Catatan Ahad Pagi#68: Shopping Time

Ini cerita masih sesi curhat menjelang berangkat ke Iran lagi.

Tiket memang ditanggung panitia, tapi musti ditalangin sendiri dulu. Ntar di Tehran diganti. Duh, di saat bersamaan, kebetulan banyak sekali pengeluaran lain dalam jumlah besar yang harus dipenuhi. Jadilah si Akang kelabakan. Alhamdulillah di saat-saat genting, ada yang mengulurkan bantuan.

Tapi, ehm, tetep aja ada yang wajib dilakukan ibu-ibu kalau mau bepergian.. yaitu..apalagi.. ya shopping! *merasa bersalah*

Karena paper ga selesai-selesai, saya murung dan uring-uringan. Akhirnya si Akang ngambil inisiatif, “Sudah Mah, gak usah mikirin paper dulu. Sana pergi shopping dulu aja..!”

Hehehe… dicari kemana lagi yak, suami model begini

Cuma, karena hari itu si Akang pergi mencari nafkah, jadilah saya *terpaksa* shopping sama Kirana dan Reza. Dan..seperti sudah bisa diduga, shopping bersama dua anak itu emang bikin heboh dan pusing.

Baru mau berangkat aja udah heboh karena si putri musti dandan dulu *ngalah2in emaknya deh*. Udah panik bakal ketinggalan kereta, untungnya tetap keburu.

Baru duduk di kereta, dua-duanya sudah mengeluh lapar *padahal udah sarapan*

Sampai di stasiun Bandung, langsung minta ke Hokben. Ini pertama kalinya kami ke Hokben *kuper*. Dan setelah sekian tahun akhirnya saya menikmati juga makanan Jepang dan bernostalgia. Kali ini saya makan dengan nyaman karena ada stempel halal MUI. Dulu, tahun 1996 di Jepang, saya makan makanan Jepang dengan was-was soal kehalalan, tapi karena lapar ya diembat aja

Trus, lanjut ke BEC, beli kamera (kamera yang lama udah pecah layarnya, meski masih bisa dipakai). Baru keliling sebentar, dua-duanya mulai gelisah. Setelah ketemu kamera yang cocok dan proses pembelian, Reza mulai berulah, awalnya cemberut, lama-lama nangis keras-keras sampai diliatin orang-orang dan bikin panik pelayan toko kamera. Hiks…

Lalu, lanjut ke Gramedia. Niatnya cuma lewat, biar nembus ke Istana Sepatu. Ehh.. barulah itu dua anak tertawa gembira.. “Hore..beli bukuu!” *padahal sama sekali ga dijanjiin beli buku*

Setelah pilih-pilih buku sebentar, pindah ke Istana Sepatu. Beli sepatu yang mahal bila dibandingkan sepatu 30rb-an yang biasa saya pakai 😀 Beneran, bukannya karena mau ke luar negeri saya gaya-gayaan beli sepatu. Cuma, mengingat di Iran akan banyak jalan, tentu perlu sepatu yang nyaman, sementara sepatu murah saya nyaman kalau dipake naik mobil pribadi aja (kalau dipake jalan kaki jauh-jauh ga nyaman, maksudnyah :D).

Dan… tralaa.. kesempatan deh buat si putri merengek, minta sepatu yang mahal juga, hiks.. Saya jadi ga enak menolak. Jadilah dia beli sepatu bermerek C***S yang bisa berubah warna tea. Haduh.

Trus, baru deh ke Pasar Baru (oiya Reza sudah nggak rewel lagi, sibuk sama buku yang baru dibelinya)

Sampai di pasar baru, makan dulu di lantai 6, biar anak-anak ga rewel. Tapi baru keliling sebentar, mulai lagi kedua anak itu menunjukkan wajah jutek. Ya Tuhan..

Setiap saya bayar barang, mereka langsung fait accompli, “Hore..sekarang kita pulaaang…!”

Hiks.. nak.. Mama itu jarang banget shopping, sekalinya shopping kok diganggu melulu siiih..:(

Akhirnya, saya pasrah. Pulang deh. Lagi pula, duitnya juga sudah banyak keluar. Kalau nggak direm bisa habis lebih banyak lagi.

Di rumah, langsung mengerjakan berbagai urusan domestik.

Malam, si Akang pulang, tanpa nanya-nanya duit habis berapa *alhamdulillah, pengertian banget sih kang..hihihi..* hanya ngomelin anak-anak kok rewel saat menemani mama belanja.

Lalu saya terkapar kelelahan di kamar. Reza mendekat, ngelonin saya dengan cerita ini-itu. Lalu, ketika saya sudah hampir terlelap, dia menyalakan obat nyamuk elektrik, mematikan lampu, dan mencium pipi saya. Saya berkata, “Dustet doram” (=i love you, persian language).
Dia menjawab lirih, “Man ham dustet doram” (=i love you too), lalu menutup pintu kamar.

So sweet.. Kalau biasanya mama-mama yang ngelonin anak sebelum tidur, ini malah kebalikannya: Reza yang sering ngelonin saya karena dia sering tidur lebih lambat dari saya. Dan, akhir-akhir ini dia meniru rutinitas Papanya (yang juga punya kebiasaan tidur lambat): menyalakan obat nyamuk elektrik, mematikan lampu, dan menutup pintu kamar.

Hm..langsung hilang deh kekesalan saya hari itu. Ya sudahlah, tiap anak punya tipe sendiri-sendiri. Kalau kedua anak saya emang nggak suka shopping, ya.. dinikmati saja.. malah bagus, mungkin, jadi hemat uang..

Catatan Ahad Pagi #67: Ke Iran Lagi

Beberapa pekan terakhir saya harap-harap cemas. Saya apply untuk mengikuti Women Islamic Awakening Conference di Teheran pertengahan Juli.

Alhamdulillah, pekan lalu sudah ada pengumuman, saya lolos seleksi. Tapi.. duh, ‘ujian’-nya ga habis-habis nih. Masalah tiket, visa, dll.. banyak sekali yang harus diurus. Padahal di saat yang sama saya juga dikejar-kejar beberapa deadline. Saya sampai nggak berani mengeluh kepada suami, karena saya tau, dia pasti bakal ngomelin saya dengan kalimat, “Pakai prioritas dong Ma! Jangan semua permintaan orang diterima!”

Hiks.. lha kan saya nggak tau kalau urusan ke Iran bisa seheboh ini. Lagi pula, janji-janji itu saya buat sebelumnya, dengan asumsi bahwa perjalanan ke Iran itu gampang saja. Dan oke, sejujurnya, saya memang sering menggampangkan dan merasa bisa melakukan semuanya 😦

Dan ketika semua pekerjaan numpuk jadi satu seperti sekarang, saya malah hang.. dan yang membuat saya bersemangat justru menulis artikel politik internasional.. huhuhu… Well setidaknya ini lagi-lagi bukti buat saya bahwa passion saya memang di topik ini. Bukannya gaya-gayaan. Tapi memang yang jadi penghibur saya saat panik malah buka-buka web macam The Global Review atau The Global Research, lalu nemu ide nulis, dan nulis deh…

Padahal, paper buat konferensi itu belum saya tulis, draft buku panduan untuk pendidikan anak-anak sebuah lembaga (saya udah terlanjur janji sama pengurusnya) juga deadline, trus ada undangan bedah buku terkait gender, dan beberapa janji lainnya.. Dan ndilalahnya, tak ada satu pun yang sejalan dengan passion saya itu…

Jadi? Saya itu sebenarnya mau jadi apa ya..? Kenapa saya tidak bisa fokus di satu urusan saja??

Kalau sudah menghadapi pertanyaan ini, yang saya ingat-ingat adalah kata-kata Mario Teguh di TV. Dia bilang, emangnya kita ini Tuhan, sampai bisa memastikan/menetapkan apa karir yang dipilih? Tugas kita hanya menjalankan apa yang datang kepada kita sebaik-baiknya, dan Tuhan yang akan memilihkan apa karir terbaik buat kita di masa datang.

Juga, saya ingat kata-kata pak Bambang Trim, bahwa bersyukurlah orang yang diberi talenta nulis di semua genre (kurang lebih, begitulah kata-katanya). Meskipun tidak semua genre yang saya kuasai, tapi alhamdulillah saya bisa melakukan ‘tugas’ yang datang, meskipun harus memutar otak karena topik yang ditulis dan diedit seringkali loncat-loncat: mulai dari anak-anak, parenting, keluarga, agama, sampai politik. Jadi..ya nikmati dan syukuri sajalah..

Mohon maaf kalau ini curhat belaka dan tidak penting buat pembaca (meski penting buat saya karena jadi semacam katarsis, hehehe)

Wish me luck ya..:)

Insya Allah nanti kalau jadi ke Iran saya posting cerita-ceritanya di sini. Hm… ga sabar mencicipi kebab dan qeymeh Iran lagi.. meski beberapa waktu yll, si Akang tercinta membuatkan kebab Irani dan qeymeh. Bahan qeymeh dibawa jauh-jauh dari Amrik oleh ….tebak..? Mba Mamiek Syamil…! She is indeed a sweet and lovely friend! Love u mbak…! 🙂

Ini kebab Irani dan nasi Iran (kalau bahasa Farsi-nya: chelo kabab)
buatan si akang. Saya nggak pinter motret jadi penampilannya
ala kadarnya banget,
tapi rasanya, top banget. Love you full, kang..:)

Ini oleh-oleh dari Mba Mamiek,
buku Gilad Atzmon yang saya impikan sejak lama,
lentils dan lemon omani (bahan utk bikin qeymeh)

Catatan Ahad Pagi #66: Nikah Lagi

Akhir-akhir ini, wacana ‘punya anak lagi’ semakin mengental di rumah kami. Reza bahkan sudah rajin berdoa tiap selesai sholat, minta dikasih adik perempuan (bahkan dia sudah menyiapkan namanya).

Saya tentu saja, masih ragu-ragu. Kalau si Akang, dari dulu udah mantap, tapi dia selalu mempersilahkan saya yang mengambil keputusan, karena dia tahu bahwa beban terberat pastilah ada di ibu yang hamil, melahirkan, menyusui, dst.

Intinya, saya masih mikir-mikir.

Tapi, Reza berkali-kali berkata dengan wajah berbinar, “Mama, ayo cepetan menikah lagi!

Ha? Nikah lagi, maksudnya?

“Kok menikah lagi? Sama siapa? Kan Mama sudah menikah sama Papa?”

“Kan katanya Mama mau punya adik lagi. Jadi Mama harus menikah lagi sama Papa, biar perut Mama ada adik lagi!”

Hehehe.. inilah rupanya yang ditangkap oleh Reza dari berbagai penjelasan soal ‘darimana datangnya adik’.

Memang sih, awalnya Reza berkali-kali nanya, dulu Mama dan Papa ketemu di mana? Kok bisa menikah? Lalu setelah menikah punya anak aku dan kakak ya? Dst.

Nah, sekarang saya jadi bingung nih, gimana menjelaskannya?

Kalau untuk anak yang sudah agak besar sih, memang ada tekniknya. Pertama, perlu dideteksi dulu kesiapan mentalnya. Kedua, si anak memang sudah berkali-kali bertanya soal darimana datangnya adik (dan gak bisa dikasih jawaban ‘ngeles’ lagi).

Ini sih saya dapat dari pelatihan parenting lho ya… Kata Bu Rani Noeman nih, mendingan anak tahu soal proses kehamilan itu dari mulut ayah-ibunya, bukan dari teman atau film porno (naudzubillah).

Nah, saat menjelaskan ke anak, raut muka harus netral/normal, jangan gugup atau malu-malu. Awali dengan baca Quran sama-sama (plus terjemahannya), ayat yang terkait pernikahan, lalu terkait pembuahan sel. Lalu, kalau bisa sih ada buku soal reproduksi (buku pelajaran biologi, biasanya ada tuh). Lalu, ya jelaskan dengan tenang bagaimana prosesnya. Setelah itu, baca lagi ayat Quran tentang larangan berzina (dan bahkan mendekati zina pun tidak boleh). Jelaskan juga siapa saja yang boleh memegang tubuhnya (jelaskan siapa saja yang muhrim/non muhrim). Intinya sih, supaya anak waspada, jangan mau dipegang-pegang orang.

Di akhir penjelasan, cek lagi pemahaman anak, “Jelas ya Nak? Jadi, hubungan laki-laki dan perempuan itu kapan boleh dilakukan?”

“Kalau sudah menikah..”

“Lalu, siapa saja yang boleh memegang tubuhmu/melihat auratmu..?”

dst.

Terakhir, berpesanlah pada anak, supaya tidak mendiskusikan masalah ini dengan temannya. “Kalau ada pertanyaan, tanya sama Mama saja. Malu ah, kalau nanya sama teman. Kalau sama Mama, kamu gak perlu malu…”

Btw, jangan panik kalau reaksi anak kaget/shock. Ada anak yang teriak, “Iiiih… jijik! Huh, aku gak akan mau menikah selama-lamanya!” Bersikaplah tenang. Nggak usah bersikap reaktif dan ngasih penjelasan panjang lebar. Dalam urusan ini, sedikit ngomong lebih baik. Tenang aja, toh itu reaksi anak-anak. Ntar kalau mereka sudah dewasa ya pastilah mau menikah 🙂

Nah.. begitulah secara singkat teknik sex education ke anak yang saya pelajari saat ikut pelatihan parenting.

Tapi kalau anaknya masih seusia Reza (6 tahun), dan berkali-kali menyuruh Mamanya menikah lagi sama Papa (dan dalam bayangan dia, Mama dan Papa pakai baju adat lagi, ada makan-makan lagi)?? Walah.,.. mati kutu deh. Saya dan si Akang hanya bisa tertawa-tawa saja setiap kali Reza berkata dengan nada lucu, “Mama, ayo menikah lagi sama Papa!”

Catatan Ahad Pagi #65: Bobotoh

Pagi tadi, ada pengalaman menarik yang saya lalui: mengisi talkshow di Radio Bobotoh Persib. (Bobotoh= fans/suporter). Sejak kemarin, si Akang sudah ngetawain saya, menurutnya, saya tuh nggak ngerti apa-apa soal bola, jadi gimana mau ngomong di radio Bobotoh, yang segmen pendengarnya orang-orang muda fans beratnya Persib?

Tapi gimana ya, saya merasa asyik banget pas menerima tawaran itu. Jadi, ya oke ajalah. Lagipula, meski ga ngerti bola (dan bahkan ga tau nama pemain Persib kecuali Gonzales..padahal Gonzales juga udah pindah ke klub lain, heuheuheu…), tapi saya kan pemilik klub sepakbola anak-anak. Jadi, yah, lumayanlah, ada ‘nyambung’-nya dikit…:)

Di rumah, saya browsing dulu soal kecenderungan para suporter fanatik klub sepakbola. Ternyata ada sisi positifnya juga, misalnya dilihat dari teori hirarki kebutuhan Maslow, kecintaan pada klub adalah pemenuhan kebutuhan manusia akan rasa cinta, rasa memiliki dan dimiliki. Cuma, ketika sudut pandangnya hanya terbatas pada klub dan tidak memiliki rasa cinta yang lebih besar lagi pada bangsa, potensi destruktif yang muncul. Beda klub bisa saling serang, padahal meski beda klub kan sama-sama orang Indonesia, saudara sebangsa. Nah, sisi ini yang akan saya angkat. Rencananya lho…

Eh…ndilalahnya… pas udah tiba di radio dan ketemu teman-teman dari AARC (Asia-Africa Reading Club), baru ketauan, acaranya itu judulnya “Bobotoh Asia Afrika”, jadi kerjasama antara radio Bobotoh Persib dengan Museum Konperensi Asia Afrika (MKAA). Trus, kata Pak Desmond dari MKAA, “Bu, pesen dari pak Isman (Direktur MKAA), tolong dibahas juga masalah spirit Konperensi Asia Afrika”.

Waduh, gubraks deh. Pantesan saya yang diundang jadi narasumber, dan emang di radio, saya diperkenalkan sebagai pengamat Hubungan Internasional :))

Saya jadi bingung: gimana nyambungin antara spirit KAA, kerjasama internasional, dengan fanatisme suporter, memasukkan nilai-nilai persaudaraan (biar kerusuhan antarsuporter bisa diminimalisir), dan semua itu harus dibahas dengan bahasa yang ‘nyambung’ dengan para bobotoh itu. Yang parah lagi, saya juga ga hapal isi Dasasila Bandung. Gimana iniiii???

Untungnya, teh Anggi, penyiar radio Bobotoh, berinisiatif buka internet, dan tralaaa.. dapat deh itu Dasasila Bandung. Ada satu poin (poin ke-9) yang cocok buat dieksplorasi, yaitu soal peningkatan kerjasama.

Walhasil, dengan dibantu teh Anggi yang gaul banget dan bisa menjembatani antara gaya bicara saya (meski saya udah berusaha seringan membahas topik tersebut), dengan gaya bicara gaul ala Bobotoh. Saya sampai ikut tertawa-tawa mendengar komen-komen teh Anggi. Dan suasana pun jadi cair dan seru. Syukurlah.

Salah satu hal yang saya sampaikan di acara tadi, yaitu soal butterfly effect (efek kupu-kupu); asal teori ini adalah penemuan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di Brazil ternyata bisa menimbulkan tornado di Texas. Teori Butterfly Effect kurang-lebih mengatakan bahwa suatu kesalahan kecil di satu tempat, bisa membawa efek/bencana besar dalam skala yang lebih luas. Nah, semua perilaku kita yang seolah-olah hanya pada satu tempat dan satu waktu tertentu itu, sebenarnya punya efek yang sangat besar di masa yang akan datang.

Misalnya, ketika fans Persib membakari mobil berplat B, dan sebaliknya fans Persija razia KTP di jalanan Jakarta dan menggebuki orang dengan KTP Jabar, efek perbuatan itu tidak berhenti pada saat itu aja. Bayangkan jika orang yang digebuki itu jadi cacat, ga bisa kerja, dia tidak bisa menafkahi anaknya. Anaknya tumbuh jadi orang yang tidak berpendidikan dan miskin. Lalu si anak ini berbuat kejahatan, merampok misalnya. Korbannya pun jatuh miskin, dan tidak bisa membiayai keluarganya..dst.. bencana itu merembet kemana-mana..

Diskusi akhirnya ngalor-ngidul ke sana-sini, bahkan sampai ke Lady Gaga dan Suju yang disambung-sambungin dengan spirit Dasasila Bandung (hayo, tebak, nyambungnya di mana? hahaha). Intinya: udah cape-cape menyelenggarakan KAA, udah cape-cape berjuang meraih kemerdekaan…eh..kok mau-maunya menjadi korban penjajahan budaya, gitu deh..

Simpulan akhir diskusi adalah, bobotoh Persib itu kan berangkat dari cinta, cinta pada klub. Nah, energi cinta inilah yang perlu diperbesar; cinta sesama, cinta pada saudara sebangsa. Jadi meski kesel sama suporter lawan, jika ada rasa cinta sesama, nggak mungkinlah tega mengebuki atau berbuat destruktif lainnya.

Dan, saya bersyukur sekali bisa dapat kesempatan menyenangkan ini. Makasih AARC..:)

NB: kegiatan rutin AARC (Asia-Africa Reading Club) adalah baca buku dan diskusi, tiap Rabu jam 16.30 di Museum Konperensi Asia-Afrika Bandung. Acara ini menurut saya, romantis banget: datang ke museum, membaca buku, menelaah sejarah, mendiskusikannya, dan merefleksikannya pada konteks kekinian…:)