Catatan Ahad Pagi #63: Gaga

Di kamus online, Gaga ternyata bermakna ‘konyol, gila, pikun, loyo’. Seorang teman menemukan (entah di kamus mana, sy belum cek) bahwa Gaga bermakna ’empty headed’ alias bego.

Si ‘nona gila’ ini beberapa waktu terakhir menimbulkan perdebatan. Mulai dari pengamat politik sampai ulama ikut bicara. Saya juga mau bicara (hak saya toh?) dari sisi seorang ibu.

Begini, ada yang bilang, mendidik anak itu harus dengan mendidik satu kampung. Kita tidak mungkin mensterilkan anak dari lingkungannya, ya kan? Kita di rumah bisa mencegah anak nonton TV atau mendengarkan lagu-lagu bertema pornografi dan homoseksualitas (seperti lagunya ‘si nona gila’ itu). Tapi, ketika atmosfir di luar sana penuh dengan pornografi dan homoseksualitas, tugas para ibu menjadi jauh lebih berat, karena bahaya yang dihadapi anak-anak mereka juga jauh lebih mengerikan. Kalaupun anak-anak kita nggak rusak, nauzubillah min dzalik, tetap ada resiko dirusak oleh anak-anak lain yang rusak.

Apalagi, naudzubillah… yang namanya homoseksualitas itu ternyata ‘menular’. Berikut ini kutipan dari tulisan panjang saya di blog Kajian Timur Tengah:

Argumen yang disampaikan untuk membela homoseksualitas (yang akhir-akhir ini sedang dipropagandakan, melalui roadshow bukunya Irshad Manji, konser Lady Gaga, serta wacana RUU Kesetaraan Gender), antara lain:

  1. Setiap orang berhak untuk memiliki orientasi seksual masing-masing; karena itu tidak boleh ada penindasan terhadap orang dengan orientasi seksual yang berbeda!
  2. Kalaulah seseorang itu homoseksual, kenapa yang lain harus marah? Kalau sebagian memang menganggap itu haram menurut agama, ya nyatakan saja haram, biarkan Tuhan yang menghukumnya!

Dua kalimat di atas saya copas dari email seseorang bergelar doktor (!) di sebuah milis, tapi argumen serupa banyak diungkapkan oleh orang-orang di internet.

Jawaban saya, mari pakai logika saja: jika benar seorang berhak menjadi homoseks, oke, tapi dia tidak berhak menularkannya kepada orang lain! Homoseksualitas itu bukan genetic (atau ‘ciptaan’ Tuhan), melainkan ‘ditularkan’ oleh lingkungan. Penelitian yang dilakukan oleh Paul Cameron Ph.D (Family Research Institute) menemukan bahwa di antara penyebab munculnya dorongan untuk berperilaku homo, adalah pernah disodomi waktu kecil (dan parahnya, perilaku mensodomi anak kecil dan perkosaan terhadap anak kecil menjadi salah satu ‘budaya’ kaum homo), dan pengaruh lingkungan, yaitu sbb:

  1. Sub-kultur homoseksual yang tampak/terlihat dan diterima secara sosial, yang mengundang keingintahuan dan menumbuhkan rasa ingin mengeksplorasi (=ingin mencoba)
  2. Pendidikan yang pro-homoseksual (bayangkan bila di sekolah-sekolah kita –seandainya para pendukung homoseks berhasil menggolkan agenda politik mereka—ada kurikulum tentang kesetaraan seksual, setiap orang berhak jadi apa saja, heteroseksual atau homoseksual; kurikulum seperti ini sudah diterapkan di AS karena menteri pendidikan era Obama ini adalah tokoh pro-homoseksual).
  3. Toleransi sosial dan hukum terhadap perilaku homoseksual
  4. Adanya figur yang secara terbuka berperilaku homoseksual
  5. Penggambaran bahwa homoseksualitas adalah perilaku yang normal dan bisa diterima.

Para figur homoseksual kini tengah mempropagandakan perilakunya itu. Mereka bahkan membawa-bawa agama dan Tuhan. Manji dalam bukunya Allah, Liberty, and Love menyebut bahwa penentangan terhadap homoseksualitas adalah penentangan yang dilakukan oleh budaya. Budaya-lah yang menolak homoseksualitas, bukan Tuhan. Lady Gaga dalam lagunya Born This Way juga menyebut God makes no mistake. Homoseksualitas mereka propagandakan sebagai sesuatu yang ‘given’, sudah diciptakan Tuhan; jadi jangan ragu dan takut bila kalian memilih jadi homoseks.

Mereka ini, katakanlah bila benar berhak untuk jadi homoseks, tetap saja punya kesalahan, yaitu kesalahan sosial. Mereka tidak berhak menyeret orang lain untuk ikut-ikutan perilaku buruk itu. Dan kita, para orang tua yang ingin melindungi anak-anaknya, jelas berhak untuk mencegah agar perilaku buruk itu tidak menyebar dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Untuk itu, saya sepakat sekali dengan jawaban Sultan HB X menanggapi pelarangan diskusi bukunya Manji di UGM, “Kebebasan akademis boleh saja tapi apa artinya bila membahas sesuatu yang meresahkan masyarakat.” Benar sekali. Saya, seorang ibu dengan dua anak, resah bila propaganda homoseksualitas semakin merajalela atas nama kebebasan akademis, kebebasan bicara, atau kebebasan berekspresi. Saya merasa perlu mencegah agar anak-anak saya tidak tumbuh dalam budaya yang pro-homo. Karena itu, saya mendukung pelarangan propaganda homoseksualitas dalam bentuk apapun, termasuk konser Lady Gaga!

NB: Penelitian Cameron juga menunjukkan bahwa kecenderungan homoseksualitas bisa disembuhkan, antara lain, melalui pendekatan diri kepada Tuhan. Selain itu, dari sisi kesehatan, perilaku homoseksual juga berdampak sangat buruk bagi pelakunya. Lengkapnya bisa dibaca di sini: http://www.biblebelievers.com/Cameron3.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s