Catatan Ahad Pagi #62: Obat Galau

Rasanya waktu cepat sekali berlalu. Ternyata sudah empat pekan saya tidak menulis catatan ahad pagi. Entah mengapa akhir-akhir ini, sulit sekali menulis. Entah itu catatan ahad pagi di MP atau kajian politik timteng di blog WP. Ada banyak yang terjadi selama sebulan terakhir. Ada begitu banyak beban yang menghimpit otak dan hati, sehingga terasa sulit ‘mengeluarkan’ tulisan.

Pagi ini saya ingin mencatat oleh-oleh cerita dari suami saya. Si Akang tuh akhirnya ikutan pelatihan EFT (Emotional Freedom Technique) bersama ibu Yuli Suliswidiwati, Psi. Saya pernah cerita soal pelatihan ini di sini. Tapi berbeda dengan saya, suami saya tuh ikut EFT bukan karena problem psikologis, tapi karena ada sakit fisik yang dideritanya (doain segera sembuh ya..). Tapi, oleh-oleh cerita yang dibawanya pulang malah justru ‘mengobati’ saya.

Begini ceritanya, dalam pelatihan EFT, bu Yuli memang bisa mengajak diskusi peserta pelatihan tentang berbagai hal. Lalu, ada seorang peserta, katakanlah Pak A, mengatakan, “Saya punya anak dua aja repot sekali, banyak sekali kesalahan yang saya lakukan selama ini. Apalagi kalau anak saya delapan ya?” (pak A mengomentari peserta lainnya yang anaknya 8).

Ternyata, jawaban bu Yuli, “Jangan salah. Justru saya belum pernah punya klien yang anaknya banyak. Keluarga-keluarga yang bermasalah dan datang berkonsultasi kepada saya justru kebayakan anaknya sedikit, satu atau dua. ..”

Penjelasan bu Yuli selanjutnya, kurang lebih begini (ini yang saya tangkap ya). Orang tua yang sengaja membatasi jumlah anak (satu atau dua saja), umumnya memiliki pertimbangan-pertimbangan duniawiah, baik itu materi (gimana menghidupi mereka?), atau psikologis (ngurus anak dua aja repotnya setengah mati, gimana kalau lebih?) Padahal, dalam pengasuhan anak diperlukan ketawakalan yang tinggi kepada Allah dan kesadaran bahwa Allah-lah yang menghidupkan, menjaga, dan mematikan anak-anak kita. Kurangnya ketawakalan ini, berimbas pada model pengasuhan anak. Ortu yang kurang tawakal cenderung akan berusaha memaksakan ambisi-ambisi mereka kepada anak-anaknya. Mereka memberikan berbagai fasilitas terbaik untuk anak, supaya anak pinter, masuk ke universitas terbaik, karir sukses,dst. Mereka memiliki banyak tuntutan terhadap anak-anak (habis, anaknya cuma 2, kalau ‘gagal’ apa kata dunia??). Ketika anaknya ‘melenceng’ sedikit dari yang ‘seharusnya’ (yang dipersepsi ortu tentang ‘anak yang baik’), ortu menghadapinya dengan ‘tegang’ dan mungkin mengambil langkah yang justru memperburuk masalah, misalnya, marah, memberikan paksaan-paksaan, dll. Bayangkan, dua pihak pasti akan stress, ortu stress melihat perilaku anak; anak juga stress mendapat tekanan ortu.

Dalam batas-batas tertentu, saya merasakan apa yang dikatakan bu Yuli ini ada benarnya. Saya pernah mengalami situasi seperti itu. Untunglah saya dapat ‘hidayah’ untuk ikut pelatihan parenting. Jadi, yah, akhir-akhir ini sudah bisa santai menghadapi banyak perbedaan antara keinginan dan kenyataan (misalnya: pengennya anak tuh rajin dan mandiri, eee..kenyataannya tiap hari harus diingatkan dulu. Nah, kalau belum punya ilmu parenting kan bakal marah-marah melulu tuh..). Tapi, saya merasa masih jauh dari sempurna, banyak sekali yang harus ‘dibereskan’ dalam diri saya. I’m not finished with myself yet. Itulah alasannya saya tidak berani punya anak lagi. Lho? Maafin ya Kang, hiks..

Lalu, Pak A kembali curhat. Kali ini tentang anaknya yang sudah menikah dan sudah punya anak (=cucunya pak A). Setelah diskusi soal konsep-konsep parenting bersama bu Yuli, kata pak A, “Waduh, kalau gitu cucu saya biar saya aja yang ngasuh ya? Kalau dikasih ke pembantu kan beresiko.” (anaknya pak A, perempuan, dan berkarir di luar rumah).

Bu Yuli tidak menjawab dan mempersilahkan peserta lain memberikan saran. Ternyata, ada salah satu peserta yang lulusan S2 dan memilih jadi ibu RT sementara waktu. Si ibu inilah yang memberikan jawaban (dan sekaligus, jawaban ini malah jadi obat buat saya yang ‘galau’ akhir-akhir ini..ckckck.. galau kok ya ga habis-habis tho bu…). Jawaban ibu itu begini (yang saya tangkap lho ya): manfaat menuntut ilmu adalah untuk mengasah intelektualitas. Ketika seorang perempuan sudah memiliki ilmu yang tinggi, memang akan ada pilihan: bekerja di luar mengabdikan ilmunya, atau, menggunakan intelektualitasnya untuk mengasuh anak. Maksudnya gini, jika perempuan yang sudah sekolah tinggi, memilih untuk mengasuh anak, apakah sekolahnya itu sia-sia? Tidak, karena, dengan bersekolah tinggi, dia mendapatkan pengasahan intelektualitas. Intelektualitas yang tinggi inilah yang sangat bermanfaat saat dia mengasuh anak. Kualitas anak yang diasuh oleh ibu yang intelek tentulah berbeda dengan baby sitter atau pembantu yang hanya lulusan SD/SMP. Jadi, sama sekali tidak ‘sia-sia’ kuliah tinggi-tinggi. Selain itu, toh waktu masih panjang (selama masih ada umur). Kelak, ketika anak sudah semakin besar dan mandiri, ibu yang intelek ini masih bisa mengejar karirnya sendiri (meski tentu tetap harus disesuaikan dengan sikon keluarga). Artinya, dunia tidak kiamat ketika si ibu itu memilih menunda impiannya berkarir demi anak-anak.

Wew.. sungguh ini gue banget.. Saya tuh ya, entah kenapa gak henti-hentinya galau soal karir. Sudah berkali-kali dapat jawabannya, tapi tetep aja, ada saat-saat tertentu kegalauan itu muncul lagi. Biasanya, munculnya ketika ada tuntutan dari luar (misal, tanggapan orang-orang dekat yang sepertinya lebih bangga bila saya berkarir daripada ‘sekedar’ ibu RT).

Alhamdulillah, kali ini saya menemukan satu lagi obat galau. Mudah-mudahan ini galau terakhir terkait masalah ini ya. Kasian si akang kalau saya galau melulu, hehe… Si Akang menutup ceritanya dengan menunjuk anak-anak kami (Kirana saat itu sedang sibuk bikin lap book tentang atom, Reza sedang sibuk membuat prakarya), “Lihat anak-anak kita… Jangan anggap rendah diri Mama. Mereka seperti itu kan karena punya Mama yang begini…” (bukan bermaksud riya lho, hiks, cuma sedang mencatat sesuatu yang menyemangati diri sendiri)

Ya sudah, sekian dulu catatannya. Ini air mata sudah mulai meler lagi…

Advertisements

2 thoughts on “Catatan Ahad Pagi #62: Obat Galau

  1. Terima kasih bunda, ceritanya menginspirasi. Kalau baca tulisan bunda rasanya pengen cepat-cepat nikah. Semoga jodoh saya dimudahkan, amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s