No TV, Bisakah?

Baru saja saya membaca artikel bagus dari blognya Pak Iwan berjudul Indonesia Menuju Budaya Bohong. Info dalam tulisan itu penting untuk dibaca karena sangat berpengaruh pada bagaimana kita menjaga dan mendidik anak-anak. Intinya, kita musti waspada pada tayangan televisi yang mengajarkan berbagai hal secara halus dan tanpa kita sadari. Istilahnya, subliminal message. Begini yang dijelaskan pak Iwan:

Subliminal message adalah pesan-pesan yang disampaikan ke alam bawah sadar seseorang sehingga ia tidak menyadarinya meskipun menerimanya ke dalam otak. Subliminal message ini mampu menyuruh seseorang atau mampu memberikan instruksi yang kemudian dilakukan oleh orang tersebut, tanpa yang bersangkutan sadar dirinya sedang disuruh. Sehingga bagi saya subliminal message itu termasuk sihir.

Subliminal message bukan dilakukan dengan mantra sebagaimana sihir, namun dengan teknik-teknik psikologi rekayasa yang pada dasarnya memanfaatkan teknik-teknik memanipulasi kesadaran. Aktifitas ini dapat dimasukkan ke dalam “mind control” atau pengendalian pikiran dimana di dalamnya termasuk brainwashing, hypnotizing, sihir, dan lain sebagainya. Yang mengkhawatirkan adalah ketika subliminal message digunakan oleh para pembuat film, iklan dan games. Dan lebih mengerikan lagi ternyata kebanyakan subliminal message yang digunakan oleh pihak-pihak ini justru lebih sering mempromosikan hedonisme, pornografi dan kekerasan! Tujuan mereka jelas adalah membentuk budaya kerusakan moral yang luar biasa hingga benar-benar tersesat tanpa sadar.

 

Sekedar sharing, saya sebelumnya juga sudah membaca-baca soal mind control ini, antara lain buku Diary of Dajjal dan nonton film the Arrival di Youtube. wow, emang ngeri banget! Coba deh cari di Youtube film the Arrival itu. Nah, setelah lama berdiskusi dan sempat maju-mundur, saya dan suami akhirnya memutuskan mengambil langkah ‘ekstrim’: nggak nonton tivi lagi. Tivinya tetap duduk manis di ruang tengah.Wow, kebayang godaannya kan? Soalnya, sudah biasa, tiap tivi mati, ambil remote, cekreeek… Rana dan Reza pun, sering buka tivi meski ngga nonton. Rasanya sepi kalau nggak ada suara tivi. Oiya, keputusan nggak nonton tivi lagi itu tidak diambil otoriter lho, kami diskusikan dulu sama anak-anak. Kami ceritakan argumen-argumennya, lalu kami suruh mereka mengambil keputusan sendiri. Awalnya Kirana protes dan ngga setuju, tapi lama-lama setuju juga sambil cemberut. Reza lebih mudah diarahkan karena masih kecil. Saya juga berkorban nggak nonton Mario Teguh, papahnya nggak nonton sepakbola.

Tapi kami tetap nonton film lho, lewat DVD atau di internet (misalnya Reza suka sekali liat Upin Ipin, Bobiboy via youtube). Tentu saja ada ‘kerugian’ krn banyak info bermanfaat juga dari tivi. Tapi masalahnya, kami nggak berani memastikan bahwa kami mampu selalu menemani anak nonton tivi (ketika mereka terbiasa nonton tivi, saat kami nggak ada sangat mungkin mrk buka tivi). Juga, ada masalah pada ‘kecanduan’-nya. Pada rasa ‘harus ditemani tivi’ dan pada waktu yang terbuang.

Selain itu perlu upaya ekstra dari ortu untuk mengisi waktu luang. Biasanya kan gampang banget, ada waktu luang, nonton aja tv. Ibu bisa melakukan hal-hal lain sementara anak anteng depan tv. Tapi di awal program NO TV, wow.. rengekan “Bosen Ma!” atau “Aku harus ngapain lagi..???” sempat membuat saya pusing. Triknya, tumbuhkan kebiasaan melakukan berbagai kegiatan mengisi waktu luang: membaca, membuat handycraft (Kirana sekarang suka dan bisa merajut lho, padahal saya nggak bisa sama sekali; Kirana belajar dari ipar saya), menulis (karena memang Kirana suka nulis juga), menggambar, main mobil-mobilan, boneka, main sandiwara boneka, dll. Oiya, ada program ngaji dan ngapalin Quran juga (meski untuk ini saya malu sekali… krn..hiks.. masih minim sekali upaya kami dalam hal ini).

Lama-lama, tanpa disadari, akhirnya kami jadi terbiasa tanpa tivi. Trus yg terasa, waktu juga jadi efektif. Anak-anak sekarang sudah terbiasa mengisi waktu luang dengan  membaca, main (di rumah, bukan keluyuran keluar; bukannya dikekang, tapi entah mengapa dua anak saya itu emang nggak suka main keluar rumah), bikin handycraft, atau sekedar ngobrol. Dulu kalau ngobrol, tv nyala, jadinya malah mata ke tv melulu.

Btw, nonton DVD dan you tube pun ada resikonya karena tetap saja film2 Hollywood kan mengandung mind control. Jadi kami berusaha ikut nonton bareng. Melepas anak buka internet sendiri juga beresiko karena saat klik you tube kadang suka muncul tayangan porno di list filmnya. Jadi, saya juga mengawasi saat anak buka You tube. Oiya,nontonnya juga dikasih jatah, hanya 1 jam sehari. Minimalnya, nonton di DVD dan you tube enggak ada iklannya (krn iklan banyak mengandung mind control, seperti ditulis dalam artikel pak Iwan yang saya link-kan di atas).

Terakhir, yang bisa dilakukan ortu adalah berdoa… Allah-lah yang menitipkan anak-anak kepada kita. Kita berusaha semampunya menjaga mereka, tapi sebaik-baik penjaga adalah Allah SWT.

Advertisements

5 thoughts on “No TV, Bisakah?

  1. Sungguh, kebijakan keluarga yang patut ditiru.
    Memang off TV bikin produktivitas meningkat, sang anak bisa berkreasi lebih banyak.
    Kalo anak punya banyak kesibukan, maka TV bisa teralihkan. Terlebih lagi kalo kesibukan itu menuai prestasi… woww.
    Akhirnya, orang tua pun kudu mau dibikin repot nyiapin program yg membuat mereka gak bete.

  2. Heya i am for the primary time here. I came across this board and I in finding It really useful & it helped me out much. I’m hoping to provide something again and help others like you helped me.

  3. Aswrwb. Halo bundakiranareza 🙂
    Bener, kala aq bingung mau ngapain lagi ama Kanza, nulis2 sudah, baca buku sdh, main rumah2an sudah, dll sdh, nonton tv dech akhirnya. Memang yang di tonton programnya baby first tv n disney junior. Aq pilihkan Kanza yang khusus bayi. Tapi kalo baca lagi kutipan Dina ttg subliminal message, jadi ngeriii. Kepikiran jg sich sebelumnya kalau2 di acara2nya ada message2 tertentu yg akan terekam di alam bawah sadar kanza. So, thanks Din, for the sharing.

    • W.slm, halo Dwi.. kapan ya bisa ketemu sama Kanza..:)
      kalau aku baca2 di bbrp blog, justru Disney (padahal isinya kartun2 anak) itu penuh banget sama subliminal message.. serem deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s