Piano

Dulu… waktu saya kecil, di Semarang, ada tetangga kami yang mantan pejabat. Rumahnya besaaaar sekali. Salah satu anaknya, teman saya (meski usianya lebih tua daripada saya). Main ke rumahnya, serasa main ke istana, luas, besar, barang-barangnya bagus. Dan… punya piano! Wah, kalau mendengar teman saya ini memainkan pianonya, saya seneeeng sekali. Bener-bener indah. Dan bener-bener sesuatu yang ‘wah’, takkan mungkin tercapai oleh saya. Jadi, saya dulu cuma bisa berkhayal punya dan bisa main piano.

Setelah pindah ke Padang, saya punya teman akrab yang juga pinter main piano (dan punya piano, tentu saja). Saya mendengarkan lantunan pianonya dengan nafas tertahan. Indah banget. Rumahnya juga besar, meski tak sebesar tetangga saya di Semarang itu.

Lalu, sejak dua tahun terakhir, ada wacana piano di rumah kami. Ya, siapa lagi kalau bukan Kirana yang pengen punya piano. Dia merengek minta dibolehin les piano (di samping tetap les biola), dan artinya, ya musti beli pianonya! Duh, berkali-kali saya sampaikan bahwa nggak mungkin punya piano dalam waktu dekat.Pertama, rumah kami kecil, mau ditaruh dimana? Kedua, harganyaaaa…!

Tapi, Kirana kalau sudah ada maunya, memang ngotot. Dulu, dia ngotot mau les biola. Kami melarang karena rasanya biola itu sesuatu yang wah. Dan si akang yang cukup paham musik pun tahu bahwa biola adalah alat musik yang sangat sulit. Tapi, melihat kengototan Kirana, saya jadi ingat khayalan saya waktu kecil dulu. Pingiiin banget les piano, tapi bahkan terucapkan pun tak bisa. Saya cukup tau dirilah dengan kondisi ortu saya. Ortu saya mencukupi semua kebutuhan primer dan sekunder saya, tapi les piano..??? Ah, kebangetan itu. Jadi, saya merasa bisa memahami keinginan Kirana.

Apalagi, dari sisi biaya, Kirana menyatakan siap bayar sendiri, dengan uang royalti bukunya. Jadi.. saya pun ikut berkeras, meminta izin dari si akang supaya Rana ikut les biola. Dengan berat hati, si Akang ngasih izin. Dan… eh, terbukti Kirana cukup pesat kemajuannya. Dia bukan cuma bisa, tapi memang berbakat (kata gurunya). Dan impian di masa lalu saya pun seolah kini terwujud. Saya tinggal meminta Kirana main biola, dan dalam sekejab, mengalunlah lagu-lagu klasik di rumah kecil kami. Indaaaah.. banget.

Lalu, bagaimana dengan piano? Well, akhirnya, kami putuskan Kirana boleh les piano karena pendidikan SMP-nya akan dijalani dengan ber-home schooling. Jadi ada banyak waktu luang yang bisa dia isi untuk serius belajar musik. Lalu, kebetulan Kirana baru terima royalti bukunya. Langsung deh, dia pengen beli piano, tentunya piano elektrik yang murah. Ketika saya sampaikan ke kepala sekolah musiknya, wah.. langsung beliau menjelaskan kepada saya kelebihan piano akustik. Ih.. iya siiih.. tauuu.. piano akustik pastinya lebih bagus. Cuma harga dan ukurannya itu lho…

Tapi, agaknya memang sudah rizkinya Kirana. Saat itu, di sekolah musiknya memang ada piano nganggur, yang sedang ditawar-tawarkan untuk dijual. Pemiliknya dulu salah satu murid di sekolah itu, lalu pindah kota dan menitipkan piano di sekolah musik untuk dijual. Kepsek sekolah musik bersedia membantu nego, supaya Kirana boleh bayar separoh dulu (harganya 2x lipat uang royalti Kirana). Dan.. ya sudahlah, saya okekan saja. Saya pikir-pikir, ukuran pianonya masih muat di ruang tengah kami yang mungil.

Dan, tralaaa… sejak Senin, ada penghuni baru di rumah kami. Dengan rasa tak percaya saya pandang-pandangi piano itu. Ingat impian masa kecil. Si Akang pun senyum-senyum dan berkata, “Nggak sabar nunggu Kakak bisa memainkan lagu-lagu klasik dengan piano ini…”

Bahkan Reza pun terpesona. Tiap sebentar dia duduk di depan piano dan memijit-mijit tutsnya.

Nah, tentang Reza, ada cerita lagi nih, ada kaitannya dengan parenting. Begini, Reza didiagnosis oleh papanya, tidak berbakat musik! Jadi, papanya menentang usul saya untuk mengeleskan Reza di sekolah musik. Menurutnya, bakat musik itu gak bisa ditumbuhkan, percuma saja belajar musik untuk anak yang tak berbakat. Lebih baik, ikutkan saja les di bidang yang sudah kliatan bakatnya, misalnya menggambar.  Duh, saya kesel banget deh sama si Akang. Kami pun berdebat, menggunakan konsep-konsep parenting yang sudah kami pelajari (alhamdulillah kan si Akang juga ikut pelatihan parenting bersama bu Rani). Dalam pandangan saya (dan ini yg saya pelajari dari bunda Rani), meski anak nggak berbakat, tapi kalau dia menunjukkan minat, ya ikuti saja. Toh meski dia ga akan jadi ahli musik, akan banyak aspek yang bisa dipelajarinya saat belajar musik, terutama mengasah kepekaan perasaannya. Minimalnya, saat anak ada keinginan (tekad untuk melakukan sesuatu yang baik), perhatiannya akan fokus ke sana. Dia nggak akan jadi anak ‘alay’ dan kebingungan mau melakukan apa. Justru kalau anak punya target tertentu di depan, meskipun ga masuk akal, itu bisa dijadikan pijakan bagi ortu untuk memasukkan nilai-nilai kebaikan (misal, anak bertekad jadi astronot… jangan bilang ‘ih..kejauhan kali yeee..’.. tapi segera tangkap peluang itu, kita bisa mengajak anak belajar banyak hal yang terkait dengan astronot).

Si akang akhirnya diem aja. Tapi pelan-pelan dia mengajak Reza memainkan lagu-lagu sederhana. Reza, yang mungkin menangkap sikap awal papanya (yang underestimate ke dia), menunjukkan sikap jual mahal, hehehe..

Tapi akhirnya, dia mau juga belajar lagu sederhana, Twinkle Little Star. Dan hari ini, papanya lagi pergi kerja, dia belajar serius bersama kakaknya… memainkan lagu… Selamat Ulang Tahun! Ya, dia belajar lagu itu dengan serius, karena papanya ulang tahun dan dia ingin ngasih kejutan kalau papanya nanti pulang. Duh, terharunya…

Nah, ini dia piano Kirana (dan Reza) :

piano

Advertisements

3 thoughts on “Piano

  1. Pingback: Coming Soon: A Note From Tehran | My daily life...

  2. Bagus ceritanya ibu… kebetulan saya dulu waktu SD les piano sampe grade 2. Pas SMP eh malah berhenti. Malah les biola ikut-ikut kakak saya yg udah lama les biola. Sempet jg ikut lthn orkestra di tambud dg biola. Tp ya gitulah akhirnya les biola jg berhenti gara2 skolah ke luar padang. Skrg dah kuliah… baru nyesel knp dulu g tamatin les piano…. alhasil kepengen les lg skrg. Tp sprtinya sudah terlambat. spt kiasan “taking piano in old age” hehe… yah… smg nanti kalau punya anak, anak saya berminat main piano seperti kirana ya… dan semoga kirana jd pianis hebat dan membanggakan. Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s