Haji #3: Raw Juice

Tanggal 15 Oktober lalu saya mengantar adik saya Rika, yang masih single, ke asrama haji Cianjur. Adik saya ini memang belum bertemu dengan jodohnya, tetapi syukurlah dia tetap ceria dan bersemangat melakukan banyak hal. Sejak beberapa tahun yang lalu ia mulai menabung untuk haji, dan menurutnya, setelah buka tabungan haji, selalu saja dia mampu menyisihkan uang untuk mengisi tabungan. Padahal biasanya, gaji PNS-nya habis begitu saja setiap bulan. Hanya dua tahun setelah tabungan ONH-nya memenuhi syarat minimum, eh, sudah terpanggil untuk bergabung dalam jamaah haji Indonesia 2012, subhanallah. Mudah-mudahan doanya di Padang Arafah terkabul dan Allah segera mempertemukannya dengan jodohnya, amiiin..

Singkat cerita, saya dan ibu saya mengantar Rika masuk asrama haji. Turun dari mobil, saya menenteng tas tangan (yang dikasih oleh maskapai, semua jamaah haji hanya boleh membawa tas itu, supaya seragam). Ya ampun, hanya berjalan beberapa meter saja, belum sampai ke gerbang, saya sudah ngos-ngosan. Padahal saya tahu isi tas itu, hanya beberapa lembar baju, termasuk baju ihram. Cuaca terasa panas, membuat saya mulai stress, memikirkan apa yang akan terjadi kalau saya naik haji kelak. Ibu saya cerita, di Mekah, semua koper ya kita sendiri yang bawa. Hiks, lha iya kalau suami saya ada bersama saya saat itu sehingga dia yang akan membantu saya membawa-bawa koper dan tas tangan. Tapi, umur manusia siapa yang bisa memastikan?

Tiba-tiba muncul kesadaran, betapa fisik saya sangat lemah. Dan memang, setiap kali kena panas terik, pulangnya saya langsung pusing.

Kesadaran ini mengendap diam-diam, dan hampir terlupakan. Tapi, itu ‘bersambung’ dengan kesadaran lain yang dengan rajin disebarluaskan teman-teman saya ex-MP-ers yang sekarang rajin update di FB, antara lain Imazahra, Yuni Khairun Nisa, mba Inci, dan Gita Lovusa. Mereka sering sekali posting soal raw juice dan manfaatnya.

Well, oke, saya setuju sekali dengan manfaat raw juice, dan bahkan jauuuuh…sebelum mereka saya pernah memulai program itu atas saran seorang dokter. Tapi, hanya bertahan sebentar. Saya bukan tipe orang yang suka berlama-lama mengurusi makanan. Bahkan untuk buah potong pun, saya lebih suka menunggu suami mengupaskan dan kami makan bersama-sama (meski menurut suami saya, ini bukan keromantisan, tapi bentuk kemalasan saya, saya tetap menganggapnya romatis, ini  bentuk rasa sayangnya pada saya, makanya mau ngupasin buah, bahkan kadang menyuapkan langsung ke mulut saya ketika saya asyik ngetik  :D).

Tapi, itulah, postingan demi postingan yang dengan penuh semangat dibuat oleh teman-teman saya itu, sedikit demi sedikit menggedor kesadaran saya. Hey! Wake up! Ini masalah penting, tidak sekedar hidup sehat, tidak sekedar membangun stamina. Saya pun mulai merenungkan. Bagi saya, membuat raw juice setiap hari berkaitan dengan hal-hal berikut:

1. Membangun kedisiplinan pribadi (saya cukup disiplin untuk beberapa hal, tapi sangat tidak disiplin untuk hal-hal lainnya, terutama terkait menjaga makanan). Saya baca di sebuah web, untuk membangun sebuah kebiasaan baru, kita perlu berjuang keras melakukan hal tersebut selama 3 bulan (ada yang bilang 40 hari), nah insya Allah selanjutnya, hal itu akan jadi kebiasaan. Tapi, konsistensi 40 hari-nya ini yang harus diperjuangkan dulu.

2. Amanah membesarkan anak (hwaa.. kembali terlintas kata-kata Neno Warisma di sebuah seminar parenting… jangan sampai suatu saat anak kita protes kepada Allah… seharusnya aku jadi profesor, tapi ibuku tidak memberiku makanan yang membuat sel otakku berkembang dengan baik!)

Saya sudah pernah ikut training ‘disiplin dengan kasih sayang’ bersama Bunda Rani Noeman. Hwaa… sedikit sekali kemajuan kami di rumah setelah mengikuti training itu. Sebab kegagalan utama, tentu saja, karena ortu yang belum berhasil mendisiplinkan diri.

Jadi, sepertinya, peningkatan stamina sehingga kelak ketika saya haji saya tidak ngos-ngosan dan drepotkan oleh masalah fisik, hanyalah bonus dari program raw juice. Ada hal-hal yang jauh lebih penting dan krusial.

Jadi, saya pun mencoba memulai lagi program raw juice ini.

Ternyata, memang tidak mudah. Ok, selama beberapa hari terakhir saya berhasil memaksa diri untuk ke warung pagi-pagi belanja sayur dan buah. Tapi, hasil juice-nya sama sekali tidak enak. Suami saya turun tangan, dan rasanya agak lumayan. Anak-anak mau meminumnya meski tidak menikmatinya. Ok, tak apa, ini toh baru permulaan, kata saya menenangkan diri.

Tapi hari ini, air mata saya luber. Juice-nya sama sekali nggak enak, menggumpal seperti bubur. Bahkan suami saya tidak mampu memperbaiki rasanya. Kenapa saya menangis? Ya karena bagi saya, pagi-pagi ke warung, belanja, mencuci, mengupas sayuran, dll itu BUKAN pekerjaan yang saya sukai! I hate them! Saya lebih suka duduk tenang pagi-pagi di depan laptop dan ibu katering akan datang sekitar jam 6.30 membawakan lauk-pauk untuk kami santap hari itu. Nasi, ya itu sih gampang, tinggal masukkan beras ke rice cooker.

Jadi, buat saya, membuat raw juice adalah benar-benar perjuangan. Ketika hasilnya menyedihkan begitu, saya benar-benar patah hati. Akhirnya, suami berusaha menganalisis dan kami berdiskusi soal ‘resep raw juice’. Saya browsing, baca-baca lagi postingan Ima, Yuni, Gita. Kesimpulannya, tidak bisa sembarangan mencampur buah dan sayur, harus ada teknik dan strateginya. Kesalahan saya hari ini adalah saya menggunakan pepaya yang masih agak mengkal, dan ada beberapa sayuran yang menurut intuisi suami saya, tidak  nyambung. Intuisi??? Jadi.. urusannya tidak sebatas belanja ke warung dan menyiangi sayuran!  Ini ada kaitannya dengan intuisi! Hwaa.. rasanya saya ingin menyerah!

Tapi saya tidak mau menyerah dan suami saya juga bersedia membantu. Dia pun menyusun ‘daftar menu’, dengan pertimbangan bahwa sayur dan buahnya ada di warung; proses membersihkannya tidak terlalu ribet; dan  saya tidak perlu ‘intuisi’, pokoknya campurkan saja sesuai yang ditulis suami saya.

Duh, sepertinya, memang banyak yang harus saya ‘bongkar’ di alam bawah sadar saya. Mengapa saya tidak suka aktivitas di dapur? Mengapa saya benci menyiangi sayur dan buah? Ah, banyak sekali yang harus saya perbaiki dari diri ini..:(

Tapi, Allah tidak pernah membiarkan kita menghadapi kesulitan tanpa mendatangkan kemudahan. Alhamdulillah, ada si akang yang bersedia membantu. Ya sudahlah, saya akan berusaha menjadikan ini sebagai jihad. Mungkin terdengar absurd, orang lain itu berjihad dengan hal-hal yang hebat, sementara jihad saya masih sebatas urusan menaklukkan diri sendiri, membuang kemalasan, dan menyembuhkan rasa benci saya pada aktivitas dapur. Apa boleh buat, saya harus mengakui bahwa kualitas diri saya emang masih sangat minim 😦

Advertisements

6 thoughts on “Haji #3: Raw Juice

  1. mb Dina….selama ini saya bikin campuran jus buah-sayur tanpa resep khusus. anak saya menganggap itu jamu yg emang harus diminum, seberapa ajaibnya rasanya, ya dia telan aja …hahahaha
    kalau gak gitu, anak2 sangat kurang asupan serat dan vitamin dari buah&sayur.

  2. Uniiii…. Semangat yaaa 🙂

    Seperti hadist yang pernah kubaca ( mudah2an gak salah ). Kalau kebaikan itu buahnya adalah kebaikan-kebaikan yang lain.

    Pertama-tama, aku cuma pengen nyoba rutin bikin Raw juice. Eh setelahnya jadi cari-cari ilmu terus dan bisa mengajak keluargaku untuk hidup sehat. Dan sekarang teman2ku di kantorpun mulai penasaran.

    Partner sekelasku uda mulai nyoba semalam dan mulai merasakan efek detoksnya.

    Lalu aku jadi semangat mempelajari kebiasaan makan Rasulullah dan secara perlahan berusaha menerapkannya.

    ***
    Kalau motivasi aku sederhana Uni. Aku ingin sehat dan menjadi muslimah yang kuat. Yang ketika saatnya menikah, dan akhirnya membesarkan anak. Aku ingin sehat dalam menikmatinya dan menunggunya. Aamiin

  3. Pingback: Wajah Segar | My daily life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s