[Sharing] Menulis Kisah Nabi

Di FB ada diskusi tentang bagaimana menulis Kisah para Nabi untu anak-anak. Ini komen dari saya, saya copas di sini, supaya ‘abadi’ (kalau di FB kan sekejap ‘hilang’ tertindih postingan lain).

Selama ini saya menulis utk Irfan (udah terbit 8 volume) rubrik Kisah Nabi Muhammad dan Kisah Nabi. Untuk kisah Nabi selain Nabi Muhammad, yang saya lakukan adalah mengumpulkan semua ayat di Quran yang memuat cerita ttg Nabi tsb, lalu dari situlah cerita dan dialognya dibangun. (Mhn maaf, saya pernah baca sebuah buku 25 Nabi -yang pasti bukan karya mbak Yas, krn blm beli hehe- tapi ada adegan2 yang ga ada di Quran, lalu waktu saya browsing, ketahuan penulisnya sebenarnya hanya mempermak cerita2 yg ada di internet). Dialognya, sangat mungkin dikembangkan sendiri, tapi tetap sesuai konteks.

Misalnya kisah Nabi Hud. Di Quran diceritakan bahwa kaum Hud tinggi besar dan sangat kuat, sehingga mereka jadi sombong. Ayat Qurannya: “Wahai kaumku, sembahlah Allah yang tiada tuhan lain bagi kalian selain-Nya. ” (QS. Hud: 50). Saya kembangkan begini, “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Dia-lah Tuhan yang paling kuat. Lihatlah betapa kuatnya diri kalian. Tentulah Tuhan yang menciptakan kalian jauh lebih kuat dan perkasa.”

Nah, khusus Nabi Muhammad, karena kita meyakini semua perkataan beliau adalah hadis dan punya implikasi hukum bagi kaum muslimin, saya pikir cara ini tidak layak dipakai. Artinya, kita tidak bisa ‘menciptakan’ kalimat baru utk Nabi Muhammad. Paling banter, kalimat hadis itu disederhanakan saja supaya bisa dipahami anak-anak, atau kita akali dengan menggunakan kalimat tak langsung (jadi statusnya itu adalah kalimat karya si penulis bukan kalimatnya Nabi Muhammad).

Lalu, ada satu lagi keprihatinan saya saat membaca bbrp buku kisah Nabi Muhammad. Begini, kita meyakini bahwa bacaan anak akan membentuk karakter anak-anak. Nah, kita pun meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah manusia dengan akhlak termulia. Semua tindakannya didasarkan pada cinta dan kasih sayang. Bahkan Nabi Muhammad memutuskan berperang pun, landasannya adalah cinta. Makanya dalam Islam hukum perang itu sangat manusiawi, yang dibunuh hanya pasukan bersenjata yang memang sedang menyerang; kalau org itu sudah menyerah, tak boleh dibunuh, pohon2 tak boleh dicabut/dirusak, dll. Nah, dalam sebuah buku, misalnya, saya dapati, Rasulullah diceritakan mengirim 3000 pasukan ke Mu’tah (Yordania) karena marah gara-gara dibunuhnya Harits (utusan Nabi) oleh Syuhrabil bin Amr (tak dijelaskan di situ mengapa Syuhrabil membunuh Harits). Waduh, ini ‘pembunuhan karakter’ Rasulullah, dalam pandangan saya. Karena itu, kesensitifan penulis (dan editor) sangat diperlukan di sini. Bahwa Rasulullah adalah nabi yang penuh cinta dan semua perilakunya didasarkan oleh cinta, sangat penting kita jadikan paradigma bersama dan itu kita ‘alirkan’ dalam kalimat-kalimat yang kita susun, bahkan saat menjelaskan tentang perang sekalipun.

Contoh lain, di Irfan 8 saya menulis ttg kisah paman Nabi (Abu Thalib) yang melindungi Nabi saat diancam oleh para pembesar Qurays. Para pembesar itu marah karena Nabi menyebarkan ajaran tauhid. Di bbrp sumber yang saya baca, disebutkan: Nabi Muhammad mengejek berhala-berhala dan karena itulah orang Qurays marah. Coba kita pakai paradigma cinta tadi. Mungkinkah Nabi mengejek/menghina?

Jadi yang saya tulis begini:

Suatu hari, ‘Utbah, Syaibah, Abu Sufyan, al ‘Ash bin Hisham, Al Aswad bin Al Muthalib, Abu Jahal, dan lain-lain, bersama-sama menghadap Abu Thalib.
“Hai Abu Thalib, kemenakanmu Muhammad, sudah berani menghina sesembahan kami! Dia berani menyebut kami ini tersesat! Kami sudah menyembah berhala ini sejak zaman nenek moyang, tapi bahkan Muhammad mengatakan bahwa nenek moyang kami pun telah tersesat. Alangkah besar penghinaan ini!” seru salah seorang dari mereka dengan marah.
Abu Thalib dengan baik-baik menolak permintaan mereka. Menurut Abu Thalib, apa yang dikatakan Nabi Muhammad bukanlah ejekan. Apalagi Nabi Muhammad adalah seorang yang sangat santun berbicara. Dia sama sekali tidak menghina atau mengejek. Dia hanya menyampaikan kebenaran.

Advertisements

5 thoughts on “[Sharing] Menulis Kisah Nabi

  1. Beberapa kali saya jumpai buku-buku atau tulisan di internet menceritakan kisah Nabi dengan tidak bertanggungjawab, tidak ada landasannya dalam Al-Qur’an dan Hadist, malah mengandung kisah-kisah Israiliyat yang dusta, meski sepintas kalau dibaca mengandung pesan kebaikan. Tapi metode seperti itu sesungguhnya berbahaya.

    • Iya pak.. akhirnya saya selama ini meski buku kisah Nabi/kisah Islami tetap saya baca bersama dg anak-anak, biar kalau ketemu yg aneh2 bisa langsung didiskusikan, ga ditelan mentah2 sama anak…

  2. Pingback: Coming Soon: A Note From Tehran | My daily life...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s