Ketika Anak Gemar Membaca…

Dua hari yang lalu, saya tamat membaca Air Frame-nya Michael Crichton. Ada beberapa halaman yang saya satukan dengan selotip supaya tidak bisa dibaca lagi karena ada adegan romantisnya. Lalu, barulah novel itu saya serahkan ke Kirana untuk dibaca. Dengan segera, dia ‘tenggelam’ menikmatinya. Inilah bacaannya liburan ini, yang pasti akan segera tamat. Artinya saya harus membaca novel lain lagi, lalu kalau memang oke, baru saya berikan kepada Kirana. Mungkin ada pertanyaan, mengapa tidak dipilihkan saja novel Islami  yang sudah dijamin aman? Masalahnya, ini berkaitan dengan selera. Kirana sudah membaca banyak jenis novel, dan sekarang sedang ingin mencoba yang baru. Kali ini dia mulai menyukai karya Crichton. Sangat mungkin nanti dia berganti lagi minatnya.

 Saya pun menyimpulkan, setelah berhasil mendidik anaknya untuk gemar membaca, tugas ortu sebenarnya bertambah berat, yaitu, ortu pun harus ikut membaca. Meski saya penggemar novel, membaca novel sebenarnya merupakan kegiatan yang harus saya hindari karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan segera (di luar pekerjaan wajib mengurus keluarga). Namun  dalam situasi ini, membaca novel malah justru bagian penting dari pekerjaan wajib itu. Dari sebuah seminar parenting saya mendapatkan informasi, banyak sekali buku anak (terutama komik dari Jepang) yang ternyata menyelipkan adegan-adegan dewasa (atau, minimalnya, perempuan dengan pakaian tak pantas). Apalagi buku yang memang ditujukan untuk pembaca dewasa. Karena itu, ortu memang harus membaca sendiri semua buku yang dibelinya untuk anaknya.

Gemar membaca itu penting. Tetapi, memilih bacaan pun sangat penting. Kata seorang ustadz, tafsir QS 80:24, “Hendaklah manusia memperhatikan makanannya”, sangat berkaitan dengan membaca. Sebagaimana manusia harus memperhatikan makanannya (harus halal dan thayib), bacaan dan informasi yang diserapnya pun perlu dijaga, demi keselamatan imannya.

Advertisements

One thought on “Ketika Anak Gemar Membaca…

  1. Terimakasih sharingnya sekaligus pengingat bagi kita semua.
    Anak-anak saya bacaannya masih sekelas KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya), sepertinya nanti juga bakal bekerja keras melakukan upaya seperti yang dilakukan Bu Dina.

    Begitu juga dengan film, begitu mudahnya lolos dari LSF film-film superhero (spt Spiderman) yg menampakkan adegan ciuman, yang sekarang sudah dianggap biasa oleh anak-anak belia. Program mind control berhasil menanamkan budaya negatif yang kemudian dianggap masif. Hanya kita sbg orangtuanya yg harus aktif membentengi keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s