Catatan Ahad Pagi #65: Bobotoh

Pagi tadi, ada pengalaman menarik yang saya lalui: mengisi talkshow di Radio Bobotoh Persib. (Bobotoh= fans/suporter). Sejak kemarin, si Akang sudah ngetawain saya, menurutnya, saya tuh nggak ngerti apa-apa soal bola, jadi gimana mau ngomong di radio Bobotoh, yang segmen pendengarnya orang-orang muda fans beratnya Persib?

Tapi gimana ya, saya merasa asyik banget pas menerima tawaran itu. Jadi, ya oke ajalah. Lagipula, meski ga ngerti bola (dan bahkan ga tau nama pemain Persib kecuali Gonzales..padahal Gonzales juga udah pindah ke klub lain, heuheuheu…), tapi saya kan pemilik klub sepakbola anak-anak. Jadi, yah, lumayanlah, ada ‘nyambung’-nya dikit…:)

Di rumah, saya browsing dulu soal kecenderungan para suporter fanatik klub sepakbola. Ternyata ada sisi positifnya juga, misalnya dilihat dari teori hirarki kebutuhan Maslow, kecintaan pada klub adalah pemenuhan kebutuhan manusia akan rasa cinta, rasa memiliki dan dimiliki. Cuma, ketika sudut pandangnya hanya terbatas pada klub dan tidak memiliki rasa cinta yang lebih besar lagi pada bangsa, potensi destruktif yang muncul. Beda klub bisa saling serang, padahal meski beda klub kan sama-sama orang Indonesia, saudara sebangsa. Nah, sisi ini yang akan saya angkat. Rencananya lho…

Eh…ndilalahnya… pas udah tiba di radio dan ketemu teman-teman dari AARC (Asia-Africa Reading Club), baru ketauan, acaranya itu judulnya “Bobotoh Asia Afrika”, jadi kerjasama antara radio Bobotoh Persib dengan Museum Konperensi Asia Afrika (MKAA). Trus, kata Pak Desmond dari MKAA, “Bu, pesen dari pak Isman (Direktur MKAA), tolong dibahas juga masalah spirit Konperensi Asia Afrika”.

Waduh, gubraks deh. Pantesan saya yang diundang jadi narasumber, dan emang di radio, saya diperkenalkan sebagai pengamat Hubungan Internasional :))

Saya jadi bingung: gimana nyambungin antara spirit KAA, kerjasama internasional, dengan fanatisme suporter, memasukkan nilai-nilai persaudaraan (biar kerusuhan antarsuporter bisa diminimalisir), dan semua itu harus dibahas dengan bahasa yang ‘nyambung’ dengan para bobotoh itu. Yang parah lagi, saya juga ga hapal isi Dasasila Bandung. Gimana iniiii???

Untungnya, teh Anggi, penyiar radio Bobotoh, berinisiatif buka internet, dan tralaaa.. dapat deh itu Dasasila Bandung. Ada satu poin (poin ke-9) yang cocok buat dieksplorasi, yaitu soal peningkatan kerjasama.

Walhasil, dengan dibantu teh Anggi yang gaul banget dan bisa menjembatani antara gaya bicara saya (meski saya udah berusaha seringan membahas topik tersebut), dengan gaya bicara gaul ala Bobotoh. Saya sampai ikut tertawa-tawa mendengar komen-komen teh Anggi. Dan suasana pun jadi cair dan seru. Syukurlah.

Salah satu hal yang saya sampaikan di acara tadi, yaitu soal butterfly effect (efek kupu-kupu); asal teori ini adalah penemuan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di Brazil ternyata bisa menimbulkan tornado di Texas. Teori Butterfly Effect kurang-lebih mengatakan bahwa suatu kesalahan kecil di satu tempat, bisa membawa efek/bencana besar dalam skala yang lebih luas. Nah, semua perilaku kita yang seolah-olah hanya pada satu tempat dan satu waktu tertentu itu, sebenarnya punya efek yang sangat besar di masa yang akan datang.

Misalnya, ketika fans Persib membakari mobil berplat B, dan sebaliknya fans Persija razia KTP di jalanan Jakarta dan menggebuki orang dengan KTP Jabar, efek perbuatan itu tidak berhenti pada saat itu aja. Bayangkan jika orang yang digebuki itu jadi cacat, ga bisa kerja, dia tidak bisa menafkahi anaknya. Anaknya tumbuh jadi orang yang tidak berpendidikan dan miskin. Lalu si anak ini berbuat kejahatan, merampok misalnya. Korbannya pun jatuh miskin, dan tidak bisa membiayai keluarganya..dst.. bencana itu merembet kemana-mana..

Diskusi akhirnya ngalor-ngidul ke sana-sini, bahkan sampai ke Lady Gaga dan Suju yang disambung-sambungin dengan spirit Dasasila Bandung (hayo, tebak, nyambungnya di mana? hahaha). Intinya: udah cape-cape menyelenggarakan KAA, udah cape-cape berjuang meraih kemerdekaan…eh..kok mau-maunya menjadi korban penjajahan budaya, gitu deh..

Simpulan akhir diskusi adalah, bobotoh Persib itu kan berangkat dari cinta, cinta pada klub. Nah, energi cinta inilah yang perlu diperbesar; cinta sesama, cinta pada saudara sebangsa. Jadi meski kesel sama suporter lawan, jika ada rasa cinta sesama, nggak mungkinlah tega mengebuki atau berbuat destruktif lainnya.

Dan, saya bersyukur sekali bisa dapat kesempatan menyenangkan ini. Makasih AARC..:)

NB: kegiatan rutin AARC (Asia-Africa Reading Club) adalah baca buku dan diskusi, tiap Rabu jam 16.30 di Museum Konperensi Asia-Afrika Bandung. Acara ini menurut saya, romantis banget: datang ke museum, membaca buku, menelaah sejarah, mendiskusikannya, dan merefleksikannya pada konteks kekinian…:)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s