Orang-Orang Subaltern

Hari ini, saya, suami, dan Reza pergi ke ‘kota’. Pertama, mengantar barang pesanan ke rumah keren di kompleks keren (ngga mewah banget sih, tapi jauuuuh lebih beradab dan keren dibanding kompleks perumnas tempat kami tinggal). Dan spontan saya berkata, “Kenapa ya, kok kita tu nggak ditakdirkan punya rumah di tempat seperti ini??” Sungguh ini keluhan yang muncul dari dalam hati dan emang udah berkali-kali saya ungkapkan ke suami. Saya sering capek tinggal di kompleks yang jalannya rusak parah, rumahnya juga pas-pasan dan ‘enggak gue banget’, tetangga2 banyak orang susah, kalau ada uang lebih, nggak lama nginap di dompet karena adaaaa saja yang butuh bantuan; ada saja pengeluaran yang bukan buat kepentingan diri sendiri. Kadang saya ngeluh sendiri, kapan bisa renovasi rumah kalau duit jarang ‘nempel’ begini (apalagi bisa pindah ke tempat sebagus yang baru saya datangi itu).

Dan..si Akang sudah siap mau menasehati (heran, dia nggak bosen2nya menasehati saya soal kehidupan; bahkan tadi pagi dia juga menasehati saya lagi, sampai saya tertidur. Saya bilang, “Kalau Papa menasehati itu, Mama serasa didongengin, makanya ngantuk.” Hahaha… beneran, saya memang nyaman banget dinasehati si Akang, dan sama sekali nggak kesel. Parahnya, kok nasehatnya itu susah sekali nempel di alam bawah sadar saya. Nah, sebelum si Akang menasehati (kasian banget, masa sepagi ini musti dua kali ceramah, hahaha), saya cepat-cepat bicara hal lain.

Singkat kata, setelah urusan nganter barang selesai, kami meluncur ke sebuah supermarket milik asing, tak jauh dari sana. Saya terkagum-kagum liat sayuran segar, ayam, daging, dan segala macam barang di sana. Saya naksir banget sama piring-piring yang keren itu. Tapi kalau dipikir-pikir, ga cocok banget buat rumah saya. Piring seindah itu cocoknya buat meja makan keren di rumah keren seperti yang baru saya datangi tadi. Duh, kayak orang udik aja yeee.. hehehe. Maklum, saya kan emang ga suka masak, selama ini catering aja. Trus kalau belanja, duh, ngapain jauh-jauh, mendingan di warung terdekat. Semua hanya berdasarkan kepraktisan. Jadi kalau ke ‘kota’ yang saya tuju ya Gramedia, atau wisata kuliner, jarang banget ke supermarket buat belanja keperluan harian (apalagi sayuran).

Tapi kali ini, kami memang sedang mencari ayam organik dan konon kabarnya cuma ada di supermarket besar. Ternyata di supermarket yang ini ga ada. Kami pun keluar, dan meluncur lagi ke supermarket besar lainnya. Lagi-lagi di sana saya terpesona melihat sayur-sayuran yang sudah bersih dan rapi dikemas. Tempe yang mungil dan menarik banget buat dimasak. Ayam yang udah bersih, ikan sudah di-fillet, bumbu masakan segar yang bersih dan dikemas rapi… Duh kayaknya saya bakal rajin masak kalau belanja di sini. Dan keluar lagi deh, “Coba ya kita rumahnya deket sini, Mama bakal belanja sayuran di sini deh!”

Si Akang dengan senyum bilang, “Kasian dong pedagang pasar tradisional..”

Saya langsung tergelak, “Hahaha.. iya ya.. Mama kan heboh nulis menentang neolib, masak belanja sayuran di tempat begini…”

Akhirnya, saya membeli sayuran yang emang ga bakal ada di warung dekat rumah saya, dan beberapa benda lain. Ayam organik? Tetep ga ada.

Dan, ya sudah… akhirnya kami sampai ke tempat tujuan terakhir: pasar tradisional! Setelah tanya sana-sini, nemu juga orang jualan ayam kampung (meski ga ada label organik tapi insya Allah lebih aman daripada ayam yang disuntik hormon). Harganya memang bikin sesak. Tapi ya gimana lagi. Kami sudah mendapati masalah kesehatan dan harus mulai hidup sehat. Langganan ibu catering berhenti dan saya (terpaksa) rajin masak, tapi tanpa (atau sangat minim) minyak dan bumbu instant; hampir semua direbus/kukus.

Nah… dalam perjalanan menuju pasar ini, saya ngobrol sama suami. Hehe, sepanjang jalan sejak dari rumah mah ngobrol melulu, tapi ini ada topik menarik, soal pasar.  Pasar yang kami kunjungi ini pasar sehat, pindahan dari pasar ‘tidak sehat’ sebelumnya yang tumplek di pinggir jalan. Pasar aslinya dulu sangat ramai. Tapi stlh dipindah ke pasar sehat yang bersih ini malah sepi (atau karena sepi malah jadi bersih ya?). Awalnya saya pikir, ini karena harga kios yang mahal (artinya, ada banyak pedagang yang tersingkir dan pindah kerja entah jadi apa). Trus suami ngasih tambahan argumen, “Pasar itu kan fenomena budaya. Nggak semudah itu memindahkan pasar. Perlu waktu lama dan ‘rasa budaya’ yang khas yang membuat pasar baru ini bisa ramai kembali.”

Kebetulan saya sedang berniat membuat tulisan soal orang-orang yang ‘terusir’ dari pasar. Tapi saya bingung, narasumbernya siapa ya? Dan kalaupun  nemu narasumbernya, gimana cara bicara dengan mereka? Saya pun nanya ke suami, yang biasanya langsung nyambung kalau bicara dengan orang-orang subaltern (orang2 yang tersingkirkan dari struktur yang dibangun penguasa dan pemodal, istilah lainnya: ‘orang kecil’). Contohnya aja, ini sama tukang penjual ayam kampung. Si Akang langsung ngobrol sama si penjual ayam dengan akrab.

Nah, jawaban suami saya sangat ‘menjewer’ saya, hiks, “Kalau bicara dengan mereka, harus dari hati…Diniatkan benar-benar ingin berbuat baik dengan mereka…”

Hoala, niat saya bikin tulisan/penelitian itu apa yaaaa..? Benarkan hanya ingin menyampaikan suara orang-orang subaltern itu, atau hanya supaya eksis sebagai penulis, atau..ya dua-duanya deh..? Duh, musti introspeksi diri dan meluruskan niat lagi deh.

Habis beli ayam, langsung pulang.Eh sempet tergoda liat kaos bagus, dan saya spontan bilang, “Pa..pa..brenti sebentar, ada kaos bagus, Mama mau beli.”

Si Akang menunjukkan raut muka nggak suka tapi tetap berenti dan merogoh kantong, mau ngasih uang.

Saya tersadar, ehhh.. iya.. ngapain laper mata begini, dan sambil tertawa bilang,  “Ah nggak jadi deh… Dustet doram..”  [I love you, bhs Farsi]

Si Akang diam saja dan melajukan mobil. Eh, Reza yang nyeletuk, “Kok Papa ga jawab??”  [saya dan Reza memang terbiasa saling mengucapkan dustet doram]

Barulah si akang tertawa, “Ooooh iya yaa… Man ham dustet doram..”   [I love you too]

*hepi ending deh* [suami saya emang nggak terlalu suka saya beli baju baru, menurutnya baju saya sudah terlalu banyak]

Sampai di rumah, eh, disapa sama bi Elin, si teteh yang biasa membantu saya melakukan pekerjaan domestik yang tidak saya sukai (cuci piring, ngepel, nyetrika, dll). Dia biasa datang ke rumah saya jam 2-an, karena sejak pagi kerja dulu di tempat orang lain. Tapi kali ini saya dapati dia sedang nyapu di rumah ibu tetangga yang suaminya sedang sakit. Dengan senyumnya yang tulus dan polos (itulah sebabnya saya seneng banget sama bi Elin ini, orangnya nrimo dan ga neko-neko), dia minta izin mau beresin dulu rumah ibu tetangga, baru nanti ke rumah saya. Ketika saya bilang, “Iya ga apa-apa”  dia menjawab sambil senyum, “Terimakasih ya bu…”

Trus,jam 15.30 dia datang. Duh kasian banget sudah kerja dari pagi. Saya bilang, kalau capek, besok aja. Tapi dia berkeras tetap mau kerja. Sungguh saya benar-benar heran, darimana dia punya tenaga sebanyak itu? Suaminya tukang becak dan mereka tinggal numpang di rumah orang. Anaknya entah berapa (kayaknya banyak) dan dia juga harus kerja mengurus rumah tangganya sendiri. Duh, miris banget. Kenapa ada orang yang harus kerja banting tulang dan ada yang kayak saya, hanya ketak-ketik di depan laptop, alhamdulillah dapat honor?

Entahlah, nanti saya pikir lebih lanjut lagi. Judul tulisan ini memang nggak agak nyambung, tapi memang saya sedang memikirkan mereka, orang-orang subaltern ini. Ini sekedar lintasan pikiran sementara. Mudah-mudahan nanti beneran jadi tulisan yang bermanfaat dan bisa dipublish di media (dan mudah2an bukan ini yang jadi niat utama saya, karena ini artinya saya sedang memperjuangkan ego saya; bukan menjadi penyambung lidah bagi kaum subaltern).

Advertisements

2 thoughts on “Orang-Orang Subaltern

  1. Impressive blog! Already been searching about for a long time for some thing similarly to this situation. Where exactly did you end up getting the reports from? Would you write-up a handful more resources for extra understanding.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s