[Sharing] Pentingnya Komunitas Penulisan

Senangnya, hari Sabtu tanggal 25 Mei 2013 saya bisa menghadiri perayaan ulang tahun ke-3 Forum Penulis Bacaan Anak (PBA) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Selain makan-makan (judul acaranya juga ‘Pesta Awug’—awug ini makanan khas Sunda, dari tepung beras dan gula merah), juga ada sharing dari para pakar, judulnya “Antara Penulis, Blog, dan Personal Branding”.

Ini dia awugnya, dipotong oleh mbak Ary

Ini dia awugnya, dipotong oleh mbak Ary. Kaos putih: kang Benny Rhamdani, kaos abu: kang Ali Muakhir, baju ungu : Lygia Pecanduhujan

Mbak Meidya Derni (jilbab kuning, penulis, tinggal di AS), yang selama ini cuma saya kenal di dumay, akhirnya jumpa juga di Bandung. Kirana (jilbab merah, dapat awug dari kak Ali Muakhir)

Mbak Meidya Derni (jilbab kuning, penulis, tinggal di AS), yang selama ini cuma saya kenal di dumay, akhirnya jumpa juga di Bandung. Kirana (jilbab merah, dapat awug dari kak Ali Muakhir). Jilbab htm:mbak Indari, jilbab abu: kak Indah Juli. Jilbab oranye, lupa lagi 😀 (foto:pinjam dari grup FB PBA)

Pembicara pertama mba Ary Nilandari, tentang penulisan cerita anak (eeh.. saya nggak terlalu nyimak, malah sibuk ngobrol dan kangen-kangenan sama uni Desti, xixixi..maafin ya mba Ary…).Pembicara kedua Bang Aswi, blogger yang udah ngetop sehingga malah mampu mendapat uang dari blogging. Caranya gimana..? Eeeehrrr.. sama, gak terlalu nyimak juga (wadoooh..gimana seh!). Tapi yang saya ingat adalah bang Aswi bilang, nulis di blog itu jangan cuma sekedar curhat tapi upayakan ada manfaatnya buat diri sendiri dan buat pembaca. Eh, beneran lho, saya baca di buku Self Hypnosis, menulis itu salah satu cara memberikan energi positif pada diri. Jadi, saat gundah gulana, bolehlah nulis curhat, tapi sambil mencari solusinya (jadi nulisnya sambil mikir, kira-kira gw musti apa nih supaya lepas dari masalah ini); nah itu akan ‘menghipnosis’ pikiran kita. Artinya, kalau kita menulis yang baik, kebaikan itu akan memantul pada diri kita.

Nah… untuk jadi blogger yang sukses, Bang Aswi bilang, kita musti bikin jadwal yang teratur. Misalnya, wajibkan diri satu pekan satu tulisan; di  hari dan jam tertentu. Insya Allah lama-lama nulisnya jadi luwes dan bukan ga mungkin jadi penulis buku. Nah, pembicara ketiga, kak Indah Juli (pengasuh grup FB Emak-Emak Blogger), semakin melengkapi. Bliau bilang, komunitas di dunia maya (dumay) itu membawa 3P (pengetahuan, pertemanan, dan pengalaman). Jadi, berkomunitas di dumay itu penting…!

Para narasumber,ki-ka: kang Benny Rhamdani, mba Indari, mba Ary Nilandari, kak Indah Juli, dan kang Ali Muakhir

Para narasumber,ki-ka: kang Benny Rhamdani, bang Aswi, mba Indari, mba Ary Nilandari, kak Indah Juli, dan kang Ali Muakhir

Saya setuju sekali dengan yang disampaikan bang Aswi dan kak Indah Juli. Saya bahkan berani bilang bahwa komunitas dunia maya (dumay) telah banyak sekali mengubah hidup saya, ke arah yang tak saya sangka-sangka sebelumnya. Dulu, awalnya saya suka nimbrung di milis jurnalisme. Di situ saya kenal beberapa orang yang kini akhirnya menjadi teman baik saya. Lalu tahun 2005, setelah kenal blog Multiply, saya merutinkan diri menulis catatan ringan tentang kehidupan saya sehari-hari. Saya mewajibkan diri menulis, awalnya sepekan dua tulisan, lalu sepekan sekali. Tanggapan dari teman-teman serta pertemanan yang terjalin antarnegara-antarbenua, sungguh memberikan semangat menulis yang besar. Saya saksikan, banyak ibu-ibu rumah tangga blogger Multiply yang akhirnya bermetamorfosis jadi penulis profesional (menerbitkan buku-buku yang terpampang manis di toko-toko buku).

Saya pun, awalnya jadi penulis buku ya dari Multiply ini. Ceritanya, habis melahirkan Reza, saya pun curhat di blog (biasaaa..curhat aja neh). Komen-komen menanggapi postingan saya itu akhirnya melahirkan ide untuk nulis buku soal baby blues. Penanggung jawabnya, saya dan Mbak Mamiek Syamil.  Sebuah kenangan tak terlupakan, saat masih di Teheran, malam-malam saya chatting dengan mbak Mamiek Syamil yang saat itu tinggal di Arkansas (Amerika), mendiskusikan editing buku kami, Oh Baby Blues. Buku itu kumpulan tulisan para ibu blogger Multiply. Itulah buku pertama saya (kami). Trus, tulisan saya di blog soal penghafal Quran cilik dilamar penerbit dan jadilah buku berjudul Doktor Cilik dan kini cetak ulang (plus revisi) dengan judul Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik. Buku saya Pelangi di Persia (dan dicetak ulang dengan judul Journey to Iran) juga awalnya tulisan-tulisan singkat di blog yang dikembangkan jadi buku.

Selain soal buku, pertemanan yang terjalin benar-benar luar biasa. Saya jadi punya banyak saudara baru, yang di dumay aja udah akrab banget, setelah ketemuan di darat, apalagi. Seneeeeng..deh.

beberapa teman tersayang,yang awalnya kenal dari dumay ki-ka: Dian Iskandar, Eva Nukman, Desti Jenialita (saya yang paling kanan). Mbak Mamiek Syamil juga hadir, sayang ga sempet foto2.

beberapa teman tersayang,yang awalnya kenal dari dumay ki-ka: Dian Iskandar, Eva Nukman, Desti Jenialita (saya yang paling kanan). Mbak Mamiek Syamil juga hadir, sayang ga sempet foto2.

Berkat blogging, kemajuan yang saya rasakan adalah: saya sampai pada tahap kecanduan menulis. Kalau tidak menulis, otak saya galau sekali (halah!). Eh.. beneran.. setelah bersikap keras pada diri sendiri selama hampir dua tahun (mewajibkan diri nulis di blog), justru akhirnya saya sering kebanjiran ide di kepala. Rasanya banyak sekali yang ingin saya tuliskan di blog. Tapi karena semakin ke sini waktu saya rasanya semakin terbatas, seringkali ide itu hanya sempat tercatat di folder laptop saya, atau di hp, tak sempat diselesaikan. Tentu saja ada yang diselesaikan; tapi tulisan yang selesai dibanding ide yang ada di kepala, jauh banget.

Selain kecanduan menulis, juga rasanya saya bisa menulis dengan jauh lebih lancar dan mengalir dibanding zaman dulu. Beberapa orang menyebut kelebihan saya adalah mampu menuliskan topik yang berat dengan sederhana. Nah, kalau benar demikian, saya berhutang budi dari blog. Tapi, sejujurnya di dalam hati saya tuh pengen sekali bisa menulis yang ‘sulit’. Kayaknya keren banget kalau saya bisa menulis sesuatu yang dalam, tinggi, dan orang yang baca perlu mikir lama untuk mencernanya.. haha.. sungguhan ini, bukan nyindir. Saya sering terpesona pada penulis-penulis politik, filsafat, dan sosbud yang bukunya ‘berat’ itu dan berkhayal, barangkali suatu saat saya bisa sepintar mereka *nah ini sih curcol namanya*

Dari komunitas dumay pula jalan hidup saya banyak berubah. Misalnya nih, suatu saat, ketika saya sudah pindah ke Bandung, saya musti ‘mengejar’ Bunda Elly Risman, mau nitipin buku Oh Baby Blues untuk dibawa ke Amrik (untuk disampaikan ke mbak Mamiek yang akan mengkoordinir bedah buku itu di sana). Darimana saya tau beliau datang ke Bandung? Dari uni Eva Nukman, yang awalnya saya kenal di dumay juga, saat dia masih di Jerman dan saya masih di Tehran. Berkat info dari uni Eva soal seminar bu Elly di Bandung, saya pun ikut seminar itu tanpa tau apa yang akan dibahas di seminar. Ternyata, itulah seminar yang mengubah hidup saya: mengubah cara pandang saya ke anak-anak. Saya tersadarkan bahwa banyak sekali kesalahan saya dalam mendidik anak. Sejak itu saya jadi rajin ikut pelatihan parenting, bahkan akhirnya membantu penulisan sebuah buku parenting super keren, Amazing Parenting.

Trus..dari sisi pertemanan, saya dulu sering merasa ‘sendirian’ karena sedikit sekali punya teman diskusi masalah politik internasional (paling-paling saya diskusi sama suami, di sela-sela diskusi soal beras dan bawang, xixixi).  Eh… ketika saya membuat blog khusus mahasiswa magister HI Unpad, saya dikontak Global Future Institute. Lambat-laun, saya semakin berkenalan dan cocok dengan pemikiran para aktivisnya, sering berdiskusi di dumay, sempet ketemuan juga di beberapa forum. Di sinilah saya mendapatkan komunitas yang nyaman dan mendorong saya untuk terus menulis di bidang politik internasional.

Sebagai ibu, saya juga menyukai bacaan anak-anak (apalagi, tiap hari saya harus membaca buku cerita bersama Reza; yang sekarang sedang dibaca bersama adalah ‘Bagaimana Cara Melatih Nagamu’, Cressida Cowell :D), dan sesekali menulis cerita anak, dan saya juga menjadi redaktur majalah anak muslim, IRFAN. Alhamdulillah, ada komunitasnya juga di dumay (FB), yaitu Komunitas Penulis Bacaan Anak. Meski tidak aktif nimbrung, tapi mengamati diskusi penuh semangat para penulisnya membuat semangat menulis terus terjaga. Di sini saya menyaksikan beberapa orang yang tadinya ‘biasa’ sekarang sudah menjelma jadi penulis terkenal dengan buku-buku yang tiap sebentar terbit. Dan semangat ini saya tularkan ke teman-teman saya yang belum ‘tersentuh’ komunitas dumay. Saya ceritakan berkali-kali dalam berbagai forum diskusi, “Di luar sana banyak lho, ibu-ibu yang rajin menempa diri menulis, sampai akhirnya jadi penulis… Ayo, yang penting ada kemauan, insya Allah ada jalan!”

Jadi, buat teman-teman yang menyatakan ‘ingin bisa nulis’, inilah saran saya: mulailah nge-blog dan temukan komunitasmu. Semoga dengan demikian semangatmu terus menyala dan kemampuanmu semakin terasah.

Nah, kalau sudah terasah, lama-lama bisa maju ke topik personal branding deh.. Ini sharing dari mbak Indari Mastuti. Beliau bilang, sangat mungkin seseorang mampu menulis banyak jenis tulisan, tapi pilihlah yang terbayak kita miliki dan fokus di sana supaya terbentuk brandingnya. Brand ini misalnya…ingat mas Ali Muakhir atau Benny Rhamdani, inget cerita anak… atau ingat Yusuf Mansyur, ingat buku tentang sedekah… gitu misalnya. Tapi meski punya brand tertentu, sama sekali tidak berarti kita ga boleh nulis di topik-topik lainnya.

Nah, sekian dulu ceritanya ya… Happy writing! 🙂

Advertisements

Soal Jodoh

Kemarin ada temen yang nanya,  lucu deh (ini temen masih muda dan emang orangnya kritis dan blak-blakan banget). Dialog ga persis begini ya, saya agak lupa persisnya.

Temen: mbak, mau nanya, gimana caranya dapetin suami yang ga minderan?

Saya: maksudnya?

Temen: iya, suami mbak kok nggak minder punya istri kayak mbak..? aku aja yang cuma segini [dia ini aktivis kampus] cowok-cowok udah pada minder

Saya: [ketawa dalam hati, belum tau dia kalau saya malah minder sama suami saya; di mata saya, suami saya jauh lebih keren daripada saya]..emm..emang dari awal dia justru milih saya karena melihat saya ini mahasiswi berprestasi di kampus.. [halah kok gw jawabnya begini ya…hahaha..tapi beneran, suami saya jawab begini pas saya tanya kenapa kok mendadak ngelamar saya]

Temen: tapi cowok-cowok sekarang kok kliatannya insecure banget ya?

Saya: sebenarnya masalah jodoh mah personal ya, tiap orang punya cerita berbeda..

Saya nggak bisa ngobrol banyak, karena akhir-akhir ini saya merasa, urusan jodoh emang bikin saya speechless, bener-bener bingung pokokna mah, buat saya ini misteri dan semua sudah diatur Allah.

Eh pagi ini nemu status terbaru Mario Teguh, bagus banget penjelasannya soal jodoh.

Bagaimana dengan JODOH, Om Mario?

Memang kenapa dengan jodoh?

Aku masih bingung tentang siapa yang disebut jodoh, apakah yang kita pilih atau yang dipilihkan oleh Tuhan?

Jodoh di tangan siapa?

Di tangan Tuhan.

Tidak, sudah dipindahkan ke tanganmu.

Lho khoq bisa gitu?

Semua hal yang menjadi pembentuk nasibmu sudah diberikan kepadamu, untuk kau pilih dan kau maksimalkan keindahannya bagi kebahagiaanmu.

Seperti apa?

Tubuh dan kesehatanmu, sudah diberikan kepadamu. Tapi, apakah engkau merawatnya atau merusaknya dengan kebiasaan buruk adalah keputusanmu.

Oh, jadi bisa saja kekasih yang aku nikahi itu aslinya adalah jodoh, tapi batal karena aku merusaknya dengan kekasaran dan ketidak-setiaan?

Betul. Seperti juga, orang biasa yang tak kau duga sama sekali akan menjadi jodoh pemulia seluruh kehidupanmu itu – bisa menjadi persis seperti itu – jika engkau memuliakannya dalam kelembutan dan kesetiaan.

Jadi jodoh itu kita yang menjadikan, bukan Tuhan?

Engkau yang mengupayakan, Tuhan yang menyetujui.

Terus, ada berapa jodohku Om?

Banyak sekali.

Lho, banyak sekali?

Ya, ada satu jodoh untuk setiap kelas pribadimu. Jika engkau kelas biasa, jodohmu biasa. Jika engkau kelas hebat, jodohmu juga hebat.

Kalau aku kelas kambing, masa’ jodohku kambing?

Wah, itu terserah kepada keikhlasanmu.

Ikhlas apa?

Ikhlas berjodoh dengan … dengan … (hmm … kasih tau gak ya?)

He he … Jadi itu maksudnya “Wanita baik untuk laki-laki baik, dan sebaliknya” ya Om?

Tepat sekali!

Jadi kalau aku rajin belajar, rajin bekerja, menjaga kesehatan dan kebersihan, meramahkan sikap, menghormati orang tua, menyayangi saudara dan sahabat, jujur, dan selalu mensyukuri nikmat Tuhan – aku akan disandingkan dengan pribadi yang sesuai kebaikannya?

Super sekali!

Tapi, khoq setelah menikah banyak yang berantem?

Itu masalah penyesuaian, bagi kalian berdua, agar kalian pantas bagi kelas keluarga yang penuh kesejahteraan dan kebahagiaan, pada derajat-derajat yang lebih tinggi.

Hmm … jadi semuanya bergantung kepada kebaikan diriku ya Om?

Betul.

Wah, terima kasih ya Om? Kalau aku ada pertanyaan lagi, aku bisa tanya ya?

Ya, any time. Tapi sekarang sana gih, gembirakanlah orang tuamu, jadikanlah dirimu berguna.

Mario Teguh

 

 

Kamu Cantik!

Ada nggak ibu-ibu yang enggak galau saat menatap dirinya di cermin? Kalau ada, wow…hebat… Anda beruntung banget! Kalau saya, hwa..hwaa.. dari zaman abegeh sampai sekarang tetep aja mengeluh ini-itu dalam hati saat bercermin. Dan, survey menyebutkan, Women are their own worst beauty critics. Only 4% of women around the world consider themselves beautiful.

Ini ada video baguuuus banget soal persepsi wanita atas penampilan dirinya sendiri. Mengharukan sekali. Intinya, percayalah, kamu cantik! Dan, sesama perempuan, karena umumnya kita semua senasib (merasa minder atas penampilan masing-masing), kita perlu saling menguatkan dengan saling memuji saat bersua. Hindari sikap merendahkan. Komentar, “Ih kok tambah kurus aja!” atau “Gemukan ya sekarang?” WAJIB dihindari. Lebih baik saling menyenangkan dan menguatkan sesama kita. Gak susah kan berkata, “Subhanallah, kamu tambah seger aja…!”  atau “Wow, cocok banget kamu pakai baju itu!” atau “Warna bajumu cerah sekali, pas banget dengan wajahmu”. Ga perlu bohong lho, tapi kreatiflah mencari kata-kata yang menyenangkan hati teman. Percayalah, pujian remeh begitu akan memberi efek besar pada kehidupan orang lain.

 

 

video lanjutan ada di sini:

http://www.youtube.com/watch?v=wiTltdxfNjg
http://www.youtube.com/watch?v=aZnXTJZFNpM
http://www.youtube.com/watch?v=u-pyb7Z0NZU
http://www.youtube.com/watch?v=RcStstAc1ig