Catatan Ahad Pagi #58: [Parenting] Mengatasi Anak Sulit Diatur

Ini catatan saat saya mengikuti sharing club di Komunitas Cinta Keluarga (asuhan Bunda Rani Razak Noe’man).

Anak sulit diatur? Kadang, tidak identik dengan ‘nakal’ lho… Anak ‘baik’ pun kadang bikin ortunya sebel karena melakukan hal yang salah berulang-ulang (misalnya, naruh barang sembarangan, lupa sama tugas2nya, dll).

Ada satu hal yang perlu dilatih ortu untuk DIRINYA SENDIRI: kemampuan untuk melihat sisi positif.
Yang sering terjadi, anak melakukan sederet hal baik, tapi yang kelihatan sama mata kita yang salahnya aja. Anak udah belajar rajin di sekolah, attitude-nya baik dengan teman dan guru, bikin PR, di rumah ga berantem sama adik, ga banyak nonton, suka baca buku (silahkan di-list kebaikan anak masing-masing :D). Tapi.. kita justru meledak gara-gara si anak menumpahkan makanan di karpet atau lupa menutup keran air.

Sekarang, balik lagi ke masalah aturan.

Gimana ya, supaya anak bisa teratur, tapi dengan happy. TANPA sogokan (hadiah), hukuman, negosiasi, teriakan?

Karena setiap anak unik, maka tidak ada jawaban yang pas untuk semua anak. Mengasuh anak adalah seni; tidak ada cara yang cespleng, trial & error (tapi, makanya harus ada ilmunya, biar ga error-error banget, hehe…), dan butuh proses yang panjang (jadi: sabar…). Salah satu ilmu standar dalam pengasuhan anak: JANGAN BANYAK KOMENTAR!

Maksudnya gini nih.. kalau mau menyuruh anak beresin kamarnya, ya sampaikan saja dengan efisien, “Nak, tolong bereskan kamarmu ya. Mama harap sepuluh menit lagi sudah rapi.”
Kalau belum juga, ya ulangi lagi aja. Capek hati? Yah… siapa suruh punya anak, jeng? 😀
Masalahnya, untuk bisa bersikap efisien itu ada kendala:
1. Ga sabaran
Menghadapi kesalahan anak, kita sering ga sabar dan ga tahan untuk tidak berkomentar, “Ya ampun, ni anak susah amat sih disuruh rapi! Mama capek tau berkali-kali nyuruh kamu beresin kamar?! Coba kalau kamarmu ga rapi, nanti kamu sendiri yang pusing.. nanti cari barangmu sendiri repot… bla..bla…” Ga ngefek lho bun, ngomel begini. Yang ketangkep sama anak kita cuma rasa marahnya, bukan kontennya.

2. Ga cukup waktu
Ya iyalah… kalau ibunya sibuk dan ada kerjaan, mana sempet berlama-lama bersabar menyuruh anak bolak-balik membereskan mainan, ya kan? Akhirnya diambil jalan pintas, “Awas ya, lima menit lagi mainan ga diberesin, Mama tinggal kamu di rumah, ga diajak ke mall!”

3. Tidak percaya bahwa anak itu bisa mikir kok…
Kenapa kita yang harus berkali-kali bilang, “Kalau kamarmu ga rapi, kamu akan kesulitan mencari barangmu sendiri!” ? Itu artinya kita meremehkan kemampuan mikir anak; dan tidak melatih thinking skill-nya. Biarin (dan kondisikan) anak sendiri yang menemukan konsekuensi atas keberantakan kamarnya. Tapi, juga jangan ngejek yah. Misalnya nih, gara-gara kamarnya berantakan, bukunya hilang entah kemana, padahal besok mau ulangan. Nah, saat si anak nyari-nyari di kolong meja, bunda jangan mengiringinya dengan omelan, “MAKANYA….! Bunda bilang juga apaaaa….?!” Stop ya bun.. tahan mulut… hehehe…

Instead, bunda diam aja. Trus saat ketemu, katakan kalimat positif, “Alhamdulillah bukunya sudah ketemu. Kira-kira lain kali gimana ya caranya biar bukunya ga hilang melulu?”

Kalau bukunya ga ketemu gimana? Ya diem aja… Biarkan anak mikir sendiri. Jangan bunda malah heboh nelponin temennya, lalu fotokopiin buku temennya. Wah.. ini tidak melatih thinking skill anak, juga tidak akan mengubah perilakunya yang berantakan itu.

Lha kalau ulangannya jelek gimana? Ya biarin aja atuh. Lebih penting mana? Membangun kemampuan thinking skill anak, membangun sikap tanggung jawab dan kerapihan; atau sekedar nilai ulangan bagus?

Thinking skill itu ga identik sama kecerdasan lho… Betapa banyak orang cerdas dan berpendidikan yang malah jadi koruptor dan penindas rakyat? Betapa banyak mahasiswa yang demen tawuran? Kalau mereka punya thinking skill, pastilah mereka mampu memutuskan mana yang baik dan benar bagi kehidupannya di dunia dan akhirat. Ya ndak?

Sekarang balik lagi, kenapa anak sulit diatur (=berperilaku buruk)? Misalnya, suka ngamuk, suka memaki, suka menjahili adik, ga mau belajar, males bikin PR.. dll..

Kata Bunda Rani Noeman, ada 4 kemungkinannya:
1. Cari perhatian
Semua anak perlu dan ingin diperhatikan. Tapi ada anak yang pengennya diperhatikan melulu. Si ibu ngobrol sama temennya di telpon, langsung dia teriak-teriak marah, telpon ibunya direbut. Ada tamu datang, dia langsung bikin ulah ini-itu. Nah, kalau ini terjadi, berarti ini perilaku buruk anak, dan harus diatasi. Cara mengatasinya… waduh, panjang euy, acaranya 3 jam, susah dituliskan semua ya. Tapi intinya, ortu dan anak sama-sama perlu ‘diperbaiki’. Lihat dulu, siapa tau emang si ibu yang hobinya sms-an mulu (or, in my case: ngetik melulu, hwaaaa…) makanya anak bête dan bikin ulah. Lalu, anak juga perlu didekati dan diraih kembali hatinya; sampai dia yakin bahwa ibu sayang dan perhatian kok sama dia.

2. Power seeking (anak ingin berkuasa atas ortunya)
Tau kan, ada anak yang diem aja.. akhirnya si ortu yang ngalah? Ada anak yang ngamuk2, dan si ortu yang ngalah. Nah, ini power seeking. Ortu seharusnya tidak boleh kalah (tapi dgn cara yg benar ya, bukannya dictator). Salah satu triknya adalah tidak ‘terjun ke medan pertempuran’. Misalnya, si anak ngotot mau jajan es. Ortu ga setuju. Si anak ngamuk dan guling-guling di lantai. Ortu harus tenang aja. Kalau marah-marah (dan si anak juga akan terus ngamuk), terjadilah ‘pertempuran’. Bisa saja si anak diam karena takut sama kemarahan ortu (apalagi kalau ortunya main pukul); atau si ortu yang kalah dan membelikan es. Jadi gimana? Ya diem ajaaaa… ntar juga capek nangis melulu. Setelah anak diam, baru jelaskan alasan kenapa ga boleh beli es.
Saya tau, tak semudah ini situasinya. Kalau lagi dikejar dedlen, mau buru2 ke kantor atau ke arisan..atau apalah.. (=tidak cukup waktu), mungkin bunda akan ngambil jalan pintas: beliin, atau marahin habis2an. Tentu saja ini bukan cara yg benar.

3. Revenge (balas dendam)
Ada anak-anak yang saking sakit hati sama ortu, dia berbuat buruk: narkoba, rokok, seks bebas, dll. Naudzu billah min dzalik. Cara mengatasinya? Konsultasi aja sama pakar parenting; karena ini sudah kasus yang sangat berat.

4. Display of inadequancy (putus asa, merasa ga bisa apa2 lagi)
Penyebabnya adalah anak2 dikritik melulu, diomelin melulu. Misalnya nih, anak dikatain bodoh. Ya udah dia bisa aja sampai pada titik, “Emang gue bodoh, gitu loh.” Dan tidak mau berusaha lagi: tidak mau belajar, apatis, dll. Cara mengatasinya? Konsultasi aja sama pakar parenting; karena ini sudah kasus yang sangat berat.

Oke, sekian dulu catatannya. Tentu saja, pertemuan 3 jam dengan Bunda Rani gak akan muat ditulis dalam tulisan sesingkat ini. Tapi, mudah-mudahan menginspirasi. Jadi Ibu memang harus belajar terus ya…:)

Advertisements