Catatan Ahad Pagi#57: Suami


Buat dirimu yang sudah dianugerahi suami yang selalu berusaha meneladani akhlak Rasulullah dalam memperlakukan istrinya.. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”…

copas dari tulisan Kang Jalal

BIDADARI ITU PEREMPUAN SHOLIHAH

BY: Jalaluddin Rakhmat

“Benarkah hadis yang mengatakan bahwa kebanyakan penghuni neraka itu perempuan?” tanya seorang murid kepada Imam Ja’far. Fakih besar abad kedua hijrah itu tersenyum. “Tidakkah anda membaca ayat Al-Qur’an – Sesungguhnya Kami menciptakan mereka sebenar-benarnya; Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta dan berusia sebaya (QS 56:36-37). Ayat ini berkenaan dengan para bidadari, yang Allah ciptakan dari perempuan yang saleh. Di surga lebih banyak bidadari daripada laki-laki mukmin.” Secara tidak langsung, Imam Ja’far menunjukkan bahwa hadis itu tidak benar, bahwa kebanyakan penghuni surga justru perempuan.

Hadis yang ‘mendiskreditkan’ perempuan ternyata sudah masyhur sejak abad kedua hijrah. Tetapi sejak itu juga sudah ada ahli agama yang menolaknya. Dari Imam Ja’far inilah berkembang mazhab Ja’fari, yang menetapkan bahwa akikah harus sama baik buat laki-laki maupun perempuan. Pada mazhab-mazhab yang lain, untuk anak laki-laki disembelih dua ekor domba, untuk anak perempuan seekor saja. Mengingat sejarahnya, mazhab Ja’fari lebih tua, karena itu lebih dekat dengan masa Nabi daripada mazhab lainnya. Boleh jadi, hadis-hadis yang memojokkan perempuan itu baru muncul kemudian: sebagai produk budaya yang sangat maskulin?

Karena banyak ayat turun membela perempuan, pada zaman Nabi para sahabat memperlakukan istri mereka dengan sangat sopan. Mereka takut, kata Abdullah, wahyu turun mengecam mereka. Barulah setelah Nabi meninggal, mereka mulai bebas berbicara dengan istri mereka (Bukhari). Umar, ayah Abdullah, menceritakan bagaimana perempuan sangat bebas berbicara kepada suaminya pada zaman Nabi.

Ketika Umar membentak karena istrinya membantahnya dengan perkataan yang keras istrinya berkata: Kenapa kamu terkejut karena aku membantahmu? Istri-istri Nabi pun sering membantah Nabi dan sebagian malah membiarkan Nabi marah sejak siang sampai malam. Ucapan itu mengejutkan Umar: Celakalah orang yang berbuat seperti itu. Ia segera menemui Hafsah, salah seorang istri Nabi: Betulkah sebagian di antara kalian membuat Nabi marah sampai malam hari? Betul, jawab Hafsah (Bukhari).

Menurut riwayat lain, sejak itu Umar diam setiap kali istrinya memarahinya. Aku membiarkannya, kata Umar, karena istriku memasak, mencuci, mengurus anak-anak, padahal semua itu bukan kewajiban dia. Anehnya, sekarang, di dunia Islam, pekerjaan itu dianggap kewajiban istri. Ketika umat Islam memasuki masyarakat industri, berlipat gandalah pekerjaan mereka. Berlipat juga beban dan derita mereka. Untuk menghibur mereka para mubalig (juga mubalighat) bercerita tentang pahala buat wanita saleh yang mengabdi (atau menderita) untuk suaminya: Sekiranya manusia boleh sujud kepada manusia lain, aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya (hadis 1). Bila seorang perempuan menyakiti suaminya, Allah tidak akan menerima salatnya dan semua kebaikan amalnya sampai dia membuat suaminya senang (hadis 2). Siapa yang sabar menanggung penderitaan karena perbuatan suaminya yang jelek, ia diberi pahala seperti pahala Asiyah binti Mazahim (hadis 3). Setelah hadis-hadis ini, para khatib pun menambahkan cerita-cerita dramatis. Konon, Fathimah mendengar Rasul menyebut seorang perempuan yang pertama kali masuk surga. Ia ingin tahu apa yang membuatnya semulia itu. Ternyata, ia sangat menaati suaminya begitu rupa, sehingga ia sediakan cambuk setiap kali ia berkhidmat kepada suaminya. Ia tawarkan tubuhnya untuk dicambuk kapan saja suaminya mengira service-nya kurang baik.

Cerita ini memang dibuat-buat saja. Tidak jelas asal-usulnya. Tetapi hadis-hadis itu memang termaktub dalam kitab-kitab hadis. Hadis 1: diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud. Tetapi Bukhari (yang lebih tinggi kedudukannya dari Abu Dawud) dan Ahmad meriwayatkan hadis sebagai berikut: Ketika Aisyah ditanya apa yang dilakukan Rasulullah di rumahnya, ia berkata: “Nabi melayani keperluan istrinya menyapu rumah, menjahit baju, memperbaiki sandal, dan memerah susu.” Anehnya, hadis ini jarang disebut oleh para mubalig. Karena bertentangan dengan ‘kepentingan laki-laki’?

Hadis-hadis lainnya ternyata dipotong pada bagian yang merugikan laki-laki. Setelah hadis 2, Nabi berkata,”Begitu pula laki-laki menanggung dosa yang sama seperti itu bila ia menyakiti dan berbuat zalim kepada istrinya.” Dan sebelum hadis 3, Nabi berkata, “Barang siapa yang bersabar (menanggung penderitaan) karena perbuatan istrinya yang buruk, Allah akan Memberikan untuk setiap kesabaran yang dilakukannya pahala seperti yang diberikan kepada Nabi Ayyub.” Tetapi, begitulah, kelengkapan hadis ini jarang keluar dari khotbah Mubalig (yang umumnya laki-laki ).

Maka sepeninggal Nabi, perempuan disuruh berkhidmat kepada laki-laki, sedangkan laki-laki tidak diajari berkhidmat kepada perempuan. Fikih yang semuanya dirumuskan laki-laki menempatkan perempuan pada posisi kedua. Beberapa gerakan Islam yang dipimpin laki-laki menampilkan ajaran Islam yang ‘memanjakan’ laki-laki. Ketika sebagian perempuan muslimat menghujat fikih yang mapan, banyak laki-laki saleh itu berang. Mereka dituduh agen feminisme Barat, budak kaum kuffar. Mereka dianggap merusak sunnah Nabi. Nabi saw berkata, “Samakanlah ketika kamu memberi anak-anakmu. Bila ada kelebihan, berikan kelebihan itu kepada anak perempuan.” Ketika ada sahabat yang mengeluh karena semua anaknya perempuan, Nabi berkata, “Jika ada yang mempunyai anak perempuan saja, kemudian ia memeliharanya dengan sebaik-baiknya, anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka (Muslim).

Pendeknya, dahulukan perempuan, kata Nabi dahulu. Pokoknya utamakan laki-laki, teriak kita sekarang.[]

Advertisements

Catatan Ahad Pagi#56: Love BIG

Ini hasil baca buku di googlebooks:)

Banyak pasangan yang telah menjalani bertahun-tahun masa pernikahan, mengalami rasa jenuh, kurang nyambung lagi, dan berbagai perasaan negatif lainnya, yang mungkin bisa diistilahkan dengan ‘disconnected’. Pernikahan yang sehat tentu saja pernikahan yang selalu ada connection di antara suami-istri.

Yang menarik, dalam buku How to Improve Your Marriage Without Talking About It (by Patricia Love, Steven Stosny), disebutkan bahwa untuk menyembuhkan disconnection itu, sesungguhnya yang dibutuhkan bukanlah ‘komunikasi’. Penulis buku memberikan argumennya, bahwa justru ketika pasangan yang bermasalah ingin menyelesaikan masalahnya dengan kalimat begini, “Ayo kita bicarakan..” nah, malah banyak yang menghindar, atau tetap bicara dan akhirnya bertengkar. Menurut si penulis, pasangan akan disconnected karena tidak mampu berkomunikasi dengan baik; namun mereka tidak mampu berkomunikasi dengan baik justru karena disconnected. Bukankah awalnya, ketika mereka masih connected, mereka mampu berkomunikasi dengan baik? Begitu ungkap si penulis.

Penjelasannya panjang sih ya.. saya juga baca bukunya sekilas aja. Tapi, ada sebuah judul bab yang menarik perhatian saya: If You Want to Love Big, You Have to Think Small

Banyak pasangan yang mungkin berupaya memperbaiki hubungan dengan cara-cara mahal, misalnya makan malam yang romantis di tempat mahal atau liburan berdua saja ke luar kota. Tetapi, ternyata, menurut buku ini, cara-cara itu tidak akan memberikan efek positif jangka panjang terhadap hubungan mereka. Jika tidak diiringi dengan sikap cinta yang ditunjukkan secara rutin, liburan dan makan malam mahal hanya akan memberikan efek negatif, seperti rasa lelah dan kecewa saat harus kembali ke rutinitas, apalagi kalau nanti berhadapan dengan kesulitan keuangan akibat mahalnya biaya berlibur itu.

Kata si penulis, untuk menumbuhkan cinta yang melampaui kata-kata (love beyond words), kita perlu menumbuhkan small moment connection setiap hari.

Kata buku ini, “Anda dapat merasa ‘connected’ kapan saja Anda mau, hanya dengan ‘memilih’ untuk feel connected. [jadi, ini pilihan kita, mau connected, or not?] Anda bisa melakukannya hanya dengan pikiran anda, bahkan ketika partner Anda tidak ada di samping Anda. Anda bahkan bisa melakukannya di saat si dia berperilaku menjengkelkan. Mengapa? Karena, dia tidak akan menjengkelkan bila dia menyadari bahwa Anda memahami perasaannya dan ‘feel connected’ terhadap Anda.”

“Tapi alasan lain yang lebih penting, mengapa Anda harus memilih untuk feel connected, yaitu: Anda pastinya lebih menyukai diri Anda sendiri jika Anda feel connected dengan orang-orang yang Anda cintai, ketika Anda bersikap manis kepada pasangan, dan ketika Anda bersikap jujur kepada pasangan.”

Ada buku-buku yang memberikan saran terapi: ‘penuhi kebutuhan Anda’. Namun saran seperti ini hanya berpusat pada diri sendiri (egoism) dan tidak banyak membantu dalam menumbuhkan cinta, kasih sayang, dan connection.

Kata penulis buku ini, menumbuhkan kembali cinta supaya menjadi kembali BESAR justru adalah dengan langkah-langkah kecil, yaitu…

“Hukum alam dalam interaksi antarmanusia adalah, kamu harus memberikan apa yang kamu harapkan. Jika kamu mengharapkan kasih sayang, kamu juga harus bersikap pengasih. Kalau kamu ingin cinta, kamu juga harus mencintai, kamu ingin kerjasama, kamu juga harus kooperatif, kamu ingin apresiasi, maka kamu juga harus bersikap apresiatif setiap hari.”

So..?

Hmm…

🙂