A Mindful-Life-Afternoon

Jumat yll adalah hari yang ‘heboh’. Diawali dengan keinginan saya untuk ikut acara talkshow di masjid Salman, temanya “Islam: Risalah Cinta Semesta”. Pembicaranya pak Yasraf Amir Piliang (YAP) dan pak Haidar Bagir (HB). Saya belum pernah mendengar keduanya bicara (hanya baca tulisan2nya). Jadi, emang sudah sejak lama penasaran. Problemnya, Jumat itu jadwal suami ngajar di Jakarta. Sampai hari H, saya masih ragu, tapi akhirnya memantapkan diri untuk pergi. Kirana pulang cepat, jadi bisa menjaga adiknya, Reza, termasuk mengantarnya les gambar. Dan saya berjanji dalam hati, apapun godaannya, saya akan meninggalkan acara jam 17.00.

Saya sangat menikmati pembahasan YAP dan HB, bahkan saya menikmati banget pembacaan puisi pak Iman Soleh (duh udah lama banget saya tak mendengarkan pembacaan puisi). Saya terkagum-kagum sama cara mereka bicara. Isi pembicaraannya sih, bukannya sok-sokan, saya sudah tau dan bahkan sering saya tulis (dengan gaya bahasa saya sendiri tentunya, yang ‘encer’ dan emak-emak banget).  Saya takjubnya, wow… kok bisa ya, mengungkap hal-hal itu (saya tuliskan di sini rangkuman pembahasannya) dengan kalimat yang sekeren itu (eh, tapi rangkuman yang saya tulis mah pakai bahasa ala saya lho ya). Hwaduh, saya jadi minder. Bulan depan, saya diundang jadi pembicara seminar tentang perempuan, dan pembicara selain saya adalah pak HB..hiks..bakal kebanting deh gw. Saya ini ya begini ini, kalau ngomong juga gaya bahasa saya biasa banget, gak mampu pakai frasa-frasa keren kayak orang-orang hebat itu. Tapi, ah… musti mindful life! Hehe.. kalau gak bisa  jadi pohon beringin, jadilah belukar terbaik yang tumbuh di pinggir danau. Ya nggak?

Continue reading

Oh, UN itu Begini?

Speechless..:(

Ninok Eyiz's Journey

Tahun ini pertama kali saya memperoleh kehormatan sebagai pengawas Ujian Nasional! Wow. Saya menyebut kehormatan karena sejak bertugas sebagai guru PNS, baru tahun ini saya mendapatkan kesempatan. Keren sekali rasanya. Hi hi 😀

Jauh-jauh hari sebelum UN, saya melakukan survei kecil-kecilan ke teman-teman guru. Hasil surveinya sangat menarik dan membuat saya penasaran. Mereka bilang kalau nantinya pengawas itu akan jadi boneka di ruang ujian. Waktu saya tanya, Kenapa? Kok gitu? Mereka menjawab, “Ntar kamu tahu sendiri”. Nah looh..


View original post 1,335 more words

Mindful Life

Pelatihan Self Emotional Healing adalah tahapan kedua setelah mengikuti pelatihan Amazing Communication. Sebenarnya inti pelatihan ini adalah menjawab, mengapa kita masih saja terus tergelincir berbuat kesalahan, padahal sudah tahu dan paham teori komunikasi? Mengapa kita masih mengomel, cerewet, bahkan terkadang terlepas ngamuk, ketika anak-anak kita melakukan kesalahan? Padahal, kita tahu, bagaimana yang seharusnya dilakukan dan dikatakan saat ada konflik dengan anak.

Inti jawabannya, karena alam bawah sadar kita memang senang ‘membajak’ perilaku kita. Nah, untuk menyelesaikan masalah ini, kita perlu menguasai cara self emotional healing. Gimana caranya, ya panjang sekali deh ceritanya (bayangin, pelatihannya aja dua hari). Doain ya, saya dan bunda Rani bisa nulis bukunya, hehe..

Hari Jumat dan Sabtu yll, saya kembali mengikuti pelatihan ini untuk yang keduakalinya. Dan, meski pengulangan, tetap saja banyak yang saya dapatkan. Yang ingin saya catat pagi ini adalah hasil refleksi saya pribadi tentang konsep mindful life yang disampaikan bunda Rani Razak Noe’man. Artinya, hidup yang bermakna, dijalani dengan kesadaran penuh, dengan rasa syukur penuh. Buat yang sibuk berkarir dan dibatasi waktu oleh jam dan deadline (dan di saat yang sama mengemban tugas mahaberat: membesarkan anak) mungkin perlu lebih banyak berjuang supaya bisa meraih mindful life ini. Saya sendiri belum bisa merumuskannya atau memberi saran apapun untuk kasus demikian.

Nah buat saya pribadi, saya tiba-tiba tersadarkan: saya ini kurang apa sih? Gak perlu kerja mencari nafkah; rumah sudah ada; suami baik, anak-anak baik dan sehat. Tapi kok ya belum bisa mencapai tahap ‘mindful life’ ini? Ciri-cirinya: masih sering stress, masih sering terburu-buru, dikejar deadline yang saya buat sendiri, kadang masih suka meledak dan emosional, saya nggak nyadar bahwa saya bernafas, saya tidak menikmati setiap teguk air yang saya minum, saya terganggu oleh rengekan Reza saat saya asyik di depan laptop, dan masih banyak lagi. Kebangetan banget kan? Seharusnya, saya itu SANGAT menikmati hidup yang luar biasa ini.

Oke, jadi saya akan berusaha menganalisis situasinya.

Justru karena saya ini ‘aman sentosa’ saya merasa butuh tantangan dan butuh eksis (kan udah berkali-kali curhat tuh, saya itu masih sering ‘malu’, ngapain kuliah sampai S2 kalau cuma main mulu sama anak.. harus berkarya dong! liat tuh orang lain bukunya banyak, tulisan dimuat di koran, bla..bla..). Justru karena itu saya semakin giat menulis. Nah, karena topik yang saya sukai adalah politik internasional, yang penuh konflik, maka otak saya pun penuh konflik dan ketegangan. Kasian banget deh gue, udahlah nulisnya gratisan, stress, dan anak-anak terabaikan. Entah berapa kali saya berkata, “Reza, tunggu bentar sih, sedikit lagi..” (habis tanggung, dan saya kalau nulis itu memang ngotot/tenggelam, sulit untuk berenti). Dan Reza pun merengek, bahkan marah, dan entah berapa kali berkata, “Mama bohong! Katanya cuma sebentar, ini sih lama!” (pdhl, beneran, saya cuma minta waktu 15 menit saja, menurut saya itu tak lama, menurut Reza itu lama).

Ketika tulisan tak selesai, atau selesai tapi kemudian dapat komen negatif dari orang baik langsung maupun tak langsung (dan saya kebetulan juga tahu dari orang, di balik layar, saya banyak diomongin orang, dituduh ini-itu karena tulisan saya yang melawan mainstream), itu juga menimbulkan stress dan tekanan tersendiri buat saya.

Nah, teorinya: selesaikan dulu masalah dalam diri sendiri (self), masalah dalam keluarga, baru ngurusin masyarakat. Jangan sampai kita jadi ibu yang mindless atau abai. Ada kisah nyata tentang seorang ibu aktivis dakwah, tapi anaknya yang masih remaja malah jadi gay. Si ibu berusaha mengobati ke sana-sini, tapi ga sembuh juga. Ya iyalah, penyembuhan kayak gini mah musti melibatkan ortu secara penuh. Ini bukan penyakit yang bisa dibawa ke dokter, dikasih obat, dan sembuh. Ibu yang mindful akan menghentikan semua kegiatannya, dan total mengurusi anaknya ini sampai sembuh. Tapi sayang sekali, ibu aktivis itu malah mengambil sikap pasrah (“ya udahlah, mungkin emang nasib kami begini”), dan tetap konsen ngurusin dakwahnya. Inilah ibu yang mindless; nggak nyadar, tugas mana yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Naudzu billah min dzalik.

Jadiii? Saya musti gimana nih? Masak berenti nulis? Masak batal nih daftar S3 semester depan?

Jawabannya, saya musti menjalani semuanya dengan mindfulness. Inilah yang musti saya latih, mulai hari ini:

-saya menulis tanpa deadline, bahkan kalau ga selesai juga biarin (emang ada yang marah gitu? kan saya nulis juga gratisan, gak ada yang ngorder; ini semata-mata pertanggungjawaban ilmiah saja;  alhamdulillah..ini sebuah nikmat yang besar, gak semua orang bisa hidup sebebas ini.. keterlaluan banget kalau saya malah mengubah nikmat ini jadi ‘bala’; dengan ngomel, stres, dll).

-saya menulis saat Rana dan Reza tidak sedang membutuhkan saya.

-saya menulis karena Allah, karena saya yakin apa yang saya tulis adalah benar; saya menulis berdasarkan ilmu (ya iyalah, dulu itu kuliah lagi kan supaya bisa menganalisis secara lebih ilmiah dan akurat). Saya anggap saja, orang-orang yang mengkritik saya adalah mereka yang mungkin kurang banyak membaca (dan tentu saja, apa yang saya pahami sebagai orang yang jauh lebih banyak digging/menggali suatu topik pastilah akan beda dengan mereka yang cuma baca sekilas-sekilas). Jadi kalau ada yang mengkritik, wajar-wajar aja. Pertama, saya introspeksi lagi. Kedua, kalau saya tetap yakin data saya nggak salah, ya biarkan saja semua kritikan itu. Bahkan Nabi Muhammad yang ma’shum tanpa dosa, ada yang ngatain gila; apalagi saya yang emang masih banyak salah ini. Intinya: ga usah dimasukin ke hati, RUGI banget tau!

-saya menulis dengan menikmati prosesnya; dan mensyukuri tiap momennya.

-mulai merutinkan teknik-teknik sederhana ini:  menikmati setiap teguk minuman dan makanan (jangan sambil internetan, kan jadi ga berasa makan/minumnya) dan bersyukur; bernafas dengan perlahan dan mengingat betapa setiap helaan nafas adalah karunia besar dari Allah, menikmati setiap momen bermain dan belajar bersama Reza. Saya harus berhenti mikirin tulisan saat saya sedang bersama Reza dan berjanji: tidak akan terima telpon atau membalas sms selama waktu yang sudah disepakati bersama Reza; saya juga harus mendekati lagi Kirana. Kirana anak yang sangat mandiri -alhamdulillah, berarti teknik parenting saya ada hasilnya juga– tapi justru karena itulah dia menjadi seolah-olah agak terabaikan (karena perhatian saya sering direbut Reza). Dimulai dengan menetapkan waktu khusus menemani Kirana belajar (saking mandirinya, Kirana ga perlu disuruh2 belajar; dan dia biasa belajar sendiri tanpa perlu diperhatiin).

-S3? ya tetep ndaftar, tapi tanpa ‘menyerah’ pada stress akibat deadline, tekanan, atau apapun. Niatnya kan mau mencari ilmu, jadi akan saya nikmati saja. Tujuan mencari ilmu adalah mendekatkan diri kepada ALlah. RUGI banget cape-cape kuliah tapi malah jauh dari Allah.

Tanyakan pada diri sendiri: hidup yang tersisa ini, mau diisi dengan apa? Dengan abai (mindless), atau dengan mindful life?

Demikian. Catatan ini memang sangat personal, lebih sebagai pengingat untuk diri saya sendiri, tapi siapa tau ada inspirasi yang bisa diambil oleh teman-teman lain. 🙂

HI dan Parenting

Setelah selesai menulis buku soal Syria (genre politik Timur Tengah), yang benar-benar membuat saya lelah lahir batin (kayaknya ini buku terberat yang pernah saya tulis) saya tiba-tiba ‘kesepian’. Eeee.. ngapain lagi ya? Yang paling dekat sih, mau ada seminar bulan Mei, musti bikin makalah, tapi nggak mood banget. Trus, musti belajar TOEFL lagi, buat apply beasiswa S3. Dan, musti segera membereskan proposal disertasi (syarat apply beasiswa musti ada proposalnya juga). Eh, banyak juga kan yang musti dilakukan?

Tapi, pengen menikmati kesepian ini dulu deh. Pengennya sih baca novel gitu. Sudah tersedia novelnya Michael Crichton, Sphere. Tapi eh nyelip entah dimana. Akhirnya… apalagi kalu bukan FB-an melulu. Dan seperti berkali-kali terjadi, saat baca postingan orang, saya terinspirasi posting juga. Nah, inilah yang saya renungkan: saya ini emang passion-nya di topik politik internasional. Kalau baca status orang yang terkait politik, pengennya nimbrung atau bikin tulisan baru. Ini sesuatu yang ga bisa dipaksain dan ga bisa dibuat-buat.

Jadi, karena itulah saya seringnya nulis soal ini (diposting di blog Kajian Timur Tengah).  Karena itulah, meski status di KTP saya : mengurus rumah tangga, saya tetep pengen kuliah lagi di bidang Hubungan Internasional (belum tentu sih, bergantung dapat beasiswa atau tidak).

Trus, saya jadi ingat, pernah di FB ada yang ‘menyesalkan’ postingan saya, yang sepertinya selalu menampilkan sisi buruk dunia. Katanya, harusnya saya nulis yang positif-positif dong; kalau nggak gitu bangsa Indonesia malah semakin pesimis.

Jawaban saya begini: kita kan berjuang (dalam kasus ini, menulis) sesuai kemampuan masing-masing. Saya mungkin hanya mampu di sini, menganalisis sitauasi dari sudut politik internasional; yang lain yang jago agama, tentu akan menganalisis dari sudut agama (dan mungkin simpulannya: kembalilah ke Islam secara kaffah); yang jago filsafat ya silahkan nulis dari sisi filsafat. Yang cinta dunia anak, tentu akan menulis buku anak yang akan mengubah mindset anak-anak kita menjadi lebih baik (eee.. karena saya cinta anak, saya juga sesekali nulis cerita anak). Yang penting cita-citanya sama : membuat Indonesia lebih baik.

Membaca postingan-postingan saya (atau sejenisnya), di satu sisi mungkin membuat kita pesimis atas nasib masa depan bangsa ini (rasanya, tak ada jalan keluar). Tapi, bisa juga membangkitkan semangat untuk berjuang dan berubah. Yang kedua inilah yang saya harapkan (terutama utk diri saya sendiri). Misalnya nih, saya kutip bukunya Perkins, nah, idealnya, kita cari buku itu lalu baca; di bukunya yang kedua, dia kasih solusi kok; dan dia kasih pembuktian bahwa ini semua bisa dilawan; negara-negara Amerika Latin sudah membuktikannya.
Dan, dalam rangka ini pula saya bercita-cita nerusin S3. Karena saya sukanya HI, ya menuntut ilmu di bidang ini pun jadi sesuatu yang meyenangkan buat saya, meski tidak berkarir di bidang ini. Siapa tahu kalau ilmu saya nambah, saya bisa menulis dan menganalisis lebih baik lagi?

Trus, apa hubungannya dengan parenting? Begini,  setelah membaca dan menganalisis, apa artinya sudah cukup dan tinggal berdiam diri saja? Tentu tidak. Kita tetap harus bergerak, melawan situasi negatif itu. Nah,  ‘perlawanan’ itu bisa dilakukan setiap orang dalam kapasitasnya masing-masing. Saya, sebagai ibu rumah tangga, tentu berjuangnya di rumah, dengan berupaya mendidik anak sebaik-baiknya (dan ini berat lho, jangan diremehkan!); semoga kelak mereka jadi pemimpin yang berani dan amanah, amin. Inilah letak penting parenting. Inilah sebabnya kadang saya ikut mensosialisasikan acara parentingnya bunda Rani dan buku Amazing Parenting.

Orang lain, berjuanglah di bidangnya masing-masing. Kita mulai semuanya dari diri sendiri. Dengan hanya membaca postingan “negatif”, lalu diam tak bergerak dan hanya merutuki nasib, mana mungkin nasib bangsa ini akan berubah, ya kan?

Terakhir: menulis itu semacam proses hipnosis. Jadi saya menulis ini sebenarnya untuk meneguhkan hati saya sendiri, hehe.. Biasalah, kadang-kadang galau juga  saat memikirkan beratnya mencari beasiswa dan kuliahnya kelak, lalu tercetus pikiran “ngapain juga repot2 kuliah, ilmu segini juga cukuplah buat ibu RT, mendingan santai2 di rumah ngurusin anak..fokus dong..!”