Haji #1 : Keikhlasan

Mulai hari ini saya akan konsentrasi menulis seputar haji. Kami sudah mendaftar haji, dan dapat ‘giliran’ tahun 2019. Lama sekali! Tapi, kata teman saya, sering terjadi, masa menanti perlu tidak selama itu, selalu saja ada keajaiban yang diberikan Allah kepada hamba-Nya…

Mumpung masih ada waktu, saya merasa perlu melakukan banyak perbaikan ruhani. Banyak penyakit hati yang benar-benar harus disembuhkan. Dan menulis, adalah salah satu upaya saya untuk menerapi diri sendiri. Semoga kelak ketika tiba waktunya berangkat haji, saya sudah berubah menjadi pribadi yang ikhlas…

Tulisan pertama ini, copas dari Republika. Saya masih belum bisa merenung dan merefleksikan apa-apa… baru bisa merasakan bahwa memang masih sedikit bekal yang saya siapkan…

Menata Keikhlasan Menjelang Berhaji [Damanhuri Zuhri]

Menurut Ustaz Qosim Sholeh, ibadah haji  tak hanya membutuhkan persiapan fisik dan finansial serta ilmu manasik saja.

‘’Tetapi lebih dari itu, sangat membutuhkan persiapan hati, iman dan takwa,’’ tutur Ustaz Qosim. Untuk itu, kata dia, calon jamaah haji, sangat penting untuk mengendalikan dan mengelola gejolak emosi yang setiap saat bisa menghantui dan mendominasi perasaannya. Kata dia, padatnya manusia di padang Arafah, akan menciptakan suasana yang tak normal.

Zaim Said, direktur Wakalah Induk Nusantara, menuturkan, ibadah haji memang menjadi impian setiap Muslim. Menurutnya, yang mesti dipahami bahwa ibadah haji merupakan perjalanan spiritual, tapi diejawantahkan dalam perjalanan fisik. Ia mengatakan, setiap calon jamaah harus menyadari bahwa dalam perjalanan itu ada syariat dan hakikat.

Syariatnya, papar dia,  perjalanan fisik itu harus ditempuh dengan cara tertentu dan ritual tertentu. Menurutnya, ibadah haji adalah puncak dari perjalanan spiritual yang diwujudkan secara fisik. ‘’Harus dipahami perjalanan ibadah haji bukanlah suatu perjalanan yang mudah. Jangan orang berpikir, naik haji itu mau nyaman, mau santai dan mau piknik. Sebab,  perjalanan haji  bukanlah piknik dan bukan pula turisme,’’ ujarnya menegaskan.

Zaim menuturkan,  jika hal itu disadari oleh setiap calon jamaah, maka mereka harus mempersiapkan diri secara fisik maupun mental dan spiritual. Sehingga, setiap Muslim yang akan naik haji bisa menghayati makna rukun Islam kelima itu.

Menurutnya, memiliki uang saja tak cukup untuk menunaikan ibadah haji. ‘’Karena kalau cuma punya uang, orang bisa berkali-kali pergi haji. Tapi yang harus dipahami, bukan karena dia punya uang lantas setiap tahun dia bisa berangkat naik haji, bukan itu,’’ Zaim mengingatkan.

Ustaz Qosim menambahkan, pada saat menunaikan ibadah haji akan terjadi gesekan-gesekan fisik yang berimplikasi pada timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi ketika sedang berada di Arafah,  fasilitas yang tersedia amat terbatas dan bahkan bisa dikatakan tak layak. Jumlah toilet dengan jamaah pun tak sebanding.

‘’Karena tempat terbatas, maka akan timbul gesekan-gesekan, antre panjang, sehingga bisa menonjolkan egosentris dan kepentingan pribadi masing-masing,’’ papar Ustaz Qosim.  Di sinilah, jamaah haji perlu  menanamkan nilai-nilai kesabaran yang tinggi.

Seorang jamaah haji dituntut memiliki keluhuran moral, kesantunan berbicara dan kearifan bertindak. Semua itu, tutur Ustaz Qasim,  adalah akumulasi dari perintah Allah SWT dalam Alquran. Menurutnya, kemampuan untuk mengendalikan diri, memenej yang ada dalam diri merupakan keharusan yang harus dilakoni dan dilaksanakan oleh semua calon tamu Allah SWT.

Setiap jamaah haji  merupakan delegasi resmi dan duta-duta Allah yang  seharusnya mengerti dan memahami seluk beluk protokoler ke-Ilahian. Apa saja protokoler-protokoler ke-Ilahian itu?  ‘’Seperti yang saya katakan tadi, dalam Alquran juga dijelaskan, ‘musim-musim haji telah ditentukan waktunya barangsiapa berniat untuk melaksanakan ibadah haji.’’

Untuk menjadi delegasi resmi tamu Allah SWT, papar Ustaz Qosim, seorang calon jamaah  harus mengindahkan larangan-larangan inti dan pokok yaitu; pertama,  tidak boleh berucap hal-hal yang akan membuat dorongan biologis bisa bangkit. Kedua, tak boleh berperilaku yang bisa menyebabkan orang lain bisa terpancing.

Ketiga, jangan berdebat kusir, sehingga dapat menyebabkan hal-hal yang sepele bisa menjadi besar, dan hal-hal yang substansial bisa disepelekan.

”Inilah ritual haji yang setiap calon jamaah haji perlu mengerti,  memahami serta menjiwai. Sehingga, sebagai duta-duta resmi Allah, kita  bisa melaksanakan apa yang diinginkan oleh Sang Khalik. Nah, untuk itu diperlukan persipan fisik, materi dan yang lebih penting lagi persiapan immaterial,’’ papar kandidat doctor dari salahsatu universitas di Malaysia itu.

Rasulullah SAW pun telah meminta umatnya agar mencontoh cara berhaji yang pernah dilakukannya.  Menurut Ustaz Qosim, ibadah haji yang dilakukan Rasulullah bukan sekadar ibadah mahdhah, bukan sebagai ritual yang diwajibkan kepada mereka yang mampu secara fisik dan ekonomi.

‘’Tapi jauh dari itu,  pelaksanaan ibadah haji lebih menekankan pada nilai-nilai pascaibadah haji,’’ ujar Ustaz Qosim. Setelah pulang dari haji, semestinya seorang Muslim bisa steril dari hal-hal yang tidak diinginkan oleh Allah SWT. Lebih dermawan, serta makin peduli pada sesama dan lingkungan. Inilah makna haji.

Advertisements

3 thoughts on “Haji #1 : Keikhlasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s