Ini kan Mama!

Reza senang sekali membaca komik (ilustrasi) di buku Amazing Parenting. Si pembuat komiknya keren banget, bisa menerjemahkan contoh-contoh kesalahan komunikasi dengan cara yang lucu. Para ortu kemungkinan akan ketawa-ketiwi membacanya dan berkata, “Hwaa..ini gue bangeeet..!” Hehehe…

Nah… ketika membaca komik di halaman 49, Reza spontan berkata sambil tertawa, “Ini kayak Mamaaa…!”

Hiks… jangan gitu dong Nak, kan sekarang Mama sudah (berusaha) bertobat 😀

komik bu rani

Lalu, di halaman 154,  ada cerita tentang dialog seorang bunda dan anaknya.

Continue reading

Advertisements

Fokus (2)

Alhamdulillah barusan dapat pencerahan lagi, terkait kegalauan soal fokus. Dari webnya Jamil Azzaini:

Work Life Balance itu Kebohongan

Banyak nasihat indah yang sebenarnya tidak bisa dikerjakan. Padahal yang utama dari sebuah nasihat adalah bisa dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Percuma kata-kata indah terangkai dalam bentuk nasihat namun tidak bisa dikerjakan. Alih-alih bisa dilaksanakan, nasihat itu malah menjadi beban bagi penerimanya.

Salah satu nasihat yang sering kita dengar adalah hiduplah yang seimbang, atau bahasa kerennya “work life balance”. Cobalah bertanya kepada si pemberi nasihat, apakah ia sudah menjalani hidupnya dengan seimbang? Dugaan saya, ia akan menjawab tidak.

Konsep work life balance itu mengacu kepada pembagian waktu yang seimbang antara berbagai kepentingan. Padahal faktanya, prioritas hidup orang setiap saat berubah. Sesuatu yang diprioritaskan pasti akan menyita waktu yang lebih banyak dibandingkan kepentingan yang lainnya.

Selain itu, work life balance sangat ditentukan faktor luar. Misalnya, saat kita berkomitmen ingin berkumpul dengan keluarga, tiba-tiba jalanan macet total di segala arah. Dalam kondisi seperti ini, nasihat agar kita work lifa balance justru menjadi beban yang menyiksa.

Gantilah nasihat work life balance menjadi “curahkan energimu”. Apa maksudnya? Fokus dan nikmatilah saat Anda melakukan sesuatu. Saat bekerja atau berbisnis, kerahkan semua energi untuk melakukan yang terbaik. Hindari, tubuh Anda di tempat kerja tetapi pikiran dan tindakan Anda melayang jauh dari pekerjaan.

Begitu pula saat bersama keluarga, curahkan energi Anda untuk memberikan yang terbaik. Singkirkan, gadget, smartphone dan sejenisnya saat keluarga Anda mengajak bicara dan bermain. Kerahkan energi Anda untuk melayani dan memberi yang terbaik. Hindari, tubuh Anda bersama mereka tetapi tangan dan pandangan Anda ke “produk-produk teknologi” yang Anda bawa.

Ketika Anda “bercengkerama” dengan Sang Maha, kerahkan semua energi untuk menghadap kepada-Nya. Hindari, tubuh Anda melakukan gerakan-gerakan ibadah namun pikiran dan hati Anda melayang jauh ke tempat atau aktivitas yang berbeda. Ketahuilah, Dia bukan hanya melihat tubuh Anda tetapi mengetahui isi kepala dan hati Anda.

Fokus dan nikmatilah kegiatan Anda tanpa terbebani dengan nasihat work life balance. Namun tetap sadarilah, bahwa hidup bukan hanya tentang diri Anda tetapi juga tentang keluarga, negara, agama dan juga lingkungan Anda

Terbit: Amazing Parenting!

buku buni
Teman-teman, terutama eks-MP-ers yang dulu sempat membaca tulisan-tulisan saya soal parenting, mungkin ingat cerita saya tentang penulisan buku bersama Bunda Rani Razak Noe’man. Dan, beberapa kali ada teman MP-ers yang menanyakan kabar buku ini. Nah, ini dia kabar bukunya. Sudah terbit, alhamdulillah! Buat teman-teman yang beberapa kali nanya-nanya soal parenting ke saya atau mengikuti tulisan saya yang sepotong-sepotong membahas soal parenting, naaah, di dalam buku ini lengkap deh infonya 🙂

Singkatnya, begini ceritanya…, setelah ikut pelatihan parenting bersama bunda Rani, memang banyak perubahan besar dalam hidup saya. (Sstt..suami saya juga ikut pelatihannya Bunda Rani lho and he became a great dad ever, hehehe).

Nah… karena saya pikir ilmunya bunda Rani penting banget untuk disebarluaskan, saya pun mendorong Bunda buat menulis buku. Saya mendampingi proses penulisan buku itu, antara lain merekam pelatihannya, berkali-kali janjian ngobrol di masjid Salman dan merekam semua obrolan Bunda Rani. Wow, benar-benar pengalaman berharga buat saya karena dalam proses itu saya jadi belajar banyak (dan bahkan sekalian konsultasi gratis masalah parenting, hehehe…, habis suami saya kalau ada problem parenting di rumah suka bilang gini, “Ntar tanyain ke bunda Rani, kita musti gimana?”). Setelah selesai saya rekam, saya salin ke tulisan. Selanjutnya, diproses oleh Bunda Rani sendiri, diverifikasi, diedit, ditambahin, dikasih ilustrasi, dll, sampai akhirnya jadi buku. Alhamdulillah, setelah dua tahun berlalu (lama bangeeeet…?!), buku ini pun terbit.

Buku ini highly recommended deh. Intinya: menjadi ortu itu seharusnya menyenangkan kok. Tapi, mengapa ibu-ibu banyak yang pusing bahkan stress dalam mengurus anak? Melalui buku ini, kita bisa mempelajari, gimana sih caranya supaya parenting (pengasuhan anak) menjadi sesuatu yang amazing (menakjubkan)?

——-

Info Komunitas Cinta Keluarga :

Alhamdulillah setelah melewati perjalanan yang panjang selama 2th, buku Pertama, Bunda Rani Razak Noe’man dg judul “Amazing Parenting” akhirnya segera akan bisa dinikmati oleh orang tua Indonesia yang mendambakan anak-anak Hebat dan Tangguh.

Buku yang membahas tentang hal-hal yang “riil” terjadi dalam pengasuhan anak. Berbagai kendala pengasuhan anak dibahas dalam buku ini seperti: anak nda mau makan, anak ngamuk di mall dan tulisan khusus ttg “bagaimana menyelematkan anak kecanduan Games”,dll.
Pentingnya komunikasi dalam pengasuhan anak,adalah hal yang dibahas secara mendalam dalam buku ini.
Dengan bahasa yang sederhana,praktis dan runtut.

Segera milik buku “Amazing Parenting” by Rani Razak Noe’man panduan untuk keseharian pengasuhan di rumah.
Harga : 39.500 (+ongkir utk luar bandung)
Hal. : 164hal.

Penerbit: Noura Books (Mizan Group)

Info&Pemesanan :
Eti 087779914488
PiN: 28AB07A4

Pembayaran via Transf : BRI 7509-01-000127-53-6 an, Eti Susanti

Apa kata mereka yang sudah membaca buku ini :

Komunikasi menjadi kunci bagi kita sbg keluarga,utk memahami 1sama lain. Buku ini memberi PETUNJUK penting untuk menjadi orang tua yang amazing.
Selamat belajar jadi Orang tua.
(Farhan: Penyiar dan Ayah dari Ridzky 14th & Bisma 12 th)

Bunda Rani berhasil mengupas komunikas menjadi sesuatu yang mudah dimengerti dan dilakukan. Buku yang patut dibaca untuk semua orang tua berapapun usia anak- anak mereka.
Selamat membaca dan menikmati perjalanan menyenangkan “menjadi orang tua” .
Bravo buat Bunda Rani.”
(dr.Lula Kamal, Msc)

Orangtua adalah pendidik terpenting, tetapi paling tak tersiapkan. Pembentukan kemampuan orangtua untuk mendidik itu urgent, penting, dan fundamental. Buku ini bisa menjadi referensi menarik bagi orangtua dan calon orangtua.

(Anies Baswedan)

Perpustakaan Mini

Saya cukup sering membelikan buku untuk Reza. Untuk Kirana juga, tentu, tapi frekuensinya tidak terlalu sering karena dia sudah bisa memilih sendiri dan buku yang disukainya biasanya berharga cukup lumayan (novel-novel yang tebal). Sementara untuk Reza, saya membeli buku banyak sekali, karena… apa lagi kalau bukan obral :D. Ya, Gramedia atau Mizan kan emang sering mengadakan obral buku untuk anak. Karena harganya murah, akhirnya jadi nafsu beli banyak-banyak (ya ujungnya sih mahal juga, hiks). Makanya, terus-terang saya agak menghindari Gramedia atau obralan di Mizan. Kalau nggak perlu-perlu amat, saya males ke sana. Soalnya suka kalap beli buku. Untuk keperluan saya sendiri, saya lebih suka membeli online, karena akan dipikir baik-baik, bakal dibaca atau hanya akan disimpan di rak dengan semangat, “Ya ntar dibaca deh!”

Nah, balik lagi ke Reza. Setiap liat obralan buku, rasanya sulit menahan keinginan untuk melihat-lihat dan akhirnya membeli. Lama-lama buku-buku itu bertumpuk begitu saja. Sebagian sudah disumbangkan ke perpustakaan TK yang saya kelola. Nah yang ada di rumah, karena bertumpuk tak beraturan, Reza cenderung memilih buku yang paling atas saja. Sayang kan, padahal banyak sekali buku-buku yang baru dia baca sekilas, nganggur begitu saja. Akhirnya baru-baru ini saya meminta tukang untuk membuat rak display buku (niat sih udah lamaaa..tapi baru kesampaian sepekan yll). Bahannya murah, hanya triplek tipis dan kayu biasa (bukan yang mahal), karena tukangnya juga bukan profesional, hasilnya juga gak halus kayak rak yang di toko buku. Tapi cukuplah. Buku-buku Reza dipajang dengan cover menghadap keluar. Dan..tralaaa.. benar saja dugaan saya. Dia sangat suka dengan perpustakaannya ini. Tiap sebentar dia melihat-lihat buku, memilihnya, lalu membacanya. Setelah itu ditaruh lagi, dan membuka yang lain. Buku-buku yang lama, yang selama ini tak terjamah karena tertindih buku-buku lainnya, akhirnya mendapat kehormatan dibuka dan dibaca kembali oleh Reza. Btw, rak display ini pun ternyata tidak cukup memuat semua buku Reza, jadi sebagian disimpan di rak buku biasa. Rencananya, akan saya pergilirkan aja. Nanti kapan-kapan, isi rak display ini diganti dengan buku-buku yang menumpuk di rak lain.

Ini fotonya. Foto pertama goyang, tapi Reza senang melihatnya, katanya, “Wow, aku kayak disedot sama Dementor!” (Dementor di Harry Potter dikisahkan menyedot kebahagiaan manusia).

DSC00119DSC00120

Fokus

Beberapa hari terakhir saya galau (lagiiii????!) gara-gara seorang teman bicara masalah fokus. Katanya, kerjaan kalau gak fokus, hasilnya tidak akan maksimal. Begitu juga multitasking (melakukan beberapa pekerjaan sekaligus pada waktu yang sama). Katanya, itu bukan cara beraktivitas yang benar. Dan ini merembet pada masalah HS-nya Reza. Apakah orang dengan sederet pekerjaan freelance seperti saya boleh mendidik anak dengan HS? Atau, haruskah semua pekerjaan itu saya lepas saja dan fokus mengurusi pendidikan Reza? Apakah dengan melakukan banyak pada saat yang sama artinya : saya TIDAK fokus?

Akhirnya, ya, kemana lagi kalau nggak curhat sama suami. Jawabannya sederhana saja:

1. Apakah HS itu selalu berarti ibu benar-benar full ngurusin anak dan tidak mengurusin apapun lainnya? Jawabannya tidak. Ada ibu-ibu yang tetap bisa mendidik anaknya ber-HS sambil melakukan pekerjaan freelance (bahkan ada yang bekerja resmi jadi guru/dosen). Justru bagus buat anak bila melihat ortunya sibuk melakukan banyak pekerjaan yang baik buat umat; di saat yang sama tetap memperhatikan mereka dan kalau bisa bahkan melibatkan mereka.

2. Fokus kita itu adalah beribadah di jalan Allah. Ketika di depan kita ada berbagai pekerjaan yang insya Allah bernilai ibadah, dan kita punya kemampuan untuk melakukannya, serta memang kemampuan yang kita miliki itu dibutuhkan oleh umat; ya jalani saja. Dalam kondisi seperti ini, karunia multitalent yang kita miliki memang akan membuat kita berada dalam posisi multitasking. Apa boleh buat. Kalau memang bisa fokus dan konsentrasi di satu bidang ya bagus. Tapi, ketika tidak bisa (dan parameternya adalah sejauh mana kemampuan kita itu dibutuhkan umat), ya sudah jalani saja semaksimal mungkin. Lalu tawakal. Sudah, simple saja.

Dan inilah saya. Saya lulusan magister HI, saya cinta studi HI, dan saya sangat meminati dunia HI. Seharusnya, kalau bisa, saya ingin fokus jadi ilmuwan di bidang ini, jadi dosen, penulis ilmiah, pengamat. Tapi kan situasinya nggak/belum memungkinkan. Saya sejauh ini baru bisa sebatas menulis artikel politik di blog/web. Sesekali jadi pembicara di beberapa kajian. Di saat yang sama, karena saya seorang ibu, saya juga harus mempelajari parenting. Ketika sudah dapat ilmunya dan memang dibutuhkan, ya saya pun nulis atau jadi pembicara parenting (misalnya di pertemuan para ortu TK). Saya punya TK. Buat apa saya mendirikan TK? Ya karena saya pernah mendapat kesempatan belajar sebuah metode hafalan Quran untuk anak (ketika saya tinggal di Iran) dan saya merasa punya kemauan, kemampuan, dan keharusan untuk menyebarluaskannya. Implikasinya, saya pun terlibat dalam dunia pendidikan PAUD, diminta jadi narasumber, menulis buku panduan pengajaran. Dan seterusnya… Banyak yang saya dapatkan dan kemudian banyak pula yang saya lakukan untuk membagi apa yang saya dapat itu.

Apa artinya saya tidak fokus?  Tadinya, gara-gara perkataan teman saya itu, saya galau. Tapi sekarang tidak lagi. Saya merasa fokus. Saya melakukan apapun tugas  yang sampai kepada saya dengan sebaik mungkin. Mungkin hasilnya tidak dianggap maksimal di mata manusia. Misalnya: “Ah, cuma nulis di blog! Coba kalau kamu fokus, kamu akan jadi ilmuwan besar…”  atau.. “Halah, cuma nulis gitu doang, bukunya juga gak laris, ga ada di toko buku!”

Tidak, justru saya sedang fokus karena parameter saya adalah keridhoan Allah. Saya cuma melakukan saja ‘tugas’ yang sampai kepada saya. Bila tugas itu bisa dialihkan ke orang lain, tentu saja saya akan alihkan. Bila tidak, dan mau tidak mau saya yang harus mengerjakan, ya sudah kerjakan saja semaksimal mungkin. Jadi, saya tidak lagi memimpikan sebuah status yang ‘jelas’ (saya terus-terang sering bingung saat ditanya profesi; sehingga jawaban saya ya itu-itu lagi: ibu rumah tangga). Gimana mau ‘jelas’; yang saya lakukan range-nya sangat jauh, mulai dari urusan domestik, ngurusin anak HS, ikut pelatihan kreatif (bikin kerajinan tangan untuk anak TK), ngomong soal parenting, jadi redaktur majalah anak, bla..bla.. ..sampai ke urusan politik (narasumber di seminar atau kajian ilmiah).

Terakhir, sekedar intermezzo. Setelah sesi curhat selesai, saya bercanda ke suami (dan didengar anak-anak):

Saya: Alhamdulillah ya, Mama nikahnya sama Papa. Coba kalau suami Mama orangnya juga suka galau, bisa kacau deh rumah tangga!

Suami: (senyum) trus, Papa harus gimana memaknai situasi ini?

Saya: Ya.. anggap aja ini cobaan buat papa..punya istri yang suka galau …  kan ini jadi sarana untuk melatih kesabaran.. (tertawa)

Kirana: naaah… Mama bantu Papa dong, supaya cobaannya berkurang!

Hahaha…

Handwriting untuk Anak

DSC01361

Akhirnya Reza dan saya sudah mantap: Reza akan melanjutkan homeschooling-nya (selanjutnya disingkat HS). Seperti saya ceritakan sebelumnya di sini, Reza menolak masuk SD dan “mau belajar sama Ummi aja” (selama ini di TK kan ya belajar sama ummi-nya juga karena TK-nya saya yang mengelola :D). Oiya, Reza sekarang udah balik panggil “mama” lagi (dia memang suka gonta-ganti sapaan ke saya).

Sebenarnya saya juga belum ahli dan mahir untuk ber-HS. Sambil jalan, saya diskusi dengan teman di FB dan baca-baca buku. Dan setiap kali dapat pencerahan, setiap kali pula proses HS kami diperbaiki. Galau? Hohoho… ya pastilah. Tapi mengutip kata seorang teman: kita bisa kok hidup damai dengan galau; justru kegalauan itu akan mendorong kita terus mencari ilmu.

Naaah… salah satu perbaikan terbaru yang saya terapkan ke Reza adalah program menulis jurnal (jangan bayangkan jurnal ilmiah ya.. ini istilah saja, untuk catatan harian). Sebelumnya, saya pernah sharing bagaimana cara saya melatih Kirana menulis di sini. Dan, kesalahan saya, untuk Reza,  saya malah agak mengabaikan. Hingga hampir umur 7, Reza belum juga saya latih menulis. Tapi, alhamdulillah, meski lambat mengajari Reza, saya sempat menemukan ilmu baru. Justru saya dulu salah: mengajari Kirana menulis langsung di laptop. Padahal, coba deh browsing-browsing, ternyata menulis dengan tangan itu lebih bermanfaat untuk para penulis; dan untuk anak-anak, malah menstimulasi kecerdasan.

Dalam berbagai artikel itu disebutkan bahwa akhir-akhir ini orang banyak menilai belajar menulis tangan sebagai hal yang buang-buang waktu. Mereka lebih senang melihat anak mereka mahir mengetik di laptop atau smartphone. Konon, kalau dibiarkan terus, lama-lama handwriting akan jadi seni yang musti dipelajari khusus, sebagaimana menjahit, membatik, atau mengukir, hehe… Padahal beberapa penelitian menemukan bahwa menulis dengan tangan justru menstimulai kecerdasan. Antara lain, ini saya kutip dari artikel-artikel itu:

1. Psikolog dari University of Wisconsin menguji siswa di kelas 2, 4, dan 6, dan menemukan bahwa mereka tidak hanya menulis lebih cepat dengan tangan dibandingkan dengan keyboard, tetapi juga menghasilkan lebih banyak ide saat menulis esai dengan tulisan tangan. Gerakan jari berurutan yang diperlukan untuk menulis dengan tangan mengaktifkan wilayah otak yang berperan dalam pikiran, bahasa, dan memori jangka pendek.

2.Sebuah studi di Universitas Indiana menguji dua kelompok anak: satu kelompok anak menulis dengan tangan, sementara kelompok kedua hanya melihat contoh-contoh dari huruf A, B, dan C, dll. Kemudian, kedua kelompok anak-anak memasuki mesin pemindai otak (kepada mereka dikatakan: “ini pesawat ruang angkasa”). Kepada mereka ditunjukkan huruf-huruf. Ternyata, aktivitas saraf di kelompok pertama jauh lebih maju dan “seperti orang dewasa”.

3. Menulis tangan dapat meningkatkan komposisi ide dan ekspresi, dan dapat membantu motorik halus-pengembangan keterampilan.

4. Tulisan tangan berbeda dari mengetik karena memerlukan gerakan jari yang berurutan untuk membentuk huruf, sedangkan dalam mengetik dengan keyboard, tangan hanya menyentuh sebuah tombol. Gerakan jari itu mengaktifkan sebagian besar wilayah otak yang digunakan untuk berpikir. Sayangnya ini justru semakin ditinggalkan karena anak sejak kecil sudah terbiasa dengan gadget atau laptop.

Jadi, saya pun mulai mengajari Reza menulis. Caranya, saya membeli buku tulis yang lucu, bergambar Angry Bird (Reza memang lagi suka game Angry Bird). Sebelumnya saya sudah membuat daftar di buku khusus (“Catatan HS Reza”), apa saja yang dilakukan Reza hari sebelumnya, misal: baca Iqro, baca cerita Quran, main boneka dengan Fadli (sepupunya), nonton DVD Paddle Pop, menemani Mama ke TK, les gambar, dll. Lalu, saya minta Reza memilih salah satu yang ingin dia ceritakan. Reza memilih menceritakan soal main boneka.

Saya tanya: kemarin main bonekanya ceritanya tentang apa?

Reza: ada orang gila masuk restoran

Saya: oh, jadi kemarin main restoran-restoranan?

Reza: iya… dst (dia langsung cerita panjang lebar, bahkan sambil tertawa-tawa, bagaimana ‘skenario’ main bonekanya kemarin; ternyata si Mama-TeddyBear berperan jadi orang gila yang masuk restoran dan harus membayar uang 1 juta. Reza berperan jadi kasir restoran. Si Mama TeddyBear ga punya uang dan bilang ‘aku mau ke bank dulu ya’. Eh ternyata dia nggak punya uang di bank..dst)

Saya: nah, coba tulis yang Reza ceritakan tadi.

(Dia kebingungan sebentar) Saya: mungkin bisa diawali “kemarin aku…” (langsung Reza dapat ide, dan menulis). Karena nulisnya masih lambat (dan berantakan), ya nggak usah panjang-panjang; dan gak harus sampai selesai (cerita Reza soal orang gila masuk resto itu kan panjang banget, kalau disuruh tulis semua bisa jadi cerpen deh dan Reza bisa frustasi karena akan sangat berat buatnya).  Yang penting proses belajar sudah dimulai. Mudah-mudahan saya bisa konsisten 🙂

 

NB: ini bbrp artikel soal handwriting:

http://theweek.com/article/index/238801/4-benefits-of-writing-by-hand

http://theweek.com/article/index/207846/how-writing-by-hand-makes-kids-smarter

http://online.wsj.com/article/SB10001424052748704631504575531932754922518.html

 

 

Syuting Video Klip

Saya mengelola sebuah TK sangat-sederhana di kompleks rumah saya, di pinggiran Bandung. Salah seorang guru pinter nyanyi dan bikin lagu. Karena lagu-lagunya keren (berdasarkan ayat-ayat yang diajarkan dengan metode Rumah Qurani), akhirnya kami seriusi, membuat musiknya (diorder ke pemusik profesional), dan rekaman suara vokalisnya (Kirana dan sepupunya, Fadli, tapi direkayasa dengan digital sehingga terdengar rame-rame yang nyanyi).

Prosesnya lama sekali karena keterbatasan waktu dan dana. Kadang Fadli yang macet, kadang Kirana yang males-malesan. Kadang udah siap mau rekaman (di rumah saja merekamnya, kebetulan suami saya menguasai hal-hal seputar merekam suara), eeeh.. hujan, batal deh karena suara akan terdengar berisik.

Lalu, kemarin giliran syuting video klip (produksi video klip ini bekerjasama dengan HIMPAUDI Jabar). Benar-benar pengalaman seru buat kami. Syuting dilakukan di sebuah perumahan elit yang luas dan asri, sehingga anak-anak bawaannya mau kabur aja berlari ke sana-kemari. Untungnya orang dewasa yang mendampingi ada 10. Eh, anaknya berapa gitu? Cuma 12 anak, hehehe..

Awalnya, saya hanya minta kameramen merekam secara simple (anak nyanyi rame-rame sampai selesai dan direkam begitu saja). Si kameramen muda dengan senyum geli menjawab, “Bu, itu namanya bukan bikin video klip, tapi itu syuting live…bla..bla.. (menjelaskan bagaimana seharusnya).” Saya bengong. Untung ada kak Andi Tegar, pendongeng dan trainer menggambar dari SANITASI (yang sebenarnya diundang datang untuk disyuting saat mendongeng). Dia mengambil alih kepemimpinan dan langsung menyutradarai syuting. Yah, segala sesuatu memang harus diserahkan pada ahlinya. 🙂

Kata si kameramen, kalau syuting yang ‘normal’ , satu lagu bisa menghabiskan waktu dua hari, bahkan bisa berhari-hari, dengan banyak kamera. Wow. Tapi karena ini anak-anak kecil, kami mengaturnya supaya hanya memakan waktu setengah hari. Kalau dihitung, total masa syuting hanya 3 jam. Sisa waktu diisi oleh makan-makan dan main-main, berlari ke sana-sini. Suasana di kompleks itu emang asyik  banget. Serasa sedang liburan ke manaaa.. gitu…

syuting

Reza-paling kiri, meski sdh lulus TK, tetep ikut syuting *nepotisme 😀 Kak Andi Tegar berdiri di sebelah kameramen

syuting2

gayanya anak-anak nggemesin banget

syuting3

di halaman TK di kompleks elit tersebut, beda banget dengan TK sendiri 🙂

syuting5

kru di balik layar, mulai sutradara, kameramen, fotografer, pemandu gaya, dan teknisi suara..heboooh…:D

syuting6

pas syuting di sini, anak-anak mulai cemberut; bukan karena capek tapi karena bosen; mereka lebih tertarik berlari-lari sambil tertawa-tawa, sampai jauh… banget, menyusuri sungai buatan di kompleks itu