Cantik, Adiksi, dan Cinta

[ditulis 28 Agt 2012]

#Cantik

Belum hari ahad, tapi ada sesuatu yang ingin ditulis, ya sudah ditulis saja sekarang.Apalagi ahad depan dan depannya lagi mau mudik dan gak sempat posting kayaknya.

Begini, barusan saya mendapati seorang fecebooker cantik (saya tidak kenal, hanya kebetulan ‘nemu’ FB-nya).

Si cantik ini berkali-kali menulis status yang sedih, mengeluhkan kekasihnya yang sepertinya tidak mencintainya sepenuh hati.

Saya menatap wajahnya agak lama. Sungguh, cantik banget. Ironis sekali, gadis secantik dia harus mengalami rasa dicampakkan seperti itu.

Duh, betapa jauh di lubuk hati, saya sering lho, mengeluh, pengen punya penampilan cantik (kekanak-kanakan banget ya, hehe). Untungnya saya tidak terjerumus propaganda industri kecantikan, sehingga tidak habis-habisan dandan atau mempermak penampilan. Yah..hanya sebatas mengeluh, ‘seandainya aku secantik dia..’

Tapi membaca status si cantik itu, saya jadi mikir lagi. Apa karena cantik, makanya dia banyak yang mau dan akhirnya dia jatuh cinta pada seseorang yang ternyata gak baik? Sebaliknya, yang enggak cantik (kayak saya, hehe), yang mau juga sedikit dan yang mau itu nggak menjadikan kecantikan sebagai standar untuk memilih istri; jadi lebih tulus.

Ah, entahlah. Yang jelas, saya sangat bersimpati pada si cantik itu dan mendoakan agar dia menemukan lelaki yang baik dan menghormatinya, lalu menikahinya.

#Adiksi
Kemarin saya silaturahmi ke sebuah LSM yang menangani korban narkoba dan HIV/AIDS. Di LSM inilah saya dulu melakukan penelitian untuk tesis saya.

Saya ngobrol lama dengan konselornya (penasehat spritual). Sebenarnya saya sekaligus curhat sama beliau, tapi tersamar, hehe.. Beliau bicara tentang banyak hal yang menyejukkan hati. Dan ya, ada bagian penjelasannya yang mengena ke saya dan berhasil membuat saya menitikkan air mata.

Yang perlu saya catat di sini: adiksi itu tidak cuma narkoba, tapi bisa saja adiksi terhadap harta benda, nafsu syahwat, kekuasaan, dan..apa lagi ya, makanan gitu? lupa, pokoknya ada 5. Jadi, meski bebas narkoba, kita pun sangat mungkin punya adiksi yang lain.

Nah, untuk menghilangkan adiksi itu, kita perlu menghilangkan ‘suara-suara’ di otak kita yang menyeret kita ke arah adiksi itu (misalnya, pecandu narkoba yang sudah berhenti mengkonsumsi narkoba, selalu saja muncul dorongan-dorongan untuk kembali mencicipi narkoba, di otaknya muncul ‘suara-suara’ yang menariknya kembali pada narkoba, sehingga dia terbayang-bayang lagi pada nikmatnya narkoba).

Cara menghilangkan ‘suara-suara’ adiksi itu, ya dengan memfokuskan pikiran untuk mendengarkan ‘suara-suara’ lain yang lebih baik: suara ajakan untuk mengabdikan diri pada kebaikan, suara ayat-ayat Allah, suara kecintaan kepada Allah dan Rasulnya, dll.

Ehm, jatuh cinta itu juga adiksi lho… Makanya ada yang ‘sengsara’ karena cinta yang tak sampai, karena ada rindu yang terasa sakit. Nah, untuk menyembuhkan diri dari ‘cinta yang salah’, kayaknya resep adiksi di atas bisa juga tuh dipakai.

#Cinta
Masih cerita dari LSM itu. Salah satu aktivisnya, seorang mantan pecandu yang kini mengabdikan dirinya untuk kegiatan-kegiatan kemanusiaan, menolong para korban narkoba dan HIV/AIDS, baru-baru ini melamar seorang gadis cantik, aktivis asal AS. Saya melihat di youtube, rekaman aktivitas gadis cantik itu selama ini di AS, dan terperangah. Dia tidak cuma cantik, tapi juga pintar dan sangat humanis. Cantiknya pun so… lovely, memunculkan rasa sayang saat menatapnya. Mungkin karena hatinya juga dipenuhi rasa kasih sayang pada sesama.

Dan, cara lamarannya pun luar biasa romantis. Saya spontan berkata, “Duh, jadi iri. Romantisnya TOP!”  Si aktivis ini tertawa terbahak, “Hahaha..berandalan romantis ya!”

Ah tidak, dia tidak  berandalan. Dia salah satu narasumber tesis saja, sangat intelek dan cerdas. Aktivis tangguh dan sudah mengunjungi banyak negara terkait aktivitas penanggulangan HIV/AIDS.
Memang badannya bertato, sisa-sisa ‘kesalahan’-nya di masa lalu. Tapi dia menemukan pencerahan, bertobat, dan kini memberikan cahaya pada banyak orang yang terjebak dalam kegelapan narkoba dan HIV/AIDS.

Cara melamarnya gimana coba? (Saya melihatnya dari foto-fotonya). Jadi, si aktivis ini menyablon 14 kaos hitam, masing-masing dengan sebuah huruf berwarna putih. Masing-masing kaos dipakai oleh teman-temannya, yang kemudian berdiri berjajar di lapangan sepakbola, sehingga terbacalah kalimat ini: W-I-L-L Y-O-U M-A-R-R-Y M-E.

Oh, so sweet…

Kedua sejoli ini berasal dari dua benua yang berbeda, ras berbeda, agama berbeda, dan dipertemukan dalam aktivitas yang dilandasi pada cinta kemanusiaan.
Entahlah, apa akhirnya nanti si gadis menerima lamaran itu.
Saya mendoakan yang terbaik saja buat mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s