Catatan Ahad Pagi #67: Ke Iran Lagi

Beberapa pekan terakhir saya harap-harap cemas. Saya apply untuk mengikuti Women Islamic Awakening Conference di Teheran pertengahan Juli.

Alhamdulillah, pekan lalu sudah ada pengumuman, saya lolos seleksi. Tapi.. duh, ‘ujian’-nya ga habis-habis nih. Masalah tiket, visa, dll.. banyak sekali yang harus diurus. Padahal di saat yang sama saya juga dikejar-kejar beberapa deadline. Saya sampai nggak berani mengeluh kepada suami, karena saya tau, dia pasti bakal ngomelin saya dengan kalimat, “Pakai prioritas dong Ma! Jangan semua permintaan orang diterima!”

Hiks.. lha kan saya nggak tau kalau urusan ke Iran bisa seheboh ini. Lagi pula, janji-janji itu saya buat sebelumnya, dengan asumsi bahwa perjalanan ke Iran itu gampang saja. Dan oke, sejujurnya, saya memang sering menggampangkan dan merasa bisa melakukan semuanya 😦

Dan ketika semua pekerjaan numpuk jadi satu seperti sekarang, saya malah hang.. dan yang membuat saya bersemangat justru menulis artikel politik internasional.. huhuhu… Well setidaknya ini lagi-lagi bukti buat saya bahwa passion saya memang di topik ini. Bukannya gaya-gayaan. Tapi memang yang jadi penghibur saya saat panik malah buka-buka web macam The Global Review atau The Global Research, lalu nemu ide nulis, dan nulis deh…

Padahal, paper buat konferensi itu belum saya tulis, draft buku panduan untuk pendidikan anak-anak sebuah lembaga (saya udah terlanjur janji sama pengurusnya) juga deadline, trus ada undangan bedah buku terkait gender, dan beberapa janji lainnya.. Dan ndilalahnya, tak ada satu pun yang sejalan dengan passion saya itu…

Jadi? Saya itu sebenarnya mau jadi apa ya..? Kenapa saya tidak bisa fokus di satu urusan saja??

Kalau sudah menghadapi pertanyaan ini, yang saya ingat-ingat adalah kata-kata Mario Teguh di TV. Dia bilang, emangnya kita ini Tuhan, sampai bisa memastikan/menetapkan apa karir yang dipilih? Tugas kita hanya menjalankan apa yang datang kepada kita sebaik-baiknya, dan Tuhan yang akan memilihkan apa karir terbaik buat kita di masa datang.

Juga, saya ingat kata-kata pak Bambang Trim, bahwa bersyukurlah orang yang diberi talenta nulis di semua genre (kurang lebih, begitulah kata-katanya). Meskipun tidak semua genre yang saya kuasai, tapi alhamdulillah saya bisa melakukan ‘tugas’ yang datang, meskipun harus memutar otak karena topik yang ditulis dan diedit seringkali loncat-loncat: mulai dari anak-anak, parenting, keluarga, agama, sampai politik. Jadi..ya nikmati dan syukuri sajalah..

Mohon maaf kalau ini curhat belaka dan tidak penting buat pembaca (meski penting buat saya karena jadi semacam katarsis, hehehe)

Wish me luck ya..:)

Insya Allah nanti kalau jadi ke Iran saya posting cerita-ceritanya di sini. Hm… ga sabar mencicipi kebab dan qeymeh Iran lagi.. meski beberapa waktu yll, si Akang tercinta membuatkan kebab Irani dan qeymeh. Bahan qeymeh dibawa jauh-jauh dari Amrik oleh ….tebak..? Mba Mamiek Syamil…! She is indeed a sweet and lovely friend! Love u mbak…! 🙂

Ini kebab Irani dan nasi Iran (kalau bahasa Farsi-nya: chelo kabab)
buatan si akang. Saya nggak pinter motret jadi penampilannya
ala kadarnya banget,
tapi rasanya, top banget. Love you full, kang..:)

Ini oleh-oleh dari Mba Mamiek,
buku Gilad Atzmon yang saya impikan sejak lama,
lentils dan lemon omani (bahan utk bikin qeymeh)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s