Catatan Ahad Pagi#56: Love BIG

Ini hasil baca buku di googlebooks:)

Banyak pasangan yang telah menjalani bertahun-tahun masa pernikahan, mengalami rasa jenuh, kurang nyambung lagi, dan berbagai perasaan negatif lainnya, yang mungkin bisa diistilahkan dengan ‘disconnected’. Pernikahan yang sehat tentu saja pernikahan yang selalu ada connection di antara suami-istri.

Yang menarik, dalam buku How to Improve Your Marriage Without Talking About It (by Patricia Love, Steven Stosny), disebutkan bahwa untuk menyembuhkan disconnection itu, sesungguhnya yang dibutuhkan bukanlah ‘komunikasi’. Penulis buku memberikan argumennya, bahwa justru ketika pasangan yang bermasalah ingin menyelesaikan masalahnya dengan kalimat begini, “Ayo kita bicarakan..” nah, malah banyak yang menghindar, atau tetap bicara dan akhirnya bertengkar. Menurut si penulis, pasangan akan disconnected karena tidak mampu berkomunikasi dengan baik; namun mereka tidak mampu berkomunikasi dengan baik justru karena disconnected. Bukankah awalnya, ketika mereka masih connected, mereka mampu berkomunikasi dengan baik? Begitu ungkap si penulis.

Penjelasannya panjang sih ya.. saya juga baca bukunya sekilas aja. Tapi, ada sebuah judul bab yang menarik perhatian saya: If You Want to Love Big, You Have to Think Small

Banyak pasangan yang mungkin berupaya memperbaiki hubungan dengan cara-cara mahal, misalnya makan malam yang romantis di tempat mahal atau liburan berdua saja ke luar kota. Tetapi, ternyata, menurut buku ini, cara-cara itu tidak akan memberikan efek positif jangka panjang terhadap hubungan mereka. Jika tidak diiringi dengan sikap cinta yang ditunjukkan secara rutin, liburan dan makan malam mahal hanya akan memberikan efek negatif, seperti rasa lelah dan kecewa saat harus kembali ke rutinitas, apalagi kalau nanti berhadapan dengan kesulitan keuangan akibat mahalnya biaya berlibur itu.

Kata si penulis, untuk menumbuhkan cinta yang melampaui kata-kata (love beyond words), kita perlu menumbuhkan small moment connection setiap hari.

Kata buku ini, “Anda dapat merasa ‘connected’ kapan saja Anda mau, hanya dengan ‘memilih’ untuk feel connected. [jadi, ini pilihan kita, mau connected, or not?] Anda bisa melakukannya hanya dengan pikiran anda, bahkan ketika partner Anda tidak ada di samping Anda. Anda bahkan bisa melakukannya di saat si dia berperilaku menjengkelkan. Mengapa? Karena, dia tidak akan menjengkelkan bila dia menyadari bahwa Anda memahami perasaannya dan ‘feel connected’ terhadap Anda.”

“Tapi alasan lain yang lebih penting, mengapa Anda harus memilih untuk feel connected, yaitu: Anda pastinya lebih menyukai diri Anda sendiri jika Anda feel connected dengan orang-orang yang Anda cintai, ketika Anda bersikap manis kepada pasangan, dan ketika Anda bersikap jujur kepada pasangan.”

Ada buku-buku yang memberikan saran terapi: ‘penuhi kebutuhan Anda’. Namun saran seperti ini hanya berpusat pada diri sendiri (egoism) dan tidak banyak membantu dalam menumbuhkan cinta, kasih sayang, dan connection.

Kata penulis buku ini, menumbuhkan kembali cinta supaya menjadi kembali BESAR justru adalah dengan langkah-langkah kecil, yaitu…

“Hukum alam dalam interaksi antarmanusia adalah, kamu harus memberikan apa yang kamu harapkan. Jika kamu mengharapkan kasih sayang, kamu juga harus bersikap pengasih. Kalau kamu ingin cinta, kamu juga harus mencintai, kamu ingin kerjasama, kamu juga harus kooperatif, kamu ingin apresiasi, maka kamu juga harus bersikap apresiatif setiap hari.”

So..?

Hmm…

🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s