Catatan Ahad Pagi #61: Berpikir Radikal

Kata radikal sekarang ini sepertinya identik dengan sesuatu yang tidak baik, ekstrimisme, bahkan mungkin identik dengan ‘terorisme’.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ra·di·kal a 1 secara mendasar (sampai kpd hal yg prinsip): perubahan yg –; 2 Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); 3 maju dl berpikir atau bertindak.

Ketika kuliah S2 kemarin, seorang dosen memuji paper saya sebagai paper yang radikal, dalam arti, saya membongkar topik yang saya tulis itu hingga ke akarnya, tidak sekedar menulis di ‘permukaan’. Saat itulah saya ‘ngeh’ pada makna kata radikal yang sebenarnya.

Lalu, akhir-akhir ini, saya dan suami menggunakan kata-kata ‘radikal’ dalam membahas sebuah keputusan yang akan kami ambil untuk pendidikan anak-anak kami. Kami menyimpulkan bahwa kami ini sama-sama radikal, suka berpikir hingga ke akar, dan akhirnya mengambil keputusan yang di mata sebagian orang lain mungkin ekstrim.

Nah, balik lagi ke masalah radikal. Saya baru-baru ini membaca beberapa buku yang radikal, yang mengajak saya berpikir hingga ke akar, sehingga membongkar cara pandang saya tentang ‘belajar’. Salah satunya, The Learning Revolution (Dryden& Vos). Selama ini, sebagaimana kebanyakan dari kita mungkin, mengidentikkan belajar dengan baca buku dan menyerap ilmu-ilmu wajib: matematika, sains, IPS, kimia, fisika, dll. Lalu ada tes-tes, kalau lulus dianggap pintar, kalau nggak lulus dianggap bodoh.

Dalam buku ‘Learning Revolution’ itu, disebutkan bahwa ada 4 hal yang diperlukan dalam belajar:
1. citra diri dan perkembangan pribadi.
Citra diri ternyata lebih penting daripada materi pelajaran.

Ini hasil renungan singkat saya: Dan proses belajar yang benar seharusnya mampu membentuk citra diri positif anak. Sayangnya, di budaya kita, kok kita suka sekali menertawakan anak ya? Kalau anak salah dalam berkata-kata/mengambil kesimpulan, malah ditertawakan. Warna kulit diejek. Labeling sering terjadi (lelet! gini2 aja kok ga paham sih?!). Kalau tidak dilakukan ortu, sikap itu ditunjukkan oleh sekitar, paman, bibi, kakek, nenek, dll.

Sebagai ortu, yang paling utama dilakukan ternyata membentuk citra diri positif anak bahwa dia mampu belajar apapun yang dia inginkan, bahwa dia tidak bodoh, bahwa dia anak istimewa. Seseorang yang mencitrakan dirinya sebagai pelajar yang lemot, ya memang itulah yang akan terjadi, dia akan lemot..:(

2. Pelatihan keterampilan hidup
Ini renungan saya: saya berkali-kali ingin punya pembantu. Tapi, kini saya pikir-pikir lagi, justru dengan tanpa pembantu saya mendidik anak-anak saya untuk mandiri dan memiliki keterampilan hidup. Mereka terlatih untuk membereskan rumah, mencuci piring, mencuci baju, bahkan menyetrika. Lalu, secara perlahan, sesuai dengan tahap perkembangan mereka, ortu bisa memberikan pelatihan-pelatihan skill yang lain. Yang kebayang sama saya saat ini, saya bisa melatih Kirana ketika SMP nanti, untuk menjadi sekretaris saya, misalnya, menjawab dan menyortir email-email, hehe.. Digaji, tentu saja. Kalau Reza, hm, bahkan dia sejak sekarang sudah berkata ingin belajar bahasa Persia supaya bisa membantu papanya menerjemahkan film-film Iran 🙂

3. Belajar tentang cara belajar dan cara berpikir
Cara belajar itu ternyata tidak hanya dengan membaca, tapi dengan banyak cara dan disesuaikan dengan kepribadian kita masing-masing. Ada banyak teknik untuk membaca, sehingga kegiatan membaca menjadi efektif. Nah, itu semua perlu dipelajari oleh kita dan anak-anak.
Lalu, mengajari anak untuk berpikir?
Wah, ini sih parenting banget. Yang sudah pernah ikut pelatihan bunda Rani pasti sudah hafal. Tugas ortu yang paling utama itu justru membentuk anak-anak yang mampu berpikir benar.
Kita sudah menyaksikan negeri ini kacau balau karena orang-orang (pejabat/anggota DPR, dll), tidak mampu berpikir benar. Benar mereka orang-orang dengan gelar akademis yang tinggi. Tapi itu tidak menjamin mereka mampu berpikir benar. Mereka tidak bisa memutuskan mana yang terbaik buat rakyat. Keputusan yang diambil adalah buat kepentingan politik dan bisnis masing-masing, dan tunduk pada kepentingan negara asing yang kaya raya itu.

Dan mereka dulunya adalah anak-anak yang dibesarkan oleh ibunya masing-masing kan?
Jadi terasa kan, bahwa kita para ibu bertanggung jawab besar untuk membentuk Indonesia masa depan?

4. Kemampuan-kemampuan akademik, fisik, dan artistik yang spesifik.

Jadi, kemampuan akademik sebenarnya hanya sebagian kecil dari proses belajar keseluruhan. Namun sayangnya, energi kita dalam mendidik anak justru lebih fokus pada kemampuan akademik itu. Di sekolah pun, sayangnya, fokusnya juga ke nilai dan trik menjawab soal supaya lulus ujian.
Banyak dari kita yang berpikir bahwa itu semua terkait dengan masa depan anak. Tapi, seperti ditulis Thomas Amstrong :
“Tapi, masa depan macam apa? Masa depan dengan lebih banyak belajar keras, lebih banyak perjuangan mendapat nilai tinggi dan ujian. Dunia nyata tidak seperti itu. Di dunia nyata, kita harus bekerja sama dengan orang lain, memecahkan masalah bersama, menjadi bagian dari masyarakat, dan mengembangkan kompetensi profesi yang tidak selalu terkait dengan akademik, tapi sangat mungkin terkait dengan bidang-bidang non akademik seperti musik, seni lukis, mekanik, dll”

Terus-terang, membaca buku-buku Dryden&Vos, Amstrong, Rose&Nicholl, dll, membuat saya mengubah cara pandang saya soal ‘apa yang harus dipelajari anak-anak saya’. Dan saya menyesal, kenapa ga dari dulu baca buku-buku itu ya…hiks.. Tapi better late than never.

Lihat, berpikir radikal ternyata ga serem-serem amat kan? Sama sekali tidak ada kaitannya dengan terorisme kan? 😀

Advertisements

Catatan Ahad Pagi #60: Merenungi Tolstoy

Seorang teman menulis status, mengutip Tolstoy (dan membuat saya penasaran ingin baca bukunya), dan membuat saya tersentak. Begini:

Seperti dikatakan Leo Tolstoy dalam ceritanya, ingatlah, saat yang terpenting dalam hidupmu adalah saat ini; orang yang terpenting adalah orang yang bersamamu saat ini; dan perbuatan terpenting adalah membahagiakan orang (orang) yang tengah bersamamu saat ini…

Menurut saya, kalimat di atas itu parenting banget deh. Soalnya, betapa banyak ortu yang berpikir tentang masa depan anaknya, tapi yang dilakukannya adalah mengabaikan anaknya saat ini.

Ini pulalah yang dua pekan lalu saya obrolkan dalam talkshow parenting di Lita FM. Sejujurnya, saya datang ke Lita dalam keadaan blank, ga tau mau bicara apa, dan berharap Abi Iwan (pemandu talkshow) yang akan melempar isu pertama kali. Eh… malah Abi Iwan yang minta saya ngasih ide duluan. Halah.. apa ya? Nah, kebetulan paginya saya sempet nulis coret-coret (tapi ga diposting… saya sering juga sih begini, kalau ada yang terasa ya ditulis, meski akhirnya disimpan sendiri saja), soal fokus. Saya mengeluhkan diri saya yang susah sekali time in ke anak-anak.

Apa ini time in? Ini istilah yang diperkenalkan dalam pelatihan disiplin bersama Bunda Rani Razak Noeman. Banyak ortu yang niru-niru Nanny 911, ngasih time-out ke anak ketika anak berbuat salah. Lha, kalau time-in ortu-nya kurang, time- out itu tidak banyak efeknya dalam membentuk karakter disiplin anak.

Time in itu, yang saya pahami, adalah ‘fokus’. Jadi, seberapa besar fokus ibu/ayah pada anak? Sayangnya, sebagian dari kita lebih banyak fokus pada hal-hal material di luar diri/jiwa anak. Misalnya nih: saya bekerja mencari uang, itu demi anak. Jadi saya fokus ke anak kan? Saya berusaha keras menyediakan uang demi pakaiannya, makanannya, dan sekolahnya.
Tapi, masalahnya, anak juga butuh ortu yang fokus pada jiwanya.

Dan inilah yang sering terjadi pada saya (hwaaa..). Reza sampai pernah berkata begini ketika saya asyik ngetik, “Mama, aku pengen jadi bayi lagi! Kalau aku bayi, kan aku diurusi terus sama Mama. Sekarang aku sudah besar, aku gak diajak main!”

Kebayang situasinya, bila saya tidak banyak mengajaknya bermain, lalu ketika dia berbuat salah, saya baru menoleh kepadanya dan memberikan time-out (=semacam hukuman, misalnya, disuruh duduk di sudut, ala Nanny 911). Wow.. si anak malah tambah senang berbuat kesalahan yang sama, ya kan? Karena, justru dengan cara itu dia akan mendapatkan perhatian ibunya, yang sebelumnya selalu fokus pada pekerjaannya (=tidak melakukan time in yang cukup dengan anak).

Nah, segitu teh saya kerja di rumah..huhuhu.. kebayang kalau saya kerja di luar rumah. Waduh, entahlah…

Dan inilah yang membuat saya galau: saya di rumah aja, rasanya masih kurang time in.. padahal saya sedang mempersiapkan lanjut kuliah S3 semester depan (insya Allah..). Buat apa sih kuliah lagi? Ya banyak dong alasannya, tapi kalau disimpulkan dalam satu frasa: buat masa depan. Mau saya cari-cari justifikasinya, tetap saja, ‘manfaat’ saya kuliah lagi itu akan dirasakan di masa depan.

Padahal, seperti kata Tolstoy, saat yang terpenting dalam hidupmu adalah saat ini; orang yang terpenting adalah orang yang bersamamu saat ini; dan perbuatan terpenting adalah membahagiakan orang (orang) yang tengah bersamamu saat ini.

Suami saya menawarkan solusi begini: ga papa kuliah lagi, tapi fokusnya tetap di anak; kalau ada pilihan, bikin paper atau ngajak anak main, ya main dulu sama anak. Setelah urusan dengan anak selesai, baru bikin paper, jangan pikirkan nilai; jangan perfectionist. Kalau tanggung jawab kita terhadap anak sudah dilaksanakan, Allah pasti akan membantu kita melakukan hal-hal lainnya.

Dan memang, suami saya yang baik hati itu pernah membuktikan kata-katanya. Dulu, waktu dia kuliah S2, dia emang ‘santai’ banget. Kalau lagi bikin paper, anak nangis (dan saya saat itu tidak bisa menghandle), dia akan berhenti dan main dengan anak. Kalau anak sakit (dan saya sedang tidak di rumah), dia rela ga kuliah. Hasilnya? Dia lulus dengan santai, cumlaude, dan IPK-nya lebih besar dari-pada saya. Dia menjalani kuliah dengan tenang dan ga ngoyo, sampai-sampai Kirana saat mengamati saya kuliah, berkomentar, “Dulu papa kuliah kok ga seheboh Mama ya?”

Hm.. sepertinya saya harus merenung lagi…
Mudah-mudahan saya bisa cepat mengambil keputusan karena waktu sedemikian cepat berlalu. Reza sebentar lagi usia SD, dia pengennya home schooling (“Aku mau sekolah di rumah aja sama mama, tapi syaratnya mama ga boleh kerja!”). Kerja di sini maksudnya: ga boleh ngetik, huhuhuhu…

*kayaknya catatan ini lebih tepat dikasih judul ‘galau’ 😉



Catatan Ahad Pagi #59: Selingkuh Hati

Hooo… ini topik seru. Ini ada curhat dari seseorang yang kena sindrom selingkuh hati. Sebut saja namanya Tania. Bu Tania ini punya suami yang baik hati, gak macem-macem, hidupnya fokus pada kerja dan keluarga. Semuanya baik-baik saja kecuali ada satu masalah: rutinitas. Jadi, hubungan bu Tania dan suaminya tuh biasa banget, terjebak pada rutinitas.

Nah, bu Tania, kenalan sama seorang pria di FB. Si pria ini charming banget, pandai menyanjung dan merayu. Awalnya biasa banget sebenarnya, hanya sekedar komen-komen. Tapi ya, keliatanlah kalau menaruh perhatian lebih. Trus, ya dilanjutlah dengan diskusi di balik layar. Chatting. Lalu sms-an.

Nah, mulailah pertahanan bu Tania runtuh. She falls in love. Yang tadinya biasa-biasa aja, cuma saling diskusi biasa, akhirnya curhat masalah keluarga, dan curhat masalah hati (glek!).

Tapi bu Tania juga sadar, dia salah. So, dia minta si lelaki itu untuk pergi dari hidupnya. Si lelaki awalnya menolak, tapi akhirnya dia memang benar-benar pergi (tidak merayu-rayu bu Tania lagi). Tapi pada saat itu bu Tania juga mendapati bahwa si lelaki juga sedang mencurahkan perhatian ke seorang perempuan lain di FB. Lho… jadi??? Haha.. you name it, Don Juan? Pria Tebar Pesona? Yah, apapun itu, itu urusan si pria lah. Kita ngurusin bu Tania aja. Sebenarnya ini blessing in disguise juga kan, karena si pria sudah pindah ke lain hati, kan berarti bu Tania sudah ga bisa lagi mengharapkan si pria. Jadi rantai cinta (glek!) sudah diputus. Jadi, situasinya ‘cocok’ (mungkin ini pertolongan Allah juga): saat bu Tania mantap memutuskan hubungan (meski masih cinta), eh, pada saat yang sama si pria juga pindah ke lain hati.

Sekarang, gimana nasib bu Tania?

Wow… bu Tania tersiksa sekali. Cinta tak sampai. Patah hati. Cemburu. Rindu. Terbayang-bayang rayuan si pria. Dia berusaha keras menghilangkan semua perasaan itu, tapi masih belum berhasil. Pokoknya, situasinya sangat menyiksa. Dia sama sekali ga ingin kembali berhubungan dengan pria itu (dan kalaupun mau kembali, ya ga bisa juga, kan si pria udah pindah ke lain hati?). Otaknya sadar sepenuhnya, bahwa suaminya jauh lebih sempurna, bahwa keluarganya jauh lebih berharga. Tapi hatinya tak kunjung bisa ditundukkan. Dia merana. Wah, saya pernah baca hadis: siapa yang mencintai seseorang, lalu menyimpan cintanya dan menjaga kesuciannya, lalu dia mati, maka dia mati syahid. Saya ga ngerti soal kesahihan hadis ini. Tapi isinya kelihatan benar. Perjuangan bu Tania dalam menyimpan cinta dan menjaga kesuciannya itu emang luar biasa beratnya. Dia benar-benar merasakan siksaan yang amat berat.

See…? inilah yang disebut ‘menzalimi diri sendiri’. Tidak ada musibah/ujian yang dialami manusia selain karena kesalahannya sendiri. Apa kesalahan bu Tania? Ya itu tadi, membuka hatinya pada pria lain. Sekedar suka sama sosok lain di luar pernikahan, mungkin alami ya… Tapi masalahnya, bu Tania yang awalnya ‘sekedar suka’, malah melangkah lebih jauh, berkomunikasi lebih intens dengan si pria. Padahal, perintah Allah kan sudah jelas: dilarang berdua2an dengan lelaki non muhrim (meskipun di dunia maya, dan tidak bertemu fisik, kan tetap ‘berduaan’, ya kan?). Trus, Allah juga memerintahkan para istri untuk menjaga kesucian mereka saat suaminya ga ada. Bu Tania memang tidak bersentuhan fisik dengan si pria itu, tidak pernah bertemu, tidak pernah chat dengan kamera, ‘hanya’ dialog lewat kata-kata. Tapi dia membuka hatinya, dan bahkan akhirnya menyerahkan hatinya…

Jadi?

Fyuuh.. ya begitulah.. selingkuh hati itu memang ada ternyata, dan sangat berat menyembuhkannya (terutama buat perempuan).

Ini saran buat bu Tania (hasil dari browsing), soal cara penyembuhan hati yang terlanjur terkotori; hati yang terlanjur terpikat pada seseorang di luar pernikahannya.

1. Bedakan antara cinta romantis (romantic love) dan cinta manusia (human love). Kata Robert A. Johnson, ketika seseorang mabuk asmara romantis ala “The English Patient”, dia akan mengabaikan cinta yang indah, namun simple dan tidak menyala-nyala; yaitu human love, alias ‘cinta dalam sepotong roti’.

Apa itu cinta dalam sepotong roti? Yaitu cinta yang kita jalani sehari-hari bersama pasangan sah (suami/istri). Cinta dalam sepotong roti menampilkan kesediaan untuk berbagi kehidupan manusia biasa, untuk menemukan makna di balik kewajiban-kewajiban yang tidak romantis: kerepotan menyediakan roti di pagi hari untuk sarapan, mengepel lantai rumah dan kamar mandi, nyebokin bayi, bangun tengah malam untuk merawat anak yang sedang demam, membuang sampah, nyuci baju, serta mengurusi tagihan listrik, telpon, dan air.

Cinta seperti ini sangat ‘membumi’, tidak menyala-nyala (well, sesekali tentu saja ada saat-saat romantis, tapi mungkin tidak sebergairah cinta romantis ala The English Patient). Tapi inilah cinta yang akan membawa pasangan suami-istri ke langit, menjumpai keridhoan Allah SWT. Jadi, berhentilah mengharapkan cinta yang ‘menyala-nyala’ itu. Dan syukuri saja cinta yang tenang, damai, dan diridhoi Allah swt.

2. Jatuh cinta adalah salah satu bentuk adiksi (kecanduan). Penelitian menunjukkan bahwa kondisi otak seseorang yang sedang dimabuk cinta sama dengan kondisi otak orang yang kecanduan narkoba. Halah? Jadi, wajar saja kalau sulit sekali memutuskan hubungan dengan si dia; sama sulitnya dengan menghentikan kecanduan narkoba atau rokok.

Sebagaimana orang yang kecanduan, bila ingin berhenti, dia harus memutuskan total hubungannya dengan narkoba, bahkan dengan teman-teman yang berpotensi membawanya kembali kepada narkoba, orang yang jatuh cinta secara tidak sah juga harus menghentikan total hubungan dengan si dia; bahkan sementara waktu sebaiknya tidak berkomunikasi dengan teman-teman dekat si dia.

3. Putus cinta pastilah mendatangkan rasa kesepian.. Kata Henri Nouwen, saat kesepian, wajar bila wajah si dia selalu terbayang-bayang dan yang paling diinginkan adalah kehadiran si dia, walaupun sejenak. Menghadapi situasi ini, ada dua hal yang perlu dilakukan:

-Jalani kesepian itu dengan sabar dan hilangkan pikiran ‘seandainya saja si dia ada di sini..’ (kalimat englishnya begini, –sepertinya lebih pas kalau baca versi Englishnya: But it is the absence itself, the emptiness within you, that you have to be willing to experience, not the one who could temporarily take it away.)

Logikanya begini: kalau kamu teruskan hubungan tidak sah itu, sama saja, si dia hanya sesekali bisa memenuhi rasa rindumu karena kalian tidak bersama (kecuali kalau kamu mengambil pilihan utk berpisah dari suamimu dan menikah dengan si dia). Artinya, ini pilihan yang efeknya sama: sama-sama harus menanggung derita rindu. Bedanya, pilihan rindu pertama (yaitu berpisah dari si dia, kembali fokus pada keluarga) adalah pilihan yang ujungnya jelas: kebaikan. Insya Allah, dengan upaya keras, rindu itu akan hilang dan berganti dengan rasa cinta dan komitmen yang lebih besar kepada suami. Sementara, kalau terus bersama si dia, rasa ‘rindu tak terpuaskan’ juga tetap menghantui, tapi ujung yang tak jelas: mau dibawa kemana hubungan kalian?

-Sibukkan diri: bergaul dengan teman-teman yang baik, ikuti pengajian-pengajian, terlibat dalam aksi-aksi sosial (jadi relawan bencana, misalnya), membaca buku-buku yang mendorong optimisme (jangan malah baca novel yang romantis). Dan yang terpenting: fokuskan kembali perhatian kepada suami/istri dan anak-anak. Jalin kembali hubungan emosional dengan pasangan. Awalnya mungkin terasa sulit. Apalagi kalau rasa cinta ke si dia masih menyala-nyala Tapi, ini adalah masalah pilihanmu: mau atau tidak? Kalau kamu memilih untuk menjalin kembali hubungan emosional dengan pasangan, maka insya Allah, hubungan emosional itu akan bisa tumbuh kembali.

Kalimat Englishnya begini nih:
“Emotional connection is a mental state. You choose to feel connected to your husband/wife. You decide
to be loving and compassionate toward him/her. You will feel emotionally bonded and sexually stimulated with your husband/wife because you’ve committed yourself and all your positive energies to him/her — and she/he’ll definitely pick up on the vibes you’re giving off.”


4. Berdoa kepada Allah, mohon ampun, dan mohon dibalikkan hati agar tidak lagi mencintai si dia.

Ya Allah.. ‘sembuh’-kanlah bu Tania… Amiiin…

Juga, mari kita ambil ibrahnya.. untuk para istri, jangan sesekali berakrab-akrab dengan non muhrim di internet, atau di manapun karena setan selalu siap mengintai untuk menyeret kita ke dalam kehancuran…