Segera Terbit: A Note From Tehran

cover a-note

A Note From Tehran pun sejak kemarin sudah naik cetak, insya Allah pekan kedua Juli sudah beredar di Gramedia.

Ini sinopsis di back cover:
Seribu perempuan dari delapan puluh lima negara, dari berbagai mazhab dan profesi, berkumpul dalam konferensi bertajuk “Perempuan dan Kebangkitan Islam” di Tehran. Apa yang mereka rasakan? Sepuluh hari berada di Tehran, kota yang dicitrakan kontroversial oleh media massa dunia. Apa yang mereka lihat? Inilah catatan 17 perempuan Indonesia yang hadir dalam konferensi itu. Tak sekadar bercerita tentang Tehran, mereka juga menghadirkan refleksi yang beragam, renyah, dan menarik tentang perempuan, ke-Indonesia-an, dan kebangkitan Islam.  

 
Berangkat dari berbagai refleksi para penulis selama berkunjung ke Iran, tulisan di buku ini memberikan wawasan tentang pentingnya peran perempuan bagi kebangkitan umat. Buku ini layak dibaca oleh siapapun yang mencari referensi terkait peran perempuan Islam di ruang publik. Lewat buku ini pula, kita dapat mengambil berbagai inspirasi dari para pahlawan perempuan Indonesia, antara lain Rahmah el Yunusiah, Kartini, dan Rohana Kudus, serta kepedulian para perempuan terhadap tatanan politik global. Selamat membaca!
–Anies Baswedan Ph.D, Rektor Universitas Paramadina
 Buku ini memberi inspirasi bagi kaum perempuan bahwa mereka dapat berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Membaca buku ini, kita tersadarkan bahwa hidup yang seimbang antara kepentingan pribadi, kewajiban sebagai perempuan, dan berbagi dengan sesama bukanlah hal yang tidak mungkin; bahkan justru melimpahkan banyak berkah. Apapun profesinya, perempuan bisa membuat perubahan ke arah kebaikan, asal disertai dengan niat kuat dalam menjalankan amanah dan konsisten memberikan yang terbaik pada jalur yang ditempuhnya.
–Adiska Fardani, COO NoLimit Indonesia, Peraih Kartini Next Generation Award 2013

Piano

Dulu… waktu saya kecil, di Semarang, ada tetangga kami yang mantan pejabat. Rumahnya besaaaar sekali. Salah satu anaknya, teman saya (meski usianya lebih tua daripada saya). Main ke rumahnya, serasa main ke istana, luas, besar, barang-barangnya bagus. Dan… punya piano! Wah, kalau mendengar teman saya ini memainkan pianonya, saya seneeeng sekali. Bener-bener indah. Dan bener-bener sesuatu yang ‘wah’, takkan mungkin tercapai oleh saya. Jadi, saya dulu cuma bisa berkhayal punya dan bisa main piano.

Setelah pindah ke Padang, saya punya teman akrab yang juga pinter main piano (dan punya piano, tentu saja). Saya mendengarkan lantunan pianonya dengan nafas tertahan. Indah banget. Rumahnya juga besar, meski tak sebesar tetangga saya di Semarang itu.

Lalu, sejak dua tahun terakhir, ada wacana piano di rumah kami. Ya, siapa lagi kalau bukan Kirana yang pengen punya piano. Dia merengek minta dibolehin les piano (di samping tetap les biola), dan artinya, ya musti beli pianonya! Duh, berkali-kali saya sampaikan bahwa nggak mungkin punya piano dalam waktu dekat.Pertama, rumah kami kecil, mau ditaruh dimana? Kedua, harganyaaaa…!

Tapi, Kirana kalau sudah ada maunya, memang ngotot. Dulu, dia ngotot mau les biola. Kami melarang karena rasanya biola itu sesuatu yang wah. Dan si akang yang cukup paham musik pun tahu bahwa biola adalah alat musik yang sangat sulit. Tapi, melihat kengototan Kirana, saya jadi ingat khayalan saya waktu kecil dulu. Pingiiin banget les piano, tapi bahkan terucapkan pun tak bisa. Saya cukup tau dirilah dengan kondisi ortu saya. Ortu saya mencukupi semua kebutuhan primer dan sekunder saya, tapi les piano..??? Ah, kebangetan itu. Jadi, saya merasa bisa memahami keinginan Kirana.

Apalagi, dari sisi biaya, Kirana menyatakan siap bayar sendiri, dengan uang royalti bukunya. Jadi.. saya pun ikut berkeras, meminta izin dari si akang supaya Rana ikut les biola. Dengan berat hati, si Akang ngasih izin. Dan… eh, terbukti Kirana cukup pesat kemajuannya. Dia bukan cuma bisa, tapi memang berbakat (kata gurunya). Dan impian di masa lalu saya pun seolah kini terwujud. Saya tinggal meminta Kirana main biola, dan dalam sekejab, mengalunlah lagu-lagu klasik di rumah kecil kami. Indaaaah.. banget.

Lalu, bagaimana dengan piano? Well, akhirnya, kami putuskan Kirana boleh les piano karena pendidikan SMP-nya akan dijalani dengan ber-home schooling. Jadi ada banyak waktu luang yang bisa dia isi untuk serius belajar musik. Lalu, kebetulan Kirana baru terima royalti bukunya. Langsung deh, dia pengen beli piano, tentunya piano elektrik yang murah. Ketika saya sampaikan ke kepala sekolah musiknya, wah.. langsung beliau menjelaskan kepada saya kelebihan piano akustik. Ih.. iya siiih.. tauuu.. piano akustik pastinya lebih bagus. Cuma harga dan ukurannya itu lho…

Tapi, agaknya memang sudah rizkinya Kirana. Saat itu, di sekolah musiknya memang ada piano nganggur, yang sedang ditawar-tawarkan untuk dijual. Pemiliknya dulu salah satu murid di sekolah itu, lalu pindah kota dan menitipkan piano di sekolah musik untuk dijual. Kepsek sekolah musik bersedia membantu nego, supaya Kirana boleh bayar separoh dulu (harganya 2x lipat uang royalti Kirana). Dan.. ya sudahlah, saya okekan saja. Saya pikir-pikir, ukuran pianonya masih muat di ruang tengah kami yang mungil.

Dan, tralaaa… sejak Senin, ada penghuni baru di rumah kami. Dengan rasa tak percaya saya pandang-pandangi piano itu. Ingat impian masa kecil. Si Akang pun senyum-senyum dan berkata, “Nggak sabar nunggu Kakak bisa memainkan lagu-lagu klasik dengan piano ini…”

Bahkan Reza pun terpesona. Tiap sebentar dia duduk di depan piano dan memijit-mijit tutsnya.

Nah, tentang Reza, ada cerita lagi nih, ada kaitannya dengan parenting. Begini, Reza didiagnosis oleh papanya, tidak berbakat musik! Jadi, papanya menentang usul saya untuk mengeleskan Reza di sekolah musik. Menurutnya, bakat musik itu gak bisa ditumbuhkan, percuma saja belajar musik untuk anak yang tak berbakat. Lebih baik, ikutkan saja les di bidang yang sudah kliatan bakatnya, misalnya menggambar.  Duh, saya kesel banget deh sama si Akang. Kami pun berdebat, menggunakan konsep-konsep parenting yang sudah kami pelajari (alhamdulillah kan si Akang juga ikut pelatihan parenting bersama bu Rani). Dalam pandangan saya (dan ini yg saya pelajari dari bunda Rani), meski anak nggak berbakat, tapi kalau dia menunjukkan minat, ya ikuti saja. Toh meski dia ga akan jadi ahli musik, akan banyak aspek yang bisa dipelajarinya saat belajar musik, terutama mengasah kepekaan perasaannya. Minimalnya, saat anak ada keinginan (tekad untuk melakukan sesuatu yang baik), perhatiannya akan fokus ke sana. Dia nggak akan jadi anak ‘alay’ dan kebingungan mau melakukan apa. Justru kalau anak punya target tertentu di depan, meskipun ga masuk akal, itu bisa dijadikan pijakan bagi ortu untuk memasukkan nilai-nilai kebaikan (misal, anak bertekad jadi astronot… jangan bilang ‘ih..kejauhan kali yeee..’.. tapi segera tangkap peluang itu, kita bisa mengajak anak belajar banyak hal yang terkait dengan astronot).

Si akang akhirnya diem aja. Tapi pelan-pelan dia mengajak Reza memainkan lagu-lagu sederhana. Reza, yang mungkin menangkap sikap awal papanya (yang underestimate ke dia), menunjukkan sikap jual mahal, hehehe..

Tapi akhirnya, dia mau juga belajar lagu sederhana, Twinkle Little Star. Dan hari ini, papanya lagi pergi kerja, dia belajar serius bersama kakaknya… memainkan lagu… Selamat Ulang Tahun! Ya, dia belajar lagu itu dengan serius, karena papanya ulang tahun dan dia ingin ngasih kejutan kalau papanya nanti pulang. Duh, terharunya…

Nah, ini dia piano Kirana (dan Reza) :

piano

Aku Ingin Jatuh Cinta Lagi

Kemarin hari yang menyedihkan buat saya. Saya sangat sedih dan sakit hati karena sesuatu hal. Pada saat yang sama, saya harus menyelesaian proposal disertasi karena akan mengikuti tes wawancara penerimaan mahasiswa S3 di HI Unpad. Kebayang kan, betapa suntuknya saya? Saya benar-benar kesulitan memusatkan pikiran ke proposal. Yang saya lakukan akhirnya istighfar dan baca Alfatihah berulang-ulang, berusaha meredakan rasa sakit di ulu hati. Lalu, saya juga ingat-ingat kata Mario Teguh (yang terinspirasi dari ayat Quran) bahwa kesedihan/kesulitan pasti datang bersama ‘saudara kembarnya’, yaitu kebahagiaan/kemudahan. Di balik kesulitan pasti ada kemudahan, inna ma’al usri yusraa… Jadi, saya pun berusaha bersabar menanti datangnya ‘sang saudara kembar’ itu. Benar saja, siangnya, saya mendapat kesenangan. Saya mengambil nilai TOEFL, ternyata nilainya jauh di atas perkiraan saya. Lalu, tiba-tiba masuk sms, sebuah majalah terkenal meminta saya menulis. Wah, apalagi yang bikin hati senang seorang penulis selain menerima pesanan tulisan, dengan tema yang saya sukai pula.

Tapi rasa sakit itu terlalu dalam. Jadi saya tetap suntuk sampai malam. Dengan tertatih, saya selesaikan juga proposal itu tepat jam 2 dini hari. Paginya, saya berangkat tes wawancara dengan hati mendung. Alhamdulillah, lancar banget dan menyenangkan (karena saya dan dua penguji mendiskusikan topik yang menyenangkan saya, ya iyalah, saya kan memang mau lanjut kuliah di bidang yang sangat saya senangi). Lalu, saya ke kantin kampus dan membaca buku hadiah dari mbak Retnadi Nur’ani, pemilik toko buku online langganan saya.

Continue reading

[Sharing] Menulis Kisah Nabi

Di FB ada diskusi tentang bagaimana menulis Kisah para Nabi untu anak-anak. Ini komen dari saya, saya copas di sini, supaya ‘abadi’ (kalau di FB kan sekejap ‘hilang’ tertindih postingan lain).

Selama ini saya menulis utk Irfan (udah terbit 8 volume) rubrik Kisah Nabi Muhammad dan Kisah Nabi. Untuk kisah Nabi selain Nabi Muhammad, yang saya lakukan adalah mengumpulkan semua ayat di Quran yang memuat cerita ttg Nabi tsb, lalu dari situlah cerita dan dialognya dibangun. (Mhn maaf, saya pernah baca sebuah buku 25 Nabi -yang pasti bukan karya mbak Yas, krn blm beli hehe- tapi ada adegan2 yang ga ada di Quran, lalu waktu saya browsing, ketahuan penulisnya sebenarnya hanya mempermak cerita2 yg ada di internet). Dialognya, sangat mungkin dikembangkan sendiri, tapi tetap sesuai konteks.

Misalnya kisah Nabi Hud. Di Quran diceritakan bahwa kaum Hud tinggi besar dan sangat kuat, sehingga mereka jadi sombong. Ayat Qurannya: “Wahai kaumku, sembahlah Allah yang tiada tuhan lain bagi kalian selain-Nya. ” (QS. Hud: 50). Saya kembangkan begini, “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Dia-lah Tuhan yang paling kuat. Lihatlah betapa kuatnya diri kalian. Tentulah Tuhan yang menciptakan kalian jauh lebih kuat dan perkasa.”

Nah, khusus Nabi Muhammad, karena kita meyakini semua perkataan beliau adalah hadis dan punya implikasi hukum bagi kaum muslimin, saya pikir cara ini tidak layak dipakai. Artinya, kita tidak bisa ‘menciptakan’ kalimat baru utk Nabi Muhammad. Paling banter, kalimat hadis itu disederhanakan saja supaya bisa dipahami anak-anak, atau kita akali dengan menggunakan kalimat tak langsung (jadi statusnya itu adalah kalimat karya si penulis bukan kalimatnya Nabi Muhammad).

Lalu, ada satu lagi keprihatinan saya saat membaca bbrp buku kisah Nabi Muhammad. Begini, kita meyakini bahwa bacaan anak akan membentuk karakter anak-anak. Nah, kita pun meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah manusia dengan akhlak termulia. Semua tindakannya didasarkan pada cinta dan kasih sayang. Bahkan Nabi Muhammad memutuskan berperang pun, landasannya adalah cinta. Makanya dalam Islam hukum perang itu sangat manusiawi, yang dibunuh hanya pasukan bersenjata yang memang sedang menyerang; kalau org itu sudah menyerah, tak boleh dibunuh, pohon2 tak boleh dicabut/dirusak, dll. Nah, dalam sebuah buku, misalnya, saya dapati, Rasulullah diceritakan mengirim 3000 pasukan ke Mu’tah (Yordania) karena marah gara-gara dibunuhnya Harits (utusan Nabi) oleh Syuhrabil bin Amr (tak dijelaskan di situ mengapa Syuhrabil membunuh Harits). Waduh, ini ‘pembunuhan karakter’ Rasulullah, dalam pandangan saya. Karena itu, kesensitifan penulis (dan editor) sangat diperlukan di sini. Bahwa Rasulullah adalah nabi yang penuh cinta dan semua perilakunya didasarkan oleh cinta, sangat penting kita jadikan paradigma bersama dan itu kita ‘alirkan’ dalam kalimat-kalimat yang kita susun, bahkan saat menjelaskan tentang perang sekalipun.

Contoh lain, di Irfan 8 saya menulis ttg kisah paman Nabi (Abu Thalib) yang melindungi Nabi saat diancam oleh para pembesar Qurays. Para pembesar itu marah karena Nabi menyebarkan ajaran tauhid. Di bbrp sumber yang saya baca, disebutkan: Nabi Muhammad mengejek berhala-berhala dan karena itulah orang Qurays marah. Coba kita pakai paradigma cinta tadi. Mungkinkah Nabi mengejek/menghina?

Jadi yang saya tulis begini:

Suatu hari, ‘Utbah, Syaibah, Abu Sufyan, al ‘Ash bin Hisham, Al Aswad bin Al Muthalib, Abu Jahal, dan lain-lain, bersama-sama menghadap Abu Thalib.
“Hai Abu Thalib, kemenakanmu Muhammad, sudah berani menghina sesembahan kami! Dia berani menyebut kami ini tersesat! Kami sudah menyembah berhala ini sejak zaman nenek moyang, tapi bahkan Muhammad mengatakan bahwa nenek moyang kami pun telah tersesat. Alangkah besar penghinaan ini!” seru salah seorang dari mereka dengan marah.
Abu Thalib dengan baik-baik menolak permintaan mereka. Menurut Abu Thalib, apa yang dikatakan Nabi Muhammad bukanlah ejekan. Apalagi Nabi Muhammad adalah seorang yang sangat santun berbicara. Dia sama sekali tidak menghina atau mengejek. Dia hanya menyampaikan kebenaran.