Catatan Ahad Pagi #59: Selingkuh Hati

Hooo… ini topik seru. Ini ada curhat dari seseorang yang kena sindrom selingkuh hati. Sebut saja namanya Tania. Bu Tania ini punya suami yang baik hati, gak macem-macem, hidupnya fokus pada kerja dan keluarga. Semuanya baik-baik saja kecuali ada satu masalah: rutinitas. Jadi, hubungan bu Tania dan suaminya tuh biasa banget, terjebak pada rutinitas.

Nah, bu Tania, kenalan sama seorang pria di FB. Si pria ini charming banget, pandai menyanjung dan merayu. Awalnya biasa banget sebenarnya, hanya sekedar komen-komen. Tapi ya, keliatanlah kalau menaruh perhatian lebih. Trus, ya dilanjutlah dengan diskusi di balik layar. Chatting. Lalu sms-an.

Nah, mulailah pertahanan bu Tania runtuh. She falls in love. Yang tadinya biasa-biasa aja, cuma saling diskusi biasa, akhirnya curhat masalah keluarga, dan curhat masalah hati (glek!).

Tapi bu Tania juga sadar, dia salah. So, dia minta si lelaki itu untuk pergi dari hidupnya. Si lelaki awalnya menolak, tapi akhirnya dia memang benar-benar pergi (tidak merayu-rayu bu Tania lagi). Tapi pada saat itu bu Tania juga mendapati bahwa si lelaki juga sedang mencurahkan perhatian ke seorang perempuan lain di FB. Lho… jadi??? Haha.. you name it, Don Juan? Pria Tebar Pesona? Yah, apapun itu, itu urusan si pria lah. Kita ngurusin bu Tania aja. Sebenarnya ini blessing in disguise juga kan, karena si pria sudah pindah ke lain hati, kan berarti bu Tania sudah ga bisa lagi mengharapkan si pria. Jadi rantai cinta (glek!) sudah diputus. Jadi, situasinya ‘cocok’ (mungkin ini pertolongan Allah juga): saat bu Tania mantap memutuskan hubungan (meski masih cinta), eh, pada saat yang sama si pria juga pindah ke lain hati.

Sekarang, gimana nasib bu Tania?

Wow… bu Tania tersiksa sekali. Cinta tak sampai. Patah hati. Cemburu. Rindu. Terbayang-bayang rayuan si pria. Dia berusaha keras menghilangkan semua perasaan itu, tapi masih belum berhasil. Pokoknya, situasinya sangat menyiksa. Dia sama sekali ga ingin kembali berhubungan dengan pria itu (dan kalaupun mau kembali, ya ga bisa juga, kan si pria udah pindah ke lain hati?). Otaknya sadar sepenuhnya, bahwa suaminya jauh lebih sempurna, bahwa keluarganya jauh lebih berharga. Tapi hatinya tak kunjung bisa ditundukkan. Dia merana. Wah, saya pernah baca hadis: siapa yang mencintai seseorang, lalu menyimpan cintanya dan menjaga kesuciannya, lalu dia mati, maka dia mati syahid. Saya ga ngerti soal kesahihan hadis ini. Tapi isinya kelihatan benar. Perjuangan bu Tania dalam menyimpan cinta dan menjaga kesuciannya itu emang luar biasa beratnya. Dia benar-benar merasakan siksaan yang amat berat.

See…? inilah yang disebut ‘menzalimi diri sendiri’. Tidak ada musibah/ujian yang dialami manusia selain karena kesalahannya sendiri. Apa kesalahan bu Tania? Ya itu tadi, membuka hatinya pada pria lain. Sekedar suka sama sosok lain di luar pernikahan, mungkin alami ya… Tapi masalahnya, bu Tania yang awalnya ‘sekedar suka’, malah melangkah lebih jauh, berkomunikasi lebih intens dengan si pria. Padahal, perintah Allah kan sudah jelas: dilarang berdua2an dengan lelaki non muhrim (meskipun di dunia maya, dan tidak bertemu fisik, kan tetap ‘berduaan’, ya kan?). Trus, Allah juga memerintahkan para istri untuk menjaga kesucian mereka saat suaminya ga ada. Bu Tania memang tidak bersentuhan fisik dengan si pria itu, tidak pernah bertemu, tidak pernah chat dengan kamera, ‘hanya’ dialog lewat kata-kata. Tapi dia membuka hatinya, dan bahkan akhirnya menyerahkan hatinya…

Jadi?

Fyuuh.. ya begitulah.. selingkuh hati itu memang ada ternyata, dan sangat berat menyembuhkannya (terutama buat perempuan).

Ini saran buat bu Tania (hasil dari browsing), soal cara penyembuhan hati yang terlanjur terkotori; hati yang terlanjur terpikat pada seseorang di luar pernikahannya.

1. Bedakan antara cinta romantis (romantic love) dan cinta manusia (human love). Kata Robert A. Johnson, ketika seseorang mabuk asmara romantis ala “The English Patient”, dia akan mengabaikan cinta yang indah, namun simple dan tidak menyala-nyala; yaitu human love, alias ‘cinta dalam sepotong roti’.

Apa itu cinta dalam sepotong roti? Yaitu cinta yang kita jalani sehari-hari bersama pasangan sah (suami/istri). Cinta dalam sepotong roti menampilkan kesediaan untuk berbagi kehidupan manusia biasa, untuk menemukan makna di balik kewajiban-kewajiban yang tidak romantis: kerepotan menyediakan roti di pagi hari untuk sarapan, mengepel lantai rumah dan kamar mandi, nyebokin bayi, bangun tengah malam untuk merawat anak yang sedang demam, membuang sampah, nyuci baju, serta mengurusi tagihan listrik, telpon, dan air.

Cinta seperti ini sangat ‘membumi’, tidak menyala-nyala (well, sesekali tentu saja ada saat-saat romantis, tapi mungkin tidak sebergairah cinta romantis ala The English Patient). Tapi inilah cinta yang akan membawa pasangan suami-istri ke langit, menjumpai keridhoan Allah SWT. Jadi, berhentilah mengharapkan cinta yang ‘menyala-nyala’ itu. Dan syukuri saja cinta yang tenang, damai, dan diridhoi Allah swt.

2. Jatuh cinta adalah salah satu bentuk adiksi (kecanduan). Penelitian menunjukkan bahwa kondisi otak seseorang yang sedang dimabuk cinta sama dengan kondisi otak orang yang kecanduan narkoba. Halah? Jadi, wajar saja kalau sulit sekali memutuskan hubungan dengan si dia; sama sulitnya dengan menghentikan kecanduan narkoba atau rokok.

Sebagaimana orang yang kecanduan, bila ingin berhenti, dia harus memutuskan total hubungannya dengan narkoba, bahkan dengan teman-teman yang berpotensi membawanya kembali kepada narkoba, orang yang jatuh cinta secara tidak sah juga harus menghentikan total hubungan dengan si dia; bahkan sementara waktu sebaiknya tidak berkomunikasi dengan teman-teman dekat si dia.

3. Putus cinta pastilah mendatangkan rasa kesepian.. Kata Henri Nouwen, saat kesepian, wajar bila wajah si dia selalu terbayang-bayang dan yang paling diinginkan adalah kehadiran si dia, walaupun sejenak. Menghadapi situasi ini, ada dua hal yang perlu dilakukan:

-Jalani kesepian itu dengan sabar dan hilangkan pikiran ‘seandainya saja si dia ada di sini..’ (kalimat englishnya begini, –sepertinya lebih pas kalau baca versi Englishnya: But it is the absence itself, the emptiness within you, that you have to be willing to experience, not the one who could temporarily take it away.)

Logikanya begini: kalau kamu teruskan hubungan tidak sah itu, sama saja, si dia hanya sesekali bisa memenuhi rasa rindumu karena kalian tidak bersama (kecuali kalau kamu mengambil pilihan utk berpisah dari suamimu dan menikah dengan si dia). Artinya, ini pilihan yang efeknya sama: sama-sama harus menanggung derita rindu. Bedanya, pilihan rindu pertama (yaitu berpisah dari si dia, kembali fokus pada keluarga) adalah pilihan yang ujungnya jelas: kebaikan. Insya Allah, dengan upaya keras, rindu itu akan hilang dan berganti dengan rasa cinta dan komitmen yang lebih besar kepada suami. Sementara, kalau terus bersama si dia, rasa ‘rindu tak terpuaskan’ juga tetap menghantui, tapi ujung yang tak jelas: mau dibawa kemana hubungan kalian?

-Sibukkan diri: bergaul dengan teman-teman yang baik, ikuti pengajian-pengajian, terlibat dalam aksi-aksi sosial (jadi relawan bencana, misalnya), membaca buku-buku yang mendorong optimisme (jangan malah baca novel yang romantis). Dan yang terpenting: fokuskan kembali perhatian kepada suami/istri dan anak-anak. Jalin kembali hubungan emosional dengan pasangan. Awalnya mungkin terasa sulit. Apalagi kalau rasa cinta ke si dia masih menyala-nyala Tapi, ini adalah masalah pilihanmu: mau atau tidak? Kalau kamu memilih untuk menjalin kembali hubungan emosional dengan pasangan, maka insya Allah, hubungan emosional itu akan bisa tumbuh kembali.

Kalimat Englishnya begini nih:
“Emotional connection is a mental state. You choose to feel connected to your husband/wife. You decide
to be loving and compassionate toward him/her. You will feel emotionally bonded and sexually stimulated with your husband/wife because you’ve committed yourself and all your positive energies to him/her — and she/he’ll definitely pick up on the vibes you’re giving off.”


4. Berdoa kepada Allah, mohon ampun, dan mohon dibalikkan hati agar tidak lagi mencintai si dia.

Ya Allah.. ‘sembuh’-kanlah bu Tania… Amiiin…

Juga, mari kita ambil ibrahnya.. untuk para istri, jangan sesekali berakrab-akrab dengan non muhrim di internet, atau di manapun karena setan selalu siap mengintai untuk menyeret kita ke dalam kehancuran…

Advertisements

One thought on “Catatan Ahad Pagi #59: Selingkuh Hati

  1. Pingback: [Parenting] Andy Garcia & Little Brother Complex | Dina Y. Sulaeman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s