Trip to Bromo, with Muslimah Backpacker!

Sejak bergabung dengan Muslimah Backpacker (sebuah grup di FB yang digagas Imazahra), saya mengikuti diskusi-diskusinya dengan agak-agak apatis. Pikir saya, waduh, gimana mau jalan-jalan? Meski status resmi saya ibu rumah tangga dan suami saya juga status resminya bapak rumah tangga (soalnya 90% pekerjaannya dilakukan di rumah, hehehe), tetapi kami tetap saja jenis orang-orang yang rasanya kekurangan waktu. Sangat banyak yang perlu dilakukan, sangat sedikit waktu yang ada. Jadi, rasanya mengada-ada kalau tiba-tiba saya minta izin ke si Akang, “Boleh ya, Mama jalan-jalan sama MB?”

Tetapi, ketika ada rencana trip ke Bromo, wow, entah mengapa desakan di hati begitu kuat untuk ikut. Pokoknya pengen ikut, titik. Dan saya pun menelpon suami yang saat itu sedang menyetor kerjaannya ke Jakarta. Eh, ajaib, tanpa banyak tanya, si Akang mengizinkan. Meski… pada hari H keberangkatan, tiba-tiba semua urusan tumpang-tindih dan membuat si Akang agak panik dan memberi ultimatum “Ini yang terakhir ya! Mama itu sudah bukan anak muda lagi, punya tanggung jawab di rumah, bla..bla..”

Akhirnya,  semua urusan itu bisa diatur dengan mengandalkan ipar-ipar dan pak sopir. Meski, hohoho..saat saya di Malang, suami nelpon dengan memelas, ternyata situasi tetap saja agak kacau; pak sopir datang telat, sehingga karena sudah tidak ada waktu lagi (Kirana harus diantar ke dokter tepat waktu, kalau engga jadwalnya hangus, padahal sudah direserved sebulan sebelumnya), akhirnya si Akang yang seharusnya hanya mengurus Reza hari itu, harus pula mengantar Kirana sehingga Reza batal les renang (karena nggak ada yang nganter Reza); dua-duanya harus dibawa ke les kumon, lalu Reza ke dokter gigi, dan…malamnya si Akang tumbang kelelahan karena harus nyetir berjam-jam ngurusin kedua anak itu.  Belum lagi hal-hal tak terduga lainnya. Alhamdulillah, saat saya pulang, si Akang sama sekali gak marah (eeeh, emang dia bukan pemarah dan selalu penuh pengertian kok *suit-suit ada maunya tuh ngerayu begini*). Sehingga, dengan nekadnya saya merayu lagi, “Mama tahun depan boleh ya, ikut trip MB lagi, ke Mesir?” *gubrax* (Pengen tau nggak jawaban si Akang?  “Kayaknya Papa deh yang lebih perlu bertraveling ke Mesir, kan Papa studinya bidang budaya!” Lho? Mulai ketularan virus traveling MB rupanya, hehe…)

Singkat cerita, saya pun sendirian ke Malang, pakai kereta eksekutif, menggendong ransel yang ringan, dan menyeret koper kecil. Gubraaakz… ini tuh Muslimah Backpacker apa turis buuuu??? Hahaha… Yah.. pegimana lagi… daripada saya ambruk di Malang dan batal ke Bromo, ya saya harus mengatur perjalanan agar tidak terlalu melelahkan. Apalagi, beberapa minggu sebelum ke Bromo, saya banyak keluhan kesehatan. Bahkan selama seminggu sebelum berangkat saya pusing-pusing, ga enak badan (kayak tekanan darah rendah gitu deh).

Ajaibnya, meski selama di Malang saya sempat sekali agak pusing dan mual karena telat makan, tapi secara umum, saya benar-benar segar dan sehat. Lalu pas pulang, setelah buka email dan FB, kok mendadak pusing lagi nih kepala. Kata si Akang, “Selama traveling nggak buka FB kan?” Tentu tidak, demi menikmati penuh traveling ini, saya sengaja tidak mengaktifkan internet di HP, tidak membawa laptop, ataupun tablet. Meskipun itu membuat saya agak menyesal karena pas di kereta, ada sms dari redaktur sebuah majalah, minta kiriman artikel opini politik soal Sabah. Cobaaaa..kalau saya bawa laptop, hiks. Akhirnya di kereta saya menghibur diri dengan membaca novelnya Michael Crichton sampai tamat.

Eh balik lagi, jadi, perkara pusingnya saya itu, si Akang menyimpulkan, saya pusing lagi gara-gara buka FB (atau internet secara umum). Hm, iya sih, mungkin saja. Melalui internet kan saya mengikuti perkembangan politik internasional (soale emang topik inilah yang saya minati untuk ditulis) dan masalahnya, itu membuat saya agak tertekan juga (ya iyalah, perang di mana-mana). Tapi, tanpa internet, terutama blog dan FB, mana mungkin saya kenal dengan teman-teman yang sangat banyak di luar sana, yang akhirnya kopdaran dalam berbagai even, dan bahkan akhirnya ikut nge-trip bersama Muslimah Backpacker. Ya nggak?

Oke deh, mari dimulai saja cerita soal trip ke Bromo ini (dari tadi gak mulai-mulai yak). Setelah tiba di Wisma Hijau di Malang (Wisma milik AD, Jalan Mayjen Wiyono, yang dicat hijau :D), saya langsung mandi, lalu, jalan-jalan sendirian naik angkot. Jadwal acara bersama MB kan jam 14.30, sementara saat itu belum jam 12. Tujuan pertama, Gramedia (soalnya, tanpa diduga, novelnya Crichton tamat euy, jadi saya butuh buku lagi buat teman perjalanan pulang nanti). Eh, ternyata di sebelahnya ada toko es krim Oen. Di setiap catatan traveling ke Malang, ini toko disebut-sebut terus. Akhirnya saya ya masuk juga ke toko itu. Liat daftar menunya, waduh, mahal-mahal. Saya pesan yang paling murah, seharga 13rb. Ternyata..wow… sedikiiiiit banget porsinya. Dan yang paling ‘menyindir’ saya, ada tulisan “a colonial landamark and prominent restaurant” serta menu-menu yang ditulis bahasa Belandanya. Waduh, maaf yang buat yang nggak setuju; tetapi saya saat itu jadi merasa termasuk ke dalam golongan orang-orang yang ditulis oleh Fanon di bukunya Black Skin, White Mask, yaitu orang-orang terjajah yang justru malah ingin meniru-niru perilaku penjajah. *harap maklum, beginilah travel writingnya seseorang yang sangat menggemari teori poskolonialisme :D*

Ya lah, singkat kata, saya pun meneruskan blusukan kota Malang. Jalur angkot di Malang tuh asyik, membawa kita keliling ke berbagai kompleks perumahan. Jalanan Malang juga rapi, bersih, dan asri banget. Saya mampir di sebuah rumah makan (sengaja, saya cari yang tidak berbau kolonialisme atau borjuisme *gubraxz*), namanya gule kepala ikan Mas Agus, jalan Arif Rahman Hakim, yang ternyata enggak jauh dari alun-alum Malang. Rasanya enak dan harganya muraaah banget sampai kaget (ikan besaaaar… meski kepala dan sisa-sisa dagingnya doang, sepertinya ikan ‘asli’-nya sudah dibikin fillet, + nasi + air jeruk hangat, total 20rb). Pas nanya, kata si mas-nya ini masakan khas Solo.

Gule Kepala Ikan Mas Agus

Gule Kepala Ikan Mas Agus

Tiba-tiba, SMS masuk dari Magdalena, katanya anak-anak MB sudah berangkat untuk ngumpul di rukonya mbak Erny SAVERO (ini merek produknya –baju-sepatu-tas, dll- Mbak Erny, sekalian ikut mempromosikan produknya sesama MB-er:D). Oke, saya pun cepat-cepat naik angkot lagi, mencari jalan Untung Suropati (lokasi ruko SAVERO). Eh, sama si sopir angkot malah diturunin di jalan Suropati (kagak pake ‘untung’). Setelah telpon-telponan dengan mbak Erny, bliau langsung memutuskan bahwa saya sebaiknya dijemput saja pakai mobilnya. Waduh, nggak asli lagi dong backpacker-nya saya (yaaah..sejak awal juga udah nggak asli bu, masak pakai eksekutif n bawa koper :D).

Yah, pokonya, terimakasih banyak buat mbak Erny, mbak Dian, dan suami Mba Erny yang dengan tulus ikhlas mengantar jemput para peserta Muslimah Backpacker yang datang dari berbagai kota di Indonesia. Saat kenal dengan mereka, saya mulai terbersit rasa salut sama MB. Meski saya sudah tau manajemen MB ini murni voluntary, melihat kerepotan mereka secara langsung, rasanya beda banget deh. Luar biasa. Trus pas denger curhatnya Imazahra (di sela-sela jalan-jalan malam di Batu Night Spectacular) soal kesibukan ngatur-ngatur trip ini bersama para admin MB yang lain…wow.. tambah salut deh. Ditambah pula keharuan saat mendengar perjuangan dan ungkapan hati para peserta trip saat pertemuan di ruko mbak Erny. Betapa trip to Bromo (atau sekedar escape dari rutinitas) adalah mimpi kami yang kini bisa terwujud.  Luar biasa, saya baru nyadar bahwa traveling pun bisa jadi ladang amal.  Ya iyalah, mengatur trip,  memberikan kebahagiaan, mewujudkan mimpi-mimpi banyak orang, dan menyambungkan silaturahim, ini kan ladang amal yang luar biasa. Jazakumullah khairan katsira buat admin MB dan segenap panitia.

Eh iya, dalam pertemuan pertama seluruh peserta trip Bromo ini, ada Travel Talk-nya juga. Maksudnya, acara diskusi bersama penulis soal bagaimana cara menulis catatan perjalanan. Saya diminta sharing karena pernah nulis buku Pelangi di Persia (cetak ulang dengan judul Journey to Iran).  Penulis lain yang diminta sharing adalah Lalu Abdul Fatah (penulis Travelicious Lombok). Waduh senengnya ketemu ‘adik-ketemu-di-blog’ ini, hehe. Ternyata anaknya manis juga tuh (habis, disuruh-suruh moto-moto sama para akhwat, manuuut..aja..hihi.. beralih profesi deh, dari tukang nulis ke tukang moto). Eh, tapi beneran manis (gentleman) kok *ini info buat yang masih jomblo :D*.

Saya, menyambi jadi penimba ilmu Uni Dina

Saya dan Lalu Abdul Fatah (foto dicomot dari lafatah.wordpress.com)

Berhubung sudah panjang dan saya sepertinya mulai kehabisan energi, langsung aja ke cerita naik Bromo-nya yaaaa… Begini ceritanya, ternyata itu bukan mendaki gunung beneran, hahaha… Jadi, dari turun jeep, kita musti jalan kaki (lahan datar) agak jauh, lalu mendaki (tapi cukup landai kok), lalu mendaki tangga, sampai ke puncak (seorang turis yang bareng saya mendaki tangga menghitung keras-keras, dan saat dia tiba di puncak, dia berkata dua-ratus-tiga-puluh-duaaaa!!!).

Naaah… saat baru turun jeep, saya dirayu sama tukang kuda, supaya naik kuda. Bayarnya 100rb pp (dan ternyata bisa lebih murah lho, ada yang bayar cuma 80rb pp, ada yang sekali jalan kena 20rb..ya ampuuuun… ketauan saya paling ga bisa nawar, hiks). Karena penasaran, belum pernah naik kuda, ya naik deh. Ternyata mengerikan juga awalnya. Tapi lama-lama saya menikmatinya (eh, tapi kudanya tetep dituntun sama si tukang kuda *cemen banget deh gw*). Pas naik tangganya, ngos-ngosan abis. Tapi, syukurlah, nyampai juga di puncak. Sempet baca Quran di puncak, meneteskan air mata keharuan melihat ciptaan Allah yang luar biasa ini, plus kengerian mengingat dosa-dosa selama ini. Mengucapkan syukur, Allah mengaruniakan suami yang baik hati, mau memberi ‘me-time’ buat saya, sehingga saya bisa sampai ke sini. Fa bi aayi aalaaai Robbikumaa tukadzdzibaaaan

Beginilah gaya saya naik kuda :D (background: Gn Bromo)

Beginilah gaya saya naik kuda 😀 (background: Gn Bromo)

Muslimah Backpacker pun Beraksi Sosial, Sumbang Buku Untuk Anak-Anak Desa Tosari (di kaki Gn Bromo)

Muslimah Backpacker pun Beraksi Sosial, Sumbang Buku Untuk Anak-Anak Desa Tosari (di kaki Gn Bromo)

Di Pananjakan, melihat sunrise

Di Pananjakan, menikmati sunrise

Secara umum, saya sangat menikmati ngobrol-ngobrol bareng dengan akhwat-akhwat MB. Obrolan seru dan hangat, serta rasa persaudaraan yang terasa sejak detik pertama berjumpa, sungguh luar biasa. Apalagi ada insiden-insiden lucu (kalau yang menyangkut saya dan teman sekamar di wisma Hijau, ada insiden McGyver. Ceritanya, di malam pertama, karena saya ga enak badan, saya nggak ikut trip ke alun-alun. Jadi saya sendirian di kamar. Eh, saya tertidur dan nggak denger pas temen-temen datang mengetok pintu. Karena udah lama ngetok, ga terbangun juga *gile ndablek banget yak* merekapun masuk lewat jendela *kacau deh, pintu dikunci, tapi jendela dibiarin aja terbuka*. Yah, pokoknya besoknya itu jadi sumber haha-hihi deh, lucu (plus bikin saya agak malu), hehehe…

Tapi… sesuai golongan darah saya yang A, saya pun sangat menikmati saat-saat sendiri blusukan kota Malang (dan bahkan blusukan saya lanjutkan pada hari ke-4 saya di Malang, setelah semua teman-teman pulang ke kota masing-masing). Ceritanya bagaimana, nantikan saja, mudah-mudahan lolos audisi buku “Love Journey #2: Mengeja Seribu Wajah Indonesia), hohoho… Apa ini? Itu lho, buku yang mau disusun Lalu Abdul Fatah. Info selengkapnya bisa klik di sini.

Eh, sebentar, kok ada hubungan sama golongan darah ya? Wah, kepanjangan kalau diceritain. Yang jelas, isu goldar ini akan bikin senyum-senyum beberapa orang yang baca tulisan saya ini (antara lain Fatah dan Dian Onasis:D). Kalau mau tau baca  aja sifat manusia berdasarkan golongan darah :D.

Oke deh… sampai di sini dulu dongengnya ya anak-anakku… *lho* Semoga bisa ikut tripnya MB yang lain lagi…terutama tahun depan, Mesir-Tunisia-Maroko *amiiiiin*

Advertisements

30 thoughts on “Trip to Bromo, with Muslimah Backpacker!

  1. Hehehe

    Beneran ada goldarnya

    Dinaaaa, kalau billa dan aam udah segede kirana dan reza, sepertinya dian mau jg naik KA eksekutif ke malang

    I miss that town so much…

    Btw, in blo “pribadimu” yaaaa?

  2. Pengalaman yang menarik banget ya, uni…
    oiya, salam kenal dulu yaa… (belum kenal udah sok-sokan manggil uni.. :D)

    Btw itu tentang golongan darah, saya jadi ikutan senyum-senyum niih… 🙂

  3. Hihihihi… sesekali jalan sendiri memang asyik ya, Mbak Din. Anak2ku agak gede sekarang mulai susah diajak jalan2 bareng… 🙂 Ceritanya sangat asyik, Mbak Din..

  4. Ceritanya seru.
    Saya sempat terbahak di bagian teman-teman MB yang masuk lewat jendela karena mbak Dina tidak terbangun saat di ketok2 😀

    Oh iya, hitungan jumlah anak tangga ke puncak Bromo itu ternyata sering ga sama ya 🙂

  5. Suka banget sama kata-kata ini, “…mengatur trip, memberikan kebahagiaan, mewujudkan mimpi-mimpi banyak orang, dan menyambungkan silaturahim, ini kan ladang amal yang luar biasa.” 🙂 Seru sekali perjalanannya Uni Dina.

  6. suwami yg bisa diajak kerjasama gitu termasuk rejeki ya mb Dina 🙂
    trip menyenangkan versi saya adalah ketika kita bisa menikmati perjalanan dan bisa akrab teman seperjalanan. saya trmsk yg ngerasa gak nyaman pergi rame2 yg harus tunggu2an, dulu ke Bromo sampe’ harus naik duluan sama rombongan cowok gara2 rombongan cewek2nya masih ribet kebanyakan persiapan (dandan) *geleng2 pala*

    • iya, alhamdulillah.. 🙂
      kalau bareng MB-ers kayaknya asyik deh, hehe.. Eh, kemarin kemana-mana memang agak serba lama juga sih..tapi bukan karena dandan, melainkan karena semua sibuk foto2..haha.. Untuk satu adegan saja fotonya lama karena kamera sangat banyak. :))

  7. Mbak, salam kenal Assalamualaikum yaaaa
    Mau dong gabung bgm caranya krn blognya dibuka susah ya muslimahbackpacker
    karena sy suka travelling, smg kapan2 bs gabung trip di MB jazakillah khoir

  8. Pingback: [Traveling] Buku Baru: Love Journey #2 | Dina Y. Sulaeman

  9. Assalamualaikum mbak. salam kenal ya. ini dgn Mulhayati, seru banget cerita2nya. sya juga pengen banget gabung MB, belum di add2 aja kn ya? pdhl pengen banget ngetrip bareng. he..he..

  10. Asslmkm wrwb… luar biasa seneng ny bsa ketemu sm grup ini.. sdh lama skali mncari2 grup / komunitas travlg yg d dlm ny muslimah… gmn yh mba cara gabung ny? Sy sdh coba add lwt fb.. unt jalur komunikasi adkah lwt grup wa atau bb? Klo ad mau dong mba d masukin… hhee
    Duh dah mulai mngawang2 pngen trvlg bareng saudara mslimah… 😉

  11. assalamuallaikum… mba blh ikut gabung d komunitas MB gak ? sya sdkt sekali komunitas yg khusus akhwat pendaki… tlg email sya ya mba… jazakillah ukh… wassalamuallaikum..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s