rutuinitas dan kewajikan semata, ini perlu diperbaiki. Anda perlu menghayati dan menikmati kebersamaan yang istimewa ini.

• Memberi hadiah dan surprise
Hadiah dan kejutan merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan kedekatan pada siapapun mereka, apalagi bagi suami istri.

• Bila terjadi konflik, selesaikan dengan manis
Jangan pernah memperpanjang sebuah konflik, apalagi mengaitkan dengan konflik sebelumnya. Bangun suasana santai dan romantis saat Anda ingin menyelesaikan konflik, insyaAllah konflik terselesaikan dengan manis. Berikutnya lakukan hal-hal yang menyenangkan bersama suami, berdua saja! Seperti jalan-jalan, makan bersama, dan lain-lain.

• Bermohonlah pada Allah
Ini paling penting! Allah-lah yang punya kuasa atas hati manusia, pun hati suami Anda. Berdoa, dan bermohonlah agar DIA menjadikan Anda dan suami dapat selalu merasa lebih dekat dan lebih cinta di sepanjang usia pernikahan Anda.

Dimuat di majalah Ummi Spesial Mei 2005


Advertisements

Catatan Ahad Pagi#54: Friendship on Multiply

Sebuah message muncul di inbox FB, menanyakan, kok saya udah ga aktif lagi di MP?

Hm..iya sih ya.. Lama-lama, sy malah lebih aktif di FB. Habis, semakin lama pekerjaan saya malah menuntut saya selalu connect sama FB. Orang-orang yang perlu saya hubungi terkait pekerjaan, lebih suka buka FB; cara tercepat mengontak mereka malah lewat FB, bukan email. Jadilah seolah MP terabaikan, meski sebisanya saya tetap berusaha menulis catatan ahad pagi, yang bagi saya semacam katalisator buat jiwa saya sendiri (halah, bahasanya).

Jadi, kali ini saya mau setor cerita kopdar-kopdar aja deh.. Kemarin-kemarin sempat beberapa kali kopdar. Tapi mau posting foto selain ga sempet, juga ga ada fotonya, hehe.. Jadi ingat dulu awal-awal ngempi, duh narsisnya… apa-apa difoto, lalu dipajang, hehe.. Sekarang, kopdar aja sampai lupa buat motret. Atau, sempet foto-foto, tapi ga sempet aplot. Ckckck… Cerita ini disusun tidak sesuai kronologis waktu ya..

Tanggal 28 Okt, saya kopdar sama Dian Iskandar. Selain penasaran ketemu sama Dian, juga penasaran pengen liat si cantik Billa yang cerita proses kelahirannya membuat hati saya terharu-biru. Akhirnya, ketemu juga sama si mungil yang cantik itu. Ih, gemesnya..! Kami kopdaran di kamar hotel Holiday Inn, hehe.. Soalnya Billa baru bangun tidur dan masih ngantuk-ngantuk gitu deh. Asyik deh, ngobrol-ngobrol sama Dian, antara lain soal kelanjutan studinya. Duh.. tiap orang ternyata punya masalah masing-masing ya, Dian, hehe.. dan itulah hidup. Semoga Dian bisa segera menemukan jalan keluar soal studi dan kerjaan ya. Amiiin.. Dan semoga saya juga menemukan sponsor yang mau membiayai S3 saya, hihihi… *semangat terus ya Dian, meski kita sudah jadi emak-emak-banyak-urusan 😀

Dina-Billa-Dian, foto diambil dari MP-nya Dian..:)


Trus, kopdar kedua… lagi-lagi sama Imazahra…hehe.. gak bosen-bosen yak, kita kopdaran? Soalnya seru sih, obrolan ga habis-habis kalau ketemu sama Ima. Nah, kopdar sama Ima ini terjadi beberapa kali sebenarnya. Sebabnya, Ima kan sekarang terima pesanan pempek yang uenaaak.. banget. Top deh. Setelah makan pempeknya Ima, kami jadi males makan pempek yang lain, kalah jauh sih rasanya:)

Salah satu kopdar yang seru dengan Ima adalah waktu the lovely-Aa Risyan ultah (bulan September, tanggalnya lupa). Jadi ceritanya, saya tuh pesen pempek ke Ima. Trus Ima bilang, bisa tolong beliin gitar gak (kan deket rumah saya ada pengrajin alat musik; harganya miring; kalau udah masuk ke toko-toko jauh lebih mahal) buat hadiah Aa Risyan yang ultah. Saya jadi ada ide, ya udah, kita dinner sekalian aja yuk, buat ngerayain ultahnya si Aa. Walhasil, Ima (di rumahnya) pun heboh bikin pempek dan cake (yang uenaaak..banget, top deh pokoknya). Saya, nyiapin bahan-bahan buat bikin soto banjar (soalnya si Akang-ku seneng banget soto banjar buatan Ima, seger katanya.. loh, ini yang ultah si Aa kok yang milih menunya si Akang yak?:D).

Begitu Ima datang, langsung deh kita buru-buru menyiapkan soto banjar yang sebenarnya praktis banget. Tapi percaya gak, dasar saya emang ga punya passion masak, sekarang udah lupa lagi apa aja bumbunya. Tapi ada pelajaran penting yang saya dapatkan dari acara masak waktu itu: saya berhasil bikin perkedel! Hihihi, beneran Ima, beberapa hari kemudian uni bikin perkedel dengan sukses dan enak, sampai dipuji si Akang. Cuma, kalau sekarang disuruh bikin lagi, kayaknya lupa lagi deh 😦

Trus, ya foto-foto deh… Si Aa yang awalnya datang dengan bete (karena dia pengen konkow-konkow ama temennya, tapi malah dipaksa ke Rancaekek) akhirnya jadi leleh… hahaha.. So sweet both of you.. 🙂

soto banjar + cake ultah Aa Risyan 🙂

si Aa senyum dapat hadiah gitar 😀

Oiya, kopdar selanjutnya dengan Ima terjadi beberapa saat setelah saya wisuda S2. Ima datang bahwa hadiah wisuda berupa pempek. Aih senangnyaaa… Makasih banyak ya adinda… 🙂

Nah, kopdar selanjutnya, dengan Bunda Intan, di ponpesnya di Ciburial (Dago). Ternyata gampang ya, ke Pesantren Babussalam naik angkot. Selama ini kalau mau ke Babussalam, saya pakai mobil pribadi, karena perasaan jauh banget gitu. Eh, kemarin itu saya ngeteng aja pakai angkot, sekalian ke kampus di Bukit Dago Utara, gampang aja tuh. Cuma sekali naik angkot jurusan Ciburial. Ketemu Bunda Intan kayak ketemu sungai yang tenang. Kayaknya hidupnya si Bunda enjoy dan nikmat, gitu. Semua dibawa ketawa. Beda banget sama hidupku ya Bun, kayaknya semua dibawa ruwet…hihihi…. Sekitar sejam Bunda cerita-cerita pengalamannya haji (Bunda kan baru pulang haji) sambil ngeliati foto-fotonya. Hwaaa.. kapan ya, sy dapat kehormatan mengunjungi Rumah-Nya itu? 😦

Sayang, lupa euy, motret kopdaran sama Bunda Intan. Saking seru ngobrol kali ya. Ini foto comot aja dr FB Bunda yah.. (ini kopdaran sekitar setahun yll).

Pulang dari Babussalam, bawa oleh-oleh madu asli produk Babussalam yang enak banget, hasil barter dengan buku Princess Nadeera..hehe… Makasih ya Bunda…

Nah, kisah terakhir, ‘kopdar hati’ dengan mba Evia. Kopdar hati, karena emang ga ketemu fisik. Tapi ketemu barang, heuheuheu. Ceritanya, waktu saya dulu masih di Tehran, mba Evia minta dikirimi peta Iran, mau bikin batik, katanya (maksud: bikin batik tulis dengan gambar peta Iran, unik juga ya cita-citanya mba Evia, hihihi). Ya udah, saya kirimin. Nah, mba Evia tuh janji mau kirimin saya hadiah selendang rajutan (atau apa gitu ya, lupa detilnya). Lama, tak ada kabar. Saya mikirnya, kali aja pengiriman barang dari USA ke Iran ada halangan. Meski pernah loh, waktu saya di Tehran, tuker-tukeran hadiah sama teh Ria Williams di Amrik (dan nyampe setelah makan waktu berminggu-minggu).

Nah, setelah lama berlalu, saya juga udah balik lagi ke Bandung, barulah terobrolkan soal hadiah itu. Akhirnya mba Evia ngirimin saya hadiah berupa batik tulis warna pink.. Aih, cantiknyaaaa… sukaaa.. banget! Atas saran mba Evia, batiknya ga dijahit/dipotong, karena sayang kalau ada yang kebuang. Jadi, dibikin rok aja, dililit dan pakenya bisa dikombinasikan dengan apa saja, tidak harus kebaya.

Batik cantik dari mba Evia

Thank you banget ya mba Evia… Semoga someday kita bisa kopdar beneran ya… amiin.. Kalau anakku sudah besar dan bisa ditinggal, kita backpackeran keliling Indonesia yuk, terutama Indonesia bagian timur 🙂 *cita-cita jangka panjang*

Nah, sekian dulu kabar-kabari. Intinya.. meski seringnya nongol di FB, Multiply tetap cinta pertamaku kok.. soalnya di sinilah saya menemukan banyak sodara; pun banyak perubahan dalam hidup saya yang terjadi bersama Multiply 🙂

Catatan Ahad Pagi#53: Being a Mother

I know..I know.. sekarang masih Sabtu. Masalahnya, sudah dua ahad ga nulis. Ahad besok juga ga bisa buka MP lagi. Jadi ya sudahlah, dibuat dan diposting hari ini aja 🙂

Ini catatan dari sharing-club Komunitas Cinta Keluarga yang diasuh Bunda Rani Razak Noe’man. Pertemuan sepanjang tiga jam itu sungguh bernas, tapi ada hal yang membuat saya terharu.
Begini.. ibu-ibu yang hadir itu (termasuk saya) kan sudah pernah ikut pelatihan parenting. Bahkan saya udah tiga kali ikut pelatihan yang sama (pertama ikut karena memang lagi cari ilmu parenting, kedua ikut lagi dalam rangka menulis buku bareng bu Rani-yang sampai skrg belum terbit juga,hiks-, ketiga ikutan nemenin suami –yang merasa perlu ikut pelatihan juga).

Tapi, apa hasilnya? Hwaaa.. jangan ditanya.. Saya masih saja sering jatuh ke lubang yang sama: menggunakan gaya komunikasi yang salah ke anak-anak. Kalau lagi nyadar sih, hafal ya, berbagai teorinya, tapi seringkali, suasana emosi tidak mendukung, kecapean, dll..akhirnya..keluar deh: omelan, labeling, kritikan, dll..

Nah, apa kata Bunda Rani?

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan para ibu ini, wajar saja, karena kita kan baru belajar parenting pada usia ‘tua’. Memang sulit menghapuskan kebiasaan-kebiasaan lama.

Tapi, tetaplah berdiri ketika sudah terjatuh. Karena, tujuan kita adalah memutus ‘mata rantai kesalahan’ itu. Tetaplah berusaha menggunakan gaya komunikasi yang benar; biasakan gunakan teknik ‘mendengar aktif’ dan ‘pesan diri’.[baca tulisan saya sebelumnya: 12 gaya komunikasi yang harus dihindari]. Meskipun kita masih sering lupa dan kelepasan berperilaku salah, tapi setiap kali ingat, ya langsung ubah lagi gaya komunikasi kita. Insya Allah, anak akan belajar dari kita. Yang jadi target kita sesungguhnya bukan menjadikan kita ini sempurna sebagai ibu (amin, kalau bisa demikian tentu sangat luar biasa), tapi menjadikan anak-anak kita kelak menjadi orangtua yang hebat, yang tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh orang tuanya.

Bunda Rani lalu cerita soal seorang ibu yang juga pakar parenting. Dia mempraktekkan gaya komunikasi yang benar ke anaknya. Tapi, seperti biasa, sesekali, si ibu ini kelepasan, main kritik dan lebih fokus pada apa yang ‘tidak’ dilakukan anaknya. Apa yang terjadi? Si anak, laki-laki, sudah mahasiswa, malah mengajak ibunya diskusi dengan gaya komunikasi yang canggih, tenang dan mengena, persis seperti yang selama ini diajarkan kepada ibunya. Si anak, yang sejak kecil diajari berkomunikasi dengan cara yang baik, lebih mampu menyerap pelajaran itu secara integral dala dirinya. Sementara si ibu, karena belajarnya juga pada usia tua, lupa lagi..lupa lagi..

Terakhir, saya baru diingatkan lagi sama hadis Rasulullah yang ini (dari status mom Orin di FB):
“Sesungguhnya Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya berbakti kepadanya,” kata Rasulullah. Orang-orang di sekeliling beliau bertanya, “Bagaimana cara orang tua membantu anaknya, ya Rasulullah?”

Nabi saw. menjawab, “Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, tidak membebaninya, tidak pula memakinya.”

Hwaaa.. merasa tertampar deh gw.. jadi inget akhir-akhir ini sering mengomeli Kirana karena dia lupa melulu pada tugas-tugasnya.. 😦

Anyway.. being a mother is a lifelong journey… tapi kalau kita tahu target kita, insya Allah perjalanan itu menjadi lebih fokus. Apa targetnya? Ya itu tadi, bukan berusaha jadi sempurna (karena mungkin malah bikin frustasi), tapi berusaha menjadikan anak-anak kita kelak menjadi ibu-ayah yang lebih baik dari kita. Amiiin..