Obat Minder

Terkadang saat membaca-baca tentang kehidupan orang lain yang hebat, atau menyaksikannya sendiri, terbersit rasa minder. Duh, orang lain itu kok hidupnya manfaat sekali. Duh, orang lain itu hidupnya ‘jauuuuh’ banget dari saya. Saya dimana…dia entah sudah kemana. Saya masih di sini-sini saja, mengurusi ‘hal-hal kecil’ melulu. Sementara orang lain sudah berkiprah sangat luas. Apalagi kalau denger kata-kata motivasi para motivator. Haduh…kayaknya saya jauh banget  dari kualitas ‘sukses’. Trus, kalau baca-baca kisah para sahabat Rasul. Anak-anak mereka, masih sangat muda sudah bisa jadi panglima pasukan; mereka memiliki tingkat kematangan emosi dan spiritual tinggi sehingga berani maju ke medan perang dalam usia sangat muda.

Lha saya..? Ah, sampai malu kalau harus menceritakan dengan detil betapa sedikitnya yang saya lakukan, pencapaian yang saya raih. Nulis nggak maksimal. Karir nggak punya. Mau membela diri dengan ‘keluarga’..ah, buktinya, saya ngurus anak juga nggak maksimal.

Tapi tiap saya nganterin anak saya les renang, saya membaca puisi berikut di dindingnya, dan itu membangkitkan semangat saya lagi…

 

kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di pundak bukit
jadilah belukar, tapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau.

kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
jadilah saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan.

kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
jadilah saja jalan kecil
tapi jalan setapak yang
membawa orang ke mata air

tidak semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya..

bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu
jadilah saja dirimu..

sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

 

Ya, memang rasanya saya jauh dari maksimal, tapi sepertinya standar ‘kemaksimalan’ itu yang perlu ditinjau ulang. Kalau saya memang baru bisa ngurusin yang ‘kecil-kecil’, ya yang inilah yang perlu dimaksimalkan, tanpa perlu minder melihat orang lain yang mampu mengurus hal yang ‘besar-besar’.

Semangat!

 

(NB: di dinding luar bangunan kolam renang itu, tertulis, ini karya Iwan Abdurahman, di tempat-tempat lain, sering disebut-sebut sebagai karya Taufiq Ismail, namun ini sebenarnya terjemahan dari puisi Douglas Malloch. Pak Iwan dan Pak Taufiq tentu bukan plagiat, orang-orang aja yang salah tulis. Memang sempat ada isu-isu soal plagiarisme pak Taufiq Ismail tapi ini sudah diklarifikasi bahwa beliau tidak pernah mengklaim ini karyanya. Kasus serupa pernah terjadi, ada sebuah lagu yang sebenarnya karya Sam Bimbo, tapi sama orang-orang malah ditulis itu karya pak Taufiq)

Advertisements

Teman Multiply

Pekan lalu (8 Nov 2012), saya kopdar dengan mbak Wayan Lessy di Hilton Bandung. Di sana ketemu dengan MP-ers lainnya yang sebelumnya belum kenal, bu Poppie (nipop.multiply.com), mbak Titin, mbak Anna (cindil.multiply.com), dan mbak Yustika. Meski baru kenal, tapi tetap asyik. Saya merasa tambah ‘kaya’, karena setiap perkenalan dengan seseorang dan berbincang-bincang dalam kebaikan, pastilah ada wawasan dan ilmu yang bertambah, serta ada renungan yang terstimulasi.

Sayang, lagi-lagi saya dan mbak Lessy nggak sempat ngobrol lama berdua saja seperti kopdar sebelumnya (tapi tetap seru ngobrol lama bareng-bareng). Saya semakin merasa tertarik sama dirinya dan bertekad, sebelum MP bubar, saya akan membaca-baca blog dan membuka-buka album fotonya (halah, segitunyaaa?? tapi beneran lho..saya dan mbak Lessy kan baru-baru aja jadi kontak dan tidak banyak berinteraksi, makanya penasaran setelah ketemu orangnya, hehehe..).

Bu Poppie usianya sudah cukup sepuh, sudah punya cucu, tapi ternyata blogger senior, sejak zaman friendster… Sayang ya saya telat kenalan sama beliau dan selama ini nggak pernah ngikutin blognya. Mbak Titin, mbak Anna, dan mbak Yustika, nice to meet you all.. mudah-mudahan kita bisa melanjutkan silaturahmi di WP/FB ya..

Momen-momen seperti ini (bertemu dan berdialog langsung dengan teman yang selama ini hanya kenal di dunia masya) memang kadang membuat saya merasa ‘ajaib’. Kok bisa ya…???

Nah..renungan saya lanjutkan ya.. Begini, pagi ini saya mikir-mikir lagi, betapa dunia pertemanan di dunia maya ini terkadang bikin mumet juga. Dulu, saya mulai ngeblog di MP dengan rasa gamang karena artinya saya akan terekspose ke dunia yang asing, kenal dengan orang-orang yang asing. Bisa saja sih, saya bersembunyi di balik nama samaran. Tapi saya bukan jenis seperti itu. Saya sama sekali tidak nyaman bersembunyi. Saya ya saya. Jadi, saya berusaha nulis sesopan mungkin, khawatir menimbulkan ketersinggungan orang. Tapi lama-lama, tetap saja terjadi friksi, apalagi saat saya nulis tentang politik. Awalnya saya sempat gamang dan merasa sangat tidak enak, kepikiran. Tapi ini proses yang mendewasakan saya. Sejujurnya kalau debat hingga tahap ‘keras’ dan ‘judes’, saya tuh sudah biasa, tapi di milis, yang isinya memang orang-orang sejenis (artinya, saya tidak kuatir mereka tersinggung dan mereka pun tidak peduli dengan perasaan saya). Yah namanya perang opini politik, adu argumen, dan apalagi di dalam milis itu kebanyakan jurnalis, wajar saja kalau debat keras.

Tapi, berdebat dengan teman sendiri di multiply, situasi buat saya terasa beda dan terasa sangat tidak enak. Akhirnya, saya menyimpulkan, jaringan saya di multiply itu memang khusus untuk berbicara soal makna keseharian. Tetap penting buat kehidupan saya, dan saya banyak mendapat pencerahan dan mencapai penambahan kualitas hidup dari sana.

Lalu saya memutuskan, khusus untuk topik politik yang memang saya minati, saya harus mengungkapkannya di tempat lain, supaya saya tidak perlu merasa sungkan kepada siapapun. Nah, saya pun menulis di blog Kajian Timur Tengah. Untungnya, WP ada fasilitas memoderasi komen. Jadi, saya pun selain menabahkan hati menerima komen yang mulai dari sinis sampai caci maki, saya tetap berkuasa mensortir. Kritikan saya terima, tapi caci maki, no way.

Saya meyakini, perubahan sosial (dan dunia) ke arah kebaikan memang harus dimulai dari gerakan penyadaran (emansipasi) yang dilakukan oleh orang-orang yang punya kapasitas untuk itu. Ini teorinya Gramsci. Nabi Muhammad juga bersabda ‘ungkapkanlah apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik agar manusia terhindar dari kejahatannya.’ Saya meyakini, musyrik ini tidak sebatas agama. Bahkan sesama muslim pun, banyak yang berbuat jahat, dan kejahatannya harus diungkap (contoh; pejabat yang berideologi ekonomi tertentu yang merugikan rakyat; seolah-olah santun dan baik, padahal, kejam). Dan saat berargumentasi (=analisis politik), saya juga sering mengutip analisis orang non-muslim, bahkan Yahudi. Kebenaran itu bisa kita ambil  lewat mulut (tulisan) siapa saja, saya pikir. Kejernihan dan kekritisan kita adalah kuncinya.

Jadi, jujur, saya nulis soal politik itu memang bagian dari perjuangan saya (meskipun cuma ‘segini’, tapi daripada tidak…). Saya pun bela-belain kuliah lagi di HI ya demi ‘perjuangan’ ini. Setiap orang punya passion dan minat sendiri-sendiri, dan berjuang di bidang yang diminati, akan jauh lebih efektif, ya kan? Saya nggak bisa seni, misalnya, masak saya harus berjuang melakukan upaya emansipasi melalui media seni? Ga akan nyambung.

Lalu, sejak tahun 2011 (atau 2010 ya?, saya mulai FB-an. Kontak saya kini 4500 lebih. Siapa mereka? Kebanyakan, tidak saya kenal. Saya memang tidak membuatnya privat. Saya jadikan FB saya ruang terbuka, siapa saja boleh melihat dan bergabung. Awalnya baik-baik saja dan menyenangkan. Ketemu teman lama, kenalan dengan teman baru. Tapi lama-lama, ketika postingan saya menyerempet hal-hal sensitif, mulailah masalah muncul. Tapi, justru masalah muncul ketika teman FB saya itu adalah teman MP…:(

Di FB, friends saya sangat campur aduk, mulai dari wahabi, salafi, syiah, sunni (tanpa embel2 apapun), kristen, atau yang gak peduli sama semua itu; mulai dari saudara, sepupu, paman, tante, teman yang gak kenal, teman lama, teman baru yang jadi akrab, hingga teman eks MP.Di FB, saya kadang menulis status yang pribadi, sekedar selingan, tetapi seringnya saya posting status atau tulisan yang terkait politik (jadi postingan di FB seperti ‘campuran’ antara gaya MP dan gaya WP-Kajian Timur Tengah).

Nah, ketika saya menulis hal yang sensi (misalnya, soal Syria, itu kan friksinya keras sekali), ketika yang komen itu orang-orang yang tidak saya kenal secara pribadi, saya bisa dengan santai menanggapi (dan kalau sudah keterlaluan, saya juga berani mengkritik, bahkan akhirnya meremove–ini biasaya FB-er tak dikenal, yang sok ngerti agama, sehingga menuduh dan mencaci-maki, dan mengait-ngaitkan analisis politik dgn isu mazhab..huh, bete banget deh kalau sudah begini). Tapi kalau yang komen teman eks-MP? Duh, situasinya jadi sulit buat saya. MP itu seperti jaringan persaudaraan. Tidak enak sekali berdebat dengan saudara, ya kan?

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kalau mereka menganggap saya saudara, tentu tidak perlu komen ‘gak enak’ di topik sensitif itu kan? Ketidaksetujuan juga bisa disampaikan dgn enak  kok. Bahkan, tentu nggak akan tega berkata keras kepada saya di depan umum (meski mungkin niatnya  baik, ‘mengajari saya’ yang mungkin di mata mereka naif dan bego soal politik).Sialnya, kalau yang berbuat begini teman MP, saya merasa tidak kuat untuk berdebat (bukan karena kalah argumen ya, oh..kalau diikuti.. bisa panjang lebar saya adu argumen, hehe.. saya nggak akan nulis kalau saya nggak yakin dan paham secara pasti tentang topik itu).

Saya pun, saat melihat teman ex-MP posting sesuatu yang saya tidak sepakat, saya cenderung memilih diam. Kalau mau ngomong, ya saya tulis sendiri di status saya. Ini cenderung aman. Apa ini disebut pengecut? Ah, tidak juga. Toh saya tetap menyampaikan apa yang saya yakini, meski di tempat lain.

Ah, tapi, tentu pikiran orang beda-beda ya. Mungkin mereka juga melihat ini perjuangan. Mereka merasa perlu menyampaikan ‘kebenaran’  dan menuliskannya di wall saya. Mungkin mereka tidak melihat ini masalah ‘saudara’ atau tidak. Kebenaran harus disampaikan, meski pahit, gitu mungkin mikirnya. Meski resikonya, mereka akan terlibat dalam perdebatan sengit (pastinya bukan dengan saya, karena saya tidak akan ‘sengit’, tapi dengan friends saya yang lain, yang sangat beragam itu). Saya akan ikut campur bila ada kata kasar dan makian keluar, dan akan saya delete lalu friends saya itu akan saya unfriend. Nah, masalahnya, ketika itu terjadi di wall saya, saya sebagai ‘nyonya rumah’ ya tetep nggak enak kan?

Yah, sudahlah..akhirnya saya hanya bisa menghela nafas berat… Apapun juga, betapapun saya tidak enak menghadapi situasi di FB akhir-akhir ini, saya akan tetap jadi diri saya sendiri, menulis apa yang saya yakini; menulis dengan satu misi yang saya yakini benar; dan menyebarkan tulisan itu (di FB, Kajian Timteng, dan di web-web lain, yang jelas bukan di WP ‘My Daily Life ‘ ini, heuheuheu…).

Dan, yang benar-benar teman dan menganggap saya saudara, tidak akan terganggu dengan opini saya (artinya: tetap menghargai saya, apapun pendapat saya soal politik; tidak akan menuduh ini-itu, atau menjauhi). Teman sejati akan menerima temannya apa adanya, tanpa perlu menghakimi. Toh saya juga manusia yang punya banyak sisi. Nggak cocok sama pandangan politik saya, fine, kita ngobrol aja, apa saja yang lain, kayaknya saya bisa nyambung kok diajak ngobrol tentang apapun; bahkan untuk topik yang tidak saya pahami pun saya akan tetap antusias, karena itu lahan untuk menambah ilmu.

Anyway, inilah ajaibnya ngeblog.. meski kadang bikin mumet, tapi saya tetap menikmatinya..dan bahagia di dalamnya…dan saya akan tetap ngeblog…

Apalagi, saat kopdaran dengan MP-ers.. wah, tambah bahagia deh.. 🙂