Parenting: Analisis Kesalahan

[Kesalahan 1]

Mama sibuk ngetik (dan sulit untuk mengalihkan perhatian karena agak ‘tenggelam’ dalam teks yang sedang digarap), Reza merengek ini-itu. Intinya, dia menolak menggambar karena spidol hitam dan kotak pensil warnanya yang lengkap tidak ketemu. Lalu,entah dia bicara apa lagi, Mama nggak begitu dengar. Yang jelas, dia merengek terus, membuat Mama spaneng dan mengomel, “Reza, manfaatkan dong apa yang ada, kalau spidol nggak ada, kan tetap bisa menggambar pakai pensil. Pensil warna gak ketemu, kan ada ini kontak pensil warna yang lain; meskipun warnanya nggak lengkap, kan bisa diganti pakai warna apa saja. Reza itu mau jadi anak yang pandai memanfaatkan apa yang ada, atau selalu bergantung pada sesuatu dan menyerah ketika sesuatu itu nggak ada?”

Setelah mendengar omelan Mama dengan hikmat, Reza menjawab dengan ekspresi serius, “Susah ya, ngomong sama Mama?”

*oh nooo… salah lagi deh, saya:(

Analisis kesalahan:

1. Saya sejak awal mengabaikan Reza (saya bicara dengannya dg mata menatap laptop, seharusnya saya berhenti ngetik dan menatap mata Reza)

2. Saya bicara dengan nada tinggi (percuma ngomel panjang lebar; yang ditangkap anak adalah ‘kemarahan’, buka isi omelan)

3. Saya mendiktekan solusi (seharusnya, ibu hanya menggiring komunikasi sehingga akhirnya solusi keluar dari mulut anak sendiri; ini akan melatih thinking skill anak)

4. Saya ‘menasehati’ Reza (dengan cara dan timing yang salah)

5. Saya berkata kepada Reza dengan menggunakan konsep abstrak  (‘kamu bergantung kepada sesuatu’), padahal konsep abstrak biasanya dipahami anak 9 thn ke atas (ini sama halnya dg berkata ‘kalau kamu nggak rajin belajar, ntar kamu nggak bisa jadi insinyur!)

 

[Kesalahan 2]

Kirana hari Senin akan ujian semester. Dia sudah mencoba menghafal, tetapi malah stress karena merasa terlalu banyak yang belum hafal. Lalu bertanya, “Ma, lebih baik sekarang aku ngapalin, atau nulis [novel]?”

Saya menjawab singkat [sambil saya tetep ngetik], “Nulis.”

Analisis kesalahan: Saya mendiktekan pilihan kepadanya [seharusnya saya berkomunikasi dengannya dan mendorong dia mengambil keputusan sendiri]

dan kesalahan itu terjadi karena saya ingin urusan segera selesai, karena saya tidak ada  waktu ngobrol panjang lebar, karena sedang ngebut menyelesaikan tulisan. Astaghfirullohal adziiimm… 😦

 

Note:

Untuk mengetahui lebih jauh tentang hal ini, bisa baca penjelasan lengkapnya di buku Amazing Parenting. Suer bukan iklan atau jualan, hanya berbagi info 🙂

Advertisements

[Parenting] Menjadi Pembelajar Mandiri

Sebenarnya banyak buku dan artikel tentang HS yang sudah saya baca. Tapi sepertinya yang lebih nempel di otak justru hasil sharing dan curhat dari teman-teman sesama HS-er. Awalnya memang saya galau. Tapi semakin ke sini, melihat perkembangan Reza dan semakin berhasilnya saya mengubah mindset (meski belum 100% berhasil lho, tapi ada perubahanlah), kegalauan mulai berkurang.

Ada beberapa kata kunci yang saya pegang soal HS :

-Better late than early (jangan panik liat anak orang lain bisa ini-itu sementara anak kita belum bisa; ingatlah bahwa anak kita punya berbagai kemampuan dan kelebihan yang juga belum tentu dimiliki anak lain; rumput tetangga memang seringkali lebih hijau.)

Biarlah anak menjalani prosesnya dan menikmatinya, daripada diburu-buru. Contohnya, Reza baru bisa berenang setelah  ikut paket les ke-3 kalinya (padahal, Rana dulu satu paket aja udah bisa). Tapi, saya melihat dari sisi bahwa perjuangan Reza lebih keras sampai akhirnya berhasil. Dia awalnya sangat takut air.Menyaksikan prosesnya sampai akhirnya dia bisa mengatasi ketakutannya, sungguh luar biasa. Saya mengajarinya teknik visualisasi (selama beberapa menit menutup  mata dan membayangkan dia bisa berenang). Juga, dia berdoa setiap habis sholat, “Ya Allah tolonglah aku supaya bisa berenang tanpa pelampung lagi..”

Fasilitasi anak untuk menemukan minat dan bakatnya sendiri, sampai akhirnya jadi pembelajar mandiri.

Benar saja, awalnya Reza memang harus dibimbing terus. Saya harus mengajaknya ini itu; menawarinya belajar ini-itu. Awalnya saya galau..sampai kapan harus begini ya? Tapi ternyata, seiring waktu, Reza bisa menemukan sendiri apa yang dia mau. Bakatnya sepertinya memang di bidang seni gambar dan craft. Jadi kegiatan yang paling dia sukai ya dua itu (ehh..satu lagi: cooking day alias masak-masak :D). Meskipun, tetap saja, ada program-program yang saya wajibkan: mengaji, menghafal Quran, membaca sirah, menulis halus, dan menulis jurnal. Dan yang membuat saya bersyukur, sekarang dia sudah mulai bisa mencari bahan pelajarannya sendiri, meski masih terbatas di dunia menggambar. Misalnya, Reza minta dicarikan you tube tutorial menggambar Ultraman atau bagaimana menggunakan Google Sketchup. Lalu, ya dia asyik sendiri mengikuti instruksi dari you tube. Reza juga sangat berminat pada bahasa Inggris sehingga dia bolak-balik membuka buku bahasa Inggris seri Tiny Talk (dulu beli di Iran) dan minta dibacakan Tintin berbahasa Inggris (sama, kebetulan dulu pernah beli di Iran). Kadang dia mengira-ngira sendiri artinya dan mencoba-coba membaca sendiri komik Tintin itu. Meski belum full ‘pembelajar mandiri’, tapi saya senang keliatannya memang Reza ada proses ke arah sana.

Oiya, pemakaian you tube harus terus didampingi (meja kerja saya berdekatan dengan meja belajar Reza) karena kuatir ada konten pornografi nyelip di sana-sini.

HS itu bukan memindahkan sekolah ke rumah (sehingga kami tidak lagi membuat jadwal belajar ala sekolah). Jam ‘belajar’ Reza bahkan sangat panjang, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Semua kegiatannya adalah belajar meski keliatannya ‘tidak belajar’. Akibatnya, rumah kami memang jarang rapi. Kertas-kertas (untuk membuat craft) dan buku bertebaran di sana-sini. Saya punya PR besar: membiasakan Reza untuk merapikan rumah sehabis dia membuat craft. Tapi saya juga bingung, lha seharian bikin craft terus (tentu dijeda dengan berbagai kegiatan juga), kan capek juga merapihkan bolak-balik.

Ruang belajar tidak hanya di rumah, tetapi di semua tempat. Ini masih jadi PR buat saya. Seharusnya saya banyak mengajak Reza eksplorasi alam, jalan-jalan keliling kompleks, ke sawah, dll. Cuma, sifat saya dan Reza sama persis: ga suka jalan-jalan kecuali kalau diniatin traveling (jadi, saya menyengaja bawa Reza jalan-jalan ke Lembang atau ke toko buku). Artinya, membiasakan diri keluar rumah pagi-pagi untuk jalan kaki ke sana-sini, itu berat buat kami. Saya males, Reza juga. Walhasil kami lebih sering di rumah saja. Harusnya, saya juga berkebun bersama Reza. Pernah dicoba, tapi saya lupa mengingatkan Reza utk rutin menyirami Reza pun tidak terlalu antusias. Jadi..?  Ya, pokoknya ini masih jadi PR, harus dilakukan, Cuma masih perlu tekad kuat.

Ber-HS tidak mensyaratkan ortu yang bisa segala hal, tapi ortu yang mau mendampingi anak belajar. Misalnya, saya tidak terlalu suka masak. Tapi karena Reza penasaran dengan makanan bernama apple pie, ya saya pun browsing dan bikin apple pie bersama Reza. Bikin masakan itu anak bisa belajar banyak hal (misalnya timbangan berat, apa beda gram dengan kilogram, atau apa itu mililiter; atau bahwa kalau adonan pie terlalu keras, bisa diakali dengan menambah air es)Atau, soal google sketchup. Saya blank banget soal itu. Tapi, saya mendorong Reza mencoba dan mencari tutorial di you tube, selanjutnya ya dia bisa sendiri. Saya? Tetep blank, hehe..

Sekian dulu catatan sementara ini.

hasil desain Reza dengan google sketchup

hasil desain Reza dengan google sketchup

ini Fadhli (sepupu Reza). Mrk berdua membuat percobaan kimia, membuat parfum. Brhasil juga meski parfumnya cuma berupa tetesan-tetesan uap destilasi 🙂

Reza belajar menggambar dari tutorial you tube

Reza belajar menggambar dari tutorial you tube

Reza bergaya koboi. Topi dan pistolnya bikin sendiri dari karton, syalnya pake serbet makan :)

Reza bergaya koboi. Topi dan pistolnya bikin sendiri dari karton, syalnya pake serbet makan 🙂

Reza dan saya jalan-jalan berdua saja ke Lembang, main flying fox. Reza usia 6 thn akhirnya berani juga meluncur dg flying fox yang tinggi banget. Katanya, "Aku takut awalnya takut, tapi ditahan". Bravo Reza!

Reza dan saya jalan-jalan berdua saja ke Lembang, main flying fox. Reza usia 6 thn akhirnya berani juga meluncur dg flying fox yang tinggi banget. Katanya, “Aku takut awalnya takut, tapi ditahan”. Bravo Reza!

Kartu pop up unta mesir karya Reza

Kartu pop up unta mesir karya Reza

Wajah Segar

Kemarin, di acara bedah buku Amazing Parenting, beberapa teman, alumni pelatihannya Bunda Rani, menyatakan kekagetannya secara spontan kepada saya.

“Waduh, pangling liatnya!”

“Wah, kok mukanya kayak putih bersinar gitu ya?”

“Ya ampun, manglingin banget!”

Jujur saya jadi ikut kaget. Emang dulu mukaku gimana, dan sekarang gimana? Lha kalau lagi bercermin, saya merasa biasa aja (dan bahkan kadang kesel karena tidak sesuai impian..hwaaa..ABG banget dweeh..)

Pas saya ceritain ke suami, suami juga bilang, kalau bertemu dengan teman-teman yang lama tak bersua, komentarnya juga mirip, misalnya “Antum ini keliatan segar sekali sekarang!”

Dan, kesimpulan suami saya, ini berkat raw juice yang sudah kami konsumsi sejak Oktober 2012.

Continue reading

Iwan Yuliyanto

Bismillah …

Melanjutkan berbagi tentang [Dreambook] Program Mencetak Anak Penghafal Al-Qur’an, kali ini saya ingin berbagi informasi sebuah film dokumenter yang inspiratif berjudul “KORAN BY HEART”.

Film dokumenter produksi HBO ini diproduksi tahun 2011 dengan sutradara Greg Baker menceritakan tentang perjalanan hafidz (penghafal Al-Qur’an) yang berkompetisi dalam Lomba Hafalan Al Qur’an Internasional tahun 2010 di Kairo, Mesir. Lomba ini diadakan oleh pemerintah Mesir setiap tahunnya. Film ini luar biasa dan sangat inspiratif buat para penghafal Al-Quran, sesuai dengan judulnya yang menyampaikan pesan bahwa mereka menghafal Al-Quran tidak sekedar mengandalkan otak melainkan juga menggunakan hati.

View original post 1,533 more words

Trip to Bromo, with Muslimah Backpacker!

Sejak bergabung dengan Muslimah Backpacker (sebuah grup di FB yang digagas Imazahra), saya mengikuti diskusi-diskusinya dengan agak-agak apatis. Pikir saya, waduh, gimana mau jalan-jalan? Meski status resmi saya ibu rumah tangga dan suami saya juga status resminya bapak rumah tangga (soalnya 90% pekerjaannya dilakukan di rumah, hehehe), tetapi kami tetap saja jenis orang-orang yang rasanya kekurangan waktu. Sangat banyak yang perlu dilakukan, sangat sedikit waktu yang ada. Jadi, rasanya mengada-ada kalau tiba-tiba saya minta izin ke si Akang, “Boleh ya, Mama jalan-jalan sama MB?”

Tetapi, ketika ada rencana trip ke Bromo, wow, entah mengapa desakan di hati begitu kuat untuk ikut. Pokoknya pengen ikut, titik. Dan saya pun menelpon suami yang saat itu sedang menyetor kerjaannya ke Jakarta. Eh, ajaib, tanpa banyak tanya, si Akang mengizinkan. Meski… pada hari H keberangkatan, tiba-tiba semua urusan tumpang-tindih dan membuat si Akang agak panik dan memberi ultimatum “Ini yang terakhir ya! Mama itu sudah bukan anak muda lagi, punya tanggung jawab di rumah, bla..bla..”

Akhirnya,  semua urusan itu bisa diatur dengan mengandalkan ipar-ipar dan pak sopir. Meski, hohoho..saat saya di Malang, suami nelpon dengan memelas, ternyata situasi tetap saja agak kacau; pak sopir datang telat, sehingga karena sudah tidak ada waktu lagi (Kirana harus diantar ke dokter tepat waktu, kalau engga jadwalnya hangus, padahal sudah direserved sebulan sebelumnya), akhirnya si Akang yang seharusnya hanya mengurus Reza hari itu, harus pula mengantar Kirana sehingga Reza batal les renang (karena nggak ada yang nganter Reza); dua-duanya harus dibawa ke les kumon, lalu Reza ke dokter gigi, dan…malamnya si Akang tumbang kelelahan karena harus nyetir berjam-jam ngurusin kedua anak itu.  Belum lagi hal-hal tak terduga lainnya. Alhamdulillah, saat saya pulang, si Akang sama sekali gak marah (eeeh, emang dia bukan pemarah dan selalu penuh pengertian kok *suit-suit ada maunya tuh ngerayu begini*). Sehingga, dengan nekadnya saya merayu lagi, “Mama tahun depan boleh ya, ikut trip MB lagi, ke Mesir?” *gubrax* (Pengen tau nggak jawaban si Akang?  “Kayaknya Papa deh yang lebih perlu bertraveling ke Mesir, kan Papa studinya bidang budaya!” Lho? Mulai ketularan virus traveling MB rupanya, hehe…)

Continue reading

Audisi Buku Love Journey #2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia

[Copas dari FB-nya Lalu Abdul Fatah]

Yuhuuuuu, LOVE JOURNEY is BACK!

Setelah buku “Love Journey: Ada Cinta di Tiap Perjalanan” terbit, kini kami kembali hadir dengan serial Love Journey yang lain. Yang pasti nggak kalah seru dengan Love Journey sebelumnya.

Dalam Love Journey#2 ini, kami sepakat TIDAK akan mengungkap keindahan alam Indonesia. Kita akan coba menangkap sisi lain dari Indonesia yang mungkin sering diabaikan saat melakukan perjalanan.

Mengungkap sisi lain, bukan berarti membongkar keburukan yang ada. Kami hanya ingin menantang kamu untuk mengangkat kisah yang lebih riil dan apa adanya tentang Indonesia. Kisah yang lebih membumi dan lebih humanis.

Sulit? Ah, rasanya tidak juga. Karena justru sebenarnya hal-hal seperti inilah yang paling sering kita jumpai dalam perjalanan. Misalnya: ketika mendengar curhat seorang pedagang sayur di pasar tradisional yang penghasilannya kian menurun setelah mal menjamur. Atau mungkin kisah seorang penjaga salah satu tempat wisata yang tidak pernah menerima gaji dari pemerintah. Atau… Ah, rasanya banyak sekali kisah seperti ini yang sering kita jumpai dalam tiap perjalanan kita.

Indonesia itu punya seribu wajah. Dan tidak semuanya menampilkan keindahan. Tidak indah, bukan berarti tidak menarik, kan? Banyak hal yang bisa kita ungkap dari sisi lain yang tampak tidak ‘indah’ itu.

Oleh karena itulah, kami sepakat untuk mengusung tema: Mengeja Seribu Wajah Indonesia dalam Love Journey#2 ini.

Continue reading

Orang-Orang Subaltern

Hari ini, saya, suami, dan Reza pergi ke ‘kota’. Pertama, mengantar barang pesanan ke rumah keren di kompleks keren (ngga mewah banget sih, tapi jauuuuh lebih beradab dan keren dibanding kompleks perumnas tempat kami tinggal). Dan spontan saya berkata, “Kenapa ya, kok kita tu nggak ditakdirkan punya rumah di tempat seperti ini??” Sungguh ini keluhan yang muncul dari dalam hati dan emang udah berkali-kali saya ungkapkan ke suami. Saya sering capek tinggal di kompleks yang jalannya rusak parah, rumahnya juga pas-pasan dan ‘enggak gue banget’, tetangga2 banyak orang susah, kalau ada uang lebih, nggak lama nginap di dompet karena adaaaa saja yang butuh bantuan; ada saja pengeluaran yang bukan buat kepentingan diri sendiri. Kadang saya ngeluh sendiri, kapan bisa renovasi rumah kalau duit jarang ‘nempel’ begini (apalagi bisa pindah ke tempat sebagus yang baru saya datangi itu).

Dan..si Akang sudah siap mau menasehati (heran, dia nggak bosen2nya menasehati saya soal kehidupan; bahkan tadi pagi dia juga menasehati saya lagi, sampai saya tertidur. Saya bilang, “Kalau Papa menasehati itu, Mama serasa didongengin, makanya ngantuk.” Hahaha… beneran, saya memang nyaman banget dinasehati si Akang, dan sama sekali nggak kesel. Parahnya, kok nasehatnya itu susah sekali nempel di alam bawah sadar saya. Nah, sebelum si Akang menasehati (kasian banget, masa sepagi ini musti dua kali ceramah, hahaha), saya cepat-cepat bicara hal lain.

Singkat kata, setelah urusan nganter barang selesai, kami meluncur ke sebuah supermarket milik asing, tak jauh dari sana. Saya terkagum-kagum liat sayuran segar, ayam, daging, dan segala macam barang di sana. Saya naksir banget sama piring-piring yang keren itu. Tapi kalau dipikir-pikir, ga cocok banget buat rumah saya. Piring seindah itu cocoknya buat meja makan keren di rumah keren seperti yang baru saya datangi tadi. Duh, kayak orang udik aja yeee.. hehehe. Maklum, saya kan emang ga suka masak, selama ini catering aja. Trus kalau belanja, duh, ngapain jauh-jauh, mendingan di warung terdekat. Semua hanya berdasarkan kepraktisan. Jadi kalau ke ‘kota’ yang saya tuju ya Gramedia, atau wisata kuliner, jarang banget ke supermarket buat belanja keperluan harian (apalagi sayuran).

Tapi kali ini, kami memang sedang mencari ayam organik dan konon kabarnya cuma ada di supermarket besar. Ternyata di supermarket yang ini ga ada. Kami pun keluar, dan meluncur lagi ke supermarket besar lainnya. Lagi-lagi di sana saya terpesona melihat sayur-sayuran yang sudah bersih dan rapi dikemas. Tempe yang mungil dan menarik banget buat dimasak. Ayam yang udah bersih, ikan sudah di-fillet, bumbu masakan segar yang bersih dan dikemas rapi… Duh kayaknya saya bakal rajin masak kalau belanja di sini. Dan keluar lagi deh, “Coba ya kita rumahnya deket sini, Mama bakal belanja sayuran di sini deh!”

Si Akang dengan senyum bilang, “Kasian dong pedagang pasar tradisional..”

Continue reading