Catatan Ahad Pagi #69 Journey to Iran (1)

17 hari di Iran (tiba 6 juli, pulang 22 Juli), apa saja cerita yang dibawa? Banyak. Tapi sampai hari ini rasanya speechless. Ga bisa nulis. Bukan cuma nulis tentang pengalaman, tapi juga nulis yang memang berurusan dengan kerjaan. Wah gejala apa ini ya? Jetlag? Writer’s block? Entahlah. Tapi kemacetan ini harus dilawan. Saya coba melawannya dengan menulis catatan ini. Tidak terstruktur, sih. Apa boleh buat. Saya pecah-pecah dalam beberapa jurnal ya.

#1. Harga
Harga-harga di Iran melonjak tinggi. Dollar sekarang kan setara dengan 19.000 riyal Iran (di pasar gelap) atau 12.000 riyal Iran (di bank). Jadi, setiap belanja, saya selalu berusaha menghitung dalam hati bahwa harganya kira-kira setara dengan setengahnya dalam rupiah. Misalnya, saya mau naik taksi, kan tawar-menawar di depan. Kalau harga dealnya 100.000 riyal Iran, oh itu artinya, Rp50.000…yah..wajarlah. Atau beli oleh-oleh, kalau harganya 50.000 riyal Iran, artinya Rp25.000…oh..murahlah.

Naiknya harga-harga ini jelas membuat Iranian ngomel-ngomel. Dulu aja pas semua masih murah, mereka juga rajin ngomel kok ya. Saya bertemu seorang teman lama. Saya ceritakan, bahwa setelah meninggalkan Iran, saya jadi penulis buku. Buku yang saya tulis antara lain, tentang Ahmadinejad dan Palestina. Dia langsung nyeletuk, “Tulis ya! Dia itu presiden yang buruk! Semua harga-harga sekarang mahal!” Oh..oh.. Padahal saya tau pasti, kondisi perekonomian teman saya ini sangat baik. Saya ingin cerita betapa situasi perekonomian di Indonesia jauh lebih sulit karena pemerintah kami menghamba pada kepentingan kapitalis dan asing..dst. Tapi, ah, sudahlah. Ga bakal ngefek. Gaya hidup Iranian kebanyakan memang matre; standar ‘sederhana’ di mata mereka beda jauh sama standar sederhana di Indonesia. Kalau yang menurut kebanyakan orang Indonesia sudah mewah, buat mereka masih disebut sederhana.

Terus-terang, omelan-omelan mereka ini membuat saya kurang nyaman. Lima tahun di Indonesia, saya sudah belajar banyak tentang sikap syukur dan pentingnya energi positif. Saya jadi tau buruknya energi negatif. Keluhan orang lain, pemberitaan buruk di media, semua itu akan membawa energi negatif yang mempengaruhi kestabilan jiwa kita. Nah, di Iran saya malah mendapati sangat banyak energi negatif itu (jika saya berkomunikasi dengan penduduk asli, karena kebetulan saya bisa bahasanya). Jadi, terus-terang, saya jadi sangat merindukan rumah. Merindukan si Akang yang setiap saat selalu memompakan energi positif ke benak saya dengan cara pandangnya yang sangat positif dalam berbagai situasi.

*lho, malah jadi lebay gini ya? Udah ah, stop.

#2. Konferensi_1
Cerita #1 itu terjadi setelah konferensi usai. Artinya, setelah semua peserta pulang ke negara masing-masing, saya masih memperpanjang masa tinggal di Iran karena beberapa keperluan, di antaranya bantuin suami cari data buat disertasinya. Saat itulah saya cukup banyak berinteraksi dengan penduduk lokal yang awam. Sementara, selama konferensi, kami tentu saja selalu berurusan dengan Iranian yang panitia atau pejabat. Tentu saja, perilakunya beda.

Konferensi yang saya ikuti kemarin itu adalah “Women and Islamic Awakening Conference”. Ini konferensi pertama di dunia yang bertema demikian, dan melibatkan 1500-an perempuan dari 86 negara. Semua tamu mendapatkan layanan VIP sejak hari pertama kedatangan mereka. Luar biasa (dari sisi duitnya, ckckckck..). Sejak awal panitia bilang bahwa hotel disediakan sejak tanggl 7-13. Nah, karena tiket saya dan beberapa teman adalah tanggl 5 (tiba tanggal 6), tadinya kami mau menginap dulu di rumah teman Indonesia yang tinggal di Teheran. Eh, ternyata sejak di bandara, sudah ada panitia yang menjemput dan langsung membawa kami ke hotel. Hotelnya bintang 5, terbagus di Teheran. Hm…

Soal hotel, saya tidak terlalu kaget sih soalnya sudah pernah beberapa kali nginap gratisan di hotel mewah. Suasana Iran juga bukan hal baru buat saya, kan pernah 8 tahun di Iran. Yang jadi pengalaman baru buat saya adalah, perlakuan terhadap kami sebagai ‘tamu negara’. Setiap bis VIP kami lewat, mobil-mobil lain di stop. Bepergian ke kota-kota wisata dengan pesawat carteran; lalu di kota-kota itu disambut sama pejabatnya dan dikasih layanan VIP juga. Kemana-mana dikawal. Kami tidak boleh bepergian sendiri tanpa dikawal. Padahal, saya dan teman-teman sudah berencana ngeluyur ke sana-sini selama di Tehran, eh, dilarang. Bahkan untuk belanja pun, disediakan 3 pria plus 1 perempuan yang mengawal kami.

Nah, ini foto kami waktu belanja yang heboh karena dikawal (hasil jepretan lenakei). Laki-laki tinggi besar berkemeja putih itu salah satu bodyguard kami 🙂


Saya sampai stress. Apa enaknya belanja buru-buru, ditungguin, dan dilarang ngelencer sesuka hati? Dan waktu belanja pun sangat singkat, disuruh pulang lagi ke hotel. Akhirnya, saya ngomel ke salah seorang bodyguard kami, yang kebetulan sudah akrab sama saya (mungkin karena saya bisa Farsi, jadi dia sering ngobrol sama saya). Dia jawab dengan enteng, “Kami kan udah capek! Memangnya suamimu mau gitu mengantar belanja kayak begini?!” Huuuhhhh!! Sebelnya…:(

Bersambung ke Jorney to Iran (2)

2 thoughts on “Catatan Ahad Pagi #69 Journey to Iran (1)

  1. Pingback: Ketemu Idola | My daily life...

  2. Pingback: Coming Soon: A Note From Tehran | My daily life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s