HI dan Parenting

Setelah selesai menulis buku soal Syria (genre politik Timur Tengah), yang benar-benar membuat saya lelah lahir batin (kayaknya ini buku terberat yang pernah saya tulis) saya tiba-tiba ‘kesepian’. Eeee.. ngapain lagi ya? Yang paling dekat sih, mau ada seminar bulan Mei, musti bikin makalah, tapi nggak mood banget. Trus, musti belajar TOEFL lagi, buat apply beasiswa S3. Dan, musti segera membereskan proposal disertasi (syarat apply beasiswa musti ada proposalnya juga). Eh, banyak juga kan yang musti dilakukan?

Tapi, pengen menikmati kesepian ini dulu deh. Pengennya sih baca novel gitu. Sudah tersedia novelnya Michael Crichton, Sphere. Tapi eh nyelip entah dimana. Akhirnya… apalagi kalu bukan FB-an melulu. Dan seperti berkali-kali terjadi, saat baca postingan orang, saya terinspirasi posting juga. Nah, inilah yang saya renungkan: saya ini emang passion-nya di topik politik internasional. Kalau baca status orang yang terkait politik, pengennya nimbrung atau bikin tulisan baru. Ini sesuatu yang ga bisa dipaksain dan ga bisa dibuat-buat.

Jadi, karena itulah saya seringnya nulis soal ini (diposting di blog Kajian Timur Tengah).  Karena itulah, meski status di KTP saya : mengurus rumah tangga, saya tetep pengen kuliah lagi di bidang Hubungan Internasional (belum tentu sih, bergantung dapat beasiswa atau tidak).

Trus, saya jadi ingat, pernah di FB ada yang ‘menyesalkan’ postingan saya, yang sepertinya selalu menampilkan sisi buruk dunia. Katanya, harusnya saya nulis yang positif-positif dong; kalau nggak gitu bangsa Indonesia malah semakin pesimis.

Jawaban saya begini: kita kan berjuang (dalam kasus ini, menulis) sesuai kemampuan masing-masing. Saya mungkin hanya mampu di sini, menganalisis sitauasi dari sudut politik internasional; yang lain yang jago agama, tentu akan menganalisis dari sudut agama (dan mungkin simpulannya: kembalilah ke Islam secara kaffah); yang jago filsafat ya silahkan nulis dari sisi filsafat. Yang cinta dunia anak, tentu akan menulis buku anak yang akan mengubah mindset anak-anak kita menjadi lebih baik (eee.. karena saya cinta anak, saya juga sesekali nulis cerita anak). Yang penting cita-citanya sama : membuat Indonesia lebih baik.

Membaca postingan-postingan saya (atau sejenisnya), di satu sisi mungkin membuat kita pesimis atas nasib masa depan bangsa ini (rasanya, tak ada jalan keluar). Tapi, bisa juga membangkitkan semangat untuk berjuang dan berubah. Yang kedua inilah yang saya harapkan (terutama utk diri saya sendiri). Misalnya nih, saya kutip bukunya Perkins, nah, idealnya, kita cari buku itu lalu baca; di bukunya yang kedua, dia kasih solusi kok; dan dia kasih pembuktian bahwa ini semua bisa dilawan; negara-negara Amerika Latin sudah membuktikannya.
Dan, dalam rangka ini pula saya bercita-cita nerusin S3. Karena saya sukanya HI, ya menuntut ilmu di bidang ini pun jadi sesuatu yang meyenangkan buat saya, meski tidak berkarir di bidang ini. Siapa tahu kalau ilmu saya nambah, saya bisa menulis dan menganalisis lebih baik lagi?

Trus, apa hubungannya dengan parenting? Begini,  setelah membaca dan menganalisis, apa artinya sudah cukup dan tinggal berdiam diri saja? Tentu tidak. Kita tetap harus bergerak, melawan situasi negatif itu. Nah,  ‘perlawanan’ itu bisa dilakukan setiap orang dalam kapasitasnya masing-masing. Saya, sebagai ibu rumah tangga, tentu berjuangnya di rumah, dengan berupaya mendidik anak sebaik-baiknya (dan ini berat lho, jangan diremehkan!); semoga kelak mereka jadi pemimpin yang berani dan amanah, amin. Inilah letak penting parenting. Inilah sebabnya kadang saya ikut mensosialisasikan acara parentingnya bunda Rani dan buku Amazing Parenting.

Orang lain, berjuanglah di bidangnya masing-masing. Kita mulai semuanya dari diri sendiri. Dengan hanya membaca postingan “negatif”, lalu diam tak bergerak dan hanya merutuki nasib, mana mungkin nasib bangsa ini akan berubah, ya kan?

Terakhir: menulis itu semacam proses hipnosis. Jadi saya menulis ini sebenarnya untuk meneguhkan hati saya sendiri, hehe.. Biasalah, kadang-kadang galau juga  saat memikirkan beratnya mencari beasiswa dan kuliahnya kelak, lalu tercetus pikiran “ngapain juga repot2 kuliah, ilmu segini juga cukuplah buat ibu RT, mendingan santai2 di rumah ngurusin anak..fokus dong..!”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s