Catatan Ahad Pagi #70 Journey to Iran (2)

#3. Mr. Clooney


Ada cerita heboh yang bikin cekikikan ibu-ibu tiap diobrolin. Jadi gini, beberapa waktu saya mendengar desas-desus soal panitia yang ganteng kayak George Clooney. Hoho… Saya penasaran juga, yang mana seh? Meski menurut saya, ibu-ibu teh pada lebay juga. Soalnya, menurut mereka semua lelaki Iran ganteng-ganteng, bahkan termasuk supir truk, koki hotel, dan office boy…hahaha. Kalau saya mungkin karena udah terbiasa liat mereka, jadi ya biasa-biasa aja.

Selidik punya selidik, ga taunya, Mr Clooney itu ketua panitia. Kyaaa… emang sih sejak pertemuan pertama saya merasa bliau ini jentelmen banget (wah, ikut lebay dweeeh). Tutur katanya lembut, dengan senyum agak tersipu, sopaaan… banget sama ibu-ibu. Nah, yang heboh, bliau ini ga suka difoto. Setelah dipaksa-paksa sama ibu-ibu dari India, baru deh dia pasrah mau difoto, Langsung ibu-ibu Indonesia menodongnya berfoto juga. Dia sempet mengeluh, “My wife will kill me!” Hahaha..termasuk pria-pria penyayang istri rupanya (saya lebih suka menyebutnya begini daripada ‘pria takut istri’).

Berita bagusnya (buat saya), karena saya memperpanjang masa tinggal di Iran, Mr. Clooney mengundang saya sedikit berorasi di sebuah sekolah putri di Iran, beberapa hari usai konferensi. Nah, saya pun berkesempatan naik mobilnya Mr Clooney (dia sendiri yang nyetir), bareng dengan dua orang dari Kashmir. Oh, harusnya saya cerita ini ke ibu-ibu lain, biar mereka pada ngiri, hahaha..

#4. Konferensi_2


Hari pertama, kami disuruh siap-siap di lobby sejak jam 7-an. No hp, no camera, no bags. Pokoknya, ga boleh bawa apa-apa, termasuk pulpen sekalipun. Halah. Banyak yang ngomel-ngomel. Tapi bukan orang Iran kalau enggak ngotot. Walhasil ibu-ibu yang terlanjur bawa-bawa terpaksan naruh lagi barangnya di kamar hotel. Setelah acara pembukaan yang menyentuh hati (karena ditayangkan film pendek yang sangat menggelorakan semangat juang kaum muslimah untuk melawan kezaliman di muka bumi), tiba-tiba, terdengar riuh tepuk tangan para hadirin. Sebagian bahkan berdiri. Ternyata..o,.ow… Mr Ahmadinejad masuk ke ruangan sambil melambaikan tangan (pantesan, penjagaan sangat ketat, kami ga boleh bawa apa-apa. Mbok ya panitia bilang gitu, bahwa alasan ga boleh bawa apa-apa itu karena mau ada presiden datang!).

Langsung deh, saya ikut berdiri juga dan tepuk tangan. Saya ga cinta-cinta amat sih sama dia. Apalagi saya juga tahu beberapa masalah internal dalam pemerintahannya (bukan, bukan korupsi.. tapi biasalah, pemerintahan mana di dunia ini yang sempurna?; selalu ada pro-kontra dalam setiap kebijakan yang diambil). Tapi saya mengagumi keberaniannya melawan imperialisme Barat dan kejujurannya dalam berkata-kata. Jadi, saya larut dalam gegap-gempita di ruangan besar itu. Cukup lama juga riuh tepuk tangan berlangsung. Akhirnya Mr. Ahmadinejad duduk dan ruangan tenang lagi.

Selanjutnya, setelah beberapa pidato dari perempuan perwakilan delegasi negara-negara Arab (dan disambut tepukan tangan gegap-gempita juga, karena sebagian dari mereka adalah pejuang di negara masing-masing dan pintar orasi), barulah Mr. Ahmadinejad pidato. Beberapa ibu Indonesia, mengaku menangis terharu mendengar pidatonya. Karena saya sudah sangat familiar sama gaya orasi Ahmadinejad (dan ide-idenya), ya saya merasa biasa saja. Pidatonya, seperti biasa, diucapkan tanpa teks, dengan alur logika yang tajam. Dia sering memulai orasi dengan pertanyaan, ‘kenapa’? ‘apa’? dan menggiring orang berpikir, lalu dia mengajukan jawaban-jawaban yang logis dan mengena. Dia mengutip ayat-ayat Quran sebagai argumentasi logis, sehingga tidak berkesan khutbah jumat.

Salah satu poin yang saya ingat, dia mengungkapkan dengan gaya bahasa yang canggih dan menggugah (jadi, tidak sepadan dengan ungkapan saya berikut ini), bahwa perempuan punya posisi penting dalam kemajuan atau kemunduran peradaban. Kebangkitan Islam hanya bisa diraih jika kaum muslimah sadar dimana posisinya yang tepat dan kembali meraih posisi itu. Posisi utama perempuan adalah sebagai pendidik generasi muda. Ibu yang cerdas, beriman, dan sadar akan tugas utamanya, akan melahirkan generasi-generasi pejuang yang akan memperbaiki kondisi umat Islam. Perempuan juga perlu aktif di masyarakat, memperbaiki kondisi umat di berbagai lini. Dst.
Transkrip lengkap pidatonya mungkin bisa dicari di http://www.president.ir

Siangnya, acara sidang komisi-komisi. Dari setiap negara diundang perwakilan yang menyampaikan apa ide-ide mereka terkait peran perempuan dalam kebangkitan Islam. Dari Indonesia, tampil ibu Amelia Naim yang selama ini aktif juga di dunia parenting. Ide yang disampaikan bu Amelia sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Mr. Ahmadinejad: perempuan harus kembali ke keluarga. Musuh yang dihadapi oleh muslim Indonesia tak kalah kejam dengan musuh yang bersenjata bom dan senapan di negara-negara Arab. Dengan kata lain, di Palestina, mereka berjuang melawan senjata Israel; di Indonesia, keluarga Indonesia berjuang melawan arus pembusukan moral yang dihembuskan oleh kaum Zionis melalui televisi, film amoral, game, interner, dll. Hubungan bebas, aborsi, narkoba, adalah ‘kekalahan perang’ keluarga Indonesia. Inilah yang harus dilawan oleh muslimah Indonesia dengan cara kembali memperhatikan keluarga dengan benar. Jangan sampai, sibuk mengurus orang lain, tapi malah mengabaikan anak-anak sendiri.

Esoknya, pertemuan dengan Ayatullah Khamenei (leader Iran; seperti diketahui, sistem pemerintahan Iran dipimpin oleh ulama tertinggi, yang berperan mengawasi jalannya pemerintahan (eksekutif-legislatif-yudikatif)agar tetap sejalan dengan syariat Islam). Untuk masuk ke ruang pertemuan, para tamu digeledah sangat ketat; sampai 3 kali (3 lapis penjagaan). Pertemuan dilakukan di kompleks rumah beliau, yang memiliki ruang pertemuan cukup luas, tapi sangat sederhana. Lokasinya di kawasan padat di Tehran (Joumhuri street; tapi masuk ke gang lagi).
Pidato Ayatullah Khamenei intinya juga sama, mengingatkan peran penting perempuan. Tidak akan terjadi kebangkitan Islam selama kaum perempuan tidak terlibat aktif di dalamnya.

Sorenya, ada pertemuan internal di antara peserta dari Asia, mengungkapkan saran-saran. Peserta dari Malaysia memprotes, kenapa isu Rohingya tidak diangkat di konferensi? Bukankah muslim itu bukan cuma dari Arab? Benar juga sih. Saya juga mengkritik dari sisi ini: porsi bicara lebih banyak diberikan kepada peserta dari negara-negara Arab. Suara dari Asia agak diabaikan 😦 Kritikan ini juga sudah disampaikan ke panitia. Mudah-mudahan, di konferensi tahun depan (bila ada), ada perbaikan.

#5. Delegasi Indonesia

(3 Indonesian-dina, lena, bu titin, dan 2 delegasi Bosnia, di resto hotel)

Siapa aja sih yang diundang dari Indonesia? Banyak, ada 18 orang! Sebagian ada yang dosen (Unpad, UI, Undip, UII), ada yang penulis, jurnalis, ada juga dua dokter aktivis MER-C dan aktivis LSM.
Khas ibu-ibu Indonesia, banyak ketawa dan gurauan. Jadi, rameee.. deh selama di hotel; ada saja yang jadi bahan obrolan; baik cerita suka maupun duka. Duka? Apanya yang duka? Yah, ada sajalah friksi yang terjadi, terutama dengan panitia Irani yang menurut saya terlalu paranoid itu. Masak kemana-mana dilarang?! Saya ngerasa mereka itu memperlakukan kami kayak anak kecil aja. Meski saya pun menyadari, karena Iran sangat disorot internasional, keburukan sekecil apapun akan diblow up sama media Barat. Jadi, kalau sampai ada delegasi yang kena musibah (hilang, kecurian, atau gimana), pastilah efeknya besar sekali. Mungkin itulah sebabnya mereka sangat menjaga kami.

Nah, di antara delegasi Indonesia, sebagiannya baru saling kenal setelah di Teheran, cukup terjalin kekompakan. Bahkan kami berencana mau nulis buku bareng, isinya cerita-cerita di Iran + ide-ide kami tentang kemajuan perempuan Indonesia. Mudah-mudahan terlaksana, amin.

Wah, udah panjang juga ceritanya. Alhamdulillah. Mudah-mudahan kelancaran nulis saya pagi ini juga menular ke utang-utang nulis yang lain… 🙂

Sekian dulu sementara. 🙂

Foto-foto: pinjam dari FB-nya Magdalena (lenakei)

Advertisements

Catatan Ahad Pagi #69 Journey to Iran (1)

17 hari di Iran (tiba 6 juli, pulang 22 Juli), apa saja cerita yang dibawa? Banyak. Tapi sampai hari ini rasanya speechless. Ga bisa nulis. Bukan cuma nulis tentang pengalaman, tapi juga nulis yang memang berurusan dengan kerjaan. Wah gejala apa ini ya? Jetlag? Writer’s block? Entahlah. Tapi kemacetan ini harus dilawan. Saya coba melawannya dengan menulis catatan ini. Tidak terstruktur, sih. Apa boleh buat. Saya pecah-pecah dalam beberapa jurnal ya.

#1. Harga
Harga-harga di Iran melonjak tinggi. Dollar sekarang kan setara dengan 19.000 riyal Iran (di pasar gelap) atau 12.000 riyal Iran (di bank). Jadi, setiap belanja, saya selalu berusaha menghitung dalam hati bahwa harganya kira-kira setara dengan setengahnya dalam rupiah. Misalnya, saya mau naik taksi, kan tawar-menawar di depan. Kalau harga dealnya 100.000 riyal Iran, oh itu artinya, Rp50.000…yah..wajarlah. Atau beli oleh-oleh, kalau harganya 50.000 riyal Iran, artinya Rp25.000…oh..murahlah.

Naiknya harga-harga ini jelas membuat Iranian ngomel-ngomel. Dulu aja pas semua masih murah, mereka juga rajin ngomel kok ya. Saya bertemu seorang teman lama. Saya ceritakan, bahwa setelah meninggalkan Iran, saya jadi penulis buku. Buku yang saya tulis antara lain, tentang Ahmadinejad dan Palestina. Dia langsung nyeletuk, “Tulis ya! Dia itu presiden yang buruk! Semua harga-harga sekarang mahal!” Oh..oh.. Padahal saya tau pasti, kondisi perekonomian teman saya ini sangat baik. Saya ingin cerita betapa situasi perekonomian di Indonesia jauh lebih sulit karena pemerintah kami menghamba pada kepentingan kapitalis dan asing..dst. Tapi, ah, sudahlah. Ga bakal ngefek. Gaya hidup Iranian kebanyakan memang matre; standar ‘sederhana’ di mata mereka beda jauh sama standar sederhana di Indonesia. Kalau yang menurut kebanyakan orang Indonesia sudah mewah, buat mereka masih disebut sederhana.

Terus-terang, omelan-omelan mereka ini membuat saya kurang nyaman. Lima tahun di Indonesia, saya sudah belajar banyak tentang sikap syukur dan pentingnya energi positif. Saya jadi tau buruknya energi negatif. Keluhan orang lain, pemberitaan buruk di media, semua itu akan membawa energi negatif yang mempengaruhi kestabilan jiwa kita. Nah, di Iran saya malah mendapati sangat banyak energi negatif itu (jika saya berkomunikasi dengan penduduk asli, karena kebetulan saya bisa bahasanya). Jadi, terus-terang, saya jadi sangat merindukan rumah. Merindukan si Akang yang setiap saat selalu memompakan energi positif ke benak saya dengan cara pandangnya yang sangat positif dalam berbagai situasi.

*lho, malah jadi lebay gini ya? Udah ah, stop.

#2. Konferensi_1
Cerita #1 itu terjadi setelah konferensi usai. Artinya, setelah semua peserta pulang ke negara masing-masing, saya masih memperpanjang masa tinggal di Iran karena beberapa keperluan, di antaranya bantuin suami cari data buat disertasinya. Saat itulah saya cukup banyak berinteraksi dengan penduduk lokal yang awam. Sementara, selama konferensi, kami tentu saja selalu berurusan dengan Iranian yang panitia atau pejabat. Tentu saja, perilakunya beda.

Konferensi yang saya ikuti kemarin itu adalah “Women and Islamic Awakening Conference”. Ini konferensi pertama di dunia yang bertema demikian, dan melibatkan 1500-an perempuan dari 86 negara. Semua tamu mendapatkan layanan VIP sejak hari pertama kedatangan mereka. Luar biasa (dari sisi duitnya, ckckckck..). Sejak awal panitia bilang bahwa hotel disediakan sejak tanggl 7-13. Nah, karena tiket saya dan beberapa teman adalah tanggl 5 (tiba tanggal 6), tadinya kami mau menginap dulu di rumah teman Indonesia yang tinggal di Teheran. Eh, ternyata sejak di bandara, sudah ada panitia yang menjemput dan langsung membawa kami ke hotel. Hotelnya bintang 5, terbagus di Teheran. Hm…

Soal hotel, saya tidak terlalu kaget sih soalnya sudah pernah beberapa kali nginap gratisan di hotel mewah. Suasana Iran juga bukan hal baru buat saya, kan pernah 8 tahun di Iran. Yang jadi pengalaman baru buat saya adalah, perlakuan terhadap kami sebagai ‘tamu negara’. Setiap bis VIP kami lewat, mobil-mobil lain di stop. Bepergian ke kota-kota wisata dengan pesawat carteran; lalu di kota-kota itu disambut sama pejabatnya dan dikasih layanan VIP juga. Kemana-mana dikawal. Kami tidak boleh bepergian sendiri tanpa dikawal. Padahal, saya dan teman-teman sudah berencana ngeluyur ke sana-sini selama di Tehran, eh, dilarang. Bahkan untuk belanja pun, disediakan 3 pria plus 1 perempuan yang mengawal kami.

Nah, ini foto kami waktu belanja yang heboh karena dikawal (hasil jepretan lenakei). Laki-laki tinggi besar berkemeja putih itu salah satu bodyguard kami 🙂


Saya sampai stress. Apa enaknya belanja buru-buru, ditungguin, dan dilarang ngelencer sesuka hati? Dan waktu belanja pun sangat singkat, disuruh pulang lagi ke hotel. Akhirnya, saya ngomel ke salah seorang bodyguard kami, yang kebetulan sudah akrab sama saya (mungkin karena saya bisa Farsi, jadi dia sering ngobrol sama saya). Dia jawab dengan enteng, “Kami kan udah capek! Memangnya suamimu mau gitu mengantar belanja kayak begini?!” Huuuhhhh!! Sebelnya…:(

Bersambung ke Jorney to Iran (2)