Haji #3: Raw Juice

Tanggal 15 Oktober lalu saya mengantar adik saya Rika, yang masih single, ke asrama haji Cianjur. Adik saya ini memang belum bertemu dengan jodohnya, tetapi syukurlah dia tetap ceria dan bersemangat melakukan banyak hal. Sejak beberapa tahun yang lalu ia mulai menabung untuk haji, dan menurutnya, setelah buka tabungan haji, selalu saja dia mampu menyisihkan uang untuk mengisi tabungan. Padahal biasanya, gaji PNS-nya habis begitu saja setiap bulan. Hanya dua tahun setelah tabungan ONH-nya memenuhi syarat minimum, eh, sudah terpanggil untuk bergabung dalam jamaah haji Indonesia 2012, subhanallah. Mudah-mudahan doanya di Padang Arafah terkabul dan Allah segera mempertemukannya dengan jodohnya, amiiin..

Singkat cerita, saya dan ibu saya mengantar Rika masuk asrama haji. Turun dari mobil, saya menenteng tas tangan (yang dikasih oleh maskapai, semua jamaah haji hanya boleh membawa tas itu, supaya seragam). Ya ampun, hanya berjalan beberapa meter saja, belum sampai ke gerbang, saya sudah ngos-ngosan. Padahal saya tahu isi tas itu, hanya beberapa lembar baju, termasuk baju ihram. Cuaca terasa panas, membuat saya mulai stress, memikirkan apa yang akan terjadi kalau saya naik haji kelak. Ibu saya cerita, di Mekah, semua koper ya kita sendiri yang bawa. Hiks, lha iya kalau suami saya ada bersama saya saat itu sehingga dia yang akan membantu saya membawa-bawa koper dan tas tangan. Tapi, umur manusia siapa yang bisa memastikan?

Tiba-tiba muncul kesadaran, betapa fisik saya sangat lemah. Dan memang, setiap kali kena panas terik, pulangnya saya langsung pusing.

Kesadaran ini mengendap diam-diam, dan hampir terlupakan. Tapi, itu ‘bersambung’ dengan kesadaran lain yang dengan rajin disebarluaskan teman-teman saya ex-MP-ers yang sekarang rajin update di FB, antara lain Imazahra, Yuni Khairun Nisa, mba Inci, dan Gita Lovusa. Mereka sering sekali posting soal raw juice dan manfaatnya.

Well, oke, saya setuju sekali dengan manfaat raw juice, dan bahkan jauuuuh…sebelum mereka saya pernah memulai program itu atas saran seorang dokter. Tapi, hanya bertahan sebentar. Saya bukan tipe orang yang suka berlama-lama mengurusi makanan. Bahkan untuk buah potong pun, saya lebih suka menunggu suami mengupaskan dan kami makan bersama-sama (meski menurut suami saya, ini bukan keromantisan, tapi bentuk kemalasan saya, saya tetap menganggapnya romatis, ini  bentuk rasa sayangnya pada saya, makanya mau ngupasin buah, bahkan kadang menyuapkan langsung ke mulut saya ketika saya asyik ngetik  :D).

Tapi, itulah, postingan demi postingan yang dengan penuh semangat dibuat oleh teman-teman saya itu, sedikit demi sedikit menggedor kesadaran saya. Hey! Wake up! Ini masalah penting, tidak sekedar hidup sehat, tidak sekedar membangun stamina. Saya pun mulai merenungkan. Bagi saya, membuat raw juice setiap hari berkaitan dengan hal-hal berikut:

1. Membangun kedisiplinan pribadi (saya cukup disiplin untuk beberapa hal, tapi sangat tidak disiplin untuk hal-hal lainnya, terutama terkait menjaga makanan). Saya baca di sebuah web, untuk membangun sebuah kebiasaan baru, kita perlu berjuang keras melakukan hal tersebut selama 3 bulan (ada yang bilang 40 hari), nah insya Allah selanjutnya, hal itu akan jadi kebiasaan. Tapi, konsistensi 40 hari-nya ini yang harus diperjuangkan dulu.

2. Amanah membesarkan anak (hwaa.. kembali terlintas kata-kata Neno Warisma di sebuah seminar parenting… jangan sampai suatu saat anak kita protes kepada Allah… seharusnya aku jadi profesor, tapi ibuku tidak memberiku makanan yang membuat sel otakku berkembang dengan baik!)

Saya sudah pernah ikut training ‘disiplin dengan kasih sayang’ bersama Bunda Rani Noeman. Hwaa… sedikit sekali kemajuan kami di rumah setelah mengikuti training itu. Sebab kegagalan utama, tentu saja, karena ortu yang belum berhasil mendisiplinkan diri.

Jadi, sepertinya, peningkatan stamina sehingga kelak ketika saya haji saya tidak ngos-ngosan dan drepotkan oleh masalah fisik, hanyalah bonus dari program raw juice. Ada hal-hal yang jauh lebih penting dan krusial.

Jadi, saya pun mencoba memulai lagi program raw juice ini.

Ternyata, memang tidak mudah. Ok, selama beberapa hari terakhir saya berhasil memaksa diri untuk ke warung pagi-pagi belanja sayur dan buah. Tapi, hasil juice-nya sama sekali tidak enak. Suami saya turun tangan, dan rasanya agak lumayan. Anak-anak mau meminumnya meski tidak menikmatinya. Ok, tak apa, ini toh baru permulaan, kata saya menenangkan diri.

Tapi hari ini, air mata saya luber. Juice-nya sama sekali nggak enak, menggumpal seperti bubur. Bahkan suami saya tidak mampu memperbaiki rasanya. Kenapa saya menangis? Ya karena bagi saya, pagi-pagi ke warung, belanja, mencuci, mengupas sayuran, dll itu BUKAN pekerjaan yang saya sukai! I hate them! Saya lebih suka duduk tenang pagi-pagi di depan laptop dan ibu katering akan datang sekitar jam 6.30 membawakan lauk-pauk untuk kami santap hari itu. Nasi, ya itu sih gampang, tinggal masukkan beras ke rice cooker.

Jadi, buat saya, membuat raw juice adalah benar-benar perjuangan. Ketika hasilnya menyedihkan begitu, saya benar-benar patah hati. Akhirnya, suami berusaha menganalisis dan kami berdiskusi soal ‘resep raw juice’. Saya browsing, baca-baca lagi postingan Ima, Yuni, Gita. Kesimpulannya, tidak bisa sembarangan mencampur buah dan sayur, harus ada teknik dan strateginya. Kesalahan saya hari ini adalah saya menggunakan pepaya yang masih agak mengkal, dan ada beberapa sayuran yang menurut intuisi suami saya, tidak  nyambung. Intuisi??? Jadi.. urusannya tidak sebatas belanja ke warung dan menyiangi sayuran!  Ini ada kaitannya dengan intuisi! Hwaa.. rasanya saya ingin menyerah!

Tapi saya tidak mau menyerah dan suami saya juga bersedia membantu. Dia pun menyusun ‘daftar menu’, dengan pertimbangan bahwa sayur dan buahnya ada di warung; proses membersihkannya tidak terlalu ribet; dan  saya tidak perlu ‘intuisi’, pokoknya campurkan saja sesuai yang ditulis suami saya.

Duh, sepertinya, memang banyak yang harus saya ‘bongkar’ di alam bawah sadar saya. Mengapa saya tidak suka aktivitas di dapur? Mengapa saya benci menyiangi sayur dan buah? Ah, banyak sekali yang harus saya perbaiki dari diri ini..:(

Tapi, Allah tidak pernah membiarkan kita menghadapi kesulitan tanpa mendatangkan kemudahan. Alhamdulillah, ada si akang yang bersedia membantu. Ya sudahlah, saya akan berusaha menjadikan ini sebagai jihad. Mungkin terdengar absurd, orang lain itu berjihad dengan hal-hal yang hebat, sementara jihad saya masih sebatas urusan menaklukkan diri sendiri, membuang kemalasan, dan menyembuhkan rasa benci saya pada aktivitas dapur. Apa boleh buat, saya harus mengakui bahwa kualitas diri saya emang masih sangat minim 😦

Advertisements

Haji #2: Kemampuan

Ada hal yang meresahkan saya akhir-akhir ini, soal ‘kemampuan’. Sebatas mana sih seseorang dianggap mampu dan wajib naik haji?

Pernah di suatu masa, saya punya uang cukup banyak, dan lebih dari cukup untuk naik haji. Tapi waktu itu, entah mengapa tidak ada niat kuat untuk haji, karena rasanya belum ‘mampu’. Suami saya saat itu masih belum punya pekerjaan tetap, sehingga kami merasa perlu ada tabungan banyak di bank. Uang yang banyak itu akhirnya sebagian dipakai buat beli mobil, karena memang sangat terasa kami butuh mobil, bukan hanya buat diri sendiri, tapi juga buat keluarga besar (untuk mudik tiap lebaran).

Lalu, kini ada fasilitas dana talangan haji. Awalnya, saya pikir, ini sungguh membantu orang yang ingin naik haji. Dengan mantap, kami memilih untuk pakai dana talangan itu. Jadi, oleh bank, rekening kita dicukupkan hingga batas minimal yang diminta Depag (kalau nggak salah, 27,5 juta per orang). Artinya, bila rekening kita sudah mencapai 27,5 juta, kita bisa masuk dalam daftar antrian. Buat saya, ini semacam upaya menabung dengan disiplin (karena dalam setahun, dana talangan itu harus kita kembalikan hingga lunas, tanpa bunga sih, tapi kalau lewat setahun, ada dendanya).

Walhasil, tingkat pendaftaran haji sekarang sangat tinggi. Saya daftar ke Depag  awal bulan Okt, dapat giliran tahun 2019. Hanya beda sehari saja, ipar saya beda urutan 300 nomer dengan kami (no. urut di bank kami, padahal, ada banyak bank yang memberi fasilitas ini kan, di seluruh indonesia). Dan kata orang, biasanya saat giliran tiba, banyak sekali yang batal berangkat karena tidak sanggup melunasi. Jadi, meski kami dapat giliran 2019, sangat mungkin tahun 2017 pun sudah berangkat…kalau Allah mengizinkan tentunya.

Poinnya, banyak orang yang di atas kertas tak mampu berhaji, tapi memaksakan diri berhutang ke bank. Akhirnya, ketika tak bisa melunasi, rugi sekitar 5 jutaan (uang administrasi di awal, saat akad; dan uang denda karena tak bisa melunasi). Siapa yang untung? Ya jelas, bank! Saya pikir, buat pihak bank, ini rupanya hanya semata bisnis dan memanfaatkan psikologis orang-orang yang ingin berhaji tapi belum ada uang. Apalagi banyak ustadz-ustadz (dan para alumni haji) kasih ceramah: yang penting usaha, buka tabungan dulu, biar Allah yang mencukupi. Ya iya, buka tabungan, bukan buka utang! Dan betapa banyak yang nekad berhutang tanpa mikirin kemampuan, dan berharap ‘Allah yang akan mencukupkan’. Bahkan, ada seseorang yang tidak punya kemampuan (di atas kertas) dan mengandalkan bantuan orang lain untukk melunasinya. Berhaji macam apa ini? Mengapa memaksakan diri, sampai merepotkan orang lain?

Duh, saya jadi resah lagi deh. Di atas kertas, memang kami mampu melunasi dana talangan itu. Masalah kami selama ini kan tidak disiplin nabung, uang selalu saja terpakai ini-itu. Tapi, tidakkah ini bentuk ketakaburan? Siapa jamin esok lusa penghasilan kami akan sebanyak sekarang? Tak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi esok hari. Apalagi kami bukan pegawai tetap, sangat bergantung pada orderan… sangat bergantung pada rizki yang dibukakan Allah buat kami…

Dan kalau ini saya ceritakan pada pak Zaim Saidi (saya kenal bliau lewat FB), pejuang dinar-dirham di Indonesia…aduh, pasti saya dikritik… mengapa tidak menabung dalam bentuk dinar-dirham saja, mengapa tetap mau bergabung dalam sistem perbankan uang kertas…pasti begitu katanya. Hwaa… Motivasi awal saya memang supaya ‘cepat dapat antrian’. Khawatir kalau menunggu uang terkumpul, entah kapan antrian bisa didapat… Bayangkan, bila tahun 2016 uang terkumpul, lalu baru daftar, berarti, nunggunya empat tahun kemudian, 2020! Serba salah!

Duh, Allah-ku Yang  Maha Bijaksana… hamba yakin Engkau memahami kelemahan kami… Ampuni kesalahan kami…

Astaghfirullahaladzim… mudah-mudahan Engkau mengampuni bila langkah kami ini salah… mudah-mudahan Engkau tetap membukakan rizki-Mu buat kami supaya kami bisa melunasi hutang kami…

Hiks, sejak kami memulai hidup berumah tangga, inilah pertama kalinya kami berhutang ke bank… 😦

Luar biasa, pak Iwan ini telaten banget membuat list teman-teman MP-ers yang hijrah ke WP… insya Allah dikit-dikit saya kunjungi dan follow-i 🙂

Iwan Yuliyanto

Di bawah ini adalah alamat resmi kawan – kawan blogger Multiply yang sudah menjadi blogger WordPress pasca ditutupnya fitur blog Multiply per 1 Desember 2012 (Resmi ditutup fitur blog pada tanggal 20 Maret 2013, dan murni berganti platform menjadi murni e-commercee, namun ternyata kemudian situs tersebut DITUTUP SELAMANYA pada tanggal 6 Mei 2013).

Update terakhir: 15 Desember 2013, 17.15 WIB
Jumlah: Lebih dari 400 WPers ex-MPer.

Semoga Anda menemukan kembali kawan – kawanmu di sini, dan kemudian saling memfollow mereka sebagai bagian dari upaya mempererat jalinan silaturahim.

View original post 1,526 more words

Haji #1 : Keikhlasan

Mulai hari ini saya akan konsentrasi menulis seputar haji. Kami sudah mendaftar haji, dan dapat ‘giliran’ tahun 2019. Lama sekali! Tapi, kata teman saya, sering terjadi, masa menanti perlu tidak selama itu, selalu saja ada keajaiban yang diberikan Allah kepada hamba-Nya…

Mumpung masih ada waktu, saya merasa perlu melakukan banyak perbaikan ruhani. Banyak penyakit hati yang benar-benar harus disembuhkan. Dan menulis, adalah salah satu upaya saya untuk menerapi diri sendiri. Semoga kelak ketika tiba waktunya berangkat haji, saya sudah berubah menjadi pribadi yang ikhlas…

Tulisan pertama ini, copas dari Republika. Saya masih belum bisa merenung dan merefleksikan apa-apa… baru bisa merasakan bahwa memang masih sedikit bekal yang saya siapkan…

Menata Keikhlasan Menjelang Berhaji [Damanhuri Zuhri]

Menurut Ustaz Qosim Sholeh, ibadah haji  tak hanya membutuhkan persiapan fisik dan finansial serta ilmu manasik saja.

‘’Tetapi lebih dari itu, sangat membutuhkan persiapan hati, iman dan takwa,’’ tutur Ustaz Qosim. Untuk itu, kata dia, calon jamaah haji, sangat penting untuk mengendalikan dan mengelola gejolak emosi yang setiap saat bisa menghantui dan mendominasi perasaannya. Kata dia, padatnya manusia di padang Arafah, akan menciptakan suasana yang tak normal.

Zaim Said, direktur Wakalah Induk Nusantara, menuturkan, ibadah haji memang menjadi impian setiap Muslim. Menurutnya, yang mesti dipahami bahwa ibadah haji merupakan perjalanan spiritual, tapi diejawantahkan dalam perjalanan fisik. Ia mengatakan, setiap calon jamaah harus menyadari bahwa dalam perjalanan itu ada syariat dan hakikat.

Syariatnya, papar dia,  perjalanan fisik itu harus ditempuh dengan cara tertentu dan ritual tertentu. Menurutnya, ibadah haji adalah puncak dari perjalanan spiritual yang diwujudkan secara fisik. ‘’Harus dipahami perjalanan ibadah haji bukanlah suatu perjalanan yang mudah. Jangan orang berpikir, naik haji itu mau nyaman, mau santai dan mau piknik. Sebab,  perjalanan haji  bukanlah piknik dan bukan pula turisme,’’ ujarnya menegaskan.

Zaim menuturkan,  jika hal itu disadari oleh setiap calon jamaah, maka mereka harus mempersiapkan diri secara fisik maupun mental dan spiritual. Sehingga, setiap Muslim yang akan naik haji bisa menghayati makna rukun Islam kelima itu.

Menurutnya, memiliki uang saja tak cukup untuk menunaikan ibadah haji. ‘’Karena kalau cuma punya uang, orang bisa berkali-kali pergi haji. Tapi yang harus dipahami, bukan karena dia punya uang lantas setiap tahun dia bisa berangkat naik haji, bukan itu,’’ Zaim mengingatkan.

Ustaz Qosim menambahkan, pada saat menunaikan ibadah haji akan terjadi gesekan-gesekan fisik yang berimplikasi pada timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi ketika sedang berada di Arafah,  fasilitas yang tersedia amat terbatas dan bahkan bisa dikatakan tak layak. Jumlah toilet dengan jamaah pun tak sebanding.

‘’Karena tempat terbatas, maka akan timbul gesekan-gesekan, antre panjang, sehingga bisa menonjolkan egosentris dan kepentingan pribadi masing-masing,’’ papar Ustaz Qosim.  Di sinilah, jamaah haji perlu  menanamkan nilai-nilai kesabaran yang tinggi.

Seorang jamaah haji dituntut memiliki keluhuran moral, kesantunan berbicara dan kearifan bertindak. Semua itu, tutur Ustaz Qasim,  adalah akumulasi dari perintah Allah SWT dalam Alquran. Menurutnya, kemampuan untuk mengendalikan diri, memenej yang ada dalam diri merupakan keharusan yang harus dilakoni dan dilaksanakan oleh semua calon tamu Allah SWT.

Setiap jamaah haji  merupakan delegasi resmi dan duta-duta Allah yang  seharusnya mengerti dan memahami seluk beluk protokoler ke-Ilahian. Apa saja protokoler-protokoler ke-Ilahian itu?  ‘’Seperti yang saya katakan tadi, dalam Alquran juga dijelaskan, ‘musim-musim haji telah ditentukan waktunya barangsiapa berniat untuk melaksanakan ibadah haji.’’

Untuk menjadi delegasi resmi tamu Allah SWT, papar Ustaz Qosim, seorang calon jamaah  harus mengindahkan larangan-larangan inti dan pokok yaitu; pertama,  tidak boleh berucap hal-hal yang akan membuat dorongan biologis bisa bangkit. Kedua, tak boleh berperilaku yang bisa menyebabkan orang lain bisa terpancing.

Ketiga, jangan berdebat kusir, sehingga dapat menyebabkan hal-hal yang sepele bisa menjadi besar, dan hal-hal yang substansial bisa disepelekan.

”Inilah ritual haji yang setiap calon jamaah haji perlu mengerti,  memahami serta menjiwai. Sehingga, sebagai duta-duta resmi Allah, kita  bisa melaksanakan apa yang diinginkan oleh Sang Khalik. Nah, untuk itu diperlukan persipan fisik, materi dan yang lebih penting lagi persiapan immaterial,’’ papar kandidat doctor dari salahsatu universitas di Malaysia itu.

Rasulullah SAW pun telah meminta umatnya agar mencontoh cara berhaji yang pernah dilakukannya.  Menurut Ustaz Qosim, ibadah haji yang dilakukan Rasulullah bukan sekadar ibadah mahdhah, bukan sebagai ritual yang diwajibkan kepada mereka yang mampu secara fisik dan ekonomi.

‘’Tapi jauh dari itu,  pelaksanaan ibadah haji lebih menekankan pada nilai-nilai pascaibadah haji,’’ ujar Ustaz Qosim. Setelah pulang dari haji, semestinya seorang Muslim bisa steril dari hal-hal yang tidak diinginkan oleh Allah SWT. Lebih dermawan, serta makin peduli pada sesama dan lingkungan. Inilah makna haji.

Cantik, Adiksi, dan Cinta

[ditulis 28 Agt 2012]

#Cantik

Belum hari ahad, tapi ada sesuatu yang ingin ditulis, ya sudah ditulis saja sekarang.Apalagi ahad depan dan depannya lagi mau mudik dan gak sempat posting kayaknya.

Begini, barusan saya mendapati seorang fecebooker cantik (saya tidak kenal, hanya kebetulan ‘nemu’ FB-nya).

Si cantik ini berkali-kali menulis status yang sedih, mengeluhkan kekasihnya yang sepertinya tidak mencintainya sepenuh hati.

Saya menatap wajahnya agak lama. Sungguh, cantik banget. Ironis sekali, gadis secantik dia harus mengalami rasa dicampakkan seperti itu.

Duh, betapa jauh di lubuk hati, saya sering lho, mengeluh, pengen punya penampilan cantik (kekanak-kanakan banget ya, hehe). Untungnya saya tidak terjerumus propaganda industri kecantikan, sehingga tidak habis-habisan dandan atau mempermak penampilan. Yah..hanya sebatas mengeluh, ‘seandainya aku secantik dia..’

Tapi membaca status si cantik itu, saya jadi mikir lagi. Apa karena cantik, makanya dia banyak yang mau dan akhirnya dia jatuh cinta pada seseorang yang ternyata gak baik? Sebaliknya, yang enggak cantik (kayak saya, hehe), yang mau juga sedikit dan yang mau itu nggak menjadikan kecantikan sebagai standar untuk memilih istri; jadi lebih tulus.

Ah, entahlah. Yang jelas, saya sangat bersimpati pada si cantik itu dan mendoakan agar dia menemukan lelaki yang baik dan menghormatinya, lalu menikahinya.

#Adiksi
Kemarin saya silaturahmi ke sebuah LSM yang menangani korban narkoba dan HIV/AIDS. Di LSM inilah saya dulu melakukan penelitian untuk tesis saya.

Saya ngobrol lama dengan konselornya (penasehat spritual). Sebenarnya saya sekaligus curhat sama beliau, tapi tersamar, hehe.. Beliau bicara tentang banyak hal yang menyejukkan hati. Dan ya, ada bagian penjelasannya yang mengena ke saya dan berhasil membuat saya menitikkan air mata.

Yang perlu saya catat di sini: adiksi itu tidak cuma narkoba, tapi bisa saja adiksi terhadap harta benda, nafsu syahwat, kekuasaan, dan..apa lagi ya, makanan gitu? lupa, pokoknya ada 5. Jadi, meski bebas narkoba, kita pun sangat mungkin punya adiksi yang lain.

Nah, untuk menghilangkan adiksi itu, kita perlu menghilangkan ‘suara-suara’ di otak kita yang menyeret kita ke arah adiksi itu (misalnya, pecandu narkoba yang sudah berhenti mengkonsumsi narkoba, selalu saja muncul dorongan-dorongan untuk kembali mencicipi narkoba, di otaknya muncul ‘suara-suara’ yang menariknya kembali pada narkoba, sehingga dia terbayang-bayang lagi pada nikmatnya narkoba).

Cara menghilangkan ‘suara-suara’ adiksi itu, ya dengan memfokuskan pikiran untuk mendengarkan ‘suara-suara’ lain yang lebih baik: suara ajakan untuk mengabdikan diri pada kebaikan, suara ayat-ayat Allah, suara kecintaan kepada Allah dan Rasulnya, dll.

Ehm, jatuh cinta itu juga adiksi lho… Makanya ada yang ‘sengsara’ karena cinta yang tak sampai, karena ada rindu yang terasa sakit. Nah, untuk menyembuhkan diri dari ‘cinta yang salah’, kayaknya resep adiksi di atas bisa juga tuh dipakai.

#Cinta
Masih cerita dari LSM itu. Salah satu aktivisnya, seorang mantan pecandu yang kini mengabdikan dirinya untuk kegiatan-kegiatan kemanusiaan, menolong para korban narkoba dan HIV/AIDS, baru-baru ini melamar seorang gadis cantik, aktivis asal AS. Saya melihat di youtube, rekaman aktivitas gadis cantik itu selama ini di AS, dan terperangah. Dia tidak cuma cantik, tapi juga pintar dan sangat humanis. Cantiknya pun so… lovely, memunculkan rasa sayang saat menatapnya. Mungkin karena hatinya juga dipenuhi rasa kasih sayang pada sesama.

Dan, cara lamarannya pun luar biasa romantis. Saya spontan berkata, “Duh, jadi iri. Romantisnya TOP!”  Si aktivis ini tertawa terbahak, “Hahaha..berandalan romantis ya!”

Ah tidak, dia tidak  berandalan. Dia salah satu narasumber tesis saja, sangat intelek dan cerdas. Aktivis tangguh dan sudah mengunjungi banyak negara terkait aktivitas penanggulangan HIV/AIDS.
Memang badannya bertato, sisa-sisa ‘kesalahan’-nya di masa lalu. Tapi dia menemukan pencerahan, bertobat, dan kini memberikan cahaya pada banyak orang yang terjebak dalam kegelapan narkoba dan HIV/AIDS.

Cara melamarnya gimana coba? (Saya melihatnya dari foto-fotonya). Jadi, si aktivis ini menyablon 14 kaos hitam, masing-masing dengan sebuah huruf berwarna putih. Masing-masing kaos dipakai oleh teman-temannya, yang kemudian berdiri berjajar di lapangan sepakbola, sehingga terbacalah kalimat ini: W-I-L-L Y-O-U M-A-R-R-Y M-E.

Oh, so sweet…

Kedua sejoli ini berasal dari dua benua yang berbeda, ras berbeda, agama berbeda, dan dipertemukan dalam aktivitas yang dilandasi pada cinta kemanusiaan.
Entahlah, apa akhirnya nanti si gadis menerima lamaran itu.
Saya mendoakan yang terbaik saja buat mereka.

Catatan Ahad Pagi #72: Siapa yang Harus Masak?

[ditulis: 25 Agustus 2012]

Ini soal peran-fungsi dalam keluarga. Sebenarnya siapa sih yang harus memasak di rumah? Yang membersihkan rumah? Yang mencuci piring? Istri, atau suami, atau ambil jalan tengah: pembantu?

Kalau di keluarga kami, masalah ini tidak jadi perdebatan. Sebabnya, karena saya dan suami setuju dengan pendapat (sebagian) ulama bahwa tugas/kewajiban istri hanya dua: melayani kebutuhan biologis suami dan minta izin suami kalau keluar rumah. Lha…kerjaan lainnya, tugas siapa dooong..?

Ntar ya, jawabannya belakangan. Sekarang cerita soal Reza dulu. Masih soal homeschooling. Seperti saya ceritakan sebelumnya, pelajaran favorit Reza itu cooking day. Padahal sudah ada jadwalnya, cooking day itu hari-hari tertentu saja. Tapi lama-lama, ya hampir tiap hari, karena anaknya demen.

Pernah seharian, yang dilakukan Reza dalam kegiatan homeschooling-nya adalah cooking day, mulai dari masak-masakan pake kertas (bikin sosis, roti buaya, dan sop dari kertas yang digunting-gunting) dan berpura-pura jadi koki restoran yang melayani  pesanan pelanggan (pelanggannya: mama dan papa), sampai masak beneran. Dan, hampir setiap hari dia mencari ide buat cooking day. Sampai-sampai, suatu hari Reza minta beli mainan. Pulang dari toko mainan, si Akang berkata lega, “Untung yang dibeli mainan perkakas tukang,  bukan mainan masak-masakan.”  Hahaha… Padahal, kan Reza emang udah punya mainan  masak-masakan! 🙂

Lebih ‘parah’ lagi, buku utama yang saya pakai untuk belajar bersama Reza justru mendorong berkembangnya isu cooking day ini (halah, bahasanya!).  Buku tsb adalah ‘Kumpulan Cerita Sains untuk Anak’ (terbitan BIP).

Buku ini keren banget, baik dari sisi ceritanya, maupun gambarnya. Di setiap akhir pembahasan selalu ada kegiatan ‘cooking day’-nya. Misalnya, saat menerangkan perubahan wujud  benda, cerita yang disampaikan adalah tentang ibu landak yang membuat donat dari tepung (tepung bisa berubah wujud menjadi berbagai jenis makanan). Lalu, di akhir bab itu, ada aktivitas membuat nasi kepal (daging dan wortel dipotong kecil-kecil, lalu dicampur dengan nasi, lalu dibulat-bulatin; salah satu cara mengubah wujud benda adalah dengan mengubah ukurannya).

Ini nih, nasi kepalnya…hm..enak lho… (tapi dikasih bumbu agak beda dari resep yang di buku):

Nah, saya dan si Akang saling ‘menyalahkan’ (tapi bercanda kok, ga pake marahan)
“Wah, kok Reza sukanya masak melulu ya?” kata saya.
“Ya iyalah, yang diliat papanya sih!” jawab suami saya dengan nada mengomel, tapi sambil senyum.

Hahaha, inilah yang saya ceritakan di awal, soal peran-fungsi dalam keluarga. Di keluarga kami, siapa saja yang sempat, ya dialah yang memasak. Hari-hari sibuk, kami menggunakan jasa katering. Tapi saat ibu katering cuti, ya terpaksa masak, atau makan di luar. Alhamdulillah-nya, si Akang dibesarkan ibunya dengan tanpa membeda-bedakan gender untuk urusan kerjaan rumah tangga. Semua bisa masak dan beres-beres rumah, baik anak laki-laki maupun perempuan.  Jadi, si Akang memang tak canggung sama sekali ketika harus masak. Dan (nakalnya) saya, yang emang dasarnya kurang suka masak, ‘memanfaatkan’ situasi ini. Seringkali saya hanya menyediakan bahan-bahannya (memotong2 bahan, mencuci,dll), lalu eksekusinya, dilakukan si Akang, karena hasilnya pasti jauh lebih lezat. Dan saya juga suka merayu, “Mama kalau lagi di dapur lebih suka ditemani Papa…” (hahaha, padahal, maksudnyaaa…)

Cuma, yang jadi kekhawatiran saya dan si Akang, bagaimana kalau kondisi ini kelak tidak teraplikasikan di keluarga anak-anak kami ya? Kalau Reza, kayaknya ga ada masalah kali ya. Yang jadi istrinya Reza kelak seneng-seneng aja kali ya, hahaha. Tapi saya tetap berdoa, supaya istri Reza kelak enggak kayak saya, tapi jauh lebih suka dan pinter memasak 🙂

Tapi Kirana? Hm… Sering terjadi, saya, si Akang, dan Reza sibuk di dapur, Kirana malah sibuk baca buku atau buka laptopnya. Dan akhirnya, saya disindir lagi deh, “Like mother, like daughter!”  Lha iya kalau Kirana untung kelak dapat suami yang dibesarkan dalam keluarga yang egaliter. Kalau suaminya kelak ternyata berprinsip semua urusan domestik harus di tangan istri, kan gawat? Untuk mengantisipasinya, saya berusaha mendorong Kirana untuk terlibat di dapur juga. Tapi tetap saja, dia tidak seantusias Reza, meskipun antusiasmenya lebih lumayan dibanding saya 😀

Anyway, balik lagi ke pertanyaan semula: sebenarnya siapa sih yang harus memasak di rumah? Yang membersihkan rumah? Yang cuci piring?

Saya lebih memilih menjawab: semua itu harus ditetapkan melalui kesepakatan bersama antara suami-istri. Karena, pernikahan memang bukan cuma urusan fiqih belaka, melainkan ada cinta dan akhlak di dalamnya. Ya nggak? Huhuy…:p

Ketika tugas-tugas domestik dibagi berdasarkan kesepakatan, insya Allah semua pekerjaan akan dilakukan senang hati. Ga akan ada lagi tuh, omelan khas ibu-ibu, “Duh,  berasa jadi upik abu deh gw!”  🙂

Catatan Ahad Pagi #71: Klepon Batu

[ditulis: 11 Agustus 2012]

Sejak Reza lulus TK (yang mana TK-nya juga saya sendiri yang mendirikan dan saya yang mengonsep kurikulumnya), dia memilih “sekolah di rumah sama Ummi” (Reza sekarang lagi demen manggil saya Ummi, setelah sebelumnya gonta-ganti: bunda, mama, mami).  Dia terinspirasi sama Lukman, temennya, yang juga homeschooling.

Saya sebenarnya agak ragu.  Yah, banyak deh alasannya, kepanjangan kalau dibahas di sini. Tapi secara umum saya suka dengan konsep homeschooling itu sendiri . Jadi, saya ambil posisi moderat saja. Toh Reza masih 6 tahun. Bisa saja, bila tahun depan dia memilih masuk SD (atau saya yang tidak sanggup jadi gurunya Reza), saya akan berusaha mencari SD yang baik untuknya.

Jadilah, sejak dua bulan terakhir, saya melakukan berbagai kegiatan belajar di rumah bersama Reza. Pelajaran favorit Reza adalah..hohoho.. cooking day! Parahnya, saya tidak menyukai acara memasak. Tapi demi Reza, ya saya lakukan saja. Melalui kegiatan memasak, kita bisa mengenalkan banyak hal kepada anak-anak, mulai dari matematika (hitungan berat bahan, misalnya), sampai ke biologi (misalnya, bagaimana tepung dihasilkan) atau kimia (contoh, bagaimana efek ragi terhadap tepung).

Sayangnya, cooking day terakhir menjadi bad day,  hiks.. Setelah bikin donat dari terigu (yang alhamdulillah sukses), kemarin itu saya ingin mengenalkan masakan dari tepung beras. Setelah browsing, saya nemu resep klepon dari tepung beras. Sungguh, ini resep dari tabloid terkenal, dengan mencantumkan nama chef-nya segala. Masak sih, resepnya bisa gagal, ya kan?

Dengan penuh keyakinan, saya berdua Reza mengolah bahan-bahan. Bagian terberat adalah menyediakan kelapa parut. Karena perlu kelapa parut yang putih, kan ga bisa beli di warung. Jadi saya untuk pertama kalinya dalam hidup, beli sebutir kelapa  utuh yang udah dikupas batoknya.

Lalu, saya beli parutan kelapa seharga Rp3500 (tampangnya menyedihkan, kata penjualnya  ‘ini mah buat sekali pake bu’. Saya tetap beli karena yakin emang mau sekali ini aja marut kelapa). Saya memarutnya dengan penuh perjuangan, sampai tangan saya tergores beberapa kali, hiks.

Setelah waktu berbuka tiba…tralaaa… klepon pun siap disantap. Oh lala.. ternyata keraaass!! Hwaaa… sedihnya… Lalu saya browsing lagi, mencari penyebab kenapa kok si klepon ini bisa keras. Ternyata di resep-resep lain, klepon itu dibuat dari tepung ketan atau campuran tepung beras dan tepung ketan. Huh, kok resep dari tabloid terkenal itu bisa salah ya???

Tentu saja, saya tetap menyisakan kemungkinan, siapa tau saya yang salah… meski saya merasa sudah mengikuti apa yang tertulis di resep dengan baik. Coba, ibu-ibu yang pinter masak, menganalisis resep berikut ini. Saya tidak pakai cairan daun suji, tapi diganti pakai air+pewarna makanan warna hijau.

BAHAN:
•    300 gr tepung beras
•    250 ml air daun suji (dari 15 lembar daun suji, 5 lembar daun pandan, dan 300 ml air)
•    1 sendok teh air kapur sirih
•    100 gr gula merah
•    1/2 butir kelapa setengah tua, parut memanjang
•    1/2 sendok teh garam
CARA MEMBUAT:
1.    Kukus kelapa dan garam selama 15 menit, angkat dan sisihkan.
2.    Aduk tepung beras, air daun suji, air kapur sirih, dan ¼ sendok teh garam. Uleni adonan hingga kalis dan tidak lengket di tangan. Ambil sedikit adonan, isi dengan irisan gula merah, bulatkan kembali.
3.    Rebus 1 liter air sampai mendidih, masukkan bulatan adonan (klepon), masak hingga terapung dan matang. Angkat dan tiriskan.
4.    Gulingkan klepon di atas kelapa kukus hingga rata. Sajikan.

Anyway, ini jadi pengalaman pahit deh.  Lain kali, jangan percaya sama satu resep, banding-bandingkan dulu dengan resep yang lain.

Untungnya, Reza tidak terlalu kecewa (dia sih asyik  banget membulat-bulatkan adonan tepung dan mengisinya dengan gula merah). Melihat semangat Reza, Ummi juga tetap akan bersemangat meneruskan program cooking day deh. Next, kita bikin kue lebaran ya, biar Reza senang mencetak adonan dalam berbagai bentuk 🙂

*siap-siap browsing resep dengan lebih waspada*