Catatan Ahad Pagi #72: Siapa yang Harus Masak?

[ditulis: 25 Agustus 2012]

Ini soal peran-fungsi dalam keluarga. Sebenarnya siapa sih yang harus memasak di rumah? Yang membersihkan rumah? Yang mencuci piring? Istri, atau suami, atau ambil jalan tengah: pembantu?

Kalau di keluarga kami, masalah ini tidak jadi perdebatan. Sebabnya, karena saya dan suami setuju dengan pendapat (sebagian) ulama bahwa tugas/kewajiban istri hanya dua: melayani kebutuhan biologis suami dan minta izin suami kalau keluar rumah. Lha…kerjaan lainnya, tugas siapa dooong..?

Ntar ya, jawabannya belakangan. Sekarang cerita soal Reza dulu. Masih soal homeschooling. Seperti saya ceritakan sebelumnya, pelajaran favorit Reza itu cooking day. Padahal sudah ada jadwalnya, cooking day itu hari-hari tertentu saja. Tapi lama-lama, ya hampir tiap hari, karena anaknya demen.

Pernah seharian, yang dilakukan Reza dalam kegiatan homeschooling-nya adalah cooking day, mulai dari masak-masakan pake kertas (bikin sosis, roti buaya, dan sop dari kertas yang digunting-gunting) dan berpura-pura jadi koki restoran yang melayani  pesanan pelanggan (pelanggannya: mama dan papa), sampai masak beneran. Dan, hampir setiap hari dia mencari ide buat cooking day. Sampai-sampai, suatu hari Reza minta beli mainan. Pulang dari toko mainan, si Akang berkata lega, “Untung yang dibeli mainan perkakas tukang,  bukan mainan masak-masakan.”  Hahaha… Padahal, kan Reza emang udah punya mainan  masak-masakan! 🙂

Lebih ‘parah’ lagi, buku utama yang saya pakai untuk belajar bersama Reza justru mendorong berkembangnya isu cooking day ini (halah, bahasanya!).  Buku tsb adalah ‘Kumpulan Cerita Sains untuk Anak’ (terbitan BIP).

Buku ini keren banget, baik dari sisi ceritanya, maupun gambarnya. Di setiap akhir pembahasan selalu ada kegiatan ‘cooking day’-nya. Misalnya, saat menerangkan perubahan wujud  benda, cerita yang disampaikan adalah tentang ibu landak yang membuat donat dari tepung (tepung bisa berubah wujud menjadi berbagai jenis makanan). Lalu, di akhir bab itu, ada aktivitas membuat nasi kepal (daging dan wortel dipotong kecil-kecil, lalu dicampur dengan nasi, lalu dibulat-bulatin; salah satu cara mengubah wujud benda adalah dengan mengubah ukurannya).

Ini nih, nasi kepalnya…hm..enak lho… (tapi dikasih bumbu agak beda dari resep yang di buku):

Nah, saya dan si Akang saling ‘menyalahkan’ (tapi bercanda kok, ga pake marahan)
“Wah, kok Reza sukanya masak melulu ya?” kata saya.
“Ya iyalah, yang diliat papanya sih!” jawab suami saya dengan nada mengomel, tapi sambil senyum.

Hahaha, inilah yang saya ceritakan di awal, soal peran-fungsi dalam keluarga. Di keluarga kami, siapa saja yang sempat, ya dialah yang memasak. Hari-hari sibuk, kami menggunakan jasa katering. Tapi saat ibu katering cuti, ya terpaksa masak, atau makan di luar. Alhamdulillah-nya, si Akang dibesarkan ibunya dengan tanpa membeda-bedakan gender untuk urusan kerjaan rumah tangga. Semua bisa masak dan beres-beres rumah, baik anak laki-laki maupun perempuan.  Jadi, si Akang memang tak canggung sama sekali ketika harus masak. Dan (nakalnya) saya, yang emang dasarnya kurang suka masak, ‘memanfaatkan’ situasi ini. Seringkali saya hanya menyediakan bahan-bahannya (memotong2 bahan, mencuci,dll), lalu eksekusinya, dilakukan si Akang, karena hasilnya pasti jauh lebih lezat. Dan saya juga suka merayu, “Mama kalau lagi di dapur lebih suka ditemani Papa…” (hahaha, padahal, maksudnyaaa…)

Cuma, yang jadi kekhawatiran saya dan si Akang, bagaimana kalau kondisi ini kelak tidak teraplikasikan di keluarga anak-anak kami ya? Kalau Reza, kayaknya ga ada masalah kali ya. Yang jadi istrinya Reza kelak seneng-seneng aja kali ya, hahaha. Tapi saya tetap berdoa, supaya istri Reza kelak enggak kayak saya, tapi jauh lebih suka dan pinter memasak 🙂

Tapi Kirana? Hm… Sering terjadi, saya, si Akang, dan Reza sibuk di dapur, Kirana malah sibuk baca buku atau buka laptopnya. Dan akhirnya, saya disindir lagi deh, “Like mother, like daughter!”  Lha iya kalau Kirana untung kelak dapat suami yang dibesarkan dalam keluarga yang egaliter. Kalau suaminya kelak ternyata berprinsip semua urusan domestik harus di tangan istri, kan gawat? Untuk mengantisipasinya, saya berusaha mendorong Kirana untuk terlibat di dapur juga. Tapi tetap saja, dia tidak seantusias Reza, meskipun antusiasmenya lebih lumayan dibanding saya 😀

Anyway, balik lagi ke pertanyaan semula: sebenarnya siapa sih yang harus memasak di rumah? Yang membersihkan rumah? Yang cuci piring?

Saya lebih memilih menjawab: semua itu harus ditetapkan melalui kesepakatan bersama antara suami-istri. Karena, pernikahan memang bukan cuma urusan fiqih belaka, melainkan ada cinta dan akhlak di dalamnya. Ya nggak? Huhuy…:p

Ketika tugas-tugas domestik dibagi berdasarkan kesepakatan, insya Allah semua pekerjaan akan dilakukan senang hati. Ga akan ada lagi tuh, omelan khas ibu-ibu, “Duh,  berasa jadi upik abu deh gw!”  🙂

Advertisements

2 thoughts on “Catatan Ahad Pagi #72: Siapa yang Harus Masak?

  1. Salam,
    bunda terima kasih sudah menyajikan cerita-cerita yang menarik terutama tentang parenting dan homescholling. Postingan bunda dari tahun 2005 dan sekarang sudah di tahun 2012 saya baca semua hehehehe. Setelah baca tulisan bunda jadi pengen cepat-cepat nikah dan punya anak. Melihat kondisi pendidikan Indonesia sekarang saya juga berencana nanti anaknya homeschooling hehehe, tapi saya sadar banget bunda, saya belum punya ilmu banyak dan butuh persiapan banyak, boleh kah saya minta rekomendasi bacaan yang bagus untuk dibaca dan dipelajari, kalau bunda berkenan bisa berbagi kurikulum homeschoolingnya. Bunda saya berharap sekali suatu saat nanti bunda nulis buku tentang homeschooling adek Kirana dan Reza. Bunda ini email saya atika.dm@gmail.com. Makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s