Fokus

Beberapa hari terakhir saya galau (lagiiii????!) gara-gara seorang teman bicara masalah fokus. Katanya, kerjaan kalau gak fokus, hasilnya tidak akan maksimal. Begitu juga multitasking (melakukan beberapa pekerjaan sekaligus pada waktu yang sama). Katanya, itu bukan cara beraktivitas yang benar. Dan ini merembet pada masalah HS-nya Reza. Apakah orang dengan sederet pekerjaan freelance seperti saya boleh mendidik anak dengan HS? Atau, haruskah semua pekerjaan itu saya lepas saja dan fokus mengurusi pendidikan Reza? Apakah dengan melakukan banyak pada saat yang sama artinya : saya TIDAK fokus?

Akhirnya, ya, kemana lagi kalau nggak curhat sama suami. Jawabannya sederhana saja:

1. Apakah HS itu selalu berarti ibu benar-benar full ngurusin anak dan tidak mengurusin apapun lainnya? Jawabannya tidak. Ada ibu-ibu yang tetap bisa mendidik anaknya ber-HS sambil melakukan pekerjaan freelance (bahkan ada yang bekerja resmi jadi guru/dosen). Justru bagus buat anak bila melihat ortunya sibuk melakukan banyak pekerjaan yang baik buat umat; di saat yang sama tetap memperhatikan mereka dan kalau bisa bahkan melibatkan mereka.

2. Fokus kita itu adalah beribadah di jalan Allah. Ketika di depan kita ada berbagai pekerjaan yang insya Allah bernilai ibadah, dan kita punya kemampuan untuk melakukannya, serta memang kemampuan yang kita miliki itu dibutuhkan oleh umat; ya jalani saja. Dalam kondisi seperti ini, karunia multitalent yang kita miliki memang akan membuat kita berada dalam posisi multitasking. Apa boleh buat. Kalau memang bisa fokus dan konsentrasi di satu bidang ya bagus. Tapi, ketika tidak bisa (dan parameternya adalah sejauh mana kemampuan kita itu dibutuhkan umat), ya sudah jalani saja semaksimal mungkin. Lalu tawakal. Sudah, simple saja.

Dan inilah saya. Saya lulusan magister HI, saya cinta studi HI, dan saya sangat meminati dunia HI. Seharusnya, kalau bisa, saya ingin fokus jadi ilmuwan di bidang ini, jadi dosen, penulis ilmiah, pengamat. Tapi kan situasinya nggak/belum memungkinkan. Saya sejauh ini baru bisa sebatas menulis artikel politik di blog/web. Sesekali jadi pembicara di beberapa kajian. Di saat yang sama, karena saya seorang ibu, saya juga harus mempelajari parenting. Ketika sudah dapat ilmunya dan memang dibutuhkan, ya saya pun nulis atau jadi pembicara parenting (misalnya di pertemuan para ortu TK). Saya punya TK. Buat apa saya mendirikan TK? Ya karena saya pernah mendapat kesempatan belajar sebuah metode hafalan Quran untuk anak (ketika saya tinggal di Iran) dan saya merasa punya kemauan, kemampuan, dan keharusan untuk menyebarluaskannya. Implikasinya, saya pun terlibat dalam dunia pendidikan PAUD, diminta jadi narasumber, menulis buku panduan pengajaran. Dan seterusnya… Banyak yang saya dapatkan dan kemudian banyak pula yang saya lakukan untuk membagi apa yang saya dapat itu.

Apa artinya saya tidak fokus?  Tadinya, gara-gara perkataan teman saya itu, saya galau. Tapi sekarang tidak lagi. Saya merasa fokus. Saya melakukan apapun tugas  yang sampai kepada saya dengan sebaik mungkin. Mungkin hasilnya tidak dianggap maksimal di mata manusia. Misalnya: “Ah, cuma nulis di blog! Coba kalau kamu fokus, kamu akan jadi ilmuwan besar…”  atau.. “Halah, cuma nulis gitu doang, bukunya juga gak laris, ga ada di toko buku!”

Tidak, justru saya sedang fokus karena parameter saya adalah keridhoan Allah. Saya cuma melakukan saja ‘tugas’ yang sampai kepada saya. Bila tugas itu bisa dialihkan ke orang lain, tentu saja saya akan alihkan. Bila tidak, dan mau tidak mau saya yang harus mengerjakan, ya sudah kerjakan saja semaksimal mungkin. Jadi, saya tidak lagi memimpikan sebuah status yang ‘jelas’ (saya terus-terang sering bingung saat ditanya profesi; sehingga jawaban saya ya itu-itu lagi: ibu rumah tangga). Gimana mau ‘jelas’; yang saya lakukan range-nya sangat jauh, mulai dari urusan domestik, ngurusin anak HS, ikut pelatihan kreatif (bikin kerajinan tangan untuk anak TK), ngomong soal parenting, jadi redaktur majalah anak, bla..bla.. ..sampai ke urusan politik (narasumber di seminar atau kajian ilmiah).

Terakhir, sekedar intermezzo. Setelah sesi curhat selesai, saya bercanda ke suami (dan didengar anak-anak):

Saya: Alhamdulillah ya, Mama nikahnya sama Papa. Coba kalau suami Mama orangnya juga suka galau, bisa kacau deh rumah tangga!

Suami: (senyum) trus, Papa harus gimana memaknai situasi ini?

Saya: Ya.. anggap aja ini cobaan buat papa..punya istri yang suka galau …  kan ini jadi sarana untuk melatih kesabaran.. (tertawa)

Kirana: naaah… Mama bantu Papa dong, supaya cobaannya berkurang!

Hahaha…

Advertisements

4 thoughts on “Fokus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s